Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 244 Sebenarnya Siapa Yang Asli Siapa Yang Palsu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ini merupakan kali pertama Gu Anran tidak menggunakan tampang samarannya muncul di hadapan Nyonya.


Bagaimanapun nyonya tidak pernah menyangka dengan mendongak bisa melihat putrinya sendiri, dengan hidup muncul di dalam pandangannya.


Hello! Im an artic!


Kelima inderanya yang begitu sempurna, kulitnya yang begitu kenyal halus dan putih, mata besarnya yang hitam dan indah!


Ini semuanya menunjukkan bahwa dia adalah Qing Qing!


Nyonya sesaat merasa senang dan menggebu hendak berdiri dari kursi rodanya.


Gerakan ini sungguh membuat pelayan yang terus berjaga di sisinya kaget setengah mati, segera kemari memapahnya.


Hello! Im an artic!


Gu Anran juga terkejut, dengan panik dan kecepatan tertinggi bergerak menuju ke arah Nyonya.


Dengan kerja sama kedua orang ini, akhirnya dalam ketakutan itu membiarkan Nyonya kembali duduk di atas kursi roda.


Namun tidak disangka Nyonya mengenggam tangan Gu Anran, saking menggebunya perasaan itu hingga air mata membasahi wajahnya.


“Qing Qing, apakah ini kamu Qing Qing? Aku tahu kamu pasti masih hidup, aku tahu akan ada suatu hari kamu datang menemuiku.”


“Nenek…” Gu Anran mengerutkan keningnya dan melihat pelayan.


Pelayan itu menggelengkan kepala menandakan dia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Hanya saja melihat Gu Anran, setelah beberapa saat matanya baru bersinar terang, menatapi wajah Gu Anran bahkan suaranya sudah tergagap.


“Kamu…kamu…kamu adalah Nyonya muda!”


Jika bukan karena nyonya muda memanggil nenek lalu suara ini membuatnya merasa tidak asing, mana mungkin dia bisa mengenalinya?


Ternyata nyonya muda cantik sekali…Ya Tuhan, dibandingkan dengan Gu Weizi, sungguh sangat sangat cantik!


Gu Anran berpikir sejenak akhirnya teringat, dia tidak menyamarkan wajahnya hari ini.


Dia tersenyum pada Nyonya lalu dengan lembut berkata, “Nenek, aku Ran Ran, hanya saja hari ini…tidak menyamarkan wajah ini.”


“Ran Ran?” Bagaimana mungkin ini Ran Ran? Jelas-jelas ini Qing Qing!


Tapi, jika Qing Qing masih hidup, saat ini juga setidaknya sudah mendekati usia 40 tahun.


Sementara perempuan di hadapannya ini…memang hanya berusia 18-19 tahun.


“Ran Ran?” Dia sedikit tidak yakin, kenapa Ran Ran…tiba-tiba berubah menjadi mirip sekali dengan Qing Qing?


“Benar, aku Ran Ran.” Gu Anran memapahnya untuk duduk dengan baik, lalu ia sendiri juga duduk di sampingnya.


Dia tersenyum berkata, “Hanya saja sebelumnya…hm, itu, aku merasa aku terlalu cantik takut menjadi sasaran orang jahat jadi sengaja menggambar banyak sekali flek hitam di wajah untuk memperjelek diri sendiri.”

__ADS_1


Dia mengira candaan yang tidak tahu malu seperti ini pasti bisa membuat nyonya tertawa.


Tapi tidak disangka, nyonya sedikitpun tidak ingin tertawa, dari awal sampai akhir hanya menatap wajahnya, pandangannya sama sekali tidak teralihkan.


“Nenek, apakah kamu sungguh tidak mengenal Ran Ran lagi?” Gu Anran mengira dia masih curiga.


Dia menggigit bibirnya sedikit tidak berdaya, “Kalau begitu…apakah Ran Ran perlu mengambil pensil alis untuk menggambar sedikit flek hitam agar kamu dapat melihatnya?”


Nyonya menggelengkan kepalanya, namun masih tetap tidak bicara.


Jika, orang-orang itu sungguh menipu dirinya, lalu apakah mereka juga tahu bahwa Ran Ran-lah yang merupakan aslinya?


Jika memang benar seperti itu, maka apa yang dia katakan sekarang secara gegabah ini, bagi Ran Ran mungkin saja merupakan awal dari petaka dan bencana.


Terlebih lagi, sebenarnya yang mana satu, dia masih belum berani memutuskannya 100%.


Meskipun dalam hatinya sudah ada pemikiran untuk berat sebelah, namun setelah dipikir berulang kali, sekarang nyonya sudah berubah menjadi lebih waspada dan hati-hati lagi.


Dia menyuruh pelayan perempuan di sisinya pergi baru menatap kembali Gu Anran dan bertanya, “Ran Ran, siapa nama ibumu?”


“Ibuku?” Gu Anran tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu, namun dia dengan jujur menjawab, “Dia bernama Sang Qing.”


“Apa latar belakangnya?”


“Tidak…tahu.” Gu Anran menggelengkan kepala, terlihat jelas sedikit ragu.


Sebenarnya, tahu beberapa hanya saja tidak ingin mengatakannya.


Semua mengatakan ibunya saat itu menjual minuman dan bir, lalu menjadi simpanan ayahnya.


Tidak masalah bagaimana orang lain melihatnya namun dia, sangat sangat mencintai ibunya, meskipun sama sekali tidak ada gambaran mengenai ibunya.


