Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 175 Tenang dan Bersama Selamanya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Begitu pemikirannya diketahui, Mu Zhanbei berpura-pura tidak peduli. Dia terbatuk pelan dan membuang muka.


“Kamu yang berinisiatif menciumku. Aku dengan berat hati bekerja sama denganmu. Kalau tidak, pasti akan melukai harga dirimu.”


Hello! Im an artic!


“Benarkah?” Gu Anran merasa dirinya kesal, tapi juga lucu. Dia berkata dengan tak berdaya, “tidak masalah, jantungku cukup kuat.”


Setelah membereskan obatnya, Gu Anran juga bangkit berdiri dan menatapnya.


“Tuan Muda Mu, obatmu sudah selesai dimakan. Sudah boleh istirahat.”


Mu Zhanbei tidak bicara, hanya sedikit mengernyit.


Hello! Im an artic!


Sudah boleh istirahat, apa artinya ini? Gadis ini tampaknya sama sekali tidak ada maksud hati untuk menemaninya beristirahat.


“Aku masih ada sedikit urusan, harus ditangani sebentar.”


Gu Anran berbalik dan berjalan ke samping untuk membuka tas yang dibawa kemari oleh orang-orang yang dikerahkan Li Ye. Dia mengeluarkan buku catatan dan meletakkannya di atas meja.


“Malam ini aku harus membuat naskah. Nanti setelah selesai mandi, aku akan mulai mengerjakannya. Kamu tidur duluan, aku akan menjagamu dari sini.”


Mu Zhanbei masih tidak bicara, Gu Anran sudah meletakkan buku catatannya dan masuk ke kamar mandi sambil membawa pakaian tidurnya.


Tidak beberapa lama, Mu Zhanbei masih terbaring di tempat tidur dan setengah menyipitkan matanya. Entah sudah tidur atau belum.


Dia berjalan mendekat dan memeriksa dahi pria itu.


Tidak ada gejala demam yang ditemukan, barulah dia berjalan ke meja belajar dan membuka buku catatannya.


Begitu dia mulai serius bekerja, ekspresinya ini memang sangat cantik.


Mu Zhanbei tanpa sadar, menatapnya sampai bodoh.


Gu Anran sama sekali tidak sadar ada orang yang terus mengawasinya.


Dengan kecepatan Qin Zhizhou, tidak banyak naskah yang dia simpan. Paling banyak hanya tersisa dua atau tiga bab saja.


Dua atau tiga bab, hanya cukup untuk digambar sehari oleh Qin Zhizhou.


Jadi, setelah selesai merawat Mu Zhanbei dan pria itu sudah tertidur, dia segera kembali tenggelam dalam pekerjaan.


Dia bahkan tidak menyadari ketika ada satu orang tambahan yang entah sejak kapan ada di belakangnya.


Sampai pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan dan memeluknya.


“Ah!” Gu Anran terkejut dan segera berbalik. Tanpa sengaja, bibir tipisnya benar-benar menyentuh wajah pria itu.


“Curi-curi mencium aku?” Pria itu mengerutkan kening.


“Tidak!” Gu Anran segera menyangkal, “Tuan Muda Mu, kamu sedang apa?”


“Sudah berdiri lama, kepala agak pusing.” Alasan ini tampaknya sangat berguna. Tak peduli berjalan sampai mana, tak peduli melakukan apa, sangat tepat sekali digunakan untuk menjelaskan.


“Bukankah kamu sedang tidur?” Apanya yang dinamakan berdiri lama?


“Melihatmu begitu serius bekerja, aku juga ingin melakukan sesuatu.” Dia duduk rasional dan ter-struktur, duduk di atas kursi Gu Anran.


Gu Anran tidak berdaya dan hanya bisa bangkit berdiri dan memberikan kursi itu pada Mu Zhanbei.


“Kamu sedang sakit, jangan bekerja lagi. Tidur dengan baik dan lakukan besok begitu kamu bangun, oke?”

