
Hello! Im an artic!
Setelah telefon dimatikan, masuk sebuah pesan singkat dari wechat, masih dari Jiangnan.
Dia khawatir dia berjalan terlalu jauh, entah kemana, dan tidak bisa menemukannya.
Hello! Im an artic!
Dia memang selalu peduli terhadapnya, seperti menjaga anak perempuannya sendiri.
Bahkan ada kalanya Gu Anran sendiripun merasa heran, apa hubungan diantara mereka berdua sebenarnya.
Demi dirinya, bahkan bersiteru dengan saudara baik yang sudah ia kenal selama ini, demi dirinya, dipukul hampir masuk ke rumah sakit oleh tuan muda Mu.
Namun, dia tidak pernah mengatakan hal apapun kepadanya, sama sekali tidak pernah berbuat macam-macam, dan tidak pernah memberikannya beban sedikitpun.
Hello! Im an artic!
Melihat dua simbol di atas map tersebut, seakan melihat Jiangnan sedang terburu-buru berjalan menghampirinya.
Gu Anran kembali mengangkat bibir dan tersenyum indah, memang kadang kalanya kehidupan terasa sangat mengecewakan, namun kehidupan, selalu memiliki banyak jalan keluar.
Menyimpan kembali ponselnya, baru saja ingin berjalan keluar dari tempat gelap itu.
Tiba-tiba, di depan ruas jalan tidak jauh dari sana, terdengar suara panggilan dengan nada tergesah-gesah : “Tuan! Tuan!”
Nampaknya, ada orang yang jatuh tergeletak, dan orang yang berada disekitarnya, membantu berjaga disisinya, ada orang yang membantu membopong orang tersebut, semua orang terlihat panik dan kebingungan!
Yang jatuh tergeletak di atas lantai, sepertinya adalah seseorang yang sudah berumur…
Gu Anran tertegun, dengan cepat melangkahkan kakinya.
Berjalan sedikit tergesah-gesah, kedua kakinya seakan sudah hampir terpisahkan, rasa sakit yang ia rasakan membuatnya mengeluarkan keringat dingin.
Tidak mudah untuknya,untuk menahan rasa sakit yang luar biasa ia rasakan, meneruskan langkah kakinya.
Namun belum sempat dia mendekati orang tersebut, sudah ditahan oleh seorang pria berjas hitam.
“Berhenti! Jangan lewat dari sini!”
“Apa yang terjadi dengan orang tua itu?” tatapan Gu Anran melewati mereka semua, mendarat pada orang tua yang jatuh tergeletak di lantai.
Diiringi sorot cahaya lampu, bisa dilihat wajahnya memerah terlihat berbeda dari biasanya, kedua bola matanya terbalik, sangat jelas hampir tidak mampu bernafas!
“Cepat taruh dia!” Gu Anran ingin menghampiri.
Pria berpakaian hitam itu tetap saja menahannya: “Sudah aku suruh kamu melewati jalan lain!”
“Dia tidak bisa bernafas, ada sesuatu yang menahan di tenggorokannya, cepat taruh dia!”
“Kamu…”
“Suruh dia kemari!” seseorang yang menjaga orang tua itu disampingnya meliriknya sekilas, berkata tergesah-gesah: “Apa kamu seorang dokter?”
__ADS_1
“Aku bukan.” Gu Anran berjalan menghampiri, namun ucapan ini, seketika merubah raut wajah beberapa orang disana.
Nasib seseorang ditangan tuhan, Gu Anran tidak berminat untuk berdebat dengan mereka, dengan panik berkata: “Jangan menopangnya seperti ini, biarkan dia duduk!”
Dua orang yang menopang orang tua tersebut saling menatap satu sama lain, tidak tahu apakah harus mendengar ucapannya.
Namun, dokter belum juga tiba, dia sekarang sama sekali tidak memiliki cara lain.
Gu Anran langsung berkata: “Aku pernah memperlajari pertolongan pertama, cepat! Bantu dia untuk duduk!”
Kali ini, tidak ada lagi orang yang berani berbicara.
Dua orang ini membantu orang tua tersebut untuk duduk.
Gu Anran berjongkok di belakang tubuh orang tua, satu kaki diangkat menahan punggung orang tua, kedua tangannya memeluk ulu hati orang tua tersebut.
Setelah mengambil nafas panjang, Gu Anran seketika memeluk orang tua itu, menekannya dengan sekuat tenaga!
Orang tua itu hampir dibuat tidak bisa bernafas akibat pelukan yang terlalu kuat, namun sekali ditekan, nampaknya tidak berhasil sama sekali.
Wajah orang tua itu masih sangat memerah, dan semakin lama semakin memerah.
Pria disamping baru saja ingin mendorong Gu Anran pergi, namun Gu Anran tetap tidak memperdulikan, memeluk ulu hati orang tua tersebut, mengerahkan tenaga sekali lagi dan menggendongnya kebelakang.
Terdengar bunyi “Puhhhh”, kali ini, keluar sesuatu benda yang entah apa dari mulut orang tua tersebut, dalam sekejap, hilang seketika.
“Apa yang terjadi?” selain pria muda disamping orang tua, tidak ada satupun orang yang memperhatikan dengan baik, apa benda tadi!
