Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 187 Aku Sedikit Lelah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Wajah tuan besar terlihat tidak senang.


Meski cucunya ini selalu kuat, tapi dia tidak pernah peduli akan hal-hal emosional seperti pernikahan.


Hello! Im an artic!


Kalau tidak, dia tidak akan bertunangan dengan Nona Ketiga Gu sebelumnya.


Tapi sekarang, dia sudah jadi peduli!


“Kamu harus tahu, nantinya kamu akan menjadi penerus Grup Mu.” Tuan besar berkata dengan serius.


“Ini hanya pemikiranmu.” Mu Zhanbei agak memberontak hari ini.


Hello! Im an artic!


Sebenarnya, dia memang sangat kuat. Tapi jika diperlukan, dia tidak akan terlalu mendominasi di hadapan tuan besar.


Baginya, rumah memiliki makna yang sangat penting.


Saat sedang di rumah, berbeda dengan saat di luar.


“Apa kamu begitu mempedulikan gadis itu?” Tatapan tuan besar menjadi serius.


Marah, tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi dengan wajahnya yang suram saat ini, membuat orang-orang tidak bisa menembusnya.


“Aku hanya tidak suka disuruh-suruh orang.”


“Ah Bei, kamu harusnya tahu. Jelaskan di hadapan Kakek, itu adalah perasaan bersalah.”


Tuan besar segera meletakkan cangkirnya dan bangkit berdiri sambil menatapnya.


“Aku tidak memperbolehkan cucu lelaki terbaikku untuk diombang-ambingkan oleh perempuan. Sebaiknya kamu paham, aku tidak bisa menyentuhmu, itu tidak berarti aku tidak bisa menyentuh orang-orangmu.”


Mu Zhanbei kembali memegang erat cangkir itu lagi dan jari-jarinya mengerat.


Bahkan saat tuan besar hendak pergi, Mu Zhanbei juga bangkit berdiri dan berkata dengan dingin, “Kamu berani sentuh wanitaku, aku juga akan berani menyentuh Grup Mu!”


“Mu Zhanbei!”


Tuan besar begitu marah hingga hampir terkena serangan jantung karena kata-kata ini.


Dia berkata dengan marah, “Kamu ini anak dari Keluarga Mu!”


Mu Zhanbei tidak menjawab, tapi ucapan yang tadi dia katakan sudah jelas tidak akan ditarik kembali.


“Demi seorang wanita, kamu begitu gila sampai tahap ini!”


Tuan muda menunjuknya dan jari-jarinya gemetar karena marah.


“Jika kamu terus seperti ini, pasti akan hancur di tangan perempuan ini. Meski aku tidak menyentuh dia, tunggu semua orang menyadari kelemahanmu, banyak yang akan turun tangan padanya.”


Mu Zhanbei masih tanpa ekspresi, menatap balik tuan besar dengan dingin.


Tuan besar sudah tidak muda, dibuat marah oleh Mu Zhanbei seperti ini, dia hampir tidak bisa berdiri stabil lagi.


Dia bertumpu pada punggung sofa dan memaksa dirinya untuk tetap berdiri.

__ADS_1


Melihat tatapan Mu Zhanbei, selain kemarahan, masih ada kekecewaan.


Entah berapa lama berlalu, tuan besar menarik napas dan baru bisa memaksakan diri untuk menenangkan dirinya.


Melihat cucu yang paling disayanginya, ada jejak rasa sakit yang terlintas di matanya.


Setelah beberapa saat, dia berkata dengan serak, “Kamu lupa bagaimana nenekmu meninggal?”


Ujung jari Mu Zhanbei bergetar, dalam sekejap, ada hawa dingin kuat yang lewat dalam hatinya!


Jika dikatakan Tuan Besar Mu terlahir dengan tidak punya perasaan, maka satu-satunya orang yang bisa menyentuh perasaannya adalah nenek.


Bukan nyonya besar yang sekarang, tapi nenek kandungnya, istri kakek yang sebelumnya.


Hanya saja, saat itu Mu Zhanbei masih terlalu kecil untuk mengingat penampilan neneknya saat itu.


Tapi dia tidak lupa bagaimana neneknya sampai meninggal, tidak ada seorang pun di Keluarga Mu yang akan lupa.


Cinta yang terlalu dalam, menjadi sebuah beban.


Ada seseorang yang menangkap kelemahanmu paling fatal dan dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan padamu.


Saat itu, nenek jatuh ke tangan musuh tuan besar. Tuan besar demi menolongnya, hampir saja kehilangan nyawa.


Nenek sendiri tidak ingin melukai tuan besar, dia pun mengakhiri hidupnya sendiri.


Dia meninggal di hadapan tuan besar, lebih memilih mati dan tidak ingin pria yang dia cintai meninggal karena menyelamatkannya.


Tuan besar… melihat dengan mata kepala sendiri nenek mati di hadapannya.


Sejak saat itu, Tuan Besar Mu tidak memiliki cinta. Grup Mu di tangannya, bertumbuh dengan sangat pesat.


Para musuh benar-benar diakhiri olehnya. Hanya saja dalam kehidupan ini, dia tidak akan pernah menemukan wanita yang paling dia cintai lagi.


