Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 324 Mengapa Harus Dia?


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Tadi, ucapan yang tadi, itu… itu Lingzhi yang mengatakannya kan?” Su Xiaomi tersadar, dan mulai untuk membereskan masalah.


“Sembarangan bicara kamu?” He Lingzhi terkejut, sangat ingin menendang keras dirinya sekarang, “Jelas-jelas kamu yang mengatakannya!”


Hello! Im an artic!


Gu Anran tidak ingin memperdulikan mereka, berjalan keluar dari hotel, kebetulan melihat Yangyi dan Mu Tianyou berdiri bersama, sepertinya sedang menunggu mereka.


Melihat Gu Anran berjalan keluar, Yangyi dengan cepat menghampirinya, dengan suara perlahan berkata: “Ada sedikit masalah.”


“Xiaomi, suruh Tianyou mengantar kalian pulang terlebih dahulu.” Gu Anran melihat Su Xiaomi sekilas.


Su Xiaomi tahu, akhir-akhir ii, Yangyi dan Ranran selalu misterius dan bersembunyi-sembunyi seperti ini.


Hello! Im an artic!


Namun, dia tidak memperdulikannya, menggandeng He Lingzhi berjalan pergi.


Mu Tianyou sedikit ragu, Gu Anran berkata kepadanya: “Tuan muda kedua Jiang pasti menungguku.”


Satu kalimat, membuat Mu Tianyou tidak lagi ingin berdiam lama ditempat.


Membawa kedua gadis tersebut, pergi.


Liushang dan Qin Zhizhou sudah meninggalkan tempat lebih dulu, Jiangnan seakan bertemu dengan seseorang yang dikenal, berbincang sebentar di dalam hotel, sementara ini belum melihatnya keluar.


Yangyi menarik Gu Anran ketempat yang tidak terlalu diperhatikan oleh orang lain, berkata dengan suara kecil: “Dong Quanxing, akhirnya berhasil aku temukan!”


“Benarkah?” Gu Anran seketika merasa sangat gembira.


Sudah mencari selama satu bulan lamanya, akhirnya berhasil ditemukan.


Dong Quanxing ini, bersembunyi sangat dalam!


“Aku sudah menghubunginya, namun dia tidak bersedia untuk kembali, dia bilang, ada orang yang menginginkan nyawanya di Beiling.”


Hal ini, sudah ia perkirakan, namun sekalinya mendengar, Gu Anran masih merasa gelisah.


Ternyata memang ada beberapa orang, yang selalu ingin menghalang semua ini.


Mereka sampai saat ini tidak menyerangnya, entah karena dia selalu bersama Jiangnan, atau karena pelacakan yang mereka lakukan disembunyikan terlalu dalam.


“Yangyi, cari cara untuk menjaga komunikasi dengannya, mengenai masalah lainnya, sementara ini jangan ada pergerakan dulu.”


Yangyi seorang pria muda berusia sembilan belas tahun, menyuruhnya untuk membereskan masalah seperti ini, sepertinya sedikit sulit baginya.


“Aku tahu, aku tidak akan berbuat macam-macam, hanya berkomunikasi dengannya saja.”


Setelah terjadi masalah yang dialami oleh Axin, hati Yangyi juga merasa tidak tenang.


Kemudian masalah kembali menimpa Gu Anran, walaupun Jiangnan selalu melindunginya, teman-teman yang lainnya sebenarnya tidak mengetahui banyak informasi lain.


Namun, kecelakaan yang ia alami memang benar terjadi, walaupun tidak dikatakan, semua orang dapat menebaknya.

__ADS_1


Hal yang paling dikhawatirkan oleh Yangyi memiliki kaitan dengan masalah yang sedang mereka selidiki, mulai dari situ, dia selalu waspada dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu.


Bahkan hanya untuk mencari informasi lewat internet sekalipun, dia harus memastikan bahwa tidak meninggalkan bekas dan jejak apapun.


“Dong Quanxing pernah mengatakan, tuan besar memang benar pernah memerintahkannya untuk mencari tahu hal ini, nmamun, dia tidak bersedia untuk membuka mulut.”


“Namun setidaknya dia telah mengakui pernah berkomunikasi dengan tuan besar.”


Dong Quanxing ini, bisa-bisa menjadi point yang paling penting dalam permasalahan ini.


Gu Anran berfikir, berkata: “Aku coba pikirkan baik-baik dulu apa yang harus dilakukan, sekarang, pulang dulu.”


“Baik.” Jiangnan masih belum keluar, Yangyi juga merasa tidak enak jika pergi meninggalkan tempat terlebih dulu.


Barusan Gu Anran dan Su Xiaomi mereka pergi bersama, Jiangnan mengira mereka telah pergi.


Menelefonnya, dia tidak menjawab, entah karena tidak membawa ponsel, atau karena tidak sempat menjawab.


“Kalau tidak apa aku yang mengantarmu pulang dulu saja?” mobil Yangyi diparkirkan di parkiran mobil hotel.


“Tidak perlu, aku menunggu Tuan muda kedua Jiang, kamu duluan saja.” Gu Anran menggelengkan kepala.


Yanyi melihat sekilas lobi hotel, walaupun tidak melihat sosok Jiangnan, namun, banyak orang berlalu-lalang di dalam lobi hotel, sangat ramai.


Tempat ramai seperti ini, seharusnya tidak akan ada bahaya.


Yangyi menganggukan kepala, “Kalau begitu aku jalan dulu, telefon aku jika ada masalah.”


