
Hello! Im an artic!
Ketika Mu Zhenan keluar dari kamar mandi, Gu Anran tidak berada di kamar.
Kekhawatiran kali ini, bahkan sampai membuatnya hampir lupa memakai pakaian, dan mau langsung keluar.
Hello! Im an artic!
Shu Ran yang berusaha meyakinkannya dengan sekuat tenaga, bahwa Gu Anran masih di ruang tamu lantai bawah, dia baru memakai pakaian dengan terburu-buru, lalu turun ke bawah dengan tergesa-gesa.
Di ruang tamu lantai bawah, Gu Anran duduk di samping meja makan, sedang minum kuah.
Melihat dia masih di sini, Mu Zhenan baru merasa lega.
Mau pergi ke sana, tapi ragu-ragu.
Hello! Im an artic!
Dia sedikit khawatir, takut jika dirinya ke sana bisa mengejutkannya, lalu dia langsung kabur.
Dari pertama kali berjumpa dengannya, hingga tahu dirinya adalah calon kakak iparnya yang berwajah jelek itu, selama di pertengahan jalan, dia terus mencarinya begitu lama.
Tetapi setelah mencari begitu lama, tetap tidak ada informasi sedikit pun.
Dia tidak pernah berusaha begitu keras demi seorang wanita. Dari lahir dia sudah jadi tuan muda kedua Keluarga Mu, hidup selama 20 tahun lebih, wanita yang berinisiatif mendekatinya tak terhitung banyaknya.
Tapi tidak pernah ada yang seperti ini, saat melihatnya, telapak tangannya yang gugup penuh dengan keringat dingin.
Berjalan terlalu jauh, tidak rela. Berjalan terlalu dekat, takut mengejutkannya.
Perasaan seperti ini, pertama kalinya dia rasakan.
“Pergilah, makanannya juga sudah siap.” Shu Ran mendorongnya sekali dengan ringan.
Mu Zhenan baru kembali sadar. Dia ragu-ragu sebentar, akhirnya masih berjalan ke sana juga.
Setelah mandi, akhirnya pikirannya sudah sadar total.
Dia berjalan dan duduk di hadapan Gu Anran, tak disangka dia duduk dengan tegap dan kaku.
Jika bukan karena waktunya tidak tepat, jika tidak, pria ini dulu sungguh sangat dibencinya, Gu Anran curiga dirinya akan tertawa sampai mengeluarkan suara.
Kamu pernah melihat Tuan Muda Kedua Mu yang begitu malu seperti ini? Ini benar-benar pertama kalinya melihatnya seperti ini.
Dia meletakkan mangkuk, mengangkat kepala dan melihatnya.
Mu Zhenan terkejut, hampir ingin menggeser pandangan matanya, takut pandangan matanya akan membuatnya terkejut.
“Apa aku begitu menakutkan?”, kata Gu Anran dengan datar.
“Bukan, aku yang menakutkan!” Mu Zhenan langsung membuat penjelasan.
Setiap kali dia selalu melarikan diri dari dirinya, sekali demi sekali, kesannya terhadap dia memang sudah sangat tidak bagus dari awal.
Ditambah lagi, ketika dia adalah Gu Anran, dirinya selalu memandangnya dengan rendah, bahkan pernah melukainya……
Semakin Mu Zhenan memikirkannya, semakin merasa dirinya sungguh sangat brengsek sebelumnya.
__ADS_1
Sekarang di depan Gu Anran, dia bahkan tidak punya keberanian untuk menatapnya.
“Ba……Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini? Sebelumnya kudengar kamu sakit, sudah lebih baik?”
Sebenarnya dia pernah pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, tapi dia masih belum sadarkan diri, dia juga tidak ada kesempatan untuk bertemu dengannya.
Apalagi, dia sama sekali tak mengerti dengan perasaannya.
Selalu merasa bahwa seharusnya dirinya membenci Gu Anran. Tapi, justru tak bisa menahan dan ingin pergi melihat keadaannya.
Terlalu bingung dengan perasaannya, hingga bahkan tidak punya keberanian untuk melihatnya dengan terang-terangan sekalipun.
Yang paling penting, saat itu orang suruhan Tuan Muda Kedua Jiang menjaga kamar pasien di lantai itu dengan sangat ketat, bahkan mau mendekat saja susah.
“Bukannya aku baik-baik saja sekarang?
Sebenarnya Gu Anran tidak terlalu ingin menjawab pria ini, tapi, Shu Ran justru terus melihatnya dengan pandangan memohon di samping.
Dia menghela nafas dengan berat, baru berkata, “Kudengar kamu sudah tidak makan selama dua hari, apa kamu tidak lapar?”
Mu Zhenan terdiam sebentar, tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini.
Gu Anran mengangkat mangkuknya sendiri, “Makanlah.”
“……Baik, baik, mari makan.”
Mu Zhenan mengambil sumpit, mengangkat kepala dan meliriknya sekali, “Sayurnya cocok di lidahmu? Kalau tidak suka, bisa menyuruh orang dapur untuk……”
“Suka.” Pandangan mata Gu Anran jatuh di dagunya.
Tuan Muda Kedua Mu yang selalu mementingkan penampilan dirinya, tapi ada dua bekas noda darah di dagunya.
Dia tidak tahu harus bagaimana menilai pria ini, dia sangat jahat ketika dia jahat. Sekarang seperti ini, justru sangat bodoh sampai membuat orang membencinya.
