
Hello! Im an artic!
Jiang Nan termenung, detik selanjutnya seketika tertawa terbahak-bahak, tak disangka tertawa hingga hampir saja kehabisan nafas.
Gu Anran masih tetap memandangi sisi wajahnya, di saat kritis ia mengingatkannya, “Tuan Muda Kedua Jiang, lihat mobil.”
Hello! Im an artic!
Lihat mobil?
Jiang Nan melihat ke depan, jantungnya merasa tegang sesaat, seketika ia memutar dan membanting setirnya, tipis sekali, Cayenne melewati sisi spion truk besar itu.
Hanya selisih sedikit jarak itu, hanya tersisa sedikit sedikit saja, dia hampir tertabrak.
Truk besar yang melawan arah, saat hendak menambah kecepatan tidak melihat ada mobil di depannya.
Hello! Im an artic!
Jika saja tadi tertabrak, tentu saja ini menjadi tanggung jawab truk besar sepenuhnya, namun masalahnya adalah kemungkinan besar mereka akan terluka cukup parah.
Tentu saja, yang dibilang adalah badan!
Suara dercitan mobil, Cayenne berhenti di tepi jalan, sisi kepala Jiang Nan melototi perempuan yang masih tetap tenang itu, dia sangat marah sampai-sampai hampir keluar jerawat.
“Kamu…” Melihat dengan jelas mereka tadi hampir saja bertabrakkan dengan truk tadi, tidak disangka masih begitu tenang!
Anak ini, haruskah mengatakan dia tidak berperasaan, atau sebaiknya mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tahu hidup dan mati?
“Tuan Muda Kedua Jiang, barusan tadi sepenuhnya merupakan masalahmu.”
Gu Anran dengan tenang menjelaskan, “Kamu yang tidak lihat jalan membawa mobil.”
“Kamu sudah melihatnya, kenapa tidak mengatakannya lebih awal?” Dia terkenal dengan temperamennya yang bagus namun entah kenapa di hadapannya, emosi dia selalu saja mudah sekali meledak.
“Aku sudah memberitahu padamu saat pertama kali melihatnya.” Ucapan ini, sama sekali tidak ada unsur kebohongan sedikitpun.
Dia tadi sedang memikirkan sesuatu, seharusnya tidak boleh begitu enteng naik ke dalam mobil pria ini, terutama pada malam hari.
Oleh karena itu, sebenarnya dia sedikit merasa menyesal.
Yang paling utama adalah setelah mengetahui Mu Zhanbei hendak pergi ke Ali Han, hatinya terus merasa gelisah memikirkan beberapa hal ini, sama sekali tidak bisa merasa tenang.
Jiang Nan meliriknya kembali, baru menghembuskan nafas.
“Kamu juga ada tanggung jawab, baik-baik saja untuk apa membuatku tertawa?”
“Masalahku tadi sangat serius.” Jadi, apa yang lucu?
“Bagaimana mungkin aku bisa merasa tertarik pada wanitanya bos…Tuan Muda Pertama Mu? Meskipun kamu ingin selingkuh, juga jangan cari aku.”
Memangnya Jiang Nan masih belum paham temperamen bosnya?
“Jika kamu mencariku, dia pasti akan merusak wajahku.”
Alis Gu Anran perlahan mengerut, tiba-tiba teringat dengan perkataan Tuan Muda Pertama Mu tadi di jalan darurat.
Jika, dia bersama dengan beberapa pria itu, Tuan Muda Pertama Mu akan membunuh mereka sendiri!
__ADS_1
Jiang Nan hanya ingin bercanda saja, namun raut wajah anak ini dalam sesaat langsung tenggelam dan suram.
Sepertinya tidak ada sedikitpun maksud hendak tertawa.
“Lupakan saja, suasana hatimu sepertinya tidak terlalu baik, aku antarkan kamu pulang ke sekolah saja.”
Dia kembali membawa mobilnya, lalu memalingkan wajah untuk melihat dia sejenak.
“Tidak setiap pria yang membawamu ke mobilnya adalah untuk membawamu pulang ke rumah dan melakukan hal yang tidak bisa dideskripsikan itu.”
Gu Anran tidak berbicara, hanya menganggukkan kepalanya lalu menjawabnya dengan pelan, “Ya.”
Patuh sekali? Sungguh sangat langka.
Jiang Nan mengendarai mobilnya kembali di jalanan, sisi kepala Gu Anran melihat ke arah luar jendela, dalam hatinya merasa campur aduk tetap tidak bisa merasa tenang dan rileks.
Saat kedua orang terdiam, hawa di dalam mobil seketika menjadi sedikt aneh.
Saat Jiang Nan hendak memutar musik, ponsel Gu Anran tiba-tiba berdering.
Dia mengeluarkan ponselnya, begitu melihat layar ponsel, seketika hatinya merasa terguncang.
Nyonya! Dia sangat jarang menggunakan telepon, namun nomor ini, Gu Anran terus mengingatnya.
Mengingatnya dari kehidupan masa lalu sampai sekarang.
“Nenek.” Dia mengangkat teleponnya, lalu dengan lembut menyapa.
Nyonya yang berada di sisi telepon satunya lagi, malah terlihat sangat menggebu dan panik.
“Ran Ran, kenapa…kenapa A Bei umumkan pemutusan janji pernikahanmu di koran? Apakah karena Wei Zi?”
“Jika karena Wei Zi tinggal di Paviliun Wang Jiang lalu kamu tidak senang maka aku akan membiarkannya pindah ke tempatku, aku tidak membiarkannya pergi menganggu kalian lagi, bagaimana?”
