
Hello! Im an artic!
Mereka telah tiba di Universitas Jiang, jantung Gu Weizi tetap berdegup kencang meskipun dia telah berusaha untuk menenangkan diri.
Dia kini tidak bisa berbuat apa-apa, jadi dia hanya bisa melepaskan tangan Tuan Besar Gu dan merapikan pakaiannya.
Hello! Im an artic!
Kemudian dia mengeluarkan cermin dan mendadani wajahnya.
“Weizi kami selalu tampak cantik, tidak perlu menggunakan barang-barang ini.”
Keluarga Gu adalah keluarga peracikan obat, mereka telah berkecimpung dalam bisnis farmasi sudah beberapa generasi.
Bukan hanya obat-obatan, tetapi juga berbagai produk perawatan kulit.
Hello! Im an artic!
Bagi mereka kosmetik yang dapat merusak kesehatan kulit, oleh sebab itu mereka sangat tidak menyukainya.
Mereka juga tidak suka berdandan dengan menggunakan produk kosmetik. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka selama bertahun-tahun lamanya.
Gu Weizi cemberut: “Kakek, sekarang anak perempuan mana yang tidak berdandan pada saat keluar rumah? Ini hanyalah untuk sopan santun semata.”
Tuan Besar Gu tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.
Bukan hanya tidak suka dengan kosmetik, tetapi pada saat dia mencium bau kosmetik saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman.
Tetapi karena cucu kesayangannya menyukainya, jadi dia hanya bisa menerimanya.
Ada sekelompok orang yang keluar dari dalam kampus dan menyambut mereka secara khusus.
Awalnya Gu Weizi memang tidak ingin datang ke sini, namun setelah melihat acara penyambutan yang dilakukan oleh kampus itu begitu besar-besaran dan melihat begitu banyak orang yang memandangnya dengan perasaan kagum, rasa keangkuhannya membuatnya kembali menjadi bersemangat.
Mobil mereka melaju jauh ke dalam dan ketika dia keluar dari mobil, Gu Weizi seperti seorang putri keraajaan, begitu berkelas dan cantik.
Siapa yang tidak tahu status yang disandangnya sekarang, sangat jelas dapat terlihat di antara orang-orang ini, statusnya sungguh sangat tinggi.
“Apa yang terjadi sekarang ini? Lantas apakah Gu Weizi telah menjadi wanitanya Tuan Besar Gu?”
“Bukankah dikatakan bahwa dia memiliki hubungan dengan Tuan Muda Mu? Namun mengapa di depan mata kita sekarang ini adalah seorang kakek tua?”
“Aduh, apakah kamu pernah melihat Tuan Muda Mu mengumumkan hubungannya dengannya di depan publik? Itu hanyalah omongan orang-orang semata, Tuan Muda Mu tidak pernah mengakuinya.”
“Iya, mungkin juga karena Tuan Muda Mu tidak menginginkannya, oleh sebab itu sekarang dia bersama dengan seorang kakek tua.”
“Lihatlah tampangnya begitu angkuh seperti seekor burung merak, dia merasa sangat bangga bisa bersama dengan seorang kakek tua.”
Gu Weizi sama sekali tidak tahu apa yang sedang dibicarakan semua orang mengenai dirinya, tetapi dia sangat menyukai perasaan menjadi pusat perhatian orang-orang.
Tidak peduli apa yang mereka katakan, mereka hanyalah merasa iri dan dengki.
“Apa yang terjadi hari ini? Ada begitu banyak orang berkerumun di sana? Kepala Pengurus Rumah tidak dapat menahan diri untuk bertanya.”
Seorang direktur sekolah tersenyum dan berkata, “Hari ini adalah hari bazar sekolah. Jika Tuan Besar Gu merasa tertarik dapat pergi mengunjunginya.”
__ADS_1
“Wah! Banyak kegiatan di kampus kalian.”
