Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 283 Terbakar Oleh Api


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Tidak, jangan, aku mohon…….”


Gu Anran tiba-tiba membuka matanya sambil berteriak dan buru-buru ingin duduk.


Hello! Im an artic!


Tapi begitu bergerak, seluruh tubuhnya seakan tercabik hidup-hidup, dan rasa sakit itu membuat air matanya mengalir seketika.


“Jangan bergerak dulu, tubuhmu terluka.” Jiang Nan menahan bahunya, lalu mendorongnya kembali berbaring.


Faktanya, wanita ini tidak memiliki tenaga sama sekali, bahkan untuk duduk pun dia tidak sanggup.


“Sakit……..” Kata Gu Anran mengerutkan keningnya. Setelah efek obat biusnya hilang, rasa sakit akibat lukanya perlahan muncul.


Hello! Im an artic!


Seluruh bagian tubuhnya sakit, rasa sakit itu bahkan membuat dahi dan wajahnya mengeluarkan keringat dingin.


Terlebih tubuh bagian bawahnya, rasanya seperti terbakar oleh bara api, hanya dengan gerakan sedikit saja, rasa sakit yang menusuk itu membuatnya putus asa!


Jiang Nan menggenggam tangannya yang gemetar. Melihatnya yang begitu kesakitan membuat suasana hatinya menjadi rumit.


Awalnya dia sangat mengkhawatirkan Mu Zhanbei, tapi sekarang rasanya dia ingin membawanya kembali lalu memukulinya habis-habisan.


Dia lalu menekan bel, dan dengan cemas berkata, “Dokter, tolong cepat kemari!”


Ini adalah kamar VIP, dan dengan keberadaan Tuan Muda Kedua Jiang, begitu mendengar bunyi bel, para dokter langsung datang.


“Dia sangat kesakitan! Cepat pikirkan cara agar dia tidak sakit lagi!” Kata Jiang Nan sambil memelototi dokter di pintu masuk.


Dokter sudah mengira akan jadi seperti ini, jadi dia juga tidak berdaya.


“Tuan Muda Kedua, aku sebelumnya sudah mengatakannya, begitu efek obat biusnya hilang, maka malam ini dia pasti kesakitan. Jika kita menambah dosis obatnya lagi, aku takut itu malah akan berbahaya untuk tubuhnya.”


“Apa tidak ada cara lain?” dia sudah kesakitan sampai seperti ini, apa dia harus terus melihatnya menanggung kesakitan dengan kedua mata dan kepalanya sendiri?


“Maka aku akan memberinya obat pereda nyeri.” Dokter mengambil obat dia atas lemari tempat tidur, lalu segera berkata pada perawat yang baru datang, “Cepat pergi dan tuangkan air minum.”


Gu Anran benar-benar kesakitan hingga untuk berbicara pun dia tidak bisa, apalagi untuk meminum obat itu.


Seluruh bagian tubuh atas dan bawahnya terasa seperti terbakar, sakit, benar-benar menyakitkan!


“Jadilah baik, jangan meronta-ronta, minum obatnya dulu.”


Jiang Nan juga tidak menyangka dia akan kesakitan hingga seperti ini.


Dalam kesannya, gadis ini bisa menanggung penderitaan yang berat seperti ini, jika gadis lain yang mengalami kesakitan yang seperti ini, mungkin dia sudah pingsan sejak tadi.


Gu Anran bukannya tidak mendengar percakapan mereka, dia sendiri juga sangat ingin tetap tenang dan tidak meronta-ronta.


Tapi ini benar-benar sangat sakit, rasanya seakan tulang-tulangnya akan hancur berkeping-keping. Benar-benar menyakitkan!

__ADS_1


“Aku………sakit…….” Seluruh tubuhnya gemetar, seperti orang yang mengalami kejang.


Perawat sedikit cemas, lalu berkata pada Dokter, “Dia sepertinya tidak mau minum obat……”


“Dia bukannya tidak mau, tapi dia tidak bisa meminumnya! Dia sangat kesakitan, tidakkah kamu tahu itu!”


Jiang Nan benar-benar ingin merobek mulut perawat itu, di mana dia menolak minum obat, dia sudah sangat bekerja sama!


Dia benar-benar sangat kesakitan! Apakah perawat ini tidak memiliki rasa simpati sedikit pun?


Perawat itu sama sekali tidak menyangka jika Tuan Muda Jiang yang terlihat ramah dan hangat akan begitu galak padanya.


Seketika, air matanya hampir menetes.


Jelas-jelas dia terlihat sangat anggun dan baik, jadi bagaimana dia bisa meneriaki orang seperti itu?


Bagaimana dia sempat memikirkan citranya, sekarang dia sedang dengan hati-hati memeluk tubuh gemetar Gu Anran, lalu dengan suara lembut dia berkata, “Begitu minum obat, lukanya tidak akan sakit lagi, jadilah baik, minum obat ini dulu.”


Gu Anran bukannya tidak ingin minum obat, tapi begitu dia membuka mulutnya, rasa sakitnya sampai menusuk ke dada!


Tidak mudah untuk meminum obat dari cangkir itu, bahkan obat dan air matanya tertelan secara bersamaan olehnya.


Bibirnya sakit, seluruh tubuhnya juga sakit, mengapa rasanya bisa sesakit ini!


Jiang Nan melihat jika dia digigit oleh Mu Zhanbei di beberapa tempat, dan semburan kesedihan tiba-tiba menerpa hatinya.


Apakah masih ada bagian tubuh gadis ini yang baik-baik saja?


Dia benar-benar terlihat menyedihkan, rasanya dia seperti baru saja mengalami siksaan.


