
Hello! Im an artic!
Li Ye sedikit tercengang, dengan gemetaran tidak bisa menyebutkan alasannya.
Belum pernah datang untuk melihat dengan mata kepala sendiri, siapa yang tahu ‘betapa parahnya’ penyakit tuan muda?
Hello! Im an artic!
Dia kira yang dia katakan itu sudah cukup parah, siapa sangka, begitu masuk untuk melihat, sepertinya jauh lebih parah.
Mu Zhanbei melihat mereka, sebenarnya dia juga tidak menunjukkan sampai lemah-lemah sekali.
Tapi orang seperti dia, biasanya sosoknya begitu agung hingga seperti sesosok dewa perang.
Sekarang ini si dewa perang itu terkapar di tempat tidur, matanya kosong dan bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun, sungguh membuat orang merasa sedih.
Hello! Im an artic!
Gu Anran tidak berniat untuk memperhatikan Li Ye, dia mengulurkan tangan dan memeriksa dahi Mu Zhanbei.
Suhu tubuhnya masih normal, barulah gadis itu menghela napas lega.
Melihat pria itu hanya menatap dirinya tanpa mengucapkan apa-apa, dia bertanya dengan lembut, “Bagaimana rasanya? Apa lebih baikan?”
“Pusing.” Katanya dia sekarang sedang ‘gegar otak’, jadi harusnya kata ini adalah jawaban yang paling aman.
Li Ye menatap Mu Fengjin dan berkata, “Itu… Tuan Muda Ketiga, bagaimana kalau kita keluar dulu?”
Tapi Mu Fengjin malah terus menatap Mu Zhanbei yang terkapar di ranjang rumah sakit dan Gu Anran yang duduk di sisi tempat tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia tidak pernah melihat wajah kakaknya yang seperti ini, demi seorang wanita, bahkan dia bersedia menurunkan citra dirinya.
Aura yang dingin dan arogan itu benar-benar hilang di detik Gu Anran masuk ke ruangan ini.
Sebenarnya dia sedikit tidak senang. Tapi, dia tidak bisa mengekspos apa pun yang dilakukan oleh kakaknya.
Juga tidak ada alasan untuk mengungkapnya.
Terlebih lagi, kakaknya ini sama sekali tidak perlu berpura-pura. Dia hanya perlu menghilangkan sedikit aura dinginnya, sudah cukup untuk membuat para gadis merasa sedih.
Mu Fengjin mengalihkan tatapannya pada Gu Anran lagi sebelum berbalik dan keluar dari kamar inap.
Li Ye juga ikut keluar, “Tuan Muda Ketiga, apakah kamu mengemudi kemari sendiri?”
Mu Fengjin berhenti di salah satu ujung koridor dan menoleh untuk menatap Li Ye.
Li Ye yang ditatap seperti itu pun tercengang, tapi seketika merasakan sensasi kesemutan di kulit kepalanya.
Tak disangka mata tuan muda ketiga juga isa memancarkan aura dingin, kenapa dia tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya.
“Tuan… Tuan Muda Ketiga, apa ada yang ingin dikatakan?”
“Kenapa kakakku bisa terluka?” Hanya beberapa orang penduduk daerah situ dan beberapa buah batu bata bisa sampai melukai kakaknya? Hal ini sungguh tidak mungkin!
Li Ye tahu, kalau kali ini dia tidak jujur, dia sama sekali tidak bisa menyembunyikannya lagi.
Dia ragu-ragu sebentar dan berkata dengan jujur, “Ini karena…dia menolong nyonya muda.”
Ternyata wanita itu lagi!
__ADS_1
Demi dia, kakak selalu saja tidak ragu untuk mengambil risiko. Gadis itu bagaikan tumor ganas yang seketika dapat membuat nyawa kakak dalam bahaya.
“Tuan Muda Ketiga, masalah ini tidak ada hubungannya dengan nyonya muda.”
Melihat dinginnya mata tuan muda ketiga, Li Ye tahu bahwa hal ini sudah tidak baik.
Terakhir kali saat orang-orang itu membawa pergi Su Xiaomi dan ingin menghalangi pertunangan tuan muda dan nyonya muda, sebenarnya semua itu perbuatan orang suruhan tuan muda ketiga.
Tuan muda ketiga hanya ingin menghalangi tuan muda untuk bertunangan dengan nona ketiga dari Keluarga Gu yang jelek, tapi dia tidak ingin melakukan apa pun terhadap Su Xiaomi atau pun Gu Anran.
Hanya saja setelah orang-orang itu membawa Su Xiaomi ke pulau tersebut, malah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi hal ini sudah bisa menjelaskan bahwa tuan muda ketiga sebenarnya tidak suka Gu Anran bersama dengan tuan muda.
“Kakak sungguh begitu menyukai Gu Anran?”
Terluka demi Gu Anran, sudah bukan hal yang sekali dua kali.
Sekarang hanya terluka di kepala. Apa mungkin suatu saat, akan mengalami luka yang fatal?
Dia bahkan menyinggung orang-orang di Pulau Tiantang demi gadis ini.
Semua orang tahu, bos pemilik Pulau Tiantang, begitu menggila sungguh mirip dengan orang gila!
Sekarang orang-orang di Pulau Tiantang terus mencari kesempatan untuk balas dendam terhadap Tuan Muda Mu. Apa itu bukan karena kesalahan Gu Anran?
