
Sabtu siang, Yoki dan kedua temannya baru saja tiba di rumah Yoki, setelah berjalan dari halte bus dengan seragam yang masih melekat di badan.
“Yoki aku pulang ke rumah dulu yah, sekalian ganti baju dan bawa barang bawaan.”
Saat sampai di depan rumah Yoki, Gaia meminta izin terlebih dulu untuk pulang ke rumahnya. Yoki mengangguk tanda setuju dan Ia meneruskan kembali jalannya, meninggalkan Yoki dan Kenichi yang sudah menghentikan langkah.
“Yosh, akhirnya hari ini tiba juga.”
Yoki berucap senang dengan kedua tangan yang diangkat ke atas, begitu juga dengan Kenichi yang ikut terbawa suasana.
Hari ini adalah hari dimana tiket mereka akan berlaku. Tiga tiket, untuk menikmati salah satu penginapan onsen terkenal di kota Beppu selama dua hari satu malam. Dari mulai sabtu sore hingga minggu pagi. Untung pada hari itu, sekolah libur karena akhir pekan.
Kata “terkenal” bukan hanya sekedar buaian belaka. Fasilitas yang ditawarkan di penginapan ini sangat beragam, ditambah dengan makanan tradisional yang sangat enak dan pelayanan yang ramah.
Dan, jangan lupakan pemandangan yang ditawarkan oleh penginapan yang berdiri kokoh di atas pegunungan. Dengan segala kelebihan itu, tentu tidak akan ada orang yang menolak untuk pergi menginap, walau hanya sehari saja.
Untuk jarak, sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan dekat, jika mereka mulai dari rumah Yoki. Memakan waktu sekitar 15 menit jika mereka menaiki motor atau mobil. Oleh karena itu, tiga hari sebelumnya, mereka bertiga setuju untuk pergi ke rumah Yoki terlebih dulu dan bersiap-siap di sana.
“Kalau gitu aku mau mandi dan ganti pakaian dulu. Hari rabu kemarin aku titipkan barangku padamu kan?”
Kenichi bertanya untuk memastikan ingatan Yoki. Karena tiga hari sebelumnya, Kenichi menitipkan barangnya pada Yoki. Tentu itu ada alasannya, berbeda dengan Gaia yang rumahnya berjarak dekat dari rumah Yoki.
Kenichi hanya punya dua pilihan, membawa barangnya ke sekolah atau menitipkannya pada Yoki.
Saat diperhadapkan dengan pilihan itu, Kenichi memilih yang kedua. Kenapa? Itu karena, barang yang dibawa Kenichi ke sekolah bisa menimbulkan berbagai situasi.
Bisa dicurigai, apalagi tidak ada kegiatan sekolah yang mengharuskan untuk membawa barang bawaan seperti itu dan Kenichi juga bisa menjadi bahan olokan, terutama dari kelompok Terasaka.
“Ehem, gak mau mandi disana kah?”
Yoki bertanya dengan senyum yang dinaikkan. Tangannya dilipat sembari menunggu jawaban dari pertanyaannya.
“Boleh, lagipula aku ingin merasakan air di penginapan itu. Kalau gitu, aku hanya ganti baju saja.”
Yoki mengangguk, dilanjutkan dengan membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Saat sudah berada di dalam, Yoki menunjukkan barang bawaan Kenichi yang ia simpan di ruang tamu.
************
Setelah memakan waktu sekitar 15 menit, Yoki dan Kenichi telah bersiap dengan pakaiannya masing-masing. Mereka berdua keluar kamar dengan tangan yang menentengi tasnya. Untuk seragam, Kenichi menitipkannya dulu di rumah Yoki.
“Kenichi, Yoki.”
Terdengar sebuah sahutan dari luar rumah diringi ketukan pintu berkali-kali. Saat mendengarnya, Yoki dan Kenichi segera beranjak keluar rumah.
“Apa kalian sudah siap.”
