Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 188 Mereka Sedang Apa


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan sekali tidur. Kalau tidak bisa, maka tidur dua kali lagi.


Tentu saja, ini mengacu pada tidur yang sebenarnya.


Hello! Im an artic!


Tapi malam ini, bukan Gu Anran yang tidur bersandar pada lengan pria itu. Sebaliknya, Mu Zhanbei-lah yang tertidur di pelukannya.


Lengannya melewati lehernya, untung lengannya sangat ramping dan pada dasarnya tidak menahan terlalu banyak beban.


Meski rasanya agak mati rasa setelah lama dijadikan bantal, tapi masih pada jarak yang bisa ditoleransi.


Hal terpenting adalah membiarkan Tuan Muda Mu tidur dalam pelukannya. Kasih ibu tiba-tiba meluap dalam dirinya.


Hello! Im an artic!


Suasana hati pria ini tidak baik, dia bisa merasakannya dengan mudah.


Tapi suasana hatinya sendiri juga tidak baik. Jadi, dia tidak bisa mengatakan apa pun untuk menghibur orang lain.


Sekarang seperti ini, tidur bersama dengan tenang.


Tidak melakukan apa-apa, tidak memikirkan apa-apa, hanya membiarkan pria ini tidur di pelukannya dan pria ini mengulurkan tangan untuk memeluk pinggangnya.


Dengan gerakan yang sesederhana ini, Mu Zhanbei tertidur dengan cepat. Gu Anran sendiri juga sangat cepat merasa mengantuk.


Meski dia tahu ada banyak hal yang belum diselesaikan, besok setelah bangun, mungkin mereka akan kembali dalam hubungan seperti orang asing.


Tapi setidaknya, malam ini masih bisa tidur dengan tentang, bukan?


Tangan itu jatuh di wajah Mu Zhanbei, jari-jarinya yang panjang menyapu di sepanjang pangjal hidung, bibir tipis dan membelai ringan.


Gu Anran sangat ingin menciumnya, tapi tidak berani.


Akhirnya, dia menempatkan ciuman ringan di dagunya. Gu Anran memejamkan mata dan memeluk lengannya.


……Selamat malam.


……


Di tengah malam, Li Ye tiba-tiba mengetuk pintu kamar.


“Tuan Muda, Nona Gu sudah sadar.”


Saat Mu Zhanbei terbangun dari tidurnya, Li Ye sudah mengetuk pintu ketiga kalinya.


Kalau bukan karena diperintah oleh tuan muda agar segera memberitahunya saat orang itu sudah sadar, Li Ye tidak berani datang untuk mengganggu.


Mu Zhanbei membuka matanya dan menemukan bahwa dirinya masih tidur di pelukan Gu Anran.


Dia benar-benar tidur di lengan gadis ini selama beberapa jam!


Sejak dia tumbuh dewasa dan punya ingatannya sendiri, dia tidak pernah mencoba tidur dengan cara seperti ini!


Ternyata dia seperti seorang anak yang belum dewasa.


Kelopak mata Gu Anran bergerak sebentar. Saat dia membuka mata, Tuan Muda Mu sudah terduduk dan memalingkan wajah darinya.


Apa tadi dia salah lihat? Tuan Muda Mu… tersipu malu?


Gu Anran sedikit takjub, tapi setelah dipikir-pikir, dia segera mengerti.

__ADS_1


Tuan Muda Mu merasa “malu” karena posisi tidurnya tadi malam?


Ketika tidur, dia tidak sedikit pun merasa tidak nyaman. Gu Anran lihat, pria ini tertidur dengan cukup nyenyak.


“Uhuk.” Gu Anran terbatuk ringan dan ingin bangun.


Setelah bergerak sebentar, dia baru sadar kalau lengannya mati rasa dan hampir saja tidka bisa bergerak.


“Uhh…” Gu Anran tidak bisa menahan diri untuk mendengus pelan dan mengerutkan kening.


“Sakit?” Mu Zhanbei menatap wajah kecilnya yang mengerut, kemudian melihat lengan yang telah menjadi bantalnya selama beberapa jam lalu.


Begitu ramping, tampak seperti jika dipatahkan dengan lembut saja akan putus.


Lengan yang begitu rapuh, ditekan oleh kepalanya yang besar ini begitu lama, apa mungkin tidak terasa sakit?


“Kenapa tidak mendorongku?” Saat menarik lengan gadis itu, rasa sakit masih terukir jelas di mata gadis itu.


“Kamu tidurnya begitu nyenyak, tidak bisa didorong.” gumam Gu Anran.


Tapi sebenarnya, melihatnya tidur begitu nyenyak hingga merasa tidak tega.


Mu Zhanbei meletakkan lengan Gu Anran di pangkuannya, memijatnya dengan lembut.


Meski gerakannya agak kaku, sekali lihat saja sudah tahu pria ini tidak berpengalaman.


Tapi setelah dijadikan bantal begitu lama, dibuat rileks sedikit saja sudah membuat Gu Anran merasa sangat nyaman.


Tanpa sengaja, dia tidak bisa menahan diri untuk mengerang pelan, “Hmm…”


Ujung jari Mu Zhanbei terhenti. Di dalam pandangannya, selimut pada tubuh gadis itu sudah diangkat olehnya dan terbuka.