“Ran Ran, A Bei adalah anak yang baik, kamu jangan ribut dan bertengkar dengannya, A Bei sungguh adalah suami yang baik…”
Hidung Gu Anran sudah terisak, namun masih harus berpura-pura merasa tenang, tersenyum pada teleponnya.
“Nenek, sebenarnya antara aku dengan Tuan Muda Pertama Mu tidak ada perasaan apapun, sebelumnya bisa bertunangan kamu juga tahu sebenarnya untuk menghiburrmu agar kamu merasa gembira.”
“Namun aku sudah memikirkannya, aku sungguh tidak menyukai Tuan Muda Pertama Mu, Tuan Muda Pertama Mu juga tidak memiliki perasaan apapun padaku. Dua orang terpaksa bersatu tidak akan bisa merasa bahagia.”
“Ran Ran, nenek tahu kamu menyukai A Bei, kamu tidak bisa membohongi nenek.”
Hati Nyonya sangat sedih, meskipun Gu Weizi barulah cucu luar perempuannya, sekarang Gu Weizi bersatu dengan Mu Zhanbei baru sejalan dengan niat awal pertama kalinya.
Namun, bagaimana dengan Ran Ran?
Seorang pria secara terbuka membatalkan pernikahan dengannya, kelak masih bisakah menemukan pernikahan yang indah dan sempurna?
Ran Ran…meskipun bukanlah cucu luar perempuannya namun dia masih tetap peduli dan sayang pada Ran Ran!
Ada beberapa perasaan bila sudah ditetapkan, meskipun sudah tahu bahwa itu salah namun perasaan itu tetap juga tidak bisa ditarik kembali.
Teringat Ran Ran menderita dan diperlakukan seperti ini, hati Nyonya terasa sangat sakit.
“Ran Ran, di mana kamu sekarang? Nenek ingin berjumpa denganmu, nenek sungguh sangat ingin berjumpa denganmu.”
__ADS_1
Dia takut karena masalah Mu Zhanbei, Gu Anran selamanya tidak akan menemuinya lagi di rumah keluarga Mu.
“Ran Ran, datang dan temui nenek ya, bagaimana?”
“Nenek, sekarang sudah sangat malam, jam segini kamu sudah seharusnya istirahat!”
Meskipun ingin berjumpa juga tidak berani menemuinya di jam ini, besok baru pergi menemuinya juga tidak masalah.
Namun Nyonya tetap tidak mau, dia sungguh sangat takut Gu Anran tidak akan ke rumah Mu lagi, tidak bersedia menemuinya lagi.
“Kamu tidur saja di tempat nenek, biarkan nenek menemanimu.”
Gu Anran masih merasa kesulitan, nenek ini takut dia akan berpikiran sempit setelah ditelantarkan Tuan Muda Pertama Mu.
Tidak peduli bagaimana Gu Anran menjelaskan, Nyonya tetap tidak mendengarnya, tetap ingin berjumpa dengannya.
“Hendak ke rumah Mu?” Jiang Nan bukan bermaksud menguping pembicaraan.
Dia duduk di sampingnya, bisa tidak mendengarnya?
“Ya.” Gu Anran menganggukkan kepala lalu memalingkan wajah melihatnya, “Bisa? Kalau tidak nyaman…”
Jiang Nan malah sudah membawa mobil ke sisi jalan paling kiri lalu memutar setirnya dan bergerak menuju ke rumah Mu.
Gu Anran membeli stelan pakaian olahraga di toko kecil dan mengganti gaun malam yang mempesona itu.
Saat kembali, auranya yang nampak santai itu sepenuhnya berbeda dengan dirinya yang sebelumnya, mempesona dan seksi.
Dia yang sekarang, sudah melepaskan ikatan sanggul yang tinggi tadi lalu mengikat rambutnya kembali dengan asal-asalan.
Ekor kuda yang biasa namun berubah menjadi sangat gesit dan bersih padanya.
Wanita cantik, memang benar apapun yang dipakai akan tampak bagus.
Bos bilang dia cantik, dan ternyata, memang benar adanya.
Mobil masuk ke dalam rumah Mu, langsung menuju ke depan rumah utama dan berhenti.
Pelayan membukakan pintu untuk Gu Anran, Jiang Nan dengan datar bertanya, “Perlu aku menunggumu?”
“Tidak perlu, di sini ada supir, saat pulang nanti aku bisa meminta mereka untuk mengantar aku pulang.”
Tuan Muda Kedua Jiang adalah orang sibuk, meskipun sekarang sudah sangat malam, tidak perlu bekerja lagi namun tetap saja merasa sedikit bersalah dengan menyita waktunya seperti ini.
Jiang Nan tidak bicara, melambaikan tangannya agar dia pergi dulu.
Dalam hati Gu Anran terus mengingat Nyonya, tidak berbasa basi dengannya lagi dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah yang ada di belakangnya.
Malam ini seharusnya kakek tidak ada di rumah.
Jika tidak, kakek pasti tidak akan membiarkan nenek masih belum tidur pada jam segini.
Saat Gu Anran masuk ke dalam, Nyonya masih duduk di ruang tamu menunggu dirinya.
Mendengar suara langkah kaki dari luar, Nyonya mengangkat kepalanya langsung terlihat seorang perempuan sedang berjalan masuk dari luar.
Murni, jernih, polos, sempurna!
__ADS_1
Kedua matanya melihat sejenak, nafasnya seketika berubah menjadi kacau.
“Qing Qing! Qing Qing! Kamu sudah pulang! Akhirnya kamu sudah pulang!”