Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 252 Masih Tidak Sadar


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Keraguan yang dirasakan oleh Cui Er membuat Gu Anran semakin berada di posisi yang pasrah.


Tidak ada yang mengamati secara langsung, tidak ada orang yang bisa membuktikannya bahkan Cui Er yang menjadi kunci utamanya saja tidak bisa membuktikannya. Dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dilihatnya sendiri.


Hello! Im an artic!


Lalu perkataan Shi Ran membuat semua orang semakin bertanya-tanya.


Kalau tidak ada orang yang mendorongnya apakah kursi roda itu bisa bergerak sendiri? Apakah nenek bisa menggerakkan itu sendiri hingga terjatuh ke dalam danau?


“Kakek serahkan wanita ini ke pihak berwajib, biarkan mereka yang mengurus hal ini lalu memberikan penjelasan kepada nenek!”


Saat ini Mu Shaoran terlihat tidak tahan lagi dan hendak mencabik Gu Anran namun dia tidak berani!


Hello! Im an artic!


Karena kakak selalu berdiri di dekat Gu Anran dengan tubuhnya yang tinggi besar bagaikan sebuah gunung.


Keberadaan kakak di sini tentu membuat siapapun tidak berani menyentuh Gu Anran.


Gu Weizi juga hanya bisa melihat ke arah Gu Anran. Hari ini sangat aneh, dia terlihat sangat diam. Sejak awal hingga akhir dia sama sekali tidak berbicara.


Kakek melihat ke arah Mu Zhanbei untuk beberapa saat lalu berkata, “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”


…….


Gu Anran di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sempit.


Ruangan ini tidak besar, ini adalah ruangan kecil yang terlihat seperti sebuah gudang penyimpanan di ruang rawat inap.


Akan tetapi dia tidak memperdulikannya, dia pun duduk di tengah kegelapan sembari memeluk kakinya, air matanya telah kering. Dia melihat ke arah kegelapan yang ada di depannya dengan tatapan kosong.


Pada akhirnya dia masih takut jika nenek meninggal.


Dia sudah tahu jika ada orang yang berada dekat dengannya pasti tidak akan memiliki akhir yang baik.


Seumur hidupnya dia dan Mu Fengjin sama sekali tidak pernah bersatu oleh karena itu saat ini Feng Jin masih hidup dengan baik.


Akan tetapi dia sudah hidup lama dengan nenek, nenek sudah pergi.


Ini semua karena dia, dia yang melukainya!


Dia tidak tahu sudah berapa lama berada di dalam ruangan kecil ini.


Sampai ada seseorang yang membuka pintu ruangan itu.


Kilatan cahaya masuk ke dalam dan membuat matanya sulit untuk beradaptasi terhadap ini.


Dia menaikkan tangannya sembari menghalangi cahaya yang mengarah kepadanya. Saat dia kembali membuka matanya dia tidak menyangka bahwa orang yang ia lihat saat ini adalah dia.


“Tuan…Muda Kedua Jiang?” suaranya terdengar serak, tenggorokkannya seperti terbakar oleh api panas yang membara sampai ke kerongkongan dan hampir membuatnya tidak bisa bersuara.


Jiang Nan menghampirinya dan membantunya berdiri.


Akan tetapi tidak tahu apakah karena dia telah duduk terlalu lama maka pada saat dia hendak berdiri Gu Anran merasa tekanan darahnya naik sampai ke kepala.


“Jiang…” Saat ia membuka kedua matanya, tatapannya langsung jatuh ke arahnya.


Semua pandangan yang ada dihadapannya kini sudah menjadi sebuah kegelapan abadi.


Kalau dia bisa tertidur, bisakah semua kejadian ini dianggap tidak pernah terjadi?

__ADS_1


Kalau kejadian ini sama sekali tidak pernah terjadi bukankah nenek akan tetap hidup?


Kalau sejak awal dia tidak kembali ke dunia ini, kalau dia berada di tengah kecelakaan itu apakah dia benar-benar mati?


Mungkin tidak akan ada orang yang tersakiti lagi.


Mungkin, nenek masih bisa hidup dengan tenang…


……


Gu Anran tidak tahu dirinya telah di bawa ke mana.


Buram dan kabur, rasanya dia seperti sedang membuat sebuah mimpi yang panjang.


Di dalam mimpi ini hanya ada senyuman nenek, suaranya yang lembut lalu cara nenek saat memanggilnya, “Ran Ran, Ran Ran…”


Ran Ran di sini. Akan tetapi nenek, kamu ada di mana?


Dia ingin memegang tangan nenek akan tetapi segiat apapun dia, dia tetap tidak bisa meraihnya.


Tiba-tiba kursi roda nenek bergerak melaju ke jurang yang ada di belakangnya.


Dia terkejut dan dengan segera hendak menghampirinya lalu menarik nenek kembali.


Akan tetapi dia tidak bisa menariknya, dia sama sekali tidak bisa menariknya!


“Jangan! Jangan pergi! Nenek, nenek, kembalilah, jangan pergi..”


Di tengah kebingungan ada seseorang yang membawanya ke dalam sebuah pelukkan.


Tubuhnya terus bergetar di dalam pelukkan ini, dia terus mengayunkan kedua tangannya seperti hendak meraih sesuatu. Pada akhirnya sepertinya dia telah berhasil meraih tangan nenek!


