Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 164 Sungguh, Tidak Marah Lagi


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Li Ye hampir saja pingsan ketakutan dengan darah di wajah Mu Zhanbei.


Dia ingin membantu Mu Zhanbei naik ke atas mobil, tapi tuan mudanya terus memeluk erat Gu Anran, masih menggunakan tubuhnya untuk melindungi Gu Anran dalam pelukannya.


Hello! Im an artic!


“Nyonya, Anda harus membawanya sendiri ke dalam mobil.” Li Ye berkata dengan cemas.


Gu Anran membantu Mu Zhanbei, dia belum pernah melihat Tuan Muda Mu begitu kacau. Melihat wajah itu penuh degan darah, hatinya terasa hancur.


“Tuan Muda Mu, kita naik ke mobil dulu, oke?”


Mu Zhanbei dengan bantuan Gu Anran, akhirnya masuk bersama ke dalam mobil.


Hello! Im an artic!


Saat pintu mobil ditutup oleh Li Ye, Mu Zhanbei berkata dengan sungguh-sungguh, “Jangan sampai melukai siapa pun!”


“Baik, Tuan Muda!” Li Ye segera memerintahkan agar mereka tidak melukai para penduduk.


“Mereka sudah lapor polisi, polisi akan segera kemari.”


Gu Anran mengambil tisu dan menyeka darah dari wajah Mu Zhanbei dengan hati-hati.


“Kamu jangan cemas, mereka akan ditangani dengan baik. Sekarang kamu harus ke rumah sakit dulu!”


Begitu banyak darah, tidak habis-habisnya walau sudah diseka!


Darah yang terus-menerus mengalir, seperti langsung mengalir ke dalam hati Gu Anran.


Sakit! Rasa sakit yang menyebar di lubuk hatinya, sangat berharap agar yang terluka itu adalah dirinya sendiri!


Mengeluarkan kotak obat dari kompartemen tersembunyi dalam mobil, Gu Anran mengambil kain kasa dan menekan keras di dahi Mu Zhanbei.


Mu Zhanbei mengerutkan kening dan melihat noda darahnya di pakaian Gu Anran. Dia baru saja ingin membersihkan noda darahnya dari pakaian gadis itu.


Gu Anran kira gerakannya ini telah menyakiti Mu Zhanbei, dia segera mencondongkan tubuhnya ke depan dan meniupnya dengan hati-hati.


“Tidak sakit, sebentar lagi tidak akan sakit lagi! Sebentar lagi sampai di rumah sakit dan tidak sakit lagi.”


Mu Zhanbei tidak bicara, napas lembut gadis itu masih terasa di dahinya. Sepertinya rasa sakit di dahinya tadi, benar-benar sudah tidak terlalu parah lagi.


“Tidak sakit lagi, kan? Jangan takut, sebentar lagi sudah sampai di rumah sakit.”


Li Ye tidak tahu kenapa tuan mudanya bisa terluka, mobil terus melaju dengan kencang di jalanan.


Saat ada satu belokan tajam, Mu Zhanbei yang sedari tadi menatap Gu Anran, tiba-tiba sedikit terhuyung. Gu Anran seketika terkejut dan memeluk pria itu erat-erat.


Dia menatap Li Ye dengan kesal dan juga sedih!


“Kepalanya terluka, dia bisa merasa sedikit pusing. Kamu mengemudi dengan lebih stabil!”


Pusing?

__ADS_1


Mata pria itu dalam. Ketika Gu Anran menoleh untuk menatapnya kembali, mata itu sudah terpejam.


“Dia pingsan!”Gu Anran ketakutan dan buru-buru berkata, “Li Ye, hati-hati sedikit!”


“Tahu! Saya tahu!”Astaga! Tuan muda pingsan! Sungguh menakutkan!


Tuan muda adalah seorang pemberani yang tidak akan berkedip bahkan setelah ditusuk beberapa kali. Kenapa sekarang cuma tertimpuk batu bata saja sudah takut sakit dan pingsan segala?


Apa batu bata ini lebih hebat daripada peluru?


Gu Anran mana mungkin berpikir begitu banyak? Melihat Mu Zhanbei menutup matanya, dia segera mengulurkan tangan untuk memeluk pria itu.


Sang pria juga membiarkan semua terjadi apa adanya, jatuh ke dalam pelukan gadis itu.


Tubuh lembut gadis itu ada tepat di hadapannya, hidungnya tidak mencium aroma darah melainkan aroma tubuh gadis itu yang unik.


Tadi mereka berdua masih perang dingin, gadis itu masih memasang wajah acuh tak acuh pada dirinya, bahkan tidak ingin mempedulikan dia.


Tapi sekarang, gadis ini begitu gelisah dan memeluknya erat. Satu tangannya menekan di lukanya dan satu tangannya menepuk punggungnya dengan lembut.


Terkadang, tangan gadis itu akan mengusap wajahnya dan menyeka noda darah di wajahnya.


Gadis ini, bahkan jari-jarinya juga lembut. Ketiak ujung-ujung jari itu mengenai wajahnya, begitu lembut dan manis…


Mu Zhanbei akhirnya tidak bisa menahan diri lagi dan memegang tangan Gu Anran.


“Tuan Muda Mu!” Gu Anran terkejut dengan tindakan Mu Zhanbei yang tiba-tiba.


Bukankah dia sudah pingsan? Kenapa tiba-tiba bisa memegang tangannya dengan begitu kuat!


Mu Zhanbei segera menyadari bahwa seharusnya dia sedang dalam keadaan yang lemah saat ini.