__ADS_1


“Tidak bisa tidur.”


“Kenapa?” Tadi Gu Anran kira dia sudah tidur.


Mu Zhanbei tidak menjawab, intinya dia tidak bisa tidur.


Melihat gadis itu ingin pergi, Mu Zhanbei menarik lembut tangan gadis itu dan gadis itu segera terduduk di kursi, duduk di atas pangkuannya.


“Tuan Muda Mu…”


“Kamu bekerja saja, aku hanya melihat-lihat.” Mu Zhanbei meletakkan dagunya di pundak Gu Anran, lengannya membungkus pinggang gadis itu dan benar-benar berencana untuk melihat di sana sepanjang waktu.


Gu Anran secara tidak sadar ingin melepaskan tangannya, bukankah ini sama saja sedang mengambil keuntungan darinya!


Tapi, Tuan Muda Mu tidak melakukan hal yang berlebihan selain memeluknya.


Setelah mencoba beberapa kali untuk melepaskan tangan itu, tapi Mu Zhanbei masih memeluknya dengan erat.


Pada akhirnya, Gu Anran tidak punya pilihan lain selain membiarkannya.


Lagi pula, dia sungguh punya banyak hal untuk dikerjakan. Jika terus memusingkan hal ini, dia sungguh tidak akan melakukan apa-apa.


Mu Zhanbei juga hanya memeluknya, sungguh tidak ada perilaku lancang lainnya.


Paling-paling, hanya wajahnya yang semakin mendekati lehernya dan akhirnya bibir tipis itu menempel di lehernya.


Gu Anran sungguh tak berdaya. Tuan Muda Mu bersikap gila seperti ini, kalau dia bisa tenang dan membuat hasil karya itu aneh namanya.


Apalagi, bibir pria itu begitu dekat dengan lehernya, seolah-olah akan segera dicium. Apa dia masih bisa tenang?


Tapi, dia tidak melakukan tindakan berlebihan lain. Ingin menyalahkan juga tidak tahu harus mulai dari mana.


Dia pun memaksakan diri untuk menulis sebuah bab, dia menemukan bahwa napas pria yang duduk di belakangnya dan memeluknya erat berangsur-angsur menjadi tenang.


Napas yang hangat mengenai lehernya, membuatnya terasa mati rasa. Membuat orang tidak bisa menahan imajinasi liar yang mempesona.


“Tuan Muda Mu?” Gu Anran memanggil dengan lembut.


Orang itu sama sekali tidak bergerak. Sekali lagi panggilan, yang meresponnya adalah sebuah suara dengkuran rendah.


Ternyata dia benar-benar tertidur.


Gu Anran tiba-tiba teringat akan sebuah artikel yang pernah dia baca sebelumnya. Tak peduli sekuat apa orang itu, akan ada kalanya di mana hati mereka sangat lemah.


Tuan Muda Mu yang saat ini, sama persis seperti yang disebutkan dalam artikel itu.


Dia hanya merasa lelah dan tiba-tiba ingin mencari sebuah tempat berlabuh.


Dan dirinya sendiri, saat dia terluka juga terus menemani dan menjaganya.


Jadi di saat seperti ini, Mu Zhanbei menjadikan dirinya sebagai tempat berlabuh?


Kalau tidak, kenapa pria ini terus tidak memperbolehkan dia pergi?


Setelah menenangkan diri, menoleh untuk melihat pria yang tertidur di pundaknya, Gu Anran sama sekali tidak merasakan perasaan intim dalam hatinya.


Yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian saat bersama.


Sama seperti sedang melihat anaknya sendiri.


Setelah menyelesaikan dua bab secepat mungkin bersamaan dengan satu bab sebelumnya, lalu mengirimkan tiga bab naskah kepada Qin Zhizhou, dia menepuk lembut punggung tangan Mu Zhanbei.


