Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 325 Dia Sudah Berubah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Apa yang ingin dilakukan?


Sudah pernah dinikmati oleh dua pria, wanita ini, bisa-bisanya wanita masih saja begitu polos?


Hello! Im an artic!


Apa karena memang berbakat dalam berakting, atau memang karena terlalu bodoh?


Mu Zhanbei duduk di kursi belakang, demi berjaga jarak dengannya, Gu Anran hanya dapat duduk lebih dempet menyandari kursi.


Namun, dengan keterbatasan ruang, bagaimanapun dia menjaga jarak, mereka berdua tetap saja akan saling berdekatan.


Mu Zhanbei seketika menaruh tangannya di belakang kursi, tubuh mungkin Gu Anran berhasil ditindih olehnya, tidak dapat bergerak sama sekali.


Hello! Im an artic!


Dia berusaha melawan, namun kedua tangannya terikat keras, hanya dapat tergeletak disampingnya, perasaan ini sangat amat tidak enak.


“Tuan muda Mu…”


“Apa yang ingin aku lakukan?” Mu Zhanbei mengangkat jemarinya, jemari panjang yang kini menjepit sebatang rokok, memikat wanita ini.


Namun dia menolak untuk melihatnya, setampan dan serupawan apapun, tidak seharusnya dilihat olehnya.


Dia sekarang, sudah menjadi milik Gu Weizi.


Dia tidak melihatnya, bukan berarti membiarkan Mu Zhanbei begitu saja.


Tangannya tiba-tiba mendarat pada tubuhnya, bergerak untuk membuka kancing pakaiannya: “Apa yang ingin aku lakukan, coba kamu tebak?”


“Aku tidak ingin menebaknya!” nafas Gu Anran menjadi tidak karuan, sebenarnya merasa sangat takut, namun, tetap saja berlagak tenang.


“Aku tidak tahu sejak kapan Tuan muda Mu menjadi seperti ini, bisa-bisanya menyukai wanita milik orang lain!”


Dia mengira dengan mengatakannya seperti ini, akan membuatnya marah dan kesal, dan melepaskannya, dan tidak ingin melihatnya lagi.


Tidak disangka, Mu Zhanbei bukan hanya tidak emosi, malah, mengangkat sudut bibirnya dan tertawa licik.


“Aku memang menyukainya, memangnya kamu tidak tahu?”


Jemari panjangnya bergerak, dua kancing pakaian Gu Anran berhasil dibuka.


Baju yang dikenakan sedikit melorot, kerahnya sedikit terbuka, terlihat pundak dengan kulit putih yang bersih dan cerah.


Nafasnya menjadi sedikit kacau.


Tidak ada orang yang bisa memahami Tuan muda Mu, tidak aka nada.


Tangannya mendarat di lehernya, ujung jarinya menekan leher dan perlahan-lahan turun.


Di dalam pikiran Gu Anran, seketika muncul pemandangan dimana ia berada di rumah sakit kala itu.


Dia mencekik lehernya, membuatnya tidak mampu bernafas, kematian terasa sangat dekat dengan dirinya saat ini, dia kini sudah berdiri di gerbang kematian…


Jelas-jelas Mu Zhanbei hanya menyentuh lehernya dengan ujung jari, namun dia merasa tidak dapat bernafas sama sekali.


Sangat sulit!

__ADS_1


Dadanya tidak berhenti bergerak, lekukan tubuh yang sangat amat indah.


Mu Zhanbei tertawa sinis, menggerakan ujung jarinya ke atas dan ke bawah lehernya, akhirnya, bergerak turun ke bawah.


“Jangan!” Gu Anran berusaha keras untuk bergerak.


Pergelangan tangannya terasa sakit, namun masih tidak dapat mengalahkan kuatnya ikatan tali tersebut.


Dia menatap Mu Zhanbei, memohon untuk dilepaskan, namun terlihat tatapan tajamnya, yang membuatnya tidak dapat mengeluarkan kalimat permohonan yang sudah berada di ambang bibirnya.


Jika memohon untuk dibebaskan berguna, maka dia bukanlah pria yang dijuluki dengan sebutan pria seperti serigala!


Hanya ada sesuatu yang ia sukai dan tidak, perasaan orang lain, sama sekali tidak berharga di matanya!


Gu Anran pada akhirnya memilih untuk memejamkan mata, tidak memperdulikannya.


Menunggu sampai dia bosan, dan merasa tidak berselera, sudah pasti akan melepaskannya.


Dulu bukannya tidak pernah mendapat kejadian seperti ini, namun pada akhirnya, dia hanya menakut-nakutinya.


Namun kali ini, apa yang dilakukan oleh Mu Zhanbei, benar-benar diluar dugaan Gu Anran.


Dia menindihnya, memperingatkannya dengan apa yang ia lakukan, bahwa raja serigala, bukan hanya bisa menakut-nakuti saja!



Dua jam kemudaian, pria berpakaian rapi turun dari dalam mobil.


Tali pengikat tangan Gu Anran sudah dilepas, dia jatuh terperosot dari kursi kulit yang ia duduki.


Menarik erat baju yang dipakai, dengan tatapan kosong.


Dia benar-benar sudah berubah.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, suara Qinyi tanpa berprikemanusiaan: “Nona Gu, lima menit kemudian, dipersilahkan anda untuk pergi.”


