
Hello! Im an artic!
Hal yang membuat Gu Anran merasa heran adalah Mu Zhanbei melihat sekilas tampilan layar telepon masuk, ia tidak mengangkatnya lalu melempar ponselnya.
Tidak usah membicarakan hal lainnya, dengan pergerakan Tuan Besar Mu yang tidak mengangkat teleponnya sungguh membuat hati Gu Anran merasa nyaman.
Hello! Im an artic!
Tidak peduli apakah dia bersedia mengakuinya atau tidak, dia, sebenarnya masih bisa merasa cemburu dan peduli.
“Bagaimana keadaan nenek akhir-akhir ini?” Suasana hati membaik, akhirnya Gu Anran bersedia mengambil inisiatif mencari topik pembicaraan.
“Jika ingin tahu, apakah tidak bisa kamu pergi melihatnya sendiri?” Mu Zhanbei dengan dingin mendengus.
Gu Anran meliriknya sekilas, tidak masalah jika tidak melihatnya namun sekali lihat, tiba-tiba hati kecilnya kembali berdegup dengan kencang.
Hello! Im an artic!
Tuan Besar Mu yang pergi meminum alkohol, rambutnya sedikit berantakan, aroma nafasnya merupakan aroma alkohol, raut wajahnya masih menyisakan sedikit kemerahan.
Fiuh, hanya ada nafas liar di setiap gerakannya, tidak boleh lihat, tidak boleh melihatnya!
Dia segera menyimpan kembali pandangan matanya, sudah tahu tidak boleh melihat pria ini lebih lama lagi.
“Nanti aku akan pergi melihatnya.”
“Kamu yakin?” Mu Zhanbei menaikkan alisnya, saat pulang nanti sudah jam berapa?
Jam seperti ini masih ingin pergi melihat nenek, tidak takut menggangunya beristirahat.
Gu Anran baru teringat, sekarang tampaknya memang sudah sedikit larut.
“Kalau begitu…”
Suara dering ponsel Mu Zhanbei kembali berdering, masih tetap dengan teleponnya Gu Weizi, dia sudah melihatnya.
Dia terlihat jelas kesal dan tidak tahan lagi, mengerutkan alisnya kemudian pada akhirnya tidak disangka langsung mematikan ponselnya.
Gu Anran hanya pura-pura tidak melihatnya, membalikkan kepala melihat pemandangan di luar jendela, bayangan matanya tercetak pada jendela mobil, begitu bersinar.
Tiba-tiba saat mengangkat matanya, dia bertemu dengan tatapan mata Tuan Besar Mu yang dalam di bawah pantulan sinar pada jendela kaca mobil.
Saat itu, jantungnya mulai deg-degan, nafanya sudah tidak beraturan.
Dia terkejut lalu menundukkan kepalanya dengan panik, tidak melihatnya, bahkan tidak melihat jendela luar lagi.
Orang ini, untuk apa dia menatapinya?
“Kemari.” Dia tiba-tiba berkata dengan datar.
Gu Anran sedikit terkejut, membalikkan kepala dan melihatnya, “Untuk apa?”
Mu Zhanbei tidak berkata lagi, langsung menjulurkan tangan dan meraih dirinya ke arahnya.
Tempat duduk belakang yang begitu lebar, suhunya dalam sesaat meningkat beberapa derajat, seolah-olah merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak biasa di sini.
__ADS_1
Nafasnya tidak beraturan, tidak tahu apa maksud dari Tuan Besar Mu ini.
Kedua tangan berada di atas dadanya kemudian mendorongnya dengan pelan, wajahnya tetap tidak bisa menahan perasaan lalu memerah.
“Tuan Besar Mu, sebenarnya ada urusan apa?”
Tanpa sebab dan akibat menarik jarak di antara mereka berdua, memangnya perlu sedekat ini hanya untuk bicara saja?
“Menghindar dariku?” Dia mengerutkan keningnya, tidak puas dengan penolakan atas dirinya ini.
“Tidak ada.” Gu Anran sedikit keras kepala, kenapa harus menghindarinya?
“Kalau begitu untuk apa kamu memberontak?” Mu Zhanbei mengeratkan lengannya, dalam sesaat tubuh mungilnya langsung masuk ke dalam pelukannya.
Gu Anran dalam sesaat tidak berdaya, apakah dengan memberontak berarti menghindarinya?
Baik-baik saja tiba-tiba tanpa sebab memeluknya, bisakah tidak memberontak?
“Aku…” Satu detik selanjutnya dia langsung menutup mulutnya karena dia merasakan aura dan hawa yang begitu dingin dan menusuk di seluruh badannya.
“Apakah ada pria lain yang pernah memelukmu seperti ini?”
Amarah yang ia sembunyikan selama beberapa hari tiba-tiba meledak di detik itu juga.
Dia memeluk dan merangkulnya di atas pahanya, bahkan sedikitpun kesempatan untuk memberontak pun tidak diberikan padanya.
Gu Anran tanpa sadar tersentak, ia merasa sedikit panik.
Dia masih sedang marah, marah dengan tindakannya tadi siang yang tidak memilih dirinya.
“Tidak ada.” Seharusnya tidak ada kecuali masa saat masih bayi.
Hawa dingin yang berada di sekitar akhirnya perlahan menghilang, namun dia masih tetap tidak puas.
“Kamu adalah calon istri Mu Zhanbei!” Poin ini, setidaknya tidak pernah berubah!
“Tapi, Tuan Besar Mu juga pernah berkata bahwa tidak akan mencampuri kehidupan pribadiku.”
