
Hello! Im an artic!
Menjadi menantu keluarga Jiang……
Sebenarnya suasana malam ini terasa aneh. Gu Anran sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Jiang Nan terhadap dirinya, dia sudah mempersiapkan batinnya.
Hello! Im an artic!
Tapi, dia awalnya berpikir, dia akan berkata, apakah kamu mau coba pacaran?
Sebenarnya jika ditanya apakah dia mengharapkan ditanya seperti itu, sejujurnya, tidak.
Hubungan dia dan Jiang Nan itu seperti karena sudah bersama sangat lama, karena sudah memahami satu sama lain, hingga terasa, pacaran atau tidak pacaran itu tidak ada bedanya.
Setidaknya, inilah yang dirasakan Gu Anran sendiri.
Hello! Im an artic!
Seperti yang dia pikirkan sebelumnya, tidak perlu hidup dengan megah dan heboh. Hidup tenang seperti air mengalir juga merupakan sebuah perasaan.
Apalagi disaat seperti ini, Jiang Nan terus menjaganya.
Entah ini adalah perasaan balas budi, atau apa, dirinya juga tidak menolak perasaan ini terus berkembang.
Namun, sebutan sebagai menantu keluarga Jiang, agak berat baginya.
“Jiang Nan……”
“Karena kamu tidak bisa menerimanya tiba-tiba, atau kamu memang tidak bisa terima?” Jiang Nan menatap matanya yang mengkilap itu, seperti dapat menembus hingga ke hati dan pikiran terdalam.
Setelah Gu Anran termenung, tiba-tiba, dirinya menjadi relaks.
Semua pikirannya tidak bisa tidak terbaca olehnya. Jika dikatakan, seumur hidup ini tidak ada kekasih, kemudian hidup bersama, bisa jadi hal ini lebih baik.
“Tidak.”
“Aku tahu.”
“Ha!” Dia sungguh ingin memutarkan bola matanya.
Namun ada suatu pertanyaan yang Gu Anran ingin ketahui: “Apakah kamu menyukaiku?”
“Tentu saja suka.” Jika tidak suka, untuk apa mencarinya menjadi istri?
“Apakah kamu mencintaiku?”
Jiang Nan terdiam, dia menatap matanya, menatapnya penuh dengan penasaran.
Cinta?
Sepertinya dia pernah mendengar kata ini, tapi, tidak familiar.
Apa itu cinta?
Setelah sejenak, Jiang Nan berkata: “Aku tidak akan selingkuh, aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak akan meminta cerai duluan.”
__ADS_1
“Lalu?” Apakah dengan bisa melakukan ini semua, berarti mencintai seseorang?
“Lalu?” Dia tiba-tiba merasa pertanyaan ini terlalu dalam, sulit untuk dijangkau.
“Tuan muda kedua Jiang, apakah kamu tahu apa yang dimaksud mencintai seorang wanita?”
“Tubuhku bersikap gegabah terhadapmu.” Mungkin, inilah yang disebut cinta?
Apakah pria mencintai wanita, selalu dimulai dari mencintai tubuhnya?
Sepertinya, dia pernah membaca penjelasan seperti ini di internet.
Gu Anran seperti ingin tertawa, tuan muda kedua Jiang ini terlalu polos, atau terlalu lancang? Pokoknya, dia terlihat bodoh.
“Jadi kamu merasa, jika tubuhmu bersikap gegabah padaku berarti kamu mencintaiku?”
“Apakah kita perlu memperjelas masalah ini?” Kedua orang bersama, bukankah hanya perlu saling merasa nyaman dan bahagia?
Ucapan Jiang Nan ini membuat Gu Anran kebingungan.
Perlukah kita memperjelas masalah ini? Apakah hidup bersama tidak menyenangkan?
Apa itu cinta? Apa itu pernikahan?
Mencintai seseorang, belum tentu bisa menikahinya. Tidak mencintai seseorang, juga belum tentu bisa hidup tidak baik setelah menikah.
Jadi apakah sebenarnya kebahagiaan adalah yang terpenting?
Melihat dia yang kebingungan seperti itu, Jiang Nan tidak tahan untuk meringkuk bibir, tertawa pelan.
Jiang Nan mengangkat jarinya, lalu menyisipkan rambut di wajahnya ke belakang telinga.
Jari tangan yang panjang itu melewati wajahnya, perlahan meluncur ke dagunya, kemudian, mengangkat dagunya.
“Aku memang tidak mengerti bagaimana mencintai seorang wanita. Ini adalah pertama kaliku mendekati wanita. Aku melakukan banyak hal yang tidak pernah kulakukan.”
“Kamu adalah wanita pertama yang kupeluk. Jadi bisakah kamu memberiku kesempatan dan waktu, untuk mempelajari cinta apa yang kamu inginkan?”
