
Hello! Im an artic!
Mobil berwarna klasik itu menjauh dari jalan yang ramai dan secara perlahan melaju ke pantai yang tenang.
Gu Anran menyetujui permintaan Jiang Nan, menemani pria itu seharian dari sore hingga larut malam.
Hello! Im an artic!
Namun, permintaan dia bukanlah untuk mencari tahu siapa yang menghasut orang-orang tadi malam. Dia menginginkan keamanan pada Qin Zhizhou sebelum kompetisi.
Hari ini adalah Hari Jumat, mulai hari ini hingga final, hanya beberapa hari.
He Lingzhi menerima kabar di siang hari, mungkin final akan diundur hingga Hari Jumat atau Sabtu minggu depan.
Bagaimana pun, hanya dalam waktu seminggu.
Hello! Im an artic!
Karena hanya bisa menyebutkan satu permintaan, maka sebaiknya menyelesaikan hal di waktu tepat tanpa menurunkan kewaspadaan.
“Kamu memang sangat pintar.”
Jiang Nan yang sedang mengemudi, tiba-tiba melirik ke arahnya, “Tapi, kurasa kepintaran ini tidak cukup untuk membuatnya tertarik pada seorang wanita.”
“Sudah kukatakan padamu, Tuan Muda Mu tidak menyukai aku. Percaya atau tidak itu terserah kamu.”
Bagaimana pun, kesepakatan di antara mereka sudah dibicarakan dengan baik. Entah Jiang Nan ingin meneliti target yang salah atau tidak, Gu Anran tidak peduli dan tidak usah peduli.
“Benarkah?” Bibir tipis Jiang Nan mengait dan tersenyum samar.
Gu Anran memiliki pemikirannya sendiri, Jiang nan juga memiliki obsesinya.
Mungkin bahkan Jiang Nan sendiri juga tidak mengerti, kenapa bos menyukai gadis ini.
Tapi ada beberapa perasaan yang tidak bisa dihapus begitu saja. Jiang Nan hanya tidak tahu sedalam apa perhatian bos pada gadis ini.
Berita kemarin pada dasarnya tidak menyebutkan sepatah kata pun tentang nyonya muda di masa depan. Tapi, dia jelas-jelas melihat keberadaan gadis ini di layar TV.
Sebongkah batu bata tidak mungkin melukai bos.
Tapi jika ada seorang wanita lemah di sisi bos, itu sudah lain cerita.
Dia melihat di layar TV sosok bos yang pergi sambil melindungi gadis ini.
Mobil berhenti di pantai, Jiang Nan turun dari mobil terlebih dulu dan menoleh ke belakang untuk melihat gadis yang ikut turun dari mobil.
“Berani pergi denganku?” Jiang Nan mengunci mobilnya dan berjalan menuju ke arah pantai.
Gu Anran tidak menjawab, hanya ikut di belakangnya.
Sudah sampai di sini, apa masih bisa tidak mengikutinya?
Dari sekarang hingga jam 12 malam, semua waktu Gu Anran adalah milik pria ini.
Jika tidak ikut, perjanjian mereka akan dirusak oleh Gu Anran sendiri.
Dia berjalan di belakang pria itu, menatap pria yang berjalan di atas angin.
Pria ini tampaknya sangat suka memakai pakaian putih. Warna ini, warna yang tidak bisa dikendalikan oleh pria biasa.
__ADS_1
Tapi saat dikenakan di tubuh pria ini, terlihat sangat bagus dan penuh dengan aura magis.
Apalagi sekarang saat sedang berjalan di tepi pantai, tertiup oleh angin laut dan pakaian putihnya itu berkibar. Ditambah lagi dengan rambut kuncir kuda panjang yang tertiup angin, sungguh bagaikan sesosok pria cantik yang muncul dari dalam lukisan kuno.
Kenapa dirinya begitu menolak pria ini?
Sebenarnya, mungkin karena hubungannya dengan Tuan Muda Mu, kan?
Terkadang Gu Anran bahkan tidak bisa memahami pemikirannya sendiri. Dia tahu jika terus terlibat dengan Tuan Muda Mu, akhirnya tidak akan baik.
Tapi dia yang sekarang, bukankah sedang tenggelam selangkah demi selangkah?
Di permukaan, dia berpura-pura menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuan Muda Mu. Sebenarnya, apa dia benar-benar bisa menjauh?
“Sedang memikirkan apa?” Tiba-tiba, pria yang berjalan di depannya berhenti dan menoleh ke belakang untuk menatapnya.
Gu Anran terkejut dan langkahnya belum sempat terhenti hingga langsung menabrak tubuh pria itu.
“Sakit!” Dia menutupi ujung hidungnya, hampir saja bersin.
Setelah meliriknya tajam, Gu Anran tidak bisa menahan diri untuk protes, “Kenapa tiba-tiba berhenti?”
“Aku sudah berhenti lama, terus melihatmu dari tadi.”Jiang Nan menunjukkan sebuah fakta, “kamu sendiri yang melamun.”
“Aku…”Gu Anran menatap ke arahnya dan protes lagi, “Aku memang melamun, tapi kamu melihatmu akan menabrakmu, kenapa tidak bisa menghindar?”
“Jalanan ini bukan milikmu, kenapa aku harus menghindar? Terlebih lagi, yang sakit juga kamu. Aku tidak merasakan apa-apa.”
