
Hello! Im an artic!
Gu Weizi bunuh diri?
Gu Anran tertawa mengejek, dia tidak percaya sepatah kata pun!
Hello! Im an artic!
“Dia bisa bunuh diri?” Hehe, hal yang sangat konyol. Gu Anran bertanya sambil tertawa, “Sudah mati?”
Li Ye tidak menyangka Gu Anran akan bereaksi seperti ini. Tapi dia segera memahami bahwa nyonya muda tidak percaya padanya.
Li Ye berkata dengan tidak berdaya, “Dia kehabisan banyak darah, sekarang nyawanya berhasil diselamatkan. Tapi kondisinya sangat lemah.”
“Kalau nyawanya sudah berhasil diselamatkan, mencariku juga tidak ada gunanya. Aku bukan dokter.”
Hello! Im an artic!
Jadi maksudnya Gu Weizi bunuh diri? Haha, percaya pada hal itu bodoh namanya.
Mau akting untuk dilihat siapa? Orang yang begitu kejam dan serakah, apa sungguh rela mati?
“Aku masih ada urusan sekarang, sementara tidak bisa pulang. Li Ye, aku tutup dulu.”
“Nyonya muda!” Li Ye sedikit cemas, “Tuan Muda ingin Anda pulang.”
“Aku tidak akan pulang hanya karena wanita itu bunuh diri. Kalau begitu sayang padanya, biarkan Tuan Mudamu sendiri saja yang merawat dia! Untuk apa mencariku?”
Gu Anran menutup telepon, segera membuang ponselnya ke samping.
Sebuah rumah yang penuh dengan orang bodoh, apa tidak bisa melihat kemunafikan Gu Weizi?
Orang semacam itu bisa bunuh diri? Dia hanya akting untuk mendapat simpati saja!
Tidak bisa dipungkiri, cara kerjanya kali ini sungguh hebat.
Demi menyelamatkan nyonya besar, dia melukai wajah yang paling disayanginya.
Meski hanya di bagian dagu, tapi Gu Weizi sangat mementingkan wajahnya itu. Sedikit luka saja bisa membuatnya menangis beberapa hari, apalagi luka bakar.
Jika terkena luka bakar, tak peduli luka itu kecil atau besar, siapa pun tidak bisa menjamin sakitnya hanya sedikit saja.
Jadi kali ini, meski Gu Anran sendiri pun sedikit tidak mengerti, Gu Weizi itu tulus atau tidak menyelamatkan nyonya besar.
Kalau hanya demi akting, maka harga yang dibayarkan sungguh terlalu tinggi.
Melihat semuanya begitu logis dan masuk akal, sama sekali tidak mungkin buatan.
Tapi, rasanya ada sesuatu yang tidak beres.
Benar, Gu Weizi ini yang tidak beres.
Dia tidak memiliki hati yang begitu baik.
Tapi hal ini benar-benar terjadi. Gu Anran tidak bisa menebaknya, untuk sementara juga tidak punya begitu banyak energi untuk menerka-nerka.
Namun, bunuh diri dan semacamnya ini terlalu mudah untuk dilihat.
Ingin Gu Anran menganggap hal ini serius adalah sesuatu yang mustahil.
Tapi setelah menyelamatkan nyonya besar dan ribut untuk bunuh diri.
Maka kejadian ini pasti akan menimbulkan pengaruh besar di Keluarga Mu.
Karena itulah Gu Anran mengatakan bahwa langkah yang Gu Weizi ambil ini sangat hebat.
Tapi Gu Anran tidak punya mood untuk mengurusinya.
“Ada yang bunuh diri dan menyuruhmu pulang untuk melihatnya, kamu tidak bersedia?”
Jiang Nan menatap wajah Gu Anran, dia tahu suasana hati gadis itu tidak baik. Tapi, wajah yang begitu tidak berperasaan juga membuatnya terkejut.
__ADS_1
“Bukankah aku masih ada kesepakatan denganmu? Kalau aku pergi sekarang, bukankah semua usahaku sia-sia?”
Gu Anran menatap Jiang Nan, “Bagaimana kalau kamu biarkan aku pergi lebih awal?”
“Kalau kamu ingin pergi, aku tidak akan menghalangimu.” Hanya saja, kesepakatannya berakhir.
Gu Anran tahu, di dunia ini tidak ada makan siang gratis.
Lagi pula, dia juga tidak peduli pada Gu Weizi. Lebih lagi tidak ingin melihat sikap munafik Gu Weizi.
“Mau makan?” Gu Anran mengupas siput dan meletakkan di piring Jiang Nan, “sekarang suasana hati sedang baik, layani kami sebentar.”
Jiang Nan sama sekali tidak bisa memahami gadis ini.
Ada yang bunuh diri. Tampaknya juga memiliki hubungan yang dekat dengannya, tapi dia malah bilang suasana hatinya baik.
Tentu saja, semua orang pun bisa melihatnya. Dia tidak merasakan apa-apa?
“Tidak mau makan?” Melihat Jiang Nan tidak bergerak, Gu Anran mengangkat alis, “kalau begitu, aku makan sendiri.”
“Siapa bilang tidak mau makan?” Jiang Nan mengambil kembali piring kertas dan mengangkat siput itu, ragu-ragu sejenak.
Bentuknya tidak berbeda dengan cakar anjing, tidak heran namanya seperti itu.
Penampilannya begitu jelek, entah enak atau tidak.
