
Hello! Im an artic!
“Jalang, jangan pura-pura mati!”
Menyaksikan Gu Anran jatuh pingsan ke lantai, wajah Gu Weizi benar-benar menggelap.
Hello! Im an artic!
Dia hanya menariknya, bisa membuatnya pingsan?
“Jalang, bangun!” Gu Weizi mengulurkan kakinya, menendang kaki Gu Anran.
Gu Anran masih tidak bereaksi.
Gu Weizi tidak percaya, mengangkat sepatu hak tingginya yang tajam, menginjak kaki Gu Anran.
Hello! Im an artic!
Kali ini, Gu Anran akhirnya sedikit bereaksi, mendengus sesak.
“Jalang, benar saja kau berpura-pura! Bangun atau aku akan membunuhmu!”
Gu Weizi menginjak lagi, Gu Anran akhirnya sedikit membuka mata.
Kakinya sangat sakit, sakit membara.
Namun, hatinya lebih sakit! Rasa sakit itu membuat perutnya mual.
Dia tiba-tiba menyamping dan muntah.
Gu Weizi membenci kepura-puraan wanita ini.
Melihatnya muntah, ia mendengus, “Tuan muda Mu dan Kakek tidak ada di sana. Kau pura-pura kasihan untuk dilihat siapa?”
Gu Anran benar-benar pingsan tadi, tapi sekarang sudah terjaga sepenuhnya.
“Jalang…”
“Jika kau berani sembarangan, aku akan berteriak.”
Gu Anran melototinya, akhirnya nafasnya teratus, dia berjuang bangkit.
Kakinya sangat sakit, sepertinya terluka.
Gu Weizi sungguh ingin menendangnya beberapa kali lagi, tetapi jika wanita ****** ini berjerit, bukan hal yang baik untuknya.
Entah panggilan apa yang dijawab Gu Anran tadi. Sepertinya dia sangat putus asa?
Gu Weizi sangat penasaran, apakah itu ada hubungannya dengan dia?
Gu Anran tidak ingin memedulikannya lagi, dia sama sekali tidak ada mood sekarang.
Huh, rupanya semua perkiraan hanyalah harapan berlebihannya sendiri.
Sebenarnya dia masih mempertahakan apa?
Bukan, tuan tua bukan kakeknya, Gu Weizi berulah cucu keluarga Gu.
Dia, seseorang yang tidak berhubungan, bisa-bisanya ingin merebut segalanya dari orang lain…
Gu Anran berbalik pergi, Gu Weizi ingin mengejarnya.
__ADS_1
Tapi penampilan putus asa Gu Anran membuatnya merasa sangat aneh.
Tuan muda Mu masih di aula, jarang-jarang tuan muda Mu bersikap lembut padanya hari ini. Sekarang dia ingin segera kembali ke sisinya.
Dia mengeluarkan ponsel dan memutar nomor sementara tidak ada yang memperhatikan.
“Gu Anran telah datang ke Lingzhou, sekarang bahkan tinggal di kediamana Gu. Kalian pikirkan cara. Aku khawatir masalah ini tidak bisa disembunyikan lagi.”
“Jika benar-benar tidak bisa, bagaimana kalau… membunuhnya?”
……
Gu Anran berjalan di tepi danau, lalu duduk di bawah naungan pepohonan.
Dia menatap danau, masih merasa sedikit linglung.
Benaknya agak kosong, tidak tahu apa yang dirinya pikirkan, hanya memandang danau yang tenang, melamun.
Entah berapa lama dia duduk sendirian sebelum menghembuskan napas dan berdiri lagi.
Karena salah, maka tidak perlu membuktikan apapun lagi.
Gu Weizi adalah cucu dari tuan tua Gu. Meskipun dia selalu tidak punya perasaan baik untuk wanita jahat itu, tapi setidaknya dia tidak menipu tuan tua.
Selama tuan tua bukan ditipu, maka sudah cukup, dia tidak perlu memusingkan terlalu banyak.
Baru saja berbalik untuk kembali ke arah rumah utama, tiba-tiba perutnya merasa tidak nyaman.
Gu Anran menutupi bibirnya, tahan untuk beberapa saat, tetapi akhirnya tidak tahan, berpegangan pada batang pohon dan muntah.
“Oek…”
“Kau kenapa?”
Seorang wanita datang dari belakang, datang ke sisi Gu Anran, dan menepuk-nepuk punggungnya.
Gu Anran akhirnya lebih lega, menoleh untuk menatap wanita itu, “Terima… kasih.”