Pekerjaan, meskipun termasuk urusan pribadinya lalu dia sekarang menandatangani kontrak Grup Jiang, juga tidak akan mempengaruhi “hubungan calon suami istri” di antara dia dengan dirinya, bukankah begitu?
Lagipula juga bukan melakukan hal yang berada di luar etika dan senonoh dengan pria lain, kemudian memberikan dampak pada nama baiknya.
Dia hanya tidak senang karena tidak disangka ada perempuan yang berani menolaknya saja.
Berkata terus terang bukankah itu merupakan bentuk tanggung jawab dari seorang pria yang maskulin dan jantan?
“Kamu sangat mengerti bagaimana memancing emosiku!” Mu Zhanbei menyipitkan matanya.
Dia memang pernah mengatakannya tapi waktu terus berubah, kata-kata itu memang diucapkan olehnya namun dia juga bisa menariknya kembali!
“Tuan Besar Mu, aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan serius untuk karierku, aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.”
Dia bahkan bisa menangkap pesan di balik matanya, jika dia ingin maka dia bisa menghancurkan segala hal yang ia miliki kapanpun.
Ternyata memang benar, tidak bisa bicara menggunakan akal sehat dengan pria, karena mereka memang orang biadab yang tidak bisa diajak bicara secara rasional dan logika!
__ADS_1
Dia melototinya, dengan kuat melototinya.
Tatapannya ini sama sekali tidak membuat orang merasa manis sedikitpun, sebaliknya malah timbul perasaan akan dibakar dan dihancurkan olehnya kapanpun.
Jika diganti dengan wanita lain, seharusnya sudah lama melunak dan berjanji tidak akan menandatangani kontrak dengan Grup Jiang lagi, bukankah begitu?
Namun dia bukanlah wanita lain, dia adalah Gu Anran, dirinya sendiri!
Dua tahun kemudian nanti, mungkin masih belum tiba dua tahun, dirinya kelak tidak akan memiliki hubungan apapun dengan Tuan Besar Mu lagi.
Tidak peduli apakah itu Grup Mu atau Grup Shijinya, dia sama sekali tidak pernah berpikir ingin mendapatkan sepeserpun saham untuk ganti rugi…
Pada kenyataannya, di kehidupan yang lalu Mu Zhanbei memang ingin membatalkan perjanjian nikah mereka.
Selang waktu setelah pertunangan, Mu Zhanbei bahkan sudah membicarakan persyaratannya dengan baik, sepuluh poin saham dari Grup Shiji anggap sebagai biaya ganti rugi atas kerugiannya.
Meskipun Gu Anran tahu bahwa dia sendiri sungguh tidak bernilai dengan uang sebanyak itu.
Namun kemudian, nenek bersikeras ingin mereka bersama, saat dihadapkan dengan kematian juga harus Tuan Besar Mu berjanji untuk menikahi dirinya.
Oleh karena itu, setelah bertunangan dua tahun mereka akhirnya menikah.
Setelah menikah, sebaliknya tidak pernah lagi mengungkit tentang masalah perceraian.
Satu-satunya hanya sekali, juga merupakan kali terakhir adalah permintaannya sendiri.
Alhasil, Gu Weizi tertawa puas mencari orang untuk menabraknya sampai mati di jalan.
Dalam kehidupan ini, agar tidak melalui jalan lama, tidak mengulang kembali tragedi itu dia harus mengandalkan dirinya sendiri.
“Tuan Besar Mu, aku tahu kamu tidak senang, namun aku juga tahu kamu sama sekali tidak ada niatan untuk membuat animasi.”
Menghabiskan waktu satu detiknya untuk usaha bisnis skala kecil seperti animasi ini juga termasuk pemborosan yang sia-sia.
Pada kenyataannya, Gu Anran juga tidak mengerti kenapa Tuan Besar Mu bisa tidak ada kerjaan seperti itu datang sendiri ke Universitas Jiang menjadi juri dan lagi hendak berebutan orang dengan Grup Jiang.
Menyukainya? Tidak tidak tidak! Jangan sampai ada pemikiran gila dan kepercayaan diri disukai orang seperti ini, memangnya masih belum cukup kekalahan dan kehilangan yang ia alami di kehidupan sebelumnya?
Gu Anran tidak pernah mengira Mu Zhanbei akan menyukai dirinya meskipun hanya sedikit, ia hanya merasa bahwa barang miliknya disentuh orang lain.
Benar, bagi dia nama calon istri pada dirinya ini hanyalah barang miliknya.
Sekarang dia hanya merasa tidak senang karena barang miliknya disentuh oleh Tuan Kedua Jiang.
Barang milik seorang pria jantan dan maskulin, begitu sombong hingga tidak memerlukan alasan apapun lagi.
“Sebenarnya aku tahu tuan kedua Jiang juga tidak tertarik dengan animasi namun orang yang ia bawa merupakan ahli di bidangnya, dia juga serius investasi ingin melakukan usaha bisnis ini.”
Sejak Grup Jiang mengambil alih pertandingan ini, semua peraturan lomba, judul bahkan seluruh proses pertandingan telah dijuluki sebagai pertandingan paling profesional di seluruh industri bidang ini.
Dari segi ini bisa dilihat bahwa Grup Jiang sangat serius.
“Tuan Besar Mu, meskipun aku tahu selama kamu bersedia ingin mendirikan perusahaan animasi pasti bisa menjadi nomor satu di industri ini.”
“Namun aku tidak ingin membiarkan orang mengira bahwa tim kita bisa berkembang karena identitasku, tim kita ini sungguh berkemampuan…kamu, apa yang mau kamu lakukan?”
__ADS_1
Tidak bicara sepatah katapun lalu menundukkan kepala, kemudian begitu dekat dengannya, apa maksudnya?