“Tuan Muda Mu, ayo kita tidur di tempat tidur.”


Tidur di tempat tidur… dia juga tidak tahu seberapa intimnya kata-katanya ini.

__ADS_1


Untungnya, Mu Zhanbei masih dalam keadaan linglung dan sama sekali tidak peduli.


Di bawah setengah bujukan dan setengah memerintah Gu Anran, dia kembali berbaring di tempat tidur. Tapi sepanjang waktu, dia terus memegang tangan Gu Anran dan tidak melepaskannya.


“Jangan pergi…”


Hati Gu Anran sedikit masam, tak disangka pria ini begitu lengket pada orang ketika dia sedang terluka.


“Aku tidak pergi.” Dengan hati-hati mengangkat selimut, Gu Anran berbaring di sampingnya.


Baru saja berbaring, dia sudah langsung dipeluk olehnya. Seperti sedang memeluk sebuah boneka beruang, memeluknya dengan sangat erat.


“Tuan Muda Mu…”


Yang menjawab dia masihlah sebuah dengkuran lembut.


Pasti dia sangat lelah, kalau tidak, dia tidak akan mendengkur.


Sampai sebegini lelahnya, ditambah lagi dia juga terluka, istirahat seharian pun masih belum pulih.


Gu Anran mengulurkan tangannya dan menjatuhkan jari-jari panjangnya di wajah pria itu, menyibakkan rambutnya.


Kalau seumur hidup bisa seperti ini, pasti akan sangat baik, kan?


Tapi orang ini adalah Tuan Muda Mu, dia adalah orang yang ditakdirkan untuk selamanya tidak akan bersama dengan dirinya.


Selama memejamkan mata, adegan dirinya tertabrak mobil dan berlumuran darah akan tampak jelas.


Dia tidak ingin mati, tapi apa yang sedang dia lakukan sekarang?


Terlalu dekat dengan pria ini, akan mudah memuatnya mati tanpa jasad.


Tapi Gu Anran masih melekat erat padanya, apa sungguh tidak sayang nyawa lagi?


Ujung jarinya melintasi bibir tipis pria itu, ingin segera menghampiri ke sana dan melahapnya dengan kuat.


Tapi akhirnya, dia tetap menenangkan diri dan melingkarkan lengannya di leher pria itu, lalu memejamkan mata.


Di masa depan, entah apa yang akan terjadi.


Setidaknya di detik ini, dia masih berada di pelukan Mu Zhanbei. Dan Mu Zhanbei, tertidur di sisinya.


Semua hal yang bahkan tidak berani dia bayangkan di kehidupan sebelumnya, di kehidupan ini dapat dengan mudah dia miliki.


Seperti sangat tidak nyata…


Entah sejak kapan, bahkan Gu Anran juga telah memejamkan matanya.


Angin malam masuk melalui jendela dan meniup lembut rambut mereka.


Siluet orang yang berpelukan seakan tergabung menjadi satu.


Ada beberapa hal yang tidak berani dikatakan dan tidak bisa dikatakan. Ada beberapa jalan, yang seperti pernah dijalani, tapi juga tidak pernah menginjakkan kaki di sana.


Malam ini, Gu Anran mengalami mimpi yang amat sangat panjang.


Di dalam mimpi, dia dan Tuan Muda Mu memiliki seorang anak perempuan dan laki-laki.


Mereka berdua sejak muda, sampai paruh baya, hingga tua, masih hidup dengan begini tenang dan bersama selamanya.


Mimpi selalu manis dan kebahagiaan itu hanya bertahan sampai orang itu terbangun.


Suara gaduh di luar membuat Gu Anran segera membuka matanya.


Ketika terbangun, Mu Zhanbei sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


Di luar, Li Ye mengetuk pintu dan suaranya terdengar ke dalam, “Tuan Muda, gawat. Rumah belakang kebakaran, nyonya besar terjebak di dalam!”


__ADS_2