“Tuan Muda Ketiga, nyonya muda itu tunangan tuan muda. Tunangan dalam bahaya, tuan muda tentu saja harus menolong dia.”
“Aku hanya bertanya padamu, apa dia benar-benar telah menyukai Gu Anran.”
Sebenarnya pertanyaan ini, saat tadi dia melihat penampilan kakaknya, Mu Fengjing sudah punya jawabannya.
“Apa kamu tahu berapa banyak musuh yang kakak miliki di Beiling?”
Mu Fengjin menatap lekat pada Li Ye dan mendengus dingin, “Pada saat ini, kalau orang sampai tahu ada gadis yang dia pedulikan, coba tebak apa yang akan orang-orang itu lakukan?”
Li Ye membuka mulutnya, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar.
Dia sebenarnya paham, bahkan saat terakhir kali tuan muda melompat ke laut tanpa pikir panjang untuk menyelamatkan Gu Anran, dia samar-samar telah memiliki firasat buruk.
Kalau suatu hari nanti, musuh tuan muda menggunakan nyonya muda untuk melawan tuan muda. Apa mungkin demi nyonya muda, tuan muda bahkan tidak sayang nyawanya lagi?
“Kalau kamu tahu, gadis seperti ini adalah seperti bom waktu jika di sisi kakak, apa kamu masih akan mentolerirnya?”
Mu Fengjing menyapu Li Ye sekilas dan berbalik untuk pergi, meninggalkannya dengan sebuah punggung yang kaku dan dingin.
Li Ye menggaruk kepalanya, seketika menjadi tidak berdaya.
Apa yang dikatakan tuan muda itu masuk akal. Tapi, bukankah dia agak tidak pantas untuk disalahkan?
Li Ye mana bisa disebut mentolerir? Dia hanya menjalankan perintah!
Tapi, mengenai tuan muda sering mengambil risiko demi nyonya muda itu adalah fakta.
Hal semacam ini, harus bagaimana? Ah…
……
Di kamar rawat, Gu Anran membantu Mu Zhanbei untuk duduk.
__ADS_1
Melihat luka di dahinya yang dibebat, Gu Anran tidak sanggup untuk tidak menyalahkan diri sendiri.
“Semua ini karena aku…”
“Tidak marah lagi?” Suara pria itu rendah dan juga serak, mendengarnya saja membuat hati orang sedih.
Gu Anran menggelengkan kepala dan berbisik pelan, “Tidak marah lagi.”
“Mau pulang?”
Gu Anran mendongak untuk menatapnya, tapi Mu Zhanbei tidak tahu sedang melihat apa dan terlihat tidak terlalu peduli dengan pertanyaan ini. Seakan-akan dia hanya bertanya basa-basi saja.
Gu Anran tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Akhir pekan ini ada semifinal, tim mereka saat ini sedang sangat sibuk.
Setelah kelas hari ini, semua orang segera kembali ke studio untuk melanjutkan karya mereka.
Hanya dialah satu-satunya orang yang menyelinap pergi.
Sebenarnya hanya berencana datang untuk menjenguk Tuan Muda Mu. Kalau dia baik-baik saja, Gu Anran akan kembali ke studio untuk lanjut menulis naskah.
Tapi Mu Zhanbei sekarang, tampaknya memang baik-baik saja. Namun juga seperti ada masalah…Gu Anran sedikit kebingungan.
Pulang atau tidak, untuk pertanyaan ini dia memang masih ada pertimbangan sendiri.
Mu Zhanbei tiba-tiba mengangkat tangannya dan jari yang panjang itu menekan di dahinya.
“Kenapa? “Gu Anran terkejut dan buru-buru membantunya, “apa kepalanya mulai sakit lagi?”
Dia tidak bicara, seperti tidak ingin meladeni Gu Anran.
“Aku akan minta dokter untuk memeriksa keadaanmu.”
“Tidak usah!” Mu Zhanbei menarik selimut dan ingin turun dari tempat tidur.
Gu Anran segera pergi untuk memegangi lengannya.
“Dokter bilang kamu mengalami gegar otak ringan, kapan saja bisa merasa pusing, harus hati-hati.”
“Aku tidak apa-apa.” Mu Zhanbei duduk di sisi tempat tidur dengan wajah yang dingin, tidak ada bedanya dengan biasanya.
“Kalau kamu ada perlu, biar Li Ye yang antarkan kamu kembali ke kampus.”
“Aku… akan pulang agak malaman.” Dia memang ada urusan, tapi Tuan Muda Mu sekarang seperti ini, mana mungkin dia bisa pergi.
Wajah pria itu seketika langsung muram.
Benar saja, gadis ini masih mau kembali ke kampus. Bukankah sudah sepakat untuk pulang bersamanya?
Dia mendorong tangan gadis itu dengan lembut, “Aku bisa sendiri.”
Tuan Muda MU yang dingin benar-benar tidak mudah untuk diajak bicara. Kalau bukan karena dia sedang terluka, Gu Anran mungkin juga tidak berani terlalu dekat.
“Kamu mau apa?” Gu Anran tidak berani membantu, tapi juga tidak berani pergi.
“Dokter menyuruhmu untuk lebih banyak istirahat. Kalau tidak ada perlu, jangan turun dari tempat tidur.”
Mu Zhanbei akhirnya berdiri, tapi di detik saat dia berdiri, tubuh yang tinggi besar itu sedikit terhuyung.
__ADS_1