“Jangan pergi. Nenek, aku bisa melindungi mu, jangan takut, jangan takut…”


Bajunya sudah di ganti berkali-kali. Belum lama di ganti namun sudah kembali basah.


Air infus yang tergantung di sana terus menetes setetes demi setetes namun demamnya masih belum turun.


“Nenek, aku akan melindungimu. Jangan takut, jangan takut…”


Suaranya yang lemah membuat orang yang mendengarnya merasa sedih.


Dia meletakkan tangannya di atas wajahnya dan hendak menyeka air matanya.


Akan tetapi sepertinya air mata dia tidak mengenal lelah. Bagaimana pun juga air mata itu tidak akan bisa diseka sampai bersih!


Dia tidak memohon untuk dirinya sendiri, dia tidak mengeluhkan dirinya. Semua yang ada di dalam mimpinya hanyalah untuk menyelamatkan dan melindungi nenek.


Dia sudah tidak perlu mengeluh, tidak perlu memberikan penjelasan untuk dirinya sendiri.


Karena sebuah penjelasan tidak bisa mengembalikan nenek. Tidak bisa mengembalikan nenek kesini lagi.


Seorang pria memegang tangannya dengan erat. Dia menggunakan suaranya yang berat untuk menenangkannya.


“Bukan salahmu. Anggap saja dia sudah terlalu lelah untuk hidup dan hendak pergi lebih awal.”


“Kamu harus kuat, sadarlah. Kalau tidak nenek akan sedih!”


“Sadarlah, mengerti tidak?”


Suara itu terdengar sangat jauh seperti berada di atas langit namun kedengarannya sangat dekat dengan telinga dan matanya.


Akan tetapi kenapa dia harus bangun? Setelah dia bangun maka dia juga tidak akan bertemu dengan nenek!

__ADS_1


Dia tidak ingin bangun, sedikit pun tidak ingin.


Dia hanya ingin tinggal di dalam mimpi. Di tengah mimpi ini dia bisa memegang tangan nenek dan lagi nenek masih bisa tersenyum padanya…


Dia tidak ingin bangun dan sekali lagi dia tidak ingin bangun lagi.


Biarkan seperti ini saja, dengan seperti ini dia bisa tidur dan sampai kapan pun tidak akan terbangun.


Dia bisa menemani nenek sampai selama-lamanya, sampai akhir hayat.


Nenek jangan takut, aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian. Aku bisa menjagamu, menjagamu untuk selama-lamanya…


Hari ke tiga, demamnya masih belum turun.


Hari ke lima, dia masih koma.


Hari ke tujuh, dia tidak akan sadar!


Sakit hati! Dia seperti di tahan dalam tidur dan mimpinya oleh sesosok iblis.


Hari ke sepuluh! Demam tinggi kini sudah mulai turun akan tetapi dia masih belum sadar!


Orang itu menahan dia. Dia tidak bisa melihat wajahnya dan hanya bisa mendengar sebuah suara yang berbicara padanya.


“Sadarlah, kamu tidak boleh menghindar untuk selamanya.”


“Sadarlah, kalau tidak nenek juga tidak akan mati dengan tenang!”


Nenek tidak akan tenang! Dia tidak akan tenang!


Sepertinya masih ada hal yang ingin dia katakan padanya mengenai dia, mengenai ibunya….


“Ran Ran, aku kenal ibumu. Ibumu adalah…”


Tiba-tiba wajah nenek yang ada di dalam mimpi itu berubah. Belum juga dia selesai berbicara akan tetapi dia sudah kaku.


Wajahnya yang merah kini berubah menjadi hitam. Orang itu kini sudah sepenuhnya menghitam.


Dia terus gemetaran dan kejang!


Dia sangat kesakitan, dia tidak bisa bernafas. Dengan putus asa dia terus memanggil namanya, “Ran Ran, Ran Ran…”


“Nenek, nenek kenapa? Siapa yang menyakitimu? Kenapa jadi seperti ini?”


Gu Anran sungguh menggila. Nenek membuka mulutnya secara lebar lalu dengan sekuat tenaga berkata, “Ran Ran, ibumu…adalah…”


Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah suara muntah dan keluarlah sebuah darah hitam dari mulutnya!


Dia telah diracuni. Ada orang yang ingin meracuni nenek!


Bukan, dia bukan di racuni melainkan ditusuk oleh seseorang!


Melihat segumpal darah keluar dari dada nenek membuat Gu Anran hendak menghampirinya akan tetapi dia tidak tahu benda apa yang menahannya dan membuat dia memberontak namun tetap tidak bisa melepaskannya.


Tiba-tiba kursi roda nenek kembali bergerak. Kemudian terlihat sebuah kejadian yang menunjukkan danau itu.


Nenek terjatuh ke dalam. Terdengar sebuah suara bahwa ada seseorang yang membawa dan mendorong kursi roda itu masuk ke dalam danau.


Secara perlahan mulai tenggelam ke dasar danau.


“Jangan!”


Gu Anran menatapnya lalu berdiri dari duduknya, “Nenek, nenek!”

__ADS_1


Bayangan seseorang dengan pakaian lengan panjang duduk di pinggir ranjang, kedua tangannya menyentuh dahinya, “Akhirnya kamu sadar?”


__ADS_2