Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 309 Akhirnya, Dia Mempercayainya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Anak, belum tentu bisa dipertahankan.


Sekarang masih terlalu lemah, tidak ada yang tahu bagaimana kondisinya kelak. Setelah beberapa saat, baru bisa memutuskan apakah mempertahankan anak atau tidak.


Hello! Im an artic!


Belum bisa memutuskan apakah mempertahankan anak atau tidak…


Kabar ini membuat Mu Zhanbei lega. Di saat yang sama, hatinya juga terasa sakit.


“Apakah Ye Han datang?” Sebelum kembali, dia sudah menelepon Ye Han.


Jiang Nan mengangguk, “Sekarang, Ye Han dan direktur Departemen Obstetri dan Ginekologi yang sedang menjaganya.”


Hello! Im an artic!


Melihat kondisi pria di hadapannya yang begitu menyedihkan, dia merasa khawatir.


“Lebih baik… kamu biarkan dokter mengobati dirimu.”


Melihat Mu Zhanbei yang tidak mau melakukan apa yang dikatakannya, hanya ingin menunggu sampai Gu Anran bangun di sini, Jiang Nan berkata, “Dokter bilang, dia tidak boleh menerima tekanan. Kalau setelah bangun, dia melihat keadaanmu yang begini, bukankah dia akan terkejut?”


Mu Zhanbei mengepalkan tangannya, lalu berbalik secara tiba-tiba dan mengeluarkan ponselnya, “Segera antarkan baju bersih untukku.”


Sebenarnya, Li Ye sudah tahu Tuan Muda Pertama kembali. Dia sudah menunggu di rumah sakit.


Hanya saja, menurut rencana Tuan Muda Pertama sebelumnya, dia sebenarnya tidak boleh ke rumah sakit untuk melihat Gu Anran. Jadi, kalau Tuan Muda Pertama tidak menyuruhnya datang, dia tidak berani muncul.


Sekarang, dia menerima telepon Mu Zhanbei. Tidak lama kemudian, Li Ye mengantarkan baju bersih padanya.


Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa Tuan Muda Pertama terluka sampai begini!


Luka di tubuhnya tidak terhitung jumlahnya. Ada beberapa luka tusukan, dan juga luka akibat terkena peluru.


Untungnya, tidak ada luka yang membahayakan. Kalau tidak… Li Ye sungguh tidak berani membayangkannya.


Mu Zhanbei membiarkan dokter membersihkan lukanya sebentar, lalu segera kembali ke kamar Gu Anran.


Saat ini, Gu Anran sudah dialihkan ke kamar pasien. Kondisinya sudah stabil, sementara tidak dalam bahaya besar. Tapi, kondisinya tubuhnya masih tetap sangat lemah.


Sesungguhnya, sejak awal, setelah dia disiksa semalaman oleh Mu Zhanbei, tubuhnya sudah terluka parah.


Saat itu, kondisinya sungguh tidak cocok untuk hamil. Tapi, siapa yang menyangka, di kondisi yang begitu buruk, anak ini datang.


Setelah hari itu, meski tubuhnya berangsur pulih, tapi kondisinya tetap masih sangat lemah.


Anak ini datang di saat yang paling tidak seharusnya. Tapi, malah tidak ada yang tahu akan kedatangannya.


Bahkan ibu dari anak itu mengira dirinya akan menstruasi, sehingga perutnya begitu sakit.


Seorang gadis berumur 18 tahun, mana mengerti hal ini?


Sesungguhnya, anak ini datang di saat yang tidak tepat.

__ADS_1


Dalam kurun waktu itu, gadis itu terluka, baik tubuh maupun jiwanya.


Mu Zhanbei duduk di samping ranjang pasien. Setelah ganti pakaian, sudah tidak ada jejak darah di tubuhnya. Selain wajahnya yang sedikit pucat, dia terlihat tidak ada bedanya dengan orang normal.


Selain dokter, orang biasa tidak akan melihat adanya perbedaan.


Sehingga, saat Gu Anran bangun, dia juga tidak melihat ada yang salah dengan dirinya.


Tapi, kenapa dia ada di sini?


Memangnya, dia bukan berada di Alihan?


Memangnya, orang yang sebelumnya itu adalah dia? Pria yang berkata tidak percaya pada dirinya, juga adalah dia?


Dalam sekejap, berbagai perasaan bergejolak. Tidak ingin dia berada dalam bahaya di Alihan, tapi juga takut pria yang tidak percaya padanya, sungguh adalah dia.


Sebenarnya, selama dua kali pertemuan, dia tidak berbicara baik-baik dengannya. Dia bahkan tidak pernah melihatnya secara langsung. Sehingga, dia curiga bahwa orang itu adalah palsu.


Tapi sekarang, dia yakin 200% bahwa pria di hadapannya adalah Mu Zhanbei.


“Kenapa…”


Dia hendak bangkit, tapi Mu Zhanbei membaringkannya kembali dengan lembut, “Jangan bergerak.”