Setelah dinikahi, tuan besar memenuhi kewajibannya sebagai suami dan memperlakukannya dengan baik.


Tapi sebenarnya, nyonya besar sendiri juga tahu kalau kebaikan ini lebih mengarah pada tanggung jawab daripada kasih sayang.


“Kepedulianmu, bagi seorang wanita, belum tentu sebuah kesenangan. Sebaliknya, dia akan menjadi sebuah beban!”


Tuan besar menenangkan napasnya dan dia pun kembali tenang.


Dia menatap Mu Zhanbei yang tampak seperti wajahnya saat muda, mendengus, “Yang dibutuhkan oleh Keluarga Mu adalah seorang nyonya muda yang layak. Bagaimana melakukannya, kamu putuskan sendiri.”


“Tapi aku tidak bisa tidak mengingatkanmu. Kalau kamu tidak peduli, mungkin dia bisa hidup lebih lama.”


Tuan besar pergi dan di ruang tamu ini hanya tersisa Mu Zhanbei sendiri.


Li Ye tetap berjaga di luar. Melihat suasana hati tuan mudanya buruk, dia juga tidak berani masuk ke dalam.


Tuan muda terus berdiri di depan sofa, tidak duduk dan entah sedang memikirkan apa.


Suasana yang begitu mencekam, sungguh membuat orang merasa tidak tenang.


Entah berapa lama berlalu, Mu Zhanbei kembali ke lantai atas sendirian.


……


Ketika Gu Anran keluar dari kamar mandi, ada sosok lain di dalam kamarnya.

__ADS_1


Seolah sudah terbiasa, dia tidak terlalu terkejut. Hanya saja, dia tidak menyangka akan secepat itu.


Dia masih mengira pria ini akan menemani Gu Weizi lebih lama di kamar rawat. Lagi pula, gadis itu adalah penolong besar di Keluarga Mu.


“Bukankah seharusnya kamu memberiku satu penjelasan?”


Mu Zhanbei duduk di kursi, suara Mu Zhanbei bahkan lebih dingin dari biasanya.


“Menjelaskan kenapa aku tidak mengkhawatirkan Gu Weizi atau menjelaskan kenapa aku bersama dengan Jiang Nan?”


Gu Anran memegang handuk kering, menyeka tetesan air di kepalanya sambil berjalan ke meja belajar, memunggungi pria itu.


“Aku tidak peduli pada Gu Weizi. Ini, tidak perlu dijelaskan. Aku tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaanku padanya.”


Bagaimana pun, ini adalah hal yang diketahui semua orang.


Tapi Gu Weizi masih bisa begitu tidak tahu malu, ingin membuat drama emosional tentang kedua saudari yang saling menyayangi dan mempersulit Gu Anran.


“Ada pun mengenai kenapa aku bersama dengan Jiang Nan, ini terkait dengan pekerjaan. Aku tidak ingin menjelaskan.”


“Tidak ingin menjelaskan?” Hehe, keberanian gadis ini sungguh terlalu besar!


“Tuan Muda Mu, bukankah kamu sendiri juga punya banyak masalah? Tidak ingin menjelaskan padaku?”


Gu Anran menoleh untuk menatapnya, wajahnya biasa-biasa saja dan membuat orang tidak bisa marah.


Sebenarnya, malam ini Mu Zhanbei tidak ingin marah.


Hanya saja, suasana hatinya kurang baik.


Dia tiba-tiba bangkit berdiri dan Gu Anran yang tiba-tiba merasa tidak aman pun segera melangkah mundur.


Ini sepenuhnya reaksi naluriah, tapi semua ekspresi dan gerakan ini terlihat jelas oleh Mu Zhanbei.


“Apa aku begitu menakutkan?” Suasana hati yang suram, entah bagaimana tiba-tiba membaik.


Reaksi gadis itu sedikit komikal.


Gu Anran curiga dirinya salah lihat, apa tadi ada senyum yang terlintas di mata pria itu?


Tapi, jelas-jelas Tuan Muda Mu sedang membawa aura yang suram, bagaimana mungkin bisa tersenyum?


Selain itu, dia juga tidak mengatakan apa-apa, kenapa pria ini tertawa?


“Kemarilah.” Mu Zhanbei kembali duduk di kursi dan menatap Gu Anran.


Pria ini nampaknya sedikit kelelahan.


Awalnya Gu Anran merasa dirinya tidak seharusnya ke sana. Tapi kedua kakinya tidak menurut pada perintah otaknya dan dalam sekejap mata dia sudah berada di hadapan pria itu.


Mu Zhanbei tiba-tiba mengulurkan tangannya dan sebelum Gu Anran sempat menghindar, dia sudah dipeluk erat olehnya.


“Tuan Muda Mu…”


“Aku sedikit lelah.”


Suara pria itu membawa sedikit suara serak, luar biasa seksi dan menawan.


Jantung Gu Anran, rasanya seperti muncul rusa kecil yang mempercepat pukulan di sana.

__ADS_1


Tangan Gu Anran jatuh di pundak pria itu. Awalnya ingin mendorongnya menjauh, tapi karena kalimat ini, dia perlahan mulai memeluk kepalanya.


“Kalau lelah, istirahatlah lebih awal.”


__ADS_2