Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 285 Sebuah Tamparan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Wen Si benar-benar ingin menampar dirinya sendiri sampai mati!


Apa yang baru saja dia ucapkan? Semua orang yang menghalangi istirahat Nona Gu harus dibunuh tanpa ampun?


Hello! Im an artic!


Lalu bukankah sekarang dia harus membunuh dirinya sendiri?


Setelah pintu itu terdorong oleh punggungnya, pintu itu langsung terbanting di dinding.


Jiang Nan terkejut dan langsung melemparkan tatapannya yang mematikan. Setelah itu dia melihat ke arah Gu Anran yang sedang bersandar di lengannya dengan gugup.


Dia terbangun!


Hello! Im an artic!


Dia harus membunuh Wen Si dengan seribu pisau!


Dia baru saja tidur kurang dari 2 jam dan bajingan itu malah membangunkannya!


Gu Anran tiba-tiba membelalakkan matanya, seolah-olah dia sangat ketakutan.


Nafas Jiang Nan tidak beraturan, lalu dengan cemas dia berkata, “Tidak apa-apa, tidur lagi, jadilah baik, tidak akan sakit lagi!”


Dia sangat gugup, benar-benar sangat gugup.


Saat dia bangun sebelumnya, dia sangat kesakitan hingga tubuhnya kejang.


Dia takut ketika bangun tubuhnya masih tidak nyaman.


Dokter sudah mengatakan untuk membiarkannya tidur lebih lama agar saat bangun nanti dia tidak akan begitu kesakitan.


Tapi dia terbangun di tengah tidurnya!


Dia berbalik melihat Wen Si, dalam hati dia berkata jika dia akan merobek Wen Si menjadi berkeping-keping.


Wen Si masih duduk di atas lantai, dia bahkan tidak berani untuk berdiri. Dia takut gerakannya akan membuat Gu Anran ketakutan.


Gu Anran mengerutkan kening, dan kedua orang yang ada di ruangan itu langsung gugup.


Dia mengerutkan keningnya erat-erat, seolah merasa sakit.


Tapi kali ini, dia hanya meremas kemeja Jiang Nan saja, dia tidak berteriak atau meneteskan air mata.


Hanya saja setelah ekspresi kesakitannya perlahan memudar, dia tiba-tiba bertanya dengan suara serak, “Bagaimana dengannya?”


Ini bukanlah kali pertama Gu Anran menanyakan hal itu, Jiang Nan melambaikan tangannya, dan Wen Si segera berdiri, dia lalu menutup pintu ruangan itu dan berjaga di depannya.


Sedangkan, tindakan bersandar di pintu, sampai mati pun dia tidak akan berani melakukanya lagi.


Jiang Nan menarik tisu dan dengan hati-hati mengelap keringat Gu Anran.


Tidak lama setelah dia bangun, ada lapisan keringat tipis di dahinya.


Dia tahu gadis ini masih kesakitan, tapi dia berusaha keras untuk menahannya.

__ADS_1


Tapi, pertanyaan Gu Anran itu sama dengan pertanyanya yang semalam, dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.


“Kamu sebaiknya………sebaiknya tidur sebentar lagi, dia…….masih memiliki urusan lain…….”


Dia ingin berbohong untuk menghiburnya, tapi dia tidak tahu apa yang harus di katakan.


Sama seperti terakhir kali, kata-kata yang sama membuat Gu Anran benar-benar terdiam.


Dia masih merasa sakit, tapi dia masih bisa sedikit menahannya.


Matanya terasa perih, dua dua tetes air mata mengalir dari matanya.


Jiang Nan buru-buru menyeka sudut matanya yang berair. Dengan penampilannya yang menyedihkan seperti ini, dia tidak bisa mengatakan kalimat-kalimat ejekan seperti yang biasa dia ucapkan.


Dia masih menangis, dan Jiang Nan terus menyekanya, tapi dia bahkan tidak bisa menyekanya hingga kering.


Dia benar-benar tidak berdaya. Dia hanya bisa dengan lembut berkata, “Dia benar-benar memiliki masalah, masalah yang sangat penting, bukan tidak ingin bertemu denganmu, dia……dia tadi sudah menemuimu.”


Gu Anran masih belum mengatakan apapun, dia hanya mencengkeram erat-erat kemeja Jiang Nan, dan air mata masih meleleh dari sudut matanya.


Jiang Nan benar-benar sedih melihatnya, meskipun dia sudah menyeka wajahnya, tapi air matanya masih terus keluar.


Dia mengangkat tangannya dan mengusapkan jari-jari panjangnya ke sudut mata Gu Anran.


Air matanya yang sebening kristal jatuh di ujung jarinya. Melihat hal itu hatinya terasa sangat sakit.


“Jangan sedih, sembuhkan dirimu dulu.”


Gadis ini masih saja menangis, membuatnya tidak bisa mengatakan lebih banyak kata-kata baik.


Sebenarnya tidak peduli apa yang dia katakan, hal itu tidak dapat mengubah kenyataannya.


Ini merupakan pukulan yang sangat fatal bagi siapa saja.


Normal baginya untuk menangis.


“Jika kamu ingin menangis, maka menangislah, tidak ada orang yang akan menertawakanmu. Tapi setelah itu, bangkitlah.”


Gu Anran masih mencengkeram kemejanya erat-erat dan terus menangis tanpa suara.


Dia yang menyuruhnya menangis, tapi begitu melihatnya benar-benar menangis, hatinya terasa sesak dan itu sangat tidak nyaman.