Ucapan ini, bukan saja tidak berperasaan, namun juga sangat berisi pelecehan yang sangat amat dalam.


Namun ini juga berarti, dia hanya memiliki waktu lima menit, untuk berbenah.


Lewat dari lima menit, tidak peduli dia memakai baju atau tidak, Qinyi pasti akan membuka pintu dan masuk untuk mengusirnya pergi.


Gu Anran menggigit bibir, merasa kelelahan yang luar biasa.


Tidak mudah baginya untuk berdiri dan berpakaian dengan baik, merapikan rambutnya, mendorong pintu mobil, dengan kedua kaki yang terasa sakit, turun dari atas mobil.


Sudah tidak ada lagi tanda-tanda Mu Zhanbei disekitarnya, saat mendengar suara mobil dinyalakan tadi, seharusnya adalah suara laju mobilnya meninggalkan tempat.


Setelah menganggapnya sebagai mainan dan selesai memainkannya, dia pergi tanpa sedikitpun perasaan.


“Nona Gu, dua ruas jalan di depan, adalah pintu depan hotel.”


Qinyi hanya melihatnya sekilas, tidak ada sedikitpun kehangatan dari tatapannya.


Dia berkata: “kamu bisa langsung kembali ke hotel untuk mencari temanmu, juga boleh pergi ke jalan besar itu untuk mencari taksi dan pergi, kami tidak dapat menemani lagi!”


Sebuah tas diberikan, Qinyi mendorong tangannya, terdengar bunyi keras, pintu mobil telah tertutup rapat.


Qinyi naik ke atas mobil, bersama dengan seorang pria yang tidak Gu Anran kenal.

__ADS_1


Setelah dua orang masuk ke dalam mobil, mobil dinyalakan, dalam sekejap, hilang dari tatapan Gu Anran.


Dia ditinggalkan seorang diri, dengan hembusan angin menerpa, terasa dingin, membuat tubuh kurusnya, dibuat semakin terasa dingin, sangat sakit!


Perlakuan Mu Zhanbei barusan terlalu gila-gilaan, kekuatan yang ia kerahkan benar-benar membuat orang merasa takut.


Setelah tersiksa begitu lama, sekarang sekujur tubuhnya terasa sangat amat sakit, bahkan berjalanpun terasa sangat sulit baginya.


Namun dia masih mengepal keras tangannya, perlahan-lahan selangkah demi selangkah, berjalan ke arah tempat yang lebih terang.


Dua kaki itu, tidak berhenti bergetar dalam hembusan angin, getaran tersebut membuatnya merasa seolah-olah terasa patah.


Lampu di depannya sepertinya sangat dekat, namun terasa sangat amat jauh.


Jalan yang tidak begitu panjang, membuatnya merasa sangat kecewa.


Ingin menangis, namun dia tidak tahu apa gunannya untuk menangis saat ini.


Karena tidak ada yang berhutang satu sama lain, dan tidak akan ada hubungan apapun lagi.


Namun tidak terpikirkan olehnya, hubungan ini datang secara tiba-tiba, dan begitu hebatnya!


Apa yang ia katakan sebelum pergi?


“Aku dan tuan muda kedua Jiang, siapa yang lebih hebat? Emm?”


Ucapan ini setajam pisau, menancap tepat di dalam hatinya!


Gu Anran akhirnya tidak mampu menahan rasa sakit di kakinya, membungkukan tubuhya berjongkok di atas lantai.


Dia tidak tahu siapa yang lebih hebat, karena, dari awal hingga akhir tidak pernah membandingkan, juga tidak memiliki kesempatan untuk membandingkan.


Dia hanya memiliki seorang pria, dari awal hingga saat, hanya dirinya seorang!


“Huhh…” tidak ada air mata, hanya ada suara tangisan pahitnya.


Memeluk kedua lutut kakinya, merasakan sakit yang luar biasa dari tubuhnya, gemetaran di bawah hembusan angin!


Seketika, ponsel yang ditaruh di dalam tasnya, bordering keras.


Gu Anran berusaha membuka kedua matanya, mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam tasnya, dengan perlahan.


Melihat telefon masuk, dia mengambil nafas dalam, berusaha untuk menenangkan diri.


“Jiangnan?”


“Yangyi tidak mengantarmu pulang.” Suara Jiangnan terdengar sedikit tenang, “Dimana sebenarnya?”


“Aku… perasaanku kurang enak, lalu keluar berjalan-jalan sendiri, aku pulang sekarang juga.”


“Kamu dimana? Aku pergi menjemputmu.” Malam hari berjalan diluar seorang diri, dia mengkhawatirkannya.


Suaranya, membuat hatinya yang tadi terasa dingin, menjadi sedikit hangat.


Tidak terasa bibir Gu Anran terangkat, “Aku masih berada di dekat hotel.”


“Baik, kamu jangan kemana-mana, aku kesana sekarang.” Jiangnan sudah kembali ke apartemen keluarga Jiang, mendengar suara dari balik telefon, sepertinya sudah mengeluarkan kunci mobil dan keluar dari rumah.


Hati Gu Anran, terasa lebih hangat.

__ADS_1


Dia menganggukan kepala: “Emm, aku tidak kemana-mana, aku… menunggumu.”


__ADS_2