Wanita itu malah menatap wajahnya, terkejut sesaat.
“Kau…” Kenapa bisa seperti ini? Dia seperti… bertemu seseorang yang sudah lama dikenal!
Gu Qinghe bergeleng pelan, kembali menatap Gu Anran, tiba-tiba teringat dia hanyalah seorang gadis kecil berusia delapan atau sembilan belas tahun.
Seusia ini, tentu bukanlah orang yang telah lama dia kenal.
Terlebih lagi, orang itu sudah lama tidak ada.
“Kau… mengenalku?” Gu Anran dengan pelan menekan dada, akhirnya sudah tidak begitu tidak nyaman.
Gu Qinghe bergeleng, sebagai manajer umum Gu Group, dia telah lama belajar untuk menyembunyikan pikirannya.
Guncangan tadi sudah hilang.
Dia berkata datar, “Ada apa denganmu? Muntah seperti ini, bukan hamil, kan?”
Hamil!
Kata ini membuat Gu Anran pucat ketakutan.
“Tidak!” Dia bergeleng dengan tergesa-gesa, reaksi ini sangat aneh.
__ADS_1
Gu Qinghe menyipitkan mata, menelisik wajahnya, sangat yakin keluarga Gu tidak memiliki pelayan seperti ini.
Jika wajah ini pernah muncul di keluarga Gu, dia tidak akan pernah melupakannya.
“Siapa kau? Kenapa di rumah kami? Bertamu?”
“Aku datang bersama Tuan muda Mu.” Gu Anran belum pulih dari keterkejutan dan ketakutan yang dibawa oleh kata “hamil”.
“Tuan muda Mu? Maksudmu Tuan muda Mu dari Beiling?”
Gu Qinghe telah mendengar bahwa tuan muda Mu akan datang, tetapi tidak sangka hari ini sudah tiba.
“Dimana orangnya? Kebetulan aku hendak menyapanya.”
Dia menatap Gu Anran lagi, masih agak bingung, “Kau… kekasih Tuan muda Mu?”
“Aku bukan!” Penyangkalan ini lebih cepat dari sebelumnya, seolah takut disalahpahami.
Mungkin menyadari reaksinya terlalu berlebihan, Gu Anran tersenyum tipis padanya, mengurangi rasa canggung.
“Aku hanya mampir dengannya, aku datang untuk melihat kakakku.”
“Kakakmu?”
“Gu Weizi.”
……
Ketika Gu Qinghe dan Gu Anran masuk ke aula bersama, Mu Zhanbei masih mengobrol dengan tuan tua dan Gu Jingyuan.
Gu Weizi duduk di samping tuan muda Mu.
Meski masih ada sedikit jarak di antara keduanya, tapi tingkah Gu Weizi membuatnya mudah dilihat bahwa hubungannya dengan Mu Zhanbei sangat tidak biasa.
“Tuan muda Mu benar-benar datang.”
Gu Qinghe melihat sekilas Gu Weizi, lalu kembali menatap Gu Anran di sampingnya.
Setelah itu, barulah membuat senyuman di dunia bisnis, berjalan ke arah Mu Zhanbei.
“Sejak lama sudah mendengar Jingyuan bilang Tuan muda Mu akan kemari, tidak sangka datang hari ini. Aku tidak sempat bersiap untuk menjamu Tuan muda Mu. Mohon maklumi.”
“Nyonya Gu terlalu serius.” Mu Zhanbei berdiri, berjabat tangan dengan Gu Qinghe yang mendatanginya.
Meskipun pria yang dinikahi Gu Qinghe tidak bermarga Gu, tapi karena suaminya yang dinikahi, jadi yang lebih tua biasa memanggilnya Nona Gu, dan yang lebih muda memanggil Nyonya Gu.
Gu Qinghe tersenyum tipis dengan ekspresi lembut, “Tuan Muda Mu, silakan duduk.”
Keduanya duduk, Gu Qinghe duduk di samping Gu Jingyuan.
Melihat Gu Anran telah kembali, tuan tua buru-buru menyapanya, “Ranran, duduklah di dekat Kakek.”
Gu Weizi melototi Gu Anran tajam, tetapi dengan begitu banyak orang di tempat, dia tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang.
Hanya bisa menyembunyikan semua kebencian di dalam hati.
Gu Anran masih begitu menurut, duduk di samping tuan tua tanpa mendengus.
Gu Qinghe memandang Gu Weizi dan Mu Zhanbei, berpikir.
“Weizi, kau dan Tuan muda Mu… sangat dekat?”
__ADS_1