Jiang Nan menarik tisu lain, lalu menyeka wajahnya dengan hati-hati.


Setelah menahannya beberapa saat, dia akhirnya tidak tahan dan terus menghiburnya, “Dia hanya seorang pria, untuk apa kamu menangisinya seperti ini?”


“Gu Anran yang ku kenal, tidak peduli kesulitan yang dihadapinya, dia pasti akan menggertakkan gigi dan menyelesaikannya. Tapi sekarang, bagaimana mungkin dia berubah menjadi selemah ini?”


“Jika kamu menginginkan pria, maka aku akan menemukan banyak untukmu, kamu hanya tinggal memilih! Dan orang itu, kamu tidak perlu memikirkannya.”


Mu Zhanbei sekarang pergi ke Ali Han, bahkan jika dia bisa kembali dengan selamat, dan meskipun dia menghabiskan waktunya, belum tentu mereka bisa bersama lagi.


Jadi daripada membiarkannya membasuh wajahnya dengan air mata setiap hari, lebih baik bersedih sekaligus, kemudian jalani hidup dengan baik.


Masalah yang berhubungan dengan Pulau Tiantang bukanlah masalah yang bisa di selesaikan dalam waktu satu atau dua hari. Dan bukanlah hal buruk jika saat itu Gu Anran menjauh dari Mu Zhanbei.


“Kamu seharusnya sudah mengerti bagaimana karakter Tuan Mu, jika saat ini dia tidak datang menemuimu, maka berarti di masa depan dia pun tidak akan datang.”

__ADS_1


“Gu Anran, kamu benar-benar lemah, kepada siapa sebenarnya kamu ingin memperlihatkan kelemahanmu?”


“Bangkitlah, hapus air matamu, air matamu benar-benar tidak layak di keluarkan hanya demi seorang pria!”


“Kamu……”


“Bajing…….bajingan.”


Gu Anran mencengkeram kemejanya, lalu dia mengangkat kepalanya dan memelototinya. Suaranya begitu parau hingga hampir tidak terdengar, “Aku sedang sakit……..jangan bicara lagi, kamu benar-benar menyebakan!”


“.………” Jiang Nan seketika tertegun.


Setelah melihat ekspresi wajahnya lagi, tidak ada kesedihan yang tersisa di wajahnya, hanya saja dia menggerutkan keningnya erat-erat, seolah-olah dia sedang sangat kesakitan.


Benar juga, Gu Anran awalnya memang sangat kesakitan, tapi dia terus berpikir dia menangis karena Tuan Mu tidak datang melihatnya.


Untuk sesaat perasaannya sedikit campur aduk.


Gu Anran masih tetaplah Gu Anran. Bahkan jika hatinya sakit, dia tidak akan menangis seperti itu hanya karena patah hati.


Sekarang air matanya tidak bisa berhenti mengalir karena rasa sakit di tubuhnya, dia sendiri yang berpikir berlebihan.


“Ma….maaf, aku pikir…….”


Jiang Nan sedikit bingung, untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa.


“Maka aku…….kamu teruskan saja menangisnya, aku……tidak, aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu, aku hanya merasa hatiku sakit…….tidak, bukan sakit hati…….. yang seperti itu. Aku akan memanggil dokter dulu!”


Gu Anran tidak menghiraukan perkataannya yang tidak masuk akal itu.


Dia benar-benar kesakitan. Walaupun tidak sesakit sebelumnya, tapi sekarang rasanya masih tetap sakit, sekujur tubuhnya terasa sakit.


Adapun, apakah Tuan Mu melihatnya atau tidak……sebenarnya selama dia tahu dia tidak apa-apa. Maka tidak ada yang perlu di pikirkan.


Jika dia tidak mau datang maka tidak usah datang. Dia pasti memiliki alasannya sendiri.


Jika tinggal di sisinya menurutnya merupakan beban untuknya, lalu untuk apa dia repot-repot memaksanya?


Kecelakaan kali ini membuatnya bisa melihat dengan jelas.


Keberadaannya jelas bukanlah hal yang penting bagi Mu Zhanbei.


Dia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk berdiri di samping Mu Zhanbei, dia tidak memiliki kualifikasi apapun.


Jiang Nan tidak bisa bergerak untuk menekan bel, jadi dia hanya bisa berteriak pada orang di luar, “Panggil Dokter.”


Tidak lama kemudian, Dokter tersebut di bawa masuk oleh Wen Si.


Begitu melihat keadaan Gu Anran, dokter itu dengan cerewet berkata, “Mengapa kamu membangunkan pasien?”


Wen Si menundukkan kepalanya, dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


Jiang Nan kemudian menggeram, “Cepat lihat apakah ada cara lain untuk meringankan rasa sakitnya!”


Tanggung jawab, dia tentu saja harus bertanggung jawab, tapi tidak sekarang!


Dokter itu benar-benar tidak berdaya, “Dia tidak boleh meminum obat pereda nyeri lagi. Dia harus menahan rasa sakit ini. Kondisi fisiknya tidak terlalu bagus, dan terlalu banyak meminum obat pereda nyeri hanya akan memperburuk keadaannya.”

__ADS_1


Tangan Gu Anran masih berada di dada Jiang Nan, dia mencengkeram kemejanya erat-erat.


Sebelum Jiang Nan berbicara, dia menggigit bibir bawahnya, dan dengan suara parau berkata, “Tidak apa-apa, aku… aku bisa menahannya.”


__ADS_2