
Hello! Im an artic!
Begitu kembali ke apartemen Jiang Nan, Gu Anran masih merasa kesakitan.
Bahkan di saat menuju ke kamar, dirinya hampir tidak bisa bergerak. Pada akhirnya, tetap saja Jiang Nan yang menggendongnya ke sana.
Hello! Im an artic!
“Setiap kali…” Jiang Nan melihat Gu Anran yang berbaring, dirinya merasa bahwa topik pembicaraan ini sangatlah sulit dikatakan, lagipula dia tidak pernah mengalaminya.
Tapi, dia sudah begitu kesakitan, apa yang perlu dihindari lagi?
“Setiap kali datang itu, bisa begitu sakit?”
Melihat ekspresinya, sepertinya memang terlihat begitu sakit. Dirinya yang sebagai tuan besar sama sekali tidak bisa merasakan kesakitannya.
Hello! Im an artic!
“Bukan setiap kali. Hanya kali ini… terasa begitu sakit.”
Dia sendiri juga tidak tahu kenapa. Rasa sakit ini datang dengan begitu saja, tidak ada tanda-tanda apapun sebelumnya.
Dan lagi, bukankah ini masih belum tiba masa datang bulannya? Sepertinya, masih tersisa beberapa hari lagi.
Jangan-jangan dipercepat beberapa hari di bulan ini? Ini sedikit aneh dan bisa terasa begitu sakit? Belakangan ini, aku terus terluka. Intinya, tubuhku menerima begitu banyak trauma. Ini juga bukan hal yang tidak mungkin, sehingga menyebabkan masa datang bulanku menjadi kacau.
Gu Anran menekan perutnya, melambaikan tangannya, “Kamu tidak perlu pedulikan aku. Aku akan membaik setelah tidur.”
Jiang Nan merasa tidak berguna. Dia berpikir, kemudian menuturkan, “Bagaimana kalau aku tuangkan air hangat di bathtub dan kamu berendam saja?”
Gu Anran berpikir-pikir. Masa datang bulannya belum tiba, sepertinya boleh juga berendam di air hangat.
Pada akhirnya, dia menganggukkan kepalanya.
Akhirnya, Jiang Nan merasa dirinya bisa melakukan sesuatu untuk Gu Anran. Dia langsung pergi ke kamar mandi.
Tidak lama, setelah mengisi bathtub dengan air hangat, dia kembali ke kamar dan melihat Gu Anran.
“Airnya sudah siap, aku bawa kamu ke dalam.”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Gu Anran menolaknya sambil berdiri dari kasur, dengan pelan berjalan ke kamar mandi.
Dia ingin berendam di air hangat, Jiang Nan juga merasa tidak enak untuk masuk ke dalam melihat. Dirinya hanya bisa menunggu di luar kamar mandi.
Dengan tidak mudah Gu Anran melepaskan bajunya dan masuk ke dalam bathtub.
Pria yang berada di luar mendengar suara air dan langsung bertanya, “Sudah masuk?”
“Ribut sekali kamu.” Menutup pintu saja ditanya, cuci muka saja ditanya, melepas baju juga ditanya. Sekarang masuk ke dalam bathtub juga perlu ditanya.
Tapi, sudut mulut Gu Anran perlahan-lahan melengkung membentuk sebuah senyuman tipis.
Meskipun dia sangat ribut, setidaknya tidak akan membuatnya merasa kesepian.
Dirinya sekarang terlalu takut dengan kesepian. Perasaan itu bisa mematikan dirinya!
“Bagaimana? Sudah baikan belum?” Pria di luar itu bertanya lagi dua menit kemudian.
Gu Anran hanya menikmati dirinya yang sedang berendam dan tidak menghiraukannya.
Dia melihat langit-langit di kamar mandi. Sembari memikirkan dirinya yang hidup kembali, bertemu dengan semua orang dan masalah yang ada.
Suasana hatinya terasa sedikit suram, dia juga merasakan suasana hatinya tidak tenang.
Sampai saat ini, akhirnya sudah merasa tenang sejenak.
__ADS_1
Sebenarnya, sudah merupakan hal yang biasa mencurigai apa yang telah diperbuatnya kepada Nyonya Tua pada situasi seperti ini.
Dia selalu menenangkan dirinya sendiri. Selalu merasa bahwa orang lain bisa mencurigai. Ini hal yang biasa.
Tapi, orang yang dicurigai itu, tidak boleh Mu Zhanbei.
Tapi, kenapa tidak boleh dia? Dia tidak ada di tempat saat itu, dia juga merupakan bagian dari Keluarga Mu.
Benar, kenapa tidak boleh dia?
Ini karena dia sendiri yang terlalu percaya diri bahwa dirinya berada di dalam hati pria itu, mengira pria itu bisa percaya padanya.
Dia merendamkan seluruh tubuhnya di dalam bathtub.
Dia yang tidak bisa berenang ini malah belajar bernafas di dalam air pada detik itu.
Ternyata begitu banyak masalah, hanya karena takut menghadapinya dan mengira bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menghadapinya.
Pada kenyataannya, kamu hanya perlu mencoba menghadapinya dan semua itu tidak begitu menakutkan dan sulit.
Lagipula, dia juga bukan siapa-siapa baginya. Mereka berdua sudah tidak ada hubungan apapun dari awal. Belajarlah untuk menghadapi hal ini.
“Gu Anran, kamu kenapa? Kenapa tidak bicara?”
“Gu Anran, kamu pingsan? Kamu tenggelam tidak? Kamu jangan mati tenggelam di tempatku!”
“Gu Anran, bicaralah!”
