
Hello! Im an artic!
Nelayan tidak menyangka kalau gadis ini bahkan tahu harga pasaran.
Pria di sampingnya terlihat elegan, tak peduli dari pakaian atau pun kepribadiannya, sama sekali bukan seperti orang biasa.
Hello! Im an artic!
Pria ini seperti ini, kaya dan terhormat. Begitu lihat saja sudah tahu kalau kalangan kelas atas dan berduit.
Kenapa membeli sedikit barang masih harus tawar menawar?
“Gadis kecil, apa kamu pernah pergi ke pasar? Bicara harga pasar apa, hanya dengar kata orang, kan?”
Para nelayan tidak menyerah dan masih terus membodohi.
Hello! Im an artic!
“Siput cakar anjingku ini berbeda, baru saja ditangkap dari pulau. Lihat mereka begitu cantik. Mana bisa disamakan dengan barang murah di luar sana?”
“Siput cakar anjing mana yang bukan baru ditangkap? Kalau mati, siapa yang mau beli?”
Gu Anran sama sekali tidak mau melepaskannya, dia berkacak pinggang sambil menawar dan sangat mirip sebagai seorang bibi paruh baya.
“Kamu tidak lihat ukuran siput cakar anjing ini? Di luaran yang seharga 150 yuan per kati itu jauh lebih besar dari punyamu.”
“Bukankah karena di musim ini, semua siput cakar anjing masih belum tumbuh dewasa sepenuhnya?”
“Terlepas dari musimnya, harga pasar saat ini adalah seperti itu. Aku mau 500 yuan untuk semuanya.”
“Tidak bisa, 500 terlalu murah. Setidaknya 1.000.”
“Sudah!” Gu Anran mendengus dan berbalik untuk pergi.
Jiang Nan mengernyit. Beli sebuah barang saja harus tawar-menawar. Hal semacam ini, sungguh tidak sepadan dengan statusnya.
“Kalau kamu suka…”
“Tidak mau lagi!” Gu Anran meraih tangannya dan menariknya untuk pergi.
Tidak takut pada musuh yang bak serigala, hanya takut pada rekan tim yang seperti babi!
Dia sedang berusaha keras, pria ini malah menghalangi di sisinya!
Jiang Nan masih tidak terbiasa dengan kontak dalam bentuk apa pun dengan perempuan. Ingin mendorong pergi Gu Anran, tapi nelayan di belakangnya kembali berteriak, “Gadis kecil, 800 yuan untukmu. Bagaimana?”
“500, lebih sedikit pun tidak mau!” Gu Anran menarik Jiang Nan dengan keras untuk pergi.
Nelayan itu kesal dan akhirnya berkata dengan marah, “500! Untukmu!”
Jiang Nan masih belum bereaksi, Gu Anran sudah melepaskannya dan bergegas kembali ke hadapan nelayan itu.
Dia awalnya mengira setelah keributan semacam ini, bahkan jika kesepakatannya berhasil, semua orang mungkin akan merasa malu.
Tanpa diduga, begitu berbalik dia melihat Gu Anran dan para nelayan itu tertawa dan saling berdiskusi.
“Siput cakar anjing ini sangat enak, tapi kalian anak muda ini suka main di pantai. Makan dengan cara dipanggang juga enak.”
Nelayan dengan antusias menjelaskan caranya, “Siapkan sedikit jus bawang putih, celupkan setelah dipanggang, kujamin enak.”
“Hmm, hmm, ini namanya ikan apa?” Gu Anran menunjuk sebuah ikan di ember yang lain.
__ADS_1
“Ini namanya Ikan Po. Harus diolah dengan cara digoreng.”
“Kalau begitu tidak usah, aku akan mempersiapkan BBQ.”
“Kalau begitu, kamu panggang ini. Udang laut, sangat manis.”
“Berapa harganya?”
“100!”
“60, tidak bisa lebih!”
“Gadis kecil, pacarmu begitu kaya, kenapa aku tidak boleh naikkan sedikit harganya? Benar-benar pelit sekali.”
“Apa pedulimu pacarku kaya atau tidak? Meski benar-benar kaya, dia juga menghasilkan uang dengan susah payah. Keluarga mana yang cari uang dengan mudah?”
“Iya, iya, iya, mulutmu memang hebat. Tidak bisa menang darimu. Kepiting laut ini, 100 yuan dan semuanya untukmu.”
“Baik!”
Akhirnya, Jiang Nan menghabiskan uang kurang dari 1.000 yuan dan ditukarkan dengan banyak barang.
Berjalan di pantai sambil membawa beberapa kantong besar, dia masih sedikit bingung. Sejak kapan dia menjadi seorang juru masak keluarga yang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan?
Tapi, penampilan Gu Anran barusan memang benar-benar membuka matanya.
Apa gadis di hadapannya tadi itu benar-benar tunangan bos, nyonya muda masa depan di Keluarga Mu?
Hanya demi beberapa ratus yuan, bertengkar dengan orang bagaikan siluman, apa tidak merasa malu?
Apa bos pernah melihat sisi jeleknya yang ini?
“Kenapa terus menatapku seperti itu?” Setelah menyewa panggangan dan duduk di pantai, Gu Anran meliriknya sekilas.