Dia tidak berani bergerak sedikit pun. Dia tidak terlalu berani percaya akan apa yang didengarnya dalam keadaannya yang setengah sadar.


Tangan Gu Anran mendarat di perutnya. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya, tapi tidak berani ditanyanya.


“Kamu hamil.” Mu Zhanbei langsung menjawab pertanyaannya.


Dia juga tidak tahu harus menjelaskan padanya dengan suasana hati yang seperti apa, juga tidak tahu harus menghadapi semua ini dengan sikap seperti apa.


Meski anak ini datang di waktu yang tidak tepat, meski dia hamil di saat seperti ini, sebenarnya ini bukan hal baik baginya.


Tapi, karena anak sudah datang, dia tetap saja gembira.


Dia berusaha menyembunyikan perasaannya, berusaha keras membuatnya suaranya terdengar datar. Tidak ingin menakutinya.


“Anak baik-baik saja, tapi tubuhmu masih sangat lemah. Dokter bilang, kamu harus istirahat baik-baik.”


Raut wajah Gu Anran biasa saja. Namun, jarinya terus bergetar.


Dia menundukkan kepala melihat perutnya. Tangannya menempel erat pada perutnya. Sebenarnya, sama sekali tidak terasa kehadiran sang anak di dalamnya. Tapi rasanya seperti bisa melihatnya sedang tidur di dalam.


Sebuah nyawa kecil dikandung dalam perutnya.


Dia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya, bahkan dia tidak tahu apakah dirinya senang atau tidak.


Dia tahu anak ini datang di waktu yang tidak tepat. Tapi, dia sudah datang, harus bagaimana?


Sudut matanya terasa masam. Tanpa terasa, air mata mengalir.


Dia ingin menyembunyikan wajahnya, tidak ingin membiarkan sang pria melihat air matanya. Tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapannya.


Tangan Mu Zhanbei mendarat di wajahnya, menangkup wajahnya dengan lembut.

__ADS_1


“Jangan khawatir. Apapun yang terjadi kelak, aku akan melindungi kalian.”


Sebuah kalimat yang begitu sederhana, sebuah janji yang begitu sederhana, membuat hati Gu Anran bergejolak. Air matanya mengalir deras bagaikan banjir.


Dia sudah tidak mencurigainya? Tidak lagi tidak bersedia mempercayainya?


Saat ini, dia sangat lembut. Sebelumnya, dia sangat dingin tidak berperasaan.


Mana dirinya yang sesungguhnya?


“Jangan nangis.” Telunjuk Mu Zhanbei mengusap air matanya.


Suaranya dalam dan serak, tapi membuat orang terpesona, “Maaf…”


Gu Anran tidak mampu menahan diri lagi. Dia segera bangkit dan memeluknya.


Ketika tubuh mereka bersentuhan, alis Mu Zhanbei berkernyit. Tapi, dia segera membuatnya datar lagi, agar Gu Anran tidak melihatnya.


Meski luka di tubuhnya terasa sangat sakit karena dipeluk Gu Anran.


Tapi, wanitanya dan anak dalam perutnya berada dalam pelukannya.


Saat ini, meski terasa sangat sakit, tapi dia sangat bahagia.


Dia menutup mata. Siksaan selama ini seakan sirna dalam sekejap.


“Jangan mencurigaiku, aku tidak mencelakai nenek. Aku sungguh adalah cucunya. Sungguh, aku tidak membohongimu.”


Gu Anran memeluk lehernya dengan erat dan menangis, “Gu Ziwei-lah penipunya. Dia terus menipumu.”


Mu Zhanbei tidak berkata apapun, hanya mengangguk pelan dan menjawab pelan, “Hmm.”


Suara itu membuat hidung Gu Anran terasa masam. Dia memeluknya lebih erat lagi.


Dia mempercayainya. Akhirnya, dia mempercayainya!


Dia tidak pernah dirinya adalah seorang yang lemah. Tapi saat ini, dia sungguh lemah sampai hampir pingsan.


Gembira? Atau terharu? Atau, sedih?


Dia akhirnya, mempercayainya…


Mu Zhanbei terbatuk pelan, lalu berkata dengan lembut, “Setelah kamu sembuh, kita… pulang sama-sama.”


“Ng!” Gu Anran mengangguk sekuat tenaga.


Dia akhirnya kembali ke sisinya.


Mereka berdua berpelukan, tanpa menyadari bayangan di pintu.


Setelah Jiang Nan membuka pintu kamar, dia menutupnya kembali dengan hati-hati.


Dia berdiri di luar pintu diterpa angin musim gugur. Hatinya terasa sangat dingin.


Dia seharusnya merasa senang melihat mereka berkumpul lagi.

__ADS_1


Tapi kenapa saat mendengar mereka berkata akan pulang sama-sama, hatinya kehilangan arah dalam sekejap?


Pulang… Belum lama ini, dia juga berkata begitu padanya.


__ADS_2