Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 168 Hanya Dengar Ucapannya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika pada dokter dan perawat membawakan jarum infus dan obat-obatan, mereka terus menundukkan kepala dan bahkan tidak berani untuk mendongak.


Ketika perawat mendekatinya dengan membawa jarum infus, jari-jarinya terus gemetaran dan sama sekali tidak berani menyentuhnya.


Hello! Im an artic!


Melihat perawat datang dengan jarum, setiap sel di tubuh Mu Zhanbei dipenuhi oleh aura perlawanan.


Dia menolak pada jarum, lebih-lebih pada wanita!


Perawat itu gemetar ketakutan dan tampak bingung.


Dengan hawa dinginnya ini, jangan katakan dia tidak berani mendekat. Bahkan hanya berdiri di hadapannya saja sudah tidak punya kekuatan!


Hello! Im an artic!


Legenda yang mengatakan bahwa Tuan Muda Mu tidak dekat dengan lawan jenis, sepertinya… memang benar.


Tapi kalau tidak mendekat, bagaimana bisa menusukkan jarum infus padanya?


“Tuan… Tuan Muda Mu…”


“Kamu jangan menakuti dia, dia hanya menyuntikmu saja.”


Gu Anran menarik tangan Mu Zhanbei, ternyata pria ini mengepalkan tinjunya erat-erat dan disembunyikan di bawah selimut…seperti apa ini penampilannya?


Tuan Muda Mu yang luar biasa agung, ternyata seperti seorang anak kecil yang takut di suntik? Bahkan tangan saja disembunyikan?


Gu Anran hampir tidak bisa menahan tawanya dan kemudian menarik lagi. Pria ini masih tidak bersedia menyerahkan tangannya keluar.


“Kamu mau disuntik atau tidak?” Gu Anran memasang wajah masam, sengaja merengut.


Mu Zhanbei tidak bicara dan masih tetap keras kepala.


Gu Anran memelototinya dan memutuskan untuk menggunakan jurus pamungkas.


“Aku masih ada banyak urusan. Kalau kamu tidak mau suntik, aku pergi dulu.”


Gu Anran bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.


Baru saja mengambil satu langkah, pergelangan tangannya seperti tertarik dan Mu Zhanbei yang melakukannya.


Wajahnya suram dan sangat tidak enak dilihat, “Jangan pergi.”


“Lalu kamu mau disuntik atau tidak?”Gu Anran juga tidak ingin pergi, hanya menakut-nakutinya saja.


Siapa suruh dia selalu saja menakuti orang lain? Lihat para dokter dan perawat ini takutnya sudah sampai seperti apa padanya?


Li Ye saja begitu ketakutan hingga melarikan diri, apa dia tidak tahu dirinya semenakutkan apa?


Tatapan Mu Zhanbei akhirnya menyapu pada jarum di tangan perawat, otot-otot di wajahnya tidak bisa menahan untuk sedikit bergerak.


Dia sungguh takut disuntik. Gu Anran segera dapat menyadari hal ini.


Awalnya mengira dia hanya menolak, tak disangka, memang benar-benar takut.


Ternyata di dunia ini ada hal yang ditakuti oleh Tuan Muda Mu, ini sungguh langka.

__ADS_1


Melihat seluruh tubuhnya menolak tapi masih berusaha untuk memasang wajahnya itu, hati Gu Anran tidak bisa tidak melunak.


Dia melembutkan suaranya, “Hanya ditusuk sebentar, sebentar saja sudah selesai. Seperti digigit nyamuk saja.”


Gu Anran melepaskan tangan besar pria itu dari pergelangan tangannya, meletakkannya di atas selimut dan membuka jarinya satu per satu pada kepalan tangannya.


“Sungguh tidak sakit. Setelah selesai infus, kalau dokter bilang boleh, tidak usah diinfus lagi.”


Tatapan Mu Zhanbei segera beralih ke dokter.


“Aku percaya fisik Tuan Muda Mu kuat. Setelah infus sekali ini, sungguh tidak usah diinfus lagi.”


Sang dokter buru-buru berkata, takut kata-katanya tidak enak didengar dan membuat Mu Zhanbei tidak senang.


“Karena tahu fisikku kuat, kenapa harus diinfus?” Wajah Mu Zhanbei kembali suram.


“Ini…” Dokter segera memberikan tatapan minta tolong pada Gu Anran.


Gu Anran meremas tangan Mu Zhanbei dan berkata tak berdaya, “Hanya sekali ini saja, jangan buat masalah.”


Dia menekankan tangan pria itu di sisi tempat tidur dan menatap perawat itu, “Ayo mulai.”


Perawat itu masih sedikit gemetaran, dia memegang jarum dan berjalan mendekat dengan hati-hati.


Mu Zhanbei memang sangat menolak, terutama pada wanita ini yang telah memasuki zona amannya!


Aura penolakannya semakin lama semakin kuat dan bahkan Gu Anran bisa merasakannya.


Dia sebenarnya menolak suntikan, atau menolak pada perawat ini? Atau mungkin, keduanya?


Akhirnya, perawat sampai di hadapan mereka dan mengulurkan tangannya dengan gemetaran, mencoba untuk mensterilkan tangan Mu Zhanbei.


“Ah!” Perawat itu panik dan segera mundur ketakutan beberapa langkah, melepaskan tangannya dan kapas itu jatuh ke lantai.