Terakhir, dia hanya menyampingkan kepalanya untuk melirik Shu Ran dan berkata, “Nyonya besar, mari makan.”
“Baik, silakan makan.” Shu Ran melihat anaknya mengambil sumpit dan makan dengan patuh, hatinya sedikit sedih.
Memang sedikit cemburu, tapi lebih banyak rasa bersyukur. Anak nakal ini, akhirnya bersedia untuk makan sedikit.
Di meja makan, ketiganya tidak membuka mulut untuk mengatakan apapun lagi.
Mereka melewati waktu makan ini dengan tenang.
Hingga Gu Anran meletakkan alat makannya, Mu Zhenan juga langsung meletakkan sumpitnya, sedikit gugup, “Ma…Mau minum sesuatu?”
Sudah selesai makan, apa dia sudah mau pulang?
Dia tidak tahu bagaimana Shu Ran mengundangnya kemari, tapi justru tahu, Gu Anran pasti sangat membenci tempat ini.
Di sini, Tuan Muda Pertama Mu pernah meninggalkannya, semua juga pernah menuduhnya telah mencelakai nenek.
Tempat ini, telah menciptakan luka yang dalam untuknya. Dia pasti sangat membenci tempat ini, bukan?
Shu Ran melirik Gu Anran, baru berkata dengan menatap anaknya, “Ran Ran hari ini tidak ada kerjaan, agak malam baru pulang. Ayo kita duduk di ruang tamu.”
“Baiklah, duduk di ruang tamu.” Mu Zhenan merasa lega, segera berdiri dan ingin ke ruang tamu.
__ADS_1
Tak disangka langkah kakinya sedikit ceroboh, bunyi suara “bang”, tidak tahu apa yang ditendangnya sampai membuatnya jatuh ke lantai.
“Anakku!” Shu Ran sangat terkejut, langsung pergi memapahnya.
“Tidak apa-apa, jangan kemari, tidak apa-apa!” Seketika Mu Zhenan merasa sangat malu, bahkan berjalan saja tidak pandai!
Shu Ran melihat anaknya merangkak berdiri dengan terburu-buru, perasaannya luar biasa kacau.
Anak ini……Aih, benar-benar tidak bisa membuatku bangga. Apa perlu gugup sampai seperti ini?
Mu Zhenan benar-benar gugup, tapi yang sekarang dia khawatirkan adalah takut Gu Anran akan semakin membenci dirinya.
Dirinya yang elegan dulu, juga tidak tahu mengapa, hari ini benar-benar hilang sama sekali.
Apabila, dia semakin membencinya dan mau langsung pulang sekarang, dia harus bagaimana?
Sekali terpikirkan hal ini, dia hampir membenci kursi yang membuatnya tersandung itu!
“Aku……Aku tidak sengaja……”
“Phuff!” Setelah Gu Anran menahannya begitu lama, akhirnya tidak bisa menahan lagi, tertawa dengan suara keras, “Ha, ha ha, ha ha ha……”
“……” Shu Ran benar-benar merasa kasihan pada anaknya. Kali ini, sudah mau malu sampai menyayat hati, kan?
“Itu, Ran Ran……”
“Aku yang salah.” Mu Zhenan menundukkan kepala, sungguh sangat membenci dirinya, mengapa terus melakukan hal yang begitu memalukan di depannya.
Wajahnya yang sangat memerah, justru menjadi pucat lagi dengan perlahan.
Suara tawa Gu Anran terhenti, melihatnya, “Tuan Muda Kedua, kalau tidak pandai minum, lain kali minum lebih sedikit. Minum sampai seperti ini, sudah tidak sadarkan diri.”
“Aku……” Karena mabuk, baru tersandung kursi?
Penjelasan ini, memang bisa menyelamatkan harga dirinya sedikit.
Mu Zhenan merasa lega, berkata dengan murung, “Lain kali, tidak akan minum begitu banyak lagi……”
“Bukankah mau minum teh di ruang tamu?” Shu Ran mengayunkan tangannya, pembantu langsung pergi menyiapkan teh.
Shu Ran memapah Mu Zhenan, berkata dengan suara lembut, “Dengarkan perkataan Ran Ran, lain kali minum lebih sedikit.”
“Baik.”
“Ayo, minum teh.”
Berinteraksi selama satu jam lebih, Mu Zhenan yang awalnya gugup, dengan perlahan, akhirnya sudah lebih tenang.
Walaupun minum teh, sebenarnya dia hanya memandangi Gu Anran, terus-menerus melihatnya, tidak begitu berbicara, juga tidak berani bicara sembarangan.
Hingga saat Gu Anran mau pulang, dia baru tiba-tiba berdiri, “Aku akan mengantarmu!”
“Tidak perlu.” Gu Anran menggelengkan kepala, “Kamu sudah minum, aku tidak suka orang yang minum alkohol mengemudi.”
“Aku tidak akan melakukannya! Aku…Aku hanya akan mengantarmu, aku tidak akan mengendarai mobil.”
Meskipun Gu Anran terus menolaknya, tapi, Mu Zhenan masih ikut naik ke mobil bersamanya.
__ADS_1
Hanya saja saat pulang dan melewati Paviliun Wang Jiang, tidak disangka kebetulan terlihat mobil Tuan Muda Pertama Mu yang baru kembali dari luar, berpas-pasan dengan mereka……