Lalu, kenapa harus menghindar?
Ucapan ini membuat Gu Anran tidak bisa melawan lagi.
Ucapan ini, Gu Anran tidak suka mendengarnya.
“Apa aku pernah bilang aku sangat pintar? Terlebih lagi, siapa yang tidak pernah melamun? Apa kamu jamin dirimu selamanya tidak akan pernah?”
Jiang Nan menatap gadis itu dan tidak menjawab.
Gu Anran terlalu malas untuk meladeni Jiang Nan lagi dan berjalan di depannya.
Di sore hari, matahari menyinari tubuhnya dan kebanyakan wanita tidak bisa menahan sinar matahari.
Tersinar lama oleh matahari, siapa yang tidak takut akan terkena flek hitam?
Namun, gadis ini tampaknya selalu begitu energik. Di bawah terik matahari, sama sekali tidak takut kulitnya terpapar oleh sinar matahari.
Dia bahkan tidak mengulurkan tangan untuk menghalangi dirinya dari matahari.
Melihat indahnya ombak di laut, Gu Anran langsung melepas sepatu dan menggulung celananya. Dia memegang sepatu di tangannya, berjalan di sekitar ombak dengan kaki telanjang.
Terkadang dia akan membungkuk di tepi pantai dan mengambil satu atau dua buah kerang kecil.
Setelah bosan bermain, dia akan dengan santai mengangkat cangkangnya dan mengembalikannya ke laut.
Langkahnya begitu ringan, sosoknya ramping. Tampaknya, memang tidak ada bedanya dengan gadis lainnya.
Di mana perbedaan sebenarnya?
Jiang Nan sama sekali tidak bisa melihat dan juga menebaknya.
__ADS_1
Sebuah wajah yang penuh dengan bintik-bintik, mungkin jika riasan ini dibersihkan, dia benar-benar seorang gadis yang cantik.
Tapi di dunia ini, selama ada uang, tidak akan pernah kekurangan wanita cantik.
Bagi orang seperti mereka, yang paling tidak menarik adalah wanita cantik.
Jadi, di bagian mana Gu Anran yang menarik?
Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab.
Menurutnya, gadis ini jauh lebih biasa dibanding gadis biasa.
Di depan ada seseorang sedang memancing, Gu Anran melihatnya dan tiba-tiba menjadi bersemangat.
“Itu, Tuan Jiang Nan, aku akan pergi melihat-lihat ke sana dan segera kembali.”
Jarang sekali di saat seperti ini bisa bertemu dengan nelayan yang pulang melaut, dia sangatlah beruntung.
“Gadis kecil, apa ada yang ingin dibeli? Kemarilah melihat-lihat.”
Beberapa nelayan yang pulang membawa hasil laut yang dimasukkan dalam beberapa ember plastik, di dalamnya ada udang, kepiting, ikan laut, dan juga kerang.
Melihat ikan laut dan udang yang melompat-lompat, Gu Anran yang belum makan siang lebih dari dua jam, seketika nafsu makannya sudah tergerak kembali.
“Wah! Siput cakar anjing!” Sudah lama tidak memakannya, sungguh sudah lama sekali tidak memakannya!
Dia benar-benar melihat siput cakar anjing yang segar! Keberuntungannya luar biasa!
“Gadis kecil, matamu sungguh jeli. Kali ini kita pergi ke pulau itu, tidak mudah membawa pulang segini ini. Ingin lebih banyak pun tidak ada lagi.”
Gu Anran berpikir sebentar. Nanti membawanya pulang untuk dicicipi oleh semua orang, mereka pasti suka.
Namun, hari ini dia sudah membuat kesepakatan waktu dengan Jiang Nan. Meski sudah dibeli juga tidak bisa dibawa pulang…
“Mau makan?” Jiang Nan berjalan di belakangnya dan melihat benda kecil ini, sama sekali tidak bernafsu.
Terutama yang baru diangkat dari laut, sekarang masih kotor dan membuatnya lebih tidak nafsu lagi.
Tapi, melihat gadis ini terlihat seperti sangat menyukainya, dia juga tidak keberatan mengeluarkan uang.
“Kalau suka, beli saja semuanya.”
“Apa? Kamu saja belum tanya harga?” Gu Anran memelototinya dan sedikit tidak puas.
Mana ada orang yang berbicara seperti ini saat membeli barang? Bukankah ini membuat kesempatan bagi orang untuk getok harga barang?
Benar saja, setelah nelayan itu mendengar ucapan arogan Jiang Nan, dia langsung berkata, “Tidak mahal kok. Siput cakar anjing ini hanya 500 yuan per satu kati. Di sini ada lebih dari tiga kati. Kalau kamu menginginkan semuanya, kamu berikan saja 1.500 yuan.”
Jiang nan memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan ingin mengambil dompetnya.
Tiba-tiba sebuah tangan kecil menekan dari luar celananya dan menekan tangannya dengan terpisah oleh kain.
Jiang Nan sedikit mengernyit, dia tampak tidak senang.
Dia tidak suka disentuh oleh perempuan, bahkan terpisahkan oleh kain.
Tapi Gu Anran sama sekali tidak menyadari ketidaksenangannya.
Gu Anran menatap para nelayan itu dan berkata dengan tidak senang, “Harga pasaran hanya 150 yuan per kati. Kamu menjual harga 500 yuan, kenapa tidak pergi merampok saja?”
__ADS_1