Gadis itu memakai baju tidur biasa, tapi karena terlalu banyak gerakan saat tidur, baju tidur itu sangat berantakan sekarang.


Meski hanya sekilas, sudah membuatnya terbakar oleh gairah.


Tenggorokannya kering dan suara Tuan Muda Mu menjadi serak, “Mengeluarkan suara erangan di tempat tidurku, kamu mau apa?”


Mau apa?


Gu Anran mengerjapkan matanya sambil menatap Mu Zhanbei, tapi pria itu terus menatap tubuhnya.


Mengikuti arah pandangnya, Gu Anran menunduk ke bawah dan buru-buru mengangkat tangan untuk menutupi tubuhnya sendiri. Dia ingin berbalik, tapi ada satu tangan yang menariknya hingga dia tidak bisa bergerak.


Dia hanya bisa berbalik ke arah pria itu, membiarkan pria itu tidak melihatnya dengan begitu menyeluruh dalam posisi berbaring telentang.


Wajah kecil itu memerah luar biasa dan buru-buru berkata, “Tidak mau melakukan apa-apa, kamu membuatku merasa agak tidak nyaman.”


Gu Anran ingin menarik kembali tangannya, tapi Mu Zhanbei masih memegangnya dan tidak mau melepaskan.


“Tidak nyaman?” Dia masih mengira karena terlalu nyaman hingga gadis itu mengerang di tempat tidurnya.


Tapi, lengan ini begitu lembut dan rasanya sangat nyaman. Kalau harus dilepaskan, rasanya agak sedikit sayang.


“Tuan Muda Mu, Li Ye masih menunggumu.” Gu Anran mengingatkan.


Li Ye memang sedang menunggunya.


Setelah mendengar gerakan kecil di dalam kamar, Li Ye tidak kembali mengetuk pintu. Dia tahu mereka sudah bangun hingga dia menunggu dengan tenang di luar.


Mu Zhanbei menggosok pelipisnya, tampaknya agak tidak sabar.


Tapi dia masih berbalik dan turun dari tempat tidur, sembarangan mencari pakaian untuk dipakai dan membuka pintu.

__ADS_1


“Tuan Muda, Nona Gu sudah bangun. Dia terus memanggil namamu.” Li Ye berkata pelan.


Meski suaranya sangat rendah, tapi Gu Anran yang masih duduk di ranjang kamar, masih bisa mendengarnya.


Dia pura-pura tidak peduli, menarik selimut dan kembali tertidur, seperti tidak bermaksud untuk peduli.


Mu Zhanbei ingin menoleh ke belakang untuk melihatnya, tapi tidak tahu apa yang ingin dia lihat.


Ketika dia berjalan keluar, dia masih tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang dan melihat sosok ramping di tempat tidur.


“Tunggu aku kembali.”


Menunggunya kembali…


Ketika Gu Anran mendongak ke arah pintu, pintu kamar sudah tertutup.


Mu Zhanbei dan Li Ye pergi bersama, kekedapan suara di kamar begitu bagus dan suara langkah di koridor menghilang sepenuhnya dengan cepat.


Apa harus…menunggunya kembali? Entahlah, apa masuk akal untuk menunggunya.


Gu Anran memutuskan untuk mempercayai Tuan Muda Mu sekali ini, kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya, melanjutkan penantiannya.


Tapi dia sama sekali tidak bisa tidur.


Gu Weizi sadar dan terus memanggil nama Tuan Muda Mu, bukankah ini sesuatu yang sudah dapat diduga.


Sekarang, mereka sedang apa?


Apa Tuan Muda Mu sedang menghiburnya dan mendorongnya untuk tetap hidup dengan berani?


Atau Gu Weizi sedang menangis di hadapan Tuan Muda Mu dan mengatakan betapa menyedihkan dirinya sekarang dan membutuhkan belas kasihan pria itu?


Sudah mengatakan pada diri sendiri untuk tidak dipikirkan, tapi sekarang, di benaknya penuh dengan adegan kebersamaan Gu Weizi dan Mu Zhanbei.


Kedua orang yang saling memiliki perasaan baik dan bersama-sama… cih!


Dia segera menarik selimut sampai ke atas kepalanya, benar-benar membenamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


Dia kira dia akan bisa memaksa dirinya untuk tertidur. Tapi ketika dia sudah hampir kehabisan napas, dia masih tidak bisa tidur.


Dia benar-benar tidak bisa tidur!


Sebelum membuat dirinya mati kehabisan napas, Gu Anran membuka selimut itu dan terduduk.


Tidak mau tunggu lagi!


Tapi melihat waktu, baru juga lewat sepuluh menit saja.


Ternyata sepuluh menit bisa jadi waktu yang begitu panjang, dia kira sudah satu jam berlalu.


Mereka sebenarnya sedang apa?


Ingin pergi, tapi tidak tega. Tuan Muda Mu meminta Gu Anran untuk menunggunya kembali.


Akhirnya, Gu Anran kembali berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.


Malam semakin larut dan kesadarannya semakin baik, rasa kantuk sudah hilang sejak tadi.


Setengah ham kemudian, dia bangkit dari tempat tidur dan membuka laptop cadangan Tuan Muda Mu. Dia membuka dokumen baru dan mulai menulis naskah.


Namun, entah kenapa hatinya terus merasa gelisah.


Mereka sebenarnya sedang apa?

__ADS_1


__ADS_2