Tuan Besar yang sangat penyanyang karena melihat para siswa mengadakan kegiatan, dia kemudian juga membayangkan bagaimana kalau Gu Weizi juga ikut berpartisipasi di dalamnya.
“Ayo jalan kita pergi lihat-lihat!”
Gu Weizi sama sekali tida memiliki ketertarikan pada bazar seperti itu.
Dengan selera tinggi yang dimilikinya dia sudah pasti memandang remeh tas-tas bermerk, pakaian dan kosmetik yang dijual oleh para siswa tersebut.
Dengan statusnya sekarang ini, semua apapun yang dia inginkan bisa dia dapatkan.
Tidak tahu juga apa yang sedang dipikirkan oleh Kakek. Dia sama sekali tidak tertarik pada barang-barang yang seperti ini. Lantas buat apa dia datang kemari?
“Kakek, hari ini cahaya mataharinya ada sedikit terik.” Gu Weizi tidak bisa menahan diri lagi untuk mengingatkan.
Orangnya terlalu banyak dan mataharinya bersinar terik. aku keluar rumah memakai terlalu banyak pakaian.
Di bawah cuaca yang seperti sekarang ini, orang dengan mudah akan berkeringat.
Wajahnya penuh dengan kosmetik, meskipun semua yang dia gunakan itu bermerek ternama dan anti air, tetapi kalau sampai meleleh maka dia akan tampak sangat jelek.
“Tidak apa-apa, banyak berjemur sinar matahari itu menyehatkan.” Tuan Besar itu mana mungkin mengerti apa yang dirasakan oleh anak perempuan.
Kepala Pengurus Rumah, Paman Ding, sangat tertarik dengan beberapa mainan yang ada di hadapannya. Melihat ada jenis mainan jaman dulu yang dibawa oleh beberapa anak laki-laki, kedua orang tua itu juga ikutan memilih-milihnya.
Tingkah mereka benar-benar seperti anak laki-laki tua! Sama sekali tidak mencerminkan sikap seseorang yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
Gu Weizi ada sedikit merasa risih, dia lalu berkata: “Kakek, aku pergi ke sana untuk istirahat sebentar.”
Ditambah lagi tampaknya pria tua itu benar-benar ingin mengajak keluarganya untuk makan bersama, untuk mengucapkan terima kasih dan sebagainya.
Dia harus menyampaikan hal itu kepada Gu Minghao dan Ye Shuixin terlebih dahulu. Masalah makan bersama itu jangan sampai Gu Anran mengetahuinya.
Tentu saja pada saat itu tidak boleh membiarkan Gu Anran juga sampai muncul.
Tuan Besar dan Kepala Pengurus Rumah ketika menoleh melihat, Gu Weizi telah berbalik badan dan berjalan ke tempat istirahat yang letaknya berada di kejauhan, lalu kemudian menghilang dalam sekejap mata.
Lagipula ini adalah kampusnya sendiri, maka para orang tua itu tidak kuatir bakalan terjadi sesuatu yang membahayakan.
Ketika melihat mainan yang disukainya, orang tua tersebut langsung membelinya tanpa menanyakan harga.
Gu Jingyuan terus menerus ikut di belakang mereka dan dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat tingkah kedua orang tua itu.
Dia meminta seseorang untuk memberikan kepadanya dua tas besar untuk mengisi mainan-mainan itu dan dalam sekejap sudah hampir terisi penuh.
“Itu dia!” Tiba-tiba, mata Tuan Besar menjadi berbinar-binar dan menunjuk ke arah seorang anak perempuan yang tidak jauh di depan itu.
“Lao Ding, kamu lihat, apakah orang itu benar adalah anak perempuan itu?”
Paman Ding mendongak dan langsung mengenali anak perempuan itu.
“Iya, itu dia!” Paman Ding tampak terkejut, “Wah beneran anak perempuan itu, Tuan Besar, tidak disangka kalau ternyata dia juga ada mahasiswa di kampus ini.”