Mu Zhanbei membuka matanya perlahan dan menatap Gu Anran, suaranya sedikit serak dan juga kering, “Sore ini kamu masih ada kelas.”


Hati Gu Anran terasa masam dan sangat ingin memeluk erat pria ini.


Dia menggigit bibir bawahnya dan sedikit mengencangkan dagunya, begitu sedihnya hingga dia hampir saja menangis.


“Aku akan terlebih dulu membawamu ke rumah sakit dan lihat apa kata dokter.”


Lukanya di dahi, meski lukanya tidak kelihatan terlalu besar, tapi luka itu ada di kepalanya!


Cedera di kepala, tak peduli besar atau kecil, bagaimana kalau meninggalkan efek samping?


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Gu Anran memegangi wajahnya dan ingin melihat rona wajahnya dengan jelas.


Tapi bahkan jika Tuan Muda Mu terluka, wajahnya masih tetap sedingin gletser ribuan tahun.


Selain kerutan di keningnya, tidak ada lagi ekspresi lain di wajah itu.


Gu Anran ingin mengulurkan tangan untuk meratakan kerutan di atasnya itu, baru ingat kalau tangannya masih dipegang oleh Mu Zhanbei.


Ingin menarik tangannya keluar, tapi saat ini, dia sedikit merasa tidak rela.


Pria ini terluka demi menyelamatkan dirinya, kalau tidak ada perlindungan dari Tuan Muda Mu, mungkin orang yang terluka saat ini adalah dia!

__ADS_1


Jelas-jelas sedang berkelahi, kenapa harus repot-repot memperhatikan hidup dan matinya?


Dia ini Tuan Muda Mu, identitas yang begitu terhormat, mana boleh sampai terluka demi orang lain…


“Li Ye, kenapa masih belum sampai rumah sakit?” Darah dari luka itu tidak berhenti mengalir, dihentikan pun tidak mau berhenti. Kalau terus mengalir seperti ini, apa mungkin semua darahnya akan habis?


“Sebentar lagi, Nyonya Muda. Sudah di depan.”


Sebelum Li Ye masuk, ada seseorang yang telah memberikan informasi pada rumah sakit.


Jadi begitu mobil terparkir di tempat parkir, dokter dan perawat sudah bergegas menghampiri.


Semua orang sibuk untuk membantu Mu Zhanbei berbaring di ranjang rumah sakit, bergegas membawanya ke lift.


Karena Tuan Muda Mu terus memegang tangan Gu Anran, Gu Anran juga hanya bisa ikut di sisi ranjang. Dia pergi bersama dengan dokter dan perawat untuk masuk ke ruang operasi di lantai sepuluh melalui lift.


Begitu ranjang didorong sampai di depan pintu ruang operasi, Mu Zhanbei masih memegang erat tangan Gu Anran dan tidak bersedia melepaskannya meski diminta seperti apa pun.


Matanya setengah tertutup, wajahnya tanpa ekspresi dan tidak ada yang tahu bahwa Tuan Muda Mu itu masih sadar atau tidak.


Tapi dia tidak mau melepaskan tangannya, bagaimana ini?


Gu Anran mencoba untuk menarik tangannya beberapa kali, tapi kekuatan Tuan Muda Mu begitu besar dan tidak bisa dilepaskan sama sekali!


“Tuan Muda Mu, lukamu harus segera ditangani. Kamu lepaskan aku dulu.”


Mu Zhanbei tidak mau melepasnya, tak peduli apa pun yang mereka katakan juga tidak ada gunanya.


“Tuan Muda, Nyonya Muda tidak akan pergi. Dia akan terus menunggu Anda di sini.”


Li Ye juga mulai cemas. Meski luka tuan muda kelihatannya tidak terlalu serius, tapi yang terluka adalah kepalanya. Bagaimana kalau memang ada efek samping?


Otak tuan muda adalah harta yang tak ternilai. Kalau sampai rusak, berapa banyak orang yang akan ikut sial?


“Tuan Muda…”


“Apa… masih marah?” Mu Zhanbei tiba-tiba membuka matanya dan menatap Gu Anran.


“Tidak marah! Sungguh! Aku tidak marah lagi!”


Sudah sampai seperti ini, kenapa masih memikirkan hal itu? Sekarang ini, tentu saja tubuhnya yang paling penting!


Mu Zhanbei tampaknya agak kesulitan dalam berbicara dan suaranya parau, “Apa kamu akan pindah kembali?”


“Pindah! Asal kamu baik-baik saja, aku segera pindah kembali. Oke? Sekarang biarkan dokter tangani lukamu dengan baik dulu! Kumohon padamu!”


Gu Anran benar-benar sudah mau gila. Darah di luka pria itu masih sedang mengalir, kenapa dia bisa membicarakan hal-hal yang begini sepele dengannya?


Asalkan dia dapat kembali pulih, marah untuk apa lagi?


Masalah yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, siapa yang tega untuk benar-benar marah padanya?


“Malam ini juga… aku pindah.”


“Baik, malah ini aku pindah kembali, pasti pindah!” Sekarang, tak peduli apa pun permintaan Tuan Muda Mu, dia pasti akan setuju.

__ADS_1


Selama Mu Zhanbei benar-benar patuh dan membiarkan dokter memeriksanya. Hal lainnya, dia akan menyetujuinya!


Tanpa diduga, Mu Zhanbei masih tetap memegang erat tangannya dan berkata dengan serak, “Sore ini… kamu masih ada kelas.”


__ADS_2