Bahkan jika dia tidak meneriakkan rasa sakitnya, dia ingin menggantikan rasa sakit itu.


Ini hanyalah minum obat, tapi hal itu membuat semua orang berkeringat deras.


Setelah melihat Gu Anran menelan obatnya, Dokter dan Perawat itu langsung menghela nafas lega.


Tapi tubuh Gu Anran masih gemetar, dia tidak bisa duduk, punggungnya di penuhi luka memar, jadi tidak nyaman untuknya berbaring.


Lalu Jiang Nan memeluknya dengan lembut, dan membuatnya bersandar di lengannya. Punggunya tidak tersentuh, jadi rasa sakitnya sedikit berkurang.


Tapi, berapa lama Tuan Muda Kedua Jiang bisa menahan posisi ini?


Tidak ada yang memaksanya untuk melakukan ini, tapi membiarkan orang sakit bersandar di lengannya seperti ini, membuatnya terlihat terlalu memaksakan kekuatannya sendiri.


Meskipun dia bisa bersandar dalam pelukannya, tapi bersandar di sana bisa membuat luka di punggungnya tersentuh, maka sama saja dia akan merasa sakit.


Akhirnya, Dokter dan Perawat hanya bisa melihat posisi Jiang Nan yang seperti itu, mereka hanya merasa Jiang Nan sangat kuat.


Tapi karena Tuan Muda Kedua Jiang tidak mengatakan apapun, jadi mereka juga tidak berani bicara apa-apa.


Tubuh Gu Anran sebelumnya sedikit gemetar, karena dia tidak dapat menemukan posisi yang tepat. Tapi sekarang, dengan posisi ini setidaknya punggungnya tidak terlalu sakit.


Jiang Nan menggunakan sebelah tangannya untuk menopang Gu Anran, dan tangan satunya dia gunakan untuk mengusap rambut Gu Anran yang berkeringat.

__ADS_1


Dia tidak tahan melihat bibir Gu Anran yang di penuhi bekas luka. Dia lalu menatap Dokter dan dengan suara pelan bertanya, “Sekarang bagaimana kita akan merawatnya, bisakah dia makan sesuatu?”


“Bibirnya…….” Ekspresi Dokter itu terlihat sedikit canggung.


Bibirnya pernah di gigit di beberapa tempat, dan gigitannya juga dalam, hanya dengan membuka mulut saja rasa sakitnya sudah terasa, jadi bagaimana dia bisa makan?


Bahkan makan bubur pun bisa sangat menyakitkan.


Dokter itu menghela nafas dan berkata, “Malam ini kita hanya bisa memberinya air. Jangan beri dia makan dulu, jika besok pagi sudah tidak terlalu sakit, maka kita akan memberinya makan.”


“Luka di tubuhnya juga tidak terlalu parah…….”


Begitu mendapat pelototan Jiang Nan, Dokter itu langsung mengubah perkataannya, “Maksudku adalah, walaupun lukanya terlihat sangat parah, tapi tidak sampai melukai organ bagian dalamnya.”


Dengan kata lain, dia hanya terluka di bagian kulit luar saja, tidak sampai melukai otot dan tulangnya.


Tapi bagaimanapun luka di kulit luar merupakan luka yang paling sakit, dan rasa sakitnya sama seperti terbakar api.


“Rasa sakitnya akan bertahan hingga malam ini, tapi besok rasa sakitnya akan berkurang, dan lukanya akan segera sembuh.”


“Mengenai bekas luka, Tuan Muda Mu sudah mengatur Tuan Ye Han untuk menanganinya, tunggu hingga lukanya sedikit membaik, maka Tuan Ye Han akan segera merawat bekas lukanya.”


Dokter itu juga takut jika perkataannya akan membuat pasien tidak nyaman, sehingga dia hanya bisa berusaha memilih perkataan yang enak di dengar.


“Lukanya seharusnya tidak akan meninggalkan bekas, tapi mungkin sebagian kecil tubuhnya akan.…….”


Tatapan dingin Jiang Nan menyapu tubuh dokter itu sekali lagi.


Saat ini mereka tidak seharusnya membicarakan mengenai hal itu, karena Gu Anran sudah cukup terkejut.


Dokter itu mengerti maksud Jiang Nan, lalu dia segera berkata, “Intinya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang bekas luka, karena tidak akan ada bekas yang tertinggal.”


Sebenarnya sebagian besar luka itu tidak akan meninggalkan bekas, tapi tetap saja, akan ada beberapa tempat yang berbekas.


Hanya saja sekarang mereka tidak bisa mengatakannya.


“Tuan Muda Kedua, sekarang aku akan mengambil cairan infus baru untuknya.”


“Cepatlah kalau begitu!”


“Baik…..”


“Tunggu sebentar!” Ketika Dokter hendak keluar, Jiang Nan memanggilnya kembali.


Dokter itu segera berbalik dan berjalan kembali ke hadapannya, ” Tuan Muda Kedua, apa instruksi anda?”


“Ganti semua obat oral yang di resepkan untuknya menjadi obat cair, jika benar-benar tidak bisa di ganti, maka hancurkan dulu obat itu sampai menjadi bubuk baru kirim ke sini.”


“Baik, aku mengerti!”


Setelah Dokter dan Perawat itu pergi, Jiang Nan menatap Gu Anran yang masih gemetar, lalu berkata dengan lembut, “Jangan takut, sebentar lagi sakitnya akan hilang, jangan takut!”


Bibir berlumuran darah Gu Anran bergetar sepanjang waktu, hingga akhirnya dia mengeluarkan suara serak yang bahkan dia sendiri hampir tidak dapat mendengarnya dengan jelas, “……Bagaimana dengannya?”

__ADS_1


__ADS_2