Gu Jingyuan menoleh ke arahnya dan segera melihat anak perempuan itu.
__ADS_1
Dia sedang bersama dua anak perempuan lainnya dan sedang tawar-menawar dengan mahasiswi yang berjualan di sana.
Raut wajah Gu Jingyuan diwarnai dengan senyuman, tanpa perlu mengatakannya dia juga sudah tahu apa yang akan diperbuat oleh kedua orang tua itu.
Benar saja, hanya dalam sekejap mata, keduanya telah berjalan ke sana.
Gu Jingyuan tersenyum kepada para pimpinan sekolah yang mengikuti di belakangnya: “Untuk maslaah sumbangan, bicarakan saja dengan asisten aku. Biarkan orang tua itu berkeliling dan menemui orang-orang yang ada di sini. Kalian semua tidak perlu menemani lagi.”
Para pemimpin sekolah tersebut langsung mengerti apa yang dia maksudkan. Tidak baik juga kalau terus membuntuti orang.
Ditambah lagi Tuan Besar Gu sangat tertarik dengan bazar amal yang mereka lakukan. Hal ini di luar ekspektasi semua orang.
Beberapa pemimpin sekolah tersebut mengangguk-angguk: “Kami telah menyiapkan hidangan makan siang. Kami mohon agar Tuan Muda Gu bisa memberitahukan kepada Tuan Besar Gu. Kami menunggu kalian.”
Gu Jingyuan tidak menanggapi secara langsung, dia hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah mereka pergi, dia segera pergi mengikuti kedua orang tua itu.
“Anak Gadis, Anak Gadis, apakah kamu masih mengingatku?”
Tuan Besar Gu menghampiri Gu Anran dan meraih tangannya: “Masih ingat aku?”
Gu Anran mengedip-ngedipkan matanya, dia merasa sedikit terkejut ditarik oleh orang seperti itu.
Namun dari penampilannya orang tua itu tampak baik hati, tidak membuat orang yang melihatnya menjadi jengkel.
Kira-kira dia siapa yah?
Gu Anran ada sedikit merasa bingung.
Paman Ding segera berkata, “Kacang tanah, kacang tanah!”
Gu Anran sontak menjadi terkejut dan dia tiba-tiba teringat.
Melihat alisnya, dia lantas tersenyum: “Kakek, ini kamu! Bagaimana kabarmu? Apakah kamu masih merasa kurang enak badan sekarang?”
“Tidak, aku ini adalah orang tua yang sangat kuat, bahkan aku bisa membunuh dua ekor harimau dalam satu tarikan napas.”
Gu Anran melihat wajahnya yang begitu segar dan kemerah-merahan segera mengetahui kalau dia sudah baik-baik saja.
Namun dia sangat menyukai karakter kakek tua ini.
“Syukurlah kalau tidak ada apa-apa.” Melihat Gu Jingyuan yang berada di belakang mereka dengan dua tas besar di tangannya, Gu Anran tersenyum dan bertanya, “Anak-anakmu juga adalah murid di sekolah ini?”
“Betul, Weizi kami juga merupakan mahasiswi di Universitas Jiang” jawab Tuan Besar Gu dengan nada bangga.
Universitas Jiang adalah kampus terbaik di Beiling.
Weizi?
Gu Anran menjadi sedikit terkejut, nama ini …
“Ranran, kamu sedang berbicara dengan siapa?” Su Xiaomi melambaikan tangan kepadanya tidak jauh dari situ, “Ayo, bantu aku melihat kedua tas ini, warna mana yang lebih bagus?”
Tanpa menunggu jawaban Gu Anran, Su Xiaomi langsung memanggilnya lagi. Saat sedang terburu-buru, dia akan dengan refleks memanggil nama lengkap seseorang: “Gu Anran! Cepat!”
__ADS_1