
Hello! Im an artic!
Keluarga Gu Lingzhou, cucu perempuan dari kakek Gu, Gu Anran?
Rasa kantuk Gu Weizi menghilang, tersadar seketika.
Hello! Im an artic!
Dengan cepat teduduk di atas ranjangnya, mengambil ponsel, dengan nafas tesengal-sengah dan kacau.
Yang terpenting adalah, dia merasa iri, iri setengah mati!
Dia ingin melenyapkan Gu Anran, dia sangat ingin mencekik mati manusa tidak tahu diri itu!
Benar-benar ingin melenyapkannya menjadi abu!
Hello! Im an artic!
Awalnya mengira tuan muda Mu tidak mengingikannya lagi, manusia tidak tahu diri ini pasti akan hidup menderita, siapa sangka, tuan muda kedua Jiang malah memperlakukannya bagiakan harta berharga.
Bukan hanya ini saja, sekarang, malah muncul keluarga Gu Lingzhou!
Keluarga Gu Lingzhou, sama hebatnya dengan keluarga Mu dari Beiling!
Mengapa harus selalu Gu Anran? Mengapa harus manusia tidak tahu diri itu!
Tuhan memang sangat tidak adil! Manusia tidak tahu diri itu bagaikan seekor kecoa, bagaikan rumput yang tidak berguna! Mengapa masih tidak mati juga!
“Kalau begitu bagaimana? Apa ingin manusia tidak tahu diri itu kembali bangkit? Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkannya mendapat kesempatan untuk bangkit! Sama sekali tidak bisa!”
Otak Gu Weizi kembali berfungsi secara normal, “Tidak bisa, persoalan keluarga Gu mencari anak mereka, pasti akan dilakukan secara besar-besaran.”
Sama sekali berbeda dengan nenek Mu yang mengakui kembali cucu perempuannya, tidak sama!
“Nanti, demi memberikan status kepada manusia tidak tahu diri itu, keluarga Gu pasti akan mengundang banyak sosok penting dan hebat dari dunia bisnis, keluarga Mu sudah pasti juga akan diundang.”
Keluarga Gu saat ini, mungkin masih tidak mengetahui hubungan Gu Weizi dengan nenek Mu.
Tapi, selama pencaritahuan tentang hal ini terus dilanjutkan, kemungkinan akan diketahui.
Dia bisa menyembunyikannya dari nenek bodoh keluarga Mu itu, namun bagaimana caranya untuk menyembunyikan hal ini dari keluarga Gu?
“Ini yang mama khawatirkan, selama keluarga Gu yakin bahwa kamu bukanlah anak dari Shangqing, dengan kecerdasaan seorang tuan muda Mu, banyak persoalan yang sudah pasti ia ketahui.”
“Mama sudah berbicara dengan kakek Gu, anak perempuan Shangqing, saat ini berada di sisi tuan muda Mu, besok pagi, kakek Gu pasti akan pergi sendiri ke kediaman keluarga Mu untuk mencarinya.”
“Kamu bilang…” Gu Weizi tertegun, dengan terbata: “… Aku?”
“Tentu saja, anak perempuan Shangqing, siapa lagi kalau bukan dirimu?”
Sekalinya kebohongan dimulai, sudah pasti tidak dapat dihentikan.
Demi menutupi kebohongan sebelumnya, tentu harus berbohong lebih banyak lagi, mereka sudah tidak memiliki jalan lain.
Gu Weizi menenangkan diri, akhirnya mengerti mengapa Ye Shuixin menelefonnya pada waktu seperti ini, ada maksud dibalik telefon tanpa hentinya ini.
“Masalah ini, takutnya tidak bisa kita selesaikan sendiri.”
“Memang ini maksudku.” Ye Shuixin langsung menganggukan kepala.
__ADS_1
Gu Weizi berfikir, menggerakan bibir berkata: “Aku mencari mereka, coba lihat apa mereka memiliki jalan keluar.”
…
Gu Anran tertidur dengan sangat pulas, saat bangun di keesokan harinya.
Sekali melihat waktu, membuatnya terkejut bukan kepalang.
Pukul tujuh tiga puluh, Oh Tuhan! Ada kelas pukul delapan pagi!
“Hampir telat!” bocah ini dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi, menggosok gigi mencuci muka, dengan sangat terburu-buru.
Jiangnan masih berada di luar, dengan santai menikmati santap pagi dan membaca Koran: “Cepat, sudah tidak sempat lagi.”
“Huhuhuhu…” Jika bukan karena sikat gigi yang masih berada di dalam mulutnya, Gu Anran sudah akan memarahinya.
Dirinya sendiri bangun begitu pagi, tapi malah tidak membangunkannya!
Astaga! Benar-benar tidak sempat lagi!
Membasuh wajahnya, sekali mengangkat kepala, tidak sengaja, melihat bekas luka di lehernya.
Ini adalah… semalam, di dalam mobil, bekas yang ditinggalkan saat Mu Zhanbei berada di atas tubuhnya.
Hatinya merasa gelisah seketika, dengan cepat menarik memperbaiki pakaiannya, seolah takut dilihat oleh orang lain.
Walaupun sebenarnya, hanya ada dirinya sendiri di dalam kamar mandi.
Berberes dengan tergesah-gesah, Gu Anran kembali ke dalam kamarnya, mengganti pakaian dengan cepat.