“Ran Ran…”
“Huk, huk huk!” Gu Anran tiba-tiba keluar dari dalam air. Dirinya berusaha bisa bernafas di dalam air dan hasilnya masih saja tertelan air saat dia keluar.
Begitu terdengar suara batuknya, Jiang Nan menjadi sangat panik bahkan mengetuk pintunya!
“Ran Ran, bicaralah! Kalau tidak, aku masuk!”
Gu Anran benar-benar takut pria itu akan masuk. Dengan tidak mudah, dia menghela nafas dan berkata, “Aku tidak apa-apa.”
Jiang Nan juga merasa sedikit lega dan langsung tidak senang!”
“Sudah lama aku memanggilmu. Tidak bisakah menjawab sebentar jika tidak apa-apa?”
“Kamu terlalu ribut. Aku tidak ingin menghiraukanmu.”
“Dasar kamu ini!” Aku ingin sekali memukul kepalanya!
Tapi, melihat dirinya yang tidak begitu sehat, sudahlah, biarkan saja.
Setelah memastikan dia tidak apa-apa, Jiang Nan lanjut melihat ponselnya. Dia menelusuri bagaimana cara menjaga wanita yang sedang dalam masa datang bulan di internet.
Tidak lama kemudian, dia mengirim sebuah pesan kepada Wen Si, “Bantu aku beli sesuatu…”
… Setelah Gu Anran di dalam selama puluhan menit, dia keluar dari bathtub dan memakai bajunya.
Setelah berendam air panas, sepertinya perutnya juga sudah tidak begitu sakit. Tapi, masih saja terasa tidak enak.
Dia berbaring di samping ranjang, tapi Jiang Nan malah menggendongnya berdiri.
“Apa yang kamu lakukan?” Gu Anran mendorongnya, “Aku sangat lelah, ingin tidur.”
“Rambutmu masih basah, bagaimana bisa tidur?” Jiang Nan menggendongnya, dengan pelan mendudukkannya di atas kursi.
“Tunggu sebentar.”
Selesai bicara, dia bergegas menuju ke kamar mandi dan mengambil hair-dryer.
__ADS_1
Mencolokkan ke stop kontak, dia mengeringkan rambutnya.
Gu Anran merasa bahwa wajahnya hampir kaku karena angin itu, dia hampir tidak bisa menahan ingin menyepaknya sebentar.
“Kamu bisa mengeringkan atau tidak? Panas sekali!”
“Tahan sedikit tidak bisa?” Ini pertama kalinya dia mengeringkan rambut wanita, mana mungkin bisa semudah itu?
“Jauhkan sedikit, ini terlalu panas.”
“Iya, iya.”
“Aku tidak enak badan. Sikapmu harus lebih baik, aku orang sakit, jadi aku yang terbesar di sini.”
“…” Sikap mana yang tidak bagus darinya?! Dia benar-benar merasa bersalah!
“Lembut sedikit!”
“… Jangan berisik!”
“Jaga sikapmu.”
“… Ini sudah bisa?”
“Lumayan.”
Puluhan menit kemudian, Gu Anran membaringkan tubuhnya di atas kasur dan terus menekan perutnya sendiri.
Rasanya masih sakit. Dulu tidak pernah sesakit ini, kali ini dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Jiang Nan pergi ke ruang tamu, tidak tahu apa yang sedang dia sibukkan. Setelah beberapa menit, dia membawa sesuatu kemari.
“Ini.” Dia memberikan barang tersebut ke sebelah tangannya.
“Apa?” Gu Anran menatapnya sejenak, baru melihat benda yang ada di sebelah tangannya. “Kantung air hangat?”
“Aku sudah mempelajarinya. Saat datang itu, letakkan kantung air hangat di atas perut bisa menghilangkan sedikit rasa sakitnya.”
“Dan ada lagi…” Dia berpikir sejenak, bergegas berjalan ke luar.
Tidak lama, dia membawa semangkuk yang entah berisi apa kemari, “Air teh jahe. Cepat minum.”
“Kamu benar-benar punya pengalaman ya.” Gu Anran terenyum, duduk di atas kasur kemudian mengambil mangkuk itu dan mencicipi air teh jahenya.
Aroma jahenya terasa sedikit pedas bisa menghangatkan perut. Setelah meminum teh hangat ini, dirinya juga tidak tahu apakah ini perasaannya atau bukan, tapi dirinya merasa lebih baikan.
Tapi… dia berkata, “Saat kamu mencarinya di internet, kamu pasti tidak melihatnya dengan teliti. Jahe tidak boleh diminum saat malam hari karena bisa mempengaruhi tidur.”
“Apa?” Dia sungguh tidak tahu akan hal ini dan bergegas mengambil kembali mangkuknya, “Jangan minum lagi. Aku buatkan lagi yang baru untukmu, yang tidak ada jahenya.”
“Tidak perlu, aku bisa tidur dengan lelap.”
Justru karena dia yang tidak mengerti, mangkuk berisi air jahe ini membuat perutnya menjadi lebih nyaman setelah meminumnya.
Meminumnya dalam satu tegukan, mengembalikan mangkuk itu kepadanya, Gu Anran berbaring dan bibirnya masih terasa manis.
“Tidak sakit lagi. Aku ingin tidur, kamu sibuk saja dulu.”
“Benar tidak sakit lagi?” Jiang Nan masih terdengar sedikit khawatir.
Gu Anran menggelengkan kepala, “Iya, tidak sakit lagi.”
Jiang Nan mengambil mangkuk yang kosong, berjalan keluar dan dengan pelan menutup pintunya.
Baru saja Gu Anran ingin menutup matanya, ponselnya berdering di saat waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
Saat dia mengambil ponselnya, melihat ke layar ponsel itu dan hatinya tertegun sejenak.
Tuan Besar Mu?