Namun, setelah benda itu keluar wajah orang tua itu, perlahan-lahan membaik.
Dia telah membaik!
“Tuan…” beberapa pengawal dan pelayan menghampirinya.
Gu Anran langsung melambaikan tangan : “Beri jarak jangan terlalu dekat, beri dia udara segar.”
Beberapa pengawal langsung mundur, takut merebut udara segar milik tuan besar mereka.
Pelayan pribadi paman Ding melihat pria muda disamping majikannya : “Tuan muda Yuan…”
“… Kacang.” Gu Jingyuan tiba-tiba merasa, sedikit… tidak sopan.
Apa-apaan ini? Bisa-bisanya hanya karena sebutir kacang, membuat semua orang panik bukan kepalang.
Walaupun tuan besar sudah cukup berumur, namun, kesehatan tubuhnya termasuk sangat baik.
Barusan tadi, semua orang mengira ia memiliki riwayat penyakit, dan kambuh saat itu.
Gu Anran melepaskan orang tua itu, bergeser ke samping, mengangkat tangan dan mengusap sudut keningnya.
Melihat kondisi orang tua itu benar-benar membaik, dia baru dapat menghela nafas legah.
Tersenyum berkata: “Kakek, kelak jangan memakan makanan yang berkulit keras seperti ini, akan sulit dicerna.”
__ADS_1
Orang tua tersebut menatapnya, walaupun sudah membaik, namun, masih belum bisa berbicara.
Namun, gadis di hadapannya ini, mengapa begitu tidak asing?
Dia menggerakan jemari tangannya, ingin mengangkat tangan, namun di tahan oleh cucu disampingnya: “Jangan bergerak sembarangan, tunggu kamu membaik baru bicara.”
Orang tua itu kali ini tersendat akibat memakan sebutir kacang, mungkin membuatnya sedikit tidak enak hati, maka hanya bisa menuruti perkataan cucunya tadi.
Gu Anran melihat pria muda disamping orang tua itu, tersenyum kepadanya: “Dia seharusnya sudah membaik, aku pergi dulu.”
“Tunggu sebentar.”
Pria muda itu mengatakan tunggu sebentar, pelayan pribadi langsung melihat ke arah Gu Anran, tersenyum berkata: “Nona, anda sudah menolong tuan besar kami, kami belum berterima kasih kepada anda.”
“Tidak usah, cukup katakan terima kasih saja, sudah cukup.”
Gu Anran baru saja ingin berbalik pergi meninggalkan tempat, pria muda itu malah berkata: “Sudah menyelamatkan kakekku, aku harus melakukan sesuatu untuk berterima kasih.”
“Kamu sepertinya belum mengatakan terima kasih kepadaku sampai saat ini.” Perkataan Gu Anran, membuatnya sedikit terkejut.
Pria muda itu terdiam sebentar, lalu berkata : “Terima kasih, namun, aku tetap harus…”
“Sudah lah, kamu ingin berterima kasih bagaimana? Memberikanku uang?”
Dia bukan ingin berlagak sok suci, hanya tidak ingin mencari masalah saja.
Jiangnan sudah hampir tiba, dia harus pergi ke hotel untuk menunggunya disana.
“Jika kamu pikir nyawa kakekmu bisa diukur dengan uang, maka bisa memberikanku sedikit uang, terserah berapa yang menurutmu pantas.”
“Jika kamu rasa kakek lebih penting dari uang, maka jangan perlu berbasa-basi, membalas hutang budi dan sebagainya.”
Walaupun ucapan gadis ini terlalu terang-terangan, sedikit melukai perasaan mereka, namun, ucapan memang kasar namun ada benarnya.
Gu Anran tersenyum berkata: “Ungkapan terima kasihmu sudah aku terima, aku pergi dulu.”
Dia benar-benar pergi, tanpa meninggalkan nama dan kontak yang bisa dihubungi, bahkan, tidak mengatakan apapun.”
Perbuatan ini, membuat semua orang sedikit tidak mampu menerimanya.
“Apa dia tidak tahu, siapa yang sudah ia tolong?” Pelayan pribadi menggerutu.
Sepertinya, memang tidak tahu, jika ia tahu, dia tidak mungkin akan pergi begitu saja.
Walaupun membicarakan masalah uang terkesan kampungan, namun, tidak akan ada orang yang bisa melewan kehebatan dari uang. Selama tuan besar mereka memberi imbalan, maka akan diberi imbalan, sudah pasti akan membuat makmur hidup seseorang seumur hidup.
“Kakek, bagaimana?” Setelah Gu Anran berjalan jauh, Gu Jingyuan kembali menatapnya, membantu sang kakek menepuk-nepuk punggungnya secara perlahan.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, hanya sebutir kacang, memangnya bisa membuatku kehilangan nyawa?”
Kakek Gu menghela nafas, saat bangun dan berdiri, kondisinya sudah jauh membaik seperti sedia kala.
Namun, ucapan barusan, apa tidak takut ditertawakan orang lain?
__ADS_1
Barusan tadi, siapa yang hampir kehilangan nyawa hanya karena sebutir kacang?