Ada sarapan di luar…” Jiangnan mendorong pintu kamar, “Kamu…”
“Waaaa! Brengsek! Keluar!”
Tuan muda kedua Jiang yang sudah mendapat pelatihan khusus sedari kecil bersama Mu Zhanbei dan golongan kaum atas lainnya, bantal lembut yang terlempar ke wajahnya, berhasil ditangkap hanya dengan satu tangan.
Saat melihat ke arahnya, hanya melihat seseorang dengan kulit putih bak salju yang sedang memeluk baju lalu terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi, ditutup dengan keras.
“Aku… itu, bukan sengaja, aku hanya takut kamu terlambat, dan mengingatkanmu.”
Dia berkata mengarah kepada pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, bibirnya terangkat perlahan, tersenyum.
Barusan tadi, sepertinya melihat sosok dengan warna kulit seputih salju?
Iya, memang bukan sengaja.
Iya memang, mengapa hidung ini terasa sedikit gatal?
Jiangnan mengangkat tangan dan mengusapnya, melihat tangannya dipenuhi dengan darah berwarna merah segar, membuatnya terkejut.
Mati! Lihat sedikit saja tidak bisa, bisa-bisanya mimisan? Sangat memalukan!
Gu Anran menggigit sehelai roti, memegang sekotak susu, keluar dari pintu.
Demi mengantarnya kembali ke sekolah, mimisan di hidung Jiangnan belum selesai ia urus.
Saat keluar, masih ada sedikit darah mimisan di sudut hidungnya.
__ADS_1
“Lihat, sudah aku bilang kamu brengsek kan, lihat karmamu datang begitu cepat!” Gu Anran mengambilkan selembar tissue, membantu membersihkan hidungnya.
“Apa kamu juga boleh membantuku membersihkan air liurku?” Pria yang sedang mengendarai mobil ini mendekatkan wajahnya.
“Tolonglah, apa tidak bisa menyetir dengan baik?”
“Aku menyetir dengan baik kok.” Selama dia memikirkan kulit bak salju itu, dia sudah pasti tidak bisa menahan….. emm, lagi-lagi hidungnya terasa gatal.
“Seperti tidak pernah melihat wanita saja!” Gu Anran membuang tatapannya.
“Tidak pernah melihat yang seindah ini.” Ucapan ini, benar adanya.
“Dasar licik!” orang ini, makin bisa berbicara saja, apa ada ahli profesional yang mengajarkannya?
Jiangnan hanya tersenyum, tanpa berbicara.
Gu Anran membaca buku di sepanjang perjalanan.
Semalam pulang terlalu larut malam, belum sempat mengerjakan tugas sekolah, hari ini dengar-dengar akan diadakan test kecil-kecilan, anggap saja sebagai test sebelum ujian sesungguhnya dimulai.
Sebenarnya dia sedikit khawatir, tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.
Begitu banyak penghalang dan bencana di semester ini, membuatnya tidak dapat serius dalam mendengarkan materi pelajaran.
Hari ini harus ia tuntaskan semuanya, sungguh bukan sesuatu yang mudah.
“Jangan cemas lagi, pulang malam ini, aku bantu kamu mengerjakan tugas.”
“Benarkah?” Jiangnan memiliki ciri khas tersendiri dalam mengajar, sangat santai, namun dapat ia mengerti dengan mudah.
“Em.” Kapan dia pernah membohonginya?
Gu Anran akhirnya bisa merasa tenang, kembali membaca buku ditangannya.
Saat hampir sampai di gerbang sekolah, Jiangnan mengangkat telefon, entah apa yang dikatakan dari balik telefon tersebut, membuat raut wajahnya menegang.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” Gu Anran langsung memperhatikan ada yang tidak beres darinya.
“Tidak apa-apa.” Jiangnan memberhentikan mobil di depan pintu belakang sekolah.
Saat melihat Gu Anran turun dari mobil, tiba-tiba memanggilnya dengan perlahan: “Ranran.”
“Ehh?” Gu Anran menoleh kebelakang, melihat dengan jelas keraguan dalam tatapannya.
Namun pada akhirnya dia masih saja tidak mengatakan apapun, hanya berkata: “Hati-hati di jalan.”
“Apa sih? Sudah sampai di sekolah, ada bahaya apa lagi?”
Gu Anran merasa tidak ada yang aneh, melambaikan tangan kepadanya, turun dari mobil, langsung melesat menuju ke gerbang sekolah.
Sebenarnya di sepanjang perjalanan, kedua kakinya terasa sangat sakit, namun, di hadapan Jiangnan, dia berlagak seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
Saat menoleh ke belakang, melihat mobil Jiangnan sudah melaju ke ruas jalan, baru pada akhirnya dapat bernafas legah, dan memperlambat langkah kakinya.
Setelah di tindas selama dua jam oleh Mu Zhanbei selama hampir dua jam, sekarang, membuat kakinya benar-benar terasa kebas, sangat sakit.
Saat berjalan, ada rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Namun, waktu tidak banyak lagi.
__ADS_1
Dia mengambil nafas panjang, memikul tas sekolah mempercepat langkah kakinya.
Tanpa sadar, sesosok bayangan muncul dari balik pohon di samping, menabraknya…