“Baik.” Setelah mengantar kepergian Yangyi, Gu Anran menunggu di depan pintu hotel sekitar dua menit, terlihat sudah tidak sabar menunggu.


Dia tidak ingin mengakui ini semua karena bertemu dengan Mu Zhanbie, namun, pada kenyataannya, memang benar, dia tidak dapat mengelak.


Mengeluarkan ponsel, mengirimkan pesan kepada Jiangnan, berkata bahwa dia dan mereka pergi terlebih dulu.


Setelah pesan dikirim, Gu Anran baru mengehela nafas, menyimpan kembali ponselnya, berjalan ke arah ruas jalan yang tidak jauh darinya.


Malam belum begitu larut, sekitar pukul delapan sembilan malam.


Suara bising ruas jalan , hiruk pikuk, semua bercampur dengan kecemasan dan kegelisahan penduduk kota.


Gu Anran berjalan menembus kerumunan orang, kecemasan hatinya, perlahan sirna.


Tidak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu, sampai sekarang, seluruhnya hanyalah butiran debu.


Ada sebagaian orang yang memang ditakdirkan tidak untuk dimiliki, dan harus kembali ke jalannya masing-masing, sesekali berjalan keluar dari jalur, juga tidak untuk dimasukan ke dalam hati.


Sebenarnya seperti sekarang ini, bukannya sudah cukup baik?


Begitu banyak obsesi, semua harus dihempas, dan pada akhirnya benar-benar terhempas.


Hanya saja, apa memang rela untuk dihempaskan…


Gu Anran berbalik badan, baru saja ingin berjalan kembali ke hotel, kembali untuk menunggu Jiangnan.


Tidak menyangka baru saja membalikan badan, tiba-tiba, hawa dingin terbesit dari belakang.

__ADS_1


Gu Anran terkejut, dengan cepat menolehkan kepalanya, sangat amat ingin meninggalkan tempat secepatnya.


Namun lehernya tertahan, orang itu berhasil mencegatnya.


Gu Anran masih belum sempat melihat dengan jelas seseorang yang menyerangnya, membuka mulut untuk bernafas, namun seketika mencium sebuah aroma aneh.


Lalu, memecahkan kesadarannya, tatapannya menghitam, dengan cepat jatuh terhempas.


Semenjak mengatakan putus dengan tuan muda Mu, hari-harinya dilalui dalam hidupnya sangatlah tenang.


Dalam kurun waktu satu bulan, tidak ada lagi masalah, dan penyerangan tiba-tiba semacam ini.


Tidak disangka, baru saja bertemu dengan tuan muda Mu, malah tiba-tiba harus diculik lagi.


Apa jangan-jangan tuan muda Mu adalah pembawa sial baginya?


Gu Anran merasa sangat sulit membuka mata, entah apa karena dosis obat yang digunakan pihak lawan tidak begitu berat, maka ia hanya pingsan saja, tidak sampai kehilangan seluruh kesadarannya.


Memang tidak mampu membuka mata, namun masih bisa merasakan apa yang sedang terjadi disekitarnya.


Dia dilempar masuk ke dalam sebuah mobil, ruang di dalam mobil sangat besar, seperti sebuah kamar dalam bentuk kecil.


Ada orang yang mengikat kedua tangannya, mengikatkan di atas kepalanya, lalu, meninggalkannya begitu saja disini, semua orang keluar meninggalkan tempat.


Tempat apa ini, mobil siapa sebenarnya? Apa yang mereka ingin lakukan?


Entah berapa lama waktu berlalu, dari luar nampaknya di datangi oleh seseorang.


Beberapa orang itu berbicara dengannya dengan nada bicara yang segan dan penuh hormat, namun kesadaran Gu Anran masih belum pulih sepenuhnya, tidak mendengar apa yang sedang dibicarkan mereka kepada orang itu.


Lalu kemudian, pintu mobil tiba-tiba dibuka, ada seseorang yang masuk ke dalam.


Dengan aura dingin yang dibawanya, membuat suasana terasa sangat amat dingin, lebih dingin dibandingkan dengan pendingin ruangan.


Satu detik sebelumnya, Gu Anran merasa tenang dengan aura dingin, yang tidak asing baginya.


Namun satu detik setelah itu, karena merasa tidak asinglah, yang membuatnya mulai merasa gelisah.


Bisa-bisanya dia memerintahkan orang untuk menculiknya kemari, apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?


Tidak mudah untuk Gu Anran berhasil membuka kedua matanya, akhirnya, dapat melihat dengan jelas sosok pria yang duduk di sampingnya.


Tangannya memegang sebatang rokok, saat dia tersadar, dia masih sedang menghisap rokoknya secara perlahan.


Sebelumnya dia sudah sangat jarang merokok. Namun hari ini sudah melihatnya menghisap rokok sebanyak dua kali, dia selalu menghisap rokok.


Apa karena terbebani, atau karena sudah terbiasa diselimuti dengan asap-asap rokok ini?


Gu Anran merasa sedikit khawatir, namun, dengan cepat dia menyadari.


Saat ini, bukan saatnya untuk mengkhawatirkan tuan muda Mu, namun saatnya untuk berfikir, apa yang sebenarnya ingin tuan muda Mu lakukan terhadapnya!


Baru saja bergerak, Gu Anran menyadari bahwa kedua tangannya diikat keras saat ini, tidak mampu bergerak!


Dia memandang pria dengan aura kematian yang sedang larut dalam kesunyiaannya, dengan suara dingin dan cemas: “Kamu… apa yang ingin kamu lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2