Tidak tahu apa yang dipikirkan nyonya itu, setelah beberapa saat baru melihatnya lagi dan bertanya, “Bagaimana Ye Shuixin terhadap dirimu?”


“Dia?” Gu Anran tersenyum tipis, senyuman ini menandakan sedikit hinaan dan sindiran.


“Bagaimanapun, dia adalah ibu orang lain, ya begitulah.”


Kejadian sudah berlalu tidak perlu lagi membicarakan keburukan orang lain di hadapan nenek.


Terlebih lagi, jika nenek memang menyayanginya, lalu dia bercerita maka nenek hanya akan bertambah sedih.


Nyonya menatap keputusasaan di balik matanya, hatinya perlahan menegang.


Namun dia masih tetap bertanya, “Bagaimana dengan Gu Weizi? Bagaimana sikapnya padamu?”


“Nenek, kenapa terus membicarakan orang lain? Hal itu tidak usah diungkit lagi, kita bicarakan sesuatu yang senang.”


Dia sungguh tidak ingin membicarakan hal yang tidak menggembirakan di hadapan nenek.


Jika mengatakannya, bukankah sama saja dengan membawa emosi negatif pada orang lain?


“Nenek, kelompok menggambar Jiu Yue yang kubuat bekerja sama dengan Grup Jiang hendak mendirikan departemen animasi! Coba nenek bilang apakah aku ini hebat?”

__ADS_1


“Ya.” Nyonya menganggukkan kepala, sorotan mata tetap terkunci pada wajah Gu Anran.


Dia hanya tua saja, namun bukan berarti hatinya sudah sepenuhnya buta.


Gu Anran sedikitpun tidak ingin membicarakan keburukan Gu Weizi, sebaliknya Gu Weizi tidak peduli kapanpun selalu saja mengungkit Gu Anran, tidak ada yang bagus dari ucapannya.


Terlepas dari apakah itu tarik ulur atau secara langsung, intinya, jika belum menginjak citra Gu Anran hingga tak bersisa seakan dia juga tidak merasa ikhlas.


Perbandingan kedua orang ini, begitu mencolok.


Yang terpenting adalah, tampang asli Ran Ran mirip sekali dengan Qing Qing…


Gu Anran masih bercerita tanpa henti, bercerita padanya mengenai perubahan yang terjadi pada konferensi persnya, lalu pada saat jamuan makan.


Mengenai Mu Zhanbei dan juga Gu Weizi dia sama sekali tidak mengungkitnya.


Anak ini, bijaksana dan pintar, namun terlihat sederhana, kepolosan dan kesederhaan yang terlihat dari seseorang yang bijak namun bertampang lugu.


Bukannya dia tidak mengerti cara bermain trik, hanya saja dia tidak ingin bermain di depan orang yang ia pedulikan dan ia sayangi.


Nyonya bisa merasakan ketulusan hatinya pada dirinya, jadi baru bisa tetap mengingat dan memikirkan Ran Ran-nya meskipun sudah memutuskan bahwa Gu Weizi merupakan cucu luar perempuannya.


Karena, dia sungguh sangat menyukai anak ini…


“Ran Ran.” Tiba-tiba, nyonya memotong pembicaraan Gu Anran, berseru dengan pelan.


“Ya?” Gu Anran juga tahu sebenarnya nyonya memiliki banyak masalah hati.


Namun dia tidak mengatakannya maka dia juga tidak akan bertanya.


Namun asalkan dia bercerita maka dia pasti akan serius mendengarkannya.


Nyonya menghembuskan nafas, tiba-tiba mengenggam erat pergelangan tangannya, dengan pelan berkata, “Ran Ran, kata-kata yang nenek ucapkan padamu sebelumnya, kamu sudah mengingatnya?”


“Apa?” Sebelumnya nenek mengatakan hal yang tidak sedikit padanya, Gu Anran tidak tahu yang mana nenek maksud.


“Nenek pernah berkata, hanya ada A Bei…”


“Nenek, kamu sungguh masih belum tidur? Kenapa sudah begitu malam masih belum tidur?”


Dari luar terdengar suara yang manja dan mentel.


Suara terdengar, orangnya pun tiba, langkah kaki Gu Weizi jelas terlihat tidak begitu santai dan tenang masuk dari luar.


Melihat Gu Anran, dia sedikitpun tidak merasa terkejut, hanya mengerutkan keningnya dan wajahnya tampak tidak senang.


****** ini akhirnya datang juga, tak disangka datang mencari nyonya ingin nyonya membantunya agar bisa kembali lagi ke sisi Tuan Muda Pertama Mu?


Untungnya dia sudah mengatur mata-mata di sini sejak lama, jika tidak ****** ini sudah hampir berhasil!


Gu Weizi berjalan masuk lalu di belakangnya ada dua pelayan perempuan mengikutinya.


Dia berjalan di sisi nyonya lalu menggeser Gu Anran ke sisi lain, mendatarkan wajahnya dan berkata, “Nenek, sudah larut, aku antarkan kamu pergi istirahat.”

__ADS_1


“Mengenai, orang sembrono yang melabrak masuk kemari…”


Membalikkan kepala dan melihat Gu Anran, Gu Weizi dengan nada berat berkata, “Kalian masih tidak mengusirnya keluar, apakah ingin menganggu istirahatnya nenek lalu mencelakakan kesehatan nenek?”


__ADS_2