Jiang Nan masih ingin berkata bahwa dia tidak berencana untuk makan barang-barang aneh seperti ini.
Selain udang laut yang biasa dia temui, siput yang mirip dengan cakar dan kepiting berbentuk aneh itu apa benar-benar bisa dimakan?
Gu Anran tidak berharap pria ini bisa melakukan apa-apa. Setelah meminta bos untuk membantu menyalakan arang, dia menusuk udang laut dengan bambu kecil dan memanggangnya di atas panggangan.
Setelah itu, dia membungkus siput cakar anjing dan kepiting laut dengan aluminium foil dan meletakkan di atas panggangan.
Tak beberapa lama, aroma yang harum mulai tercium di hidung.
Dalam waktu beberapa menit, udang sudah siap.
Gu Anran melepaskan udang dari tusuknya, mengupas kulit hitamnya, meniupnya dan mencelupkan pada jus bawang putih, kemudian melemparkannya ke dalam mulut.
Sempurna!
Bukankah ini sangat menyenangkan?
“Kamu tidak mau mencicipi?” Gu Anran memberikan satu untuknya.
Jiang Nan melihat tangan Gu Anran dan kukunya yang kotor, sedikit mengernyit.
Dalam benaknya, gadis-gadis di seusia itu suka melakukan perawatan kuku.
Semua gadis suka berdandan yang pernah dia lihat, satu per satu membuat kukunya jadi terlihat aneh.
Tapi Gu Anran tidak. Jari-jarinya begitu halus bagaikan giok, kukunya juga bersih dan tidak ada cat kuku.
__ADS_1
Gadis yang sedikit aneh. Tidak takut kotor, tidak mau terlihat cantik, tawar-menawar seperti bibi paruh baya hanya demi beberapa ratus yuan…
“Kenapa? Tidak mau makan? Atau tidak mau tangan sampai kotor?”
“Tidak mau tangan sampai kotor.” Jiang Nan kira Gu Anran akan mengupaskan satu untuk dimakan sendiri, kemudian mempertimbangkan apa dirinya mau atau tidak.
Bagaimana pun, barang ini terlihat sangat tidak higienis dan tidak enak dipandang.
Kalau gadis ini bersikeras, maka dia hanya bisa memaksakan diri dan makan sesuap.
Tapi tak disangka, Gu Anran mengupas satu dan setelah mencelupkan di jus bawang putih, gadis itu tetap memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
Jiang Nan marah dan menatapnya.
“Kenapa? Kalau mau makan ya turun tangan sendiri, apa harus dilayani? Aku bukan pelayanmu.”
Kesepakatan mereka berdua hanya meminta Gu Anran menemaninya sampai jam 12 malam.
Ada pun dalam periode waktu ini, tidak dikatakan harus melakukan apa.
Jiang Nan sedikit frustasi, ucapan wanita ini agak tidak enak didengar.
Perempuan yang ingin mendekati dia, yang mana yang tidak melakukan segala hal untuk menyenangkannya?
Tapi gadis ini sama sekali tidak. Bahkan, sering kali tampak tidak menyukai dirinya!
Misalnya saja saat tadi bekerja. Juang Nan tidak mau turun tangan dan malas diprotes sebagai orang malas.
Bahkan menyalakan api juga harus dia yang lakukan. Jiang Nan menatap gadis itu dengan tatapan dingin, kembali dimarahi lagi oleh gadis itu.
Intinya, gadis ini sama sekali tidak manis!
Aroma itu kembali datang satu per satu.
Gu Anran mengambil siput cakar anjing yang dibungkus dengan aluminium foil dan membukanya, aromanya begitu menggoda orang untuk melakukan kejahatan!
“Kamu mau mencicipinya?” Gu Anran mengambil tusuk bambu dan muka membuka cangkang siput itu sambil menatap Jiang Nan.
Jiang Nan awalnya tidak ingin meladeninya. Tapi saat ini, langit sudah perlahan menjadi gelap dan sudah waktunya untuk makan malam.
Melihat Gu Anran telah menyiapkan segalanya dan dia tinggal membuka mulutnya saja, dia mengatupkan bibinya dan akhirnya mengulurkan piring sekali pakai.
Sebuah siput diletakkan di atas piringnya, bukan yang sudah dibuka oleh Gu Anran, melainkan yang masih baru.
“Lihat, caranya seperti yang tadi aku lakukan. Cabut cangkang topinya, ambil dan dihisap saja.”
Jiang Nan begitu marah hingga hampir saja melemparkan piring dan siput itu ke wajah Gu Anran!
Ini sungguh keterlaluan! Ternyata gadis ini tidak melayaninya!
“Kenapa? Masih tidak bisa? Ini, lihat cara aku melakukannya sekali lagi.”
Gu Anran mengambil siput dan memperagakan sekali lagi padanya.
Masih tidak lupa untuk bergumam, “Bodoh sekali, hal semudah ini saja tidak bisa.”
Jiang Nan benar-benar ingin mematahkan lehernya!
Apa gadis ini meremehkan dia?
Setelah Gu Anran selesai makan yang pertama, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
Setelah mengangkatnya, di seberang sana terdengar suara Li Ye yang terdengar cemas, “Nyonya muda, Gu Weizi… bunuh diri, Tuan Muda Mu ingin Anda pulang sekarang.”