Namun wajah Gu Anran muram, tatapannya gelap.
“Jari tanganmu dingin.” Jiangnan memegang tangannya, diletakkan di dada: “Apakah kamu ingin mengatakan, aku bukanlah pria pertamamu?”
“Tidak adil…….”
“Di dunia ini tidak ada begitu banyak keadilan. Jika ini hanyalah penyesalan, bisa kukatakan karena aku tidak muncul di hadapanmu sebelum dia.”
Jiang Nan memegang erat sepasang tangannya.
“Mungkin aku tidak memahami apa yang dimaksud dengan cinta. Tapi setidaknya aku tahu, aku ingin hidup bersama denganmu.”
“Satu bulan ini adalah masa-masa paling bahagia di dalam hidupku. Setiap kali aku pulang ke rumah, aku tidak lagi sendirian. Saat senang, ada orang yang mau berbagi denganku. Saat aku lelah, ada orang yang berkata padaku, cepatlah istirahat.”
“Dulu aku sering minum bir sendirian. Tapi setelah ada kamu, dalam satu bulan ini aku tidak perlu minum bir setiap malam pun bisa tidur dengan nyenyak.”
“Benar, aku bisa tertidur dengan lelap, setiap kali teringat kamu berada di kamar sebelah, aku bisa tertidur dengan tenang. Iya, jika kamu bisa tidur di sisiku, menemaniku berpelukan, atau melakukan suatu hal, mungkin aku bisa tertidur dengan lebih baik.”
__ADS_1
“……” Melakukan suatu hal? Seketika dia membayangkan hal-hal porno.
“Kenapa menatapku seperti itu?” Jiang Nan tampak polos, “Maksudku, ngobrol dan menonton televisi. Emangnya apa yang kamu pikirkan?”
“……” Masuk selimut dan mengobrol? Siapa yang percaya!
“Lihat, kamu ini wanita belang, pasti kamu sedang memikirkan hal yang engga-engga terhadapku.”
Dia tiba-tiba berbalik badan, lalu duduk di kursi, dan meletakkan dia di atas pahanya.
Gaya ini, jelas-jelas……
“Jika kam menginginkannya, aku akan menemanimu. Kamu lihat, aku terhadapmu cukup baik kan? Jika kamu mau, aku tidak akan mengelak.”
“……” Kenapa dalam dirinya ada muncul nafsu gegabah? Siapa yang menginginkannya?
“Jangan-jangan kamu mau sekarang ya?” Jiang Nan mengangkat alis, tiba-tiba mengulurkan tangan dan membuka kancing baju.
“Kemarilah. Aku bisa layani kamu kapan pun. Pelan-pelan ya. Ini pertama kaliku.”
“Kamu ini……”
“Jangan omong kotor. Meskipun kedengarannya omong kotor bisa menambah rangsangan.”
Haha, lihat wajah emosinya hingga memerah, sangat lucu.
Gu Anran ingin sekali menepuk kepalanya, kenapa dia tidak bisa bicara bahasa manusia?
“Kenapa?” dia tertawa, memegang pinggangnya yang langsing dengan sepasang tangan: “Menikah denganku sangat menyenangkan, bukan? Maukah kamu mempertimbangkannya dulu?”
“Di dalam kepala tuan Jiang ada banyak sekali hal-hal aneh, aku agak kesulitan menerimanya.”
Gu Anran hampir saja memutar bola mata.
“Kenapa? Apakah kamu merasa pria harus berpikiran suci terhadap wanita baru disebut baik? Jika seperti itu, bagaimana manusia bisa ada keturunan?”
Ucapannya ini, memang tidak ada salahnya.
Gu Anran malas mempedulikannya, dia ingin turun dari tubuhnya, tapi dia sadar bahwa pose mereka saat ini tidak benar.
Saat menundukkan kepala, wajah kecilnya itu memerah.
“Jangan asal bicara, biarkan aku turun…….”
“Pembahasan ini belum selesai.” Jiang Nan tetap memegang pinggangnya, tidak mau melepaskannya, bahkan lebih menekan ke bawah, sehingga kedua tubuh itu menempel dengan sangat dekat.
“Kamu belum memberikanku reaksi.”
“Reaksi apa??” Tadi dia masih bercanda, seketika berubah menjadi serius. Dia tiba-tiba menjadi panik.
Jiang Nan duduk tegak, tubuhnya yang tinggi itu membuat Gu Anran yang duduk di atas pahanya bisa menatapnya lurus.
Sepasang mata yang panas itu menatap wajahnya. Kali ini, dia tidak akan memberikannya kesempatan untuk bersembunyi lagi.
“Jika kamu tidak ingin kembali ke sisinya, maka, menikahlah denganku.”
__ADS_1