“Kembalikan padaku kalau tidak mau makan.” Gu Anran berkata tiba-tiba.
Jiang Nan yang masih ragu-ragu pun dikejutkan oleh suaranya. Tanpa pikir panjang, dia langsung membawa siput itu ke sudut bibirnya.
Menirukan apa yang Gu Anran lakukan, digigit sedikit dan dihisap.
Daging siput itu terasa aneh, seumur hidupnya ini dia tidak pernah makan makanan yang begitu jelek.
Licin, manis, dan rasanya agak mengejutkan.
“Enak, kan?”
“Kupaskan dua buah.” Dia menggunakan cara lain untuk mengatakan pada Gu Anran tentang rasa makanan itu.
“Kesepakatannya berakhir.” Dia hanya mengatakan tidak ingin tubuh gadis ini, apa dia mengatakan tidak ingin dilayani?
“Kamu…”
“Karena waktumu adalah milikku, dirimu juga milikku. Kalau tidak, kita akhiri saja kesepakatan ini.”
Jiang Nan dengan penuh kesadaran menyodorkan piring ke sana.
Gu Anran memelototinya, tapi juga tidak berdaya.
Tak ada pilihan lain, hanya bisa mengupas beberapa siput cakar anjing untuknya dan ditambah dengan beberapa ekor udang.
“Mau kepiting tidak?”
“Iya.”
“Jus buah mau?”
“Tidak mau, beli air mineral.”
“Tidak bisa beli sendiri?”
“Kesepakatan berakhir.”
“……” Apakah rasanya seperti sangat ingin memukuli seseorang?
Mereka bermain hingga sangat malam, sebenarnya juga tidak ada yang menyenangkan.
Makan BB Q dan setelah itu berjalan-jalan di pantai.
Suasana hati Gu Anran sama sekali tidak baik, Jiang Nan dapat melihatnya.
__ADS_1
Tapi, dia tidak punya kebiasaan menghibur anak gadis. Tentu saja, dia juga tidak merasa hal ini perlu.
Sebaliknya, suasana hati gadis itu buruk, tapi suasana hatinya malah menjadi sangat baik.
“Orang yang bunuh diri itu, kakakmu yang bernama Gu Weizi?”
“Hmm.” Gu Anran mengangguk.
“Kamu membencinya?”
“Hmm.”
Jiang Nan mengangkat alisnya, tidak banyak orang yang begitu terus terang mengatakan kalau dirinya membenci saudara perempuannya.
Bagaimana pun, harus sedikit munafik, bukan?
“Kenapa membencinya?”
Gu Anran menatap pasir di bawah kakinya sambil tertawa mengejek, “Kalau kubilang, suatu hari dia demi mendapatkan Tuan Muda Mu akan membunuhku, kamu percaya?”
“Tidak tahu.”
Gu Anran menendang lembut pasir di kakinya, melihatnya berhamburan ke mana-mana di bawah sinar bulan dan tatapannya sedikit suram.
“Intinya, dia menginginkan Tuan Muda Mu, apa tidak seharusnya aku benci padanya?”
Jiang Nan tidak menjawab pertanyaan ini.
Dia melihat waktu, jam setengah sembilan.
Gu Anran juga mengeluarkan ponsel untuk melihat waktu. Barulah dia sadar kalau ponselnya mati karena kehabisan baterai.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya.
“Kenapa? Apa bersama denganku waktu berjalan begitu lambat?” Jiang Nan mengangkat alisnya.
“Tentu saja.”
Bersamanya bukan karena keinginan sendiri. Pergi makan dan kali ini, semuanya karena dipaksa.
Saat dipaksa, siapa yang tidak berharap agar waktu segera berlalu?
“Kuantar kamu pulang.” Jiang Nan mempercepat langkahnya.
Gu Anran membawa dua sepatunya dan segera mengikuti.
“Kamu pelan sedikit, kakiku sakit.”
Pasir agak menusuk kaki, berjalan begitu cepat sungguh membuatnya kesakitan.
Ingin memakai sepatu, tapi kakinya begitu kotor. Kalau tidak menemukan tempat duduk untuk membersihkan kaki, sangat tidak nyaman untuk memakai sepatu.
“Bukankah ingin cepat-cepat menjauh dari orang yang menyebalkan sepertiku?”
“Kamu juga tahu kalau kamu menyebalkan?”
“……” Gadis ini benar-benar mudah membuat emosi.
Jiang Nan mempercepat langkahnya, Gu Anran benar-benar ingin mengumpat, “Tunggu sebentar, kakiku sakit. Kakiku… aduh!”
Sungguh kemalangan tak pernah datang sendiri, di sini saja bisa menginjak benda tajam!
Gu Anran terduduk dan mengangkat kakinya untuk dilihat, ternyata memang ada noda darah.
Aduh, sakit. Sakit sekali!
Ketika Jiang Nan kembali, dia melihat gadis itu sudah membersihkan pasir di kakinya dan lukanya terlihat.
Seekor siput runcing menusuk di bawah kakinya dan membuat luka berbentuk lubang.
Meski lukanya tidak dalam, tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya lumayan sakit.
__ADS_1
“Berjalan tidak pakai mata?” Ucapannya memang seperti itu, tapi Jiang Nan tetaplah berjongkok di hadapannya dan mengangkat kakinya untuk mengamati luka itu.
“Sudah bodoh, cerewet, cemburuan, pelit, tidak baik hati, rewel, pemarah… aku tidak mengerti apa yang bos sukai darimu.”