“Aku… aku…” Perawat itu menatap Gu Anran, ketakutan hingga jiwanya nyaris melayang, “aku hanya… hanya tidak sengaja, melihat Tuan Muda Mu beberapa kali…”


Tidak heran Mu Zhanbei begitu menolak. Dia paling benci para wanita yang menatapnya dengan tatapan bucin.


Gu Anran sedikit tidak berdaya. Dia mengambil kapas di lantai dan melemparkannya ke tempat sampah.


Dia memasuki kamar mandi, mencuci tangannya dengan bersih dan kembali duduk di sisi tempat tidur. Dia memegang telapak tangan besar milik Mu Zhanbei dan meletakkannya di pangkuannya.


“Biar aku yang suntik, apa boleh?”


“Nyonya Muda Mu…” Perawat itu tampak cemas.


“Tidak masalah, bukannya aku tidak pernah menyuntikkan padanya.”Hanya saja, terakhir kali menyuntik di pantat. Kali ini, harus suntik di punggung tangan.


Tapi, di kehidupan sebelumnya dia pernah belajar medis. Hanya menusukkan jarum, harusnya bukan masalah besar.


Mengambil kapas dari tangan perawat, pertama-tama dia mensterilkan punggung tangan Tuan Muda Mu, kemudian membuka bungkus jarum suntik.


Ketika jarum yang berkilau itu tampak di hadapannya, otot-otot Mu Zhanbei tidak bisa menahan untuk sedikit tegang.


Gu Anran menepuk punggung tangannya dengan lembut dan melembutkan suaranya, ‘Tidak masalah, percaya padaku. Sebentar saja selesai.”


Dia mengambil jarum dan mendekatkan pada punggung tangan Mu Zhanbei.


Tapi semakin jarum itu mendekat, ototnya juga semakin kencang. Seolah-olah dia bisa melawan kapan saja.

__ADS_1


Gu Anran sedikit tidak tenang. Ekspresi Tuam Muda Mu, seperti dapat menyakiti orang lain pada setiap waktu.


Dia berbisik, “Kamu jangan melawan. Kalau tidak, jarum ini akan menusuk aku.”


Kalau melawan, jarum ini akan menusuk dia?


Detik berikutnya, Tuan Muda Mu begitu tenang seperti ayam, bahkan tidak berani bergerak.


Pria ternyata benar-benar peduli apa hal ini akan menyakiti dirinya…


Ada perasaan aneh di hati Gu Anran. Perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Hanya saja, sedikit hangat, tapi juga sedikit manis.


Pria ini, saat menindasnya, sungguh sangat kejam.


Tapi hari ini, lagi-lagi membuatnya tersentuh…


Jarum itu akhirnya menusuk ke dalam.


Otot pria itu kembali menegang, tapi Gu Anran segera membujuk dengan pelan, “Tidak masalah, jadilah anak penurut. Akan segera selesai.”


Para dokter dan perawat yang berdiri di samping sedikit cemas, takut Tuan Muda Mu akan menyerang mendadak dan menyakiti Nyonya Muda Mu.


Tapi tak disangka, Tuan Muda Mu yang begitu kejam, ternyata benar-benar mendengar ucapan Nyonya Muda Mu.


Dari awal hingga akhir, selama nyonya muda memasang wajah tegas, dia akan menjadi sangat patuh.


Dokter melihatnya dengan tidak percaya dan perawat menatapnya dengan iri.


Ayolah, dia juga benar-benar menginginkan hewan peliharaan seperti Tuan Muda Mu.


Dipelihara di sisinya, jelas-jelas adalah seekor singa, tapi setelah disayang-sayang, dia akan segera berubah menjadi seekor anak anjing.


Ini sungguh sangat menyenangkan, sangat membuat orang iri!


Sayangnya, dia bukan Nyonya Muda Mu.


Di seluruh dunia, mungkin hanya Nyonya Muda Mu yang dapat membuat Tuan Muda Mu jadi begitu penurut…


……


Setelah selesai suntik dan minum obat, Mu Zhanbei tidak bersedia untuk terus dirawat di rumah sakit lagi.


Entah karena merasa tidak aman tinggal di rumah sakit yang kapan saja harus minum obat dan disuntik atau bagaimana. Intinya, begitu jarum dicabut, dia langsung minta untuk pulang ke Kediaman Mu.


Gu Anran tidak berdaya dan hanya bisa meminta Li Ye menyiapkan mobil.


Tidak ada barang yang perlu dikemasi, orangnya naik mobil dan mereka pun pergi.


Sebelum pergi, Gu Anran meminta obat pada dokter.


Begitu naik ke mobil, Mu Zhanbei bersandar di bahu Gu Anran, memejamkan matanya, seolah-olah dia sedang tidur.


Karena banyak barang-barang tuan muda yang masih ada di Paviliun Wangjiang, mereka pun kembali ke Paviliun Wangjiang terlebih dulu.


Namun, begitu mobil baru saja berhenti, suara yang menawan itu segera mendekat, “Tuan Muda Mu, kata mereka kamu terluka!”


Orangnya belum sampai, suaranya sudah sampai lebih dulu. Suaranya parau dan sepertinya sudah selesai menangis.


“Bagaimana keadaanmu? Apa lukanya serius?”

__ADS_1


__ADS_2