Gaia berucap saat Yoki dan Kenichi sudah keluar rumah.
“Yap, kalau gitu lebih baik kita berangkat sekarang.”
Gaia mengangguk tanda setuju dan pergi bersama Yoki serta Kenichi dengan berjalan kaki. Setelah melewati jalanan beraspal yang lurus, mereka harus melewati jalanan tanah yang miring. Itu wajar, mengingat lokasi dari penginapan yang berada di pegunungan.
Ketika sudah sampai, mereka berhenti sejenak dan melihat papan yang ada di atas pintu gerbang. Bertuliskan nama dari penginapan tersebut. Sejenaknya, Kenichi memastikan nama dari penginapan itu dengan nama yang tertera di tiketnya.
“Lalu, dimana kita harus menyerahkan tiket ini?”
Yoki bertanya dengan mata yang menatap tiket miliknya.
“Mungkin disitu.”
Tangan Gaia menunjuk ke arah pintu masuk dari penginapan tersebut. Di situ sudah menunggu dua sosok seperti gadis kecil dengan wajah bulat yang manis. Rambut hitam mereka berdua dikepang dua, dilengkapi dengan kimono berwarna biru bercorak bunga.
“Oke.”
Yoki menaiki tangga terlebih dulu, diikuti Gaia dan Kenichi di belakangnya.
“Selamat datang di penginapan kami.”
Nada bicara kedua gadis kecil itu begitu imut, hingga Yoki ingin mencubit mereka berdua. Namun ada yang aneh, wajah mereka berdua seperti terbuat dari porselen.
“Lucu.”
Karena tidak tahan, Yoki mencubit pipi mereka berdua. Namun tidak reaksi. Hanya diam dengan mata yang tidak berkedip sedikit pun.
“Itu boneka lah, dengan perekam suara yang terpasang di dalamnya.”
“Hee ….”
“Hadeh, kamu kebanyakan nonton anime dan baca manga sih. Mana ada orang di dunia ini yang punya warna dan bentuk muka seperti ini.”
“Oh ada tamu rupanya.”
Saat Yoki masih memikirkan ucapan Kenichi, sebuah suara terdengar dari dalam pintu masuk yang terbuat dari kain berwarna biru. Terdengar seperti suara seorang bapak.
__ADS_1
Otomatis, ketiganya langsung memalingkan pandangan ke sumber suara. Seorang bapak dengan kumis hitam tebal dan rambut yang pendek. Memang badannya tidak terlihat, karena ia hanya menunjukan kepalanya saja.
“Kalian mau menginap di sini kah?”
“Iya.”
Mereka bertiga menjawab bersamaan.
**********
“Oh, jadi kalian itu pemenang dari event yang diadakan oleh merek cemilan itu yah?”
Bapak itu bertanya sambil berjalan sebaris dengan mereka bertiga. Kini mereka sudah masuk dan penampilan dalamnya sangat tradisional, lantai kayu, dinding kayu, dan berbagai lukisan wajah hitam putih terpampang di samping kanan dan kiri.
Mungkin wajah-wajah itu adalah mantan pemilik penginapan ini, jika dilihat dari waktu penginapan ini berdiri. Sudah sangat tua umurnya.
“Iya.”
Jawab Yoki dengan mata yang memandang ke depan. Berbelok ke kanan dan mereka sudah melihat banyak orang dan kamar yang berjejer saling berhadapan.
Orang-orang itu lalu lalang, dan tidak jarang ada percakapan dan interaksi di antara mereka. Bahkan ada juga yang berlari kesana kemari tanpa mengenakan busana. Tenang, bukan orang dewasa, hanya anak-anak kecil yang berlari tanpa tujuan. Kisaran tiga sampai lima tahun kira-kira.
“Eee ….”
Walaupun hanya anak kecil, Yoki tetap merasa aneh. Sampai mulutnya terbuka setengah, tanpa sadar.
“Hahaha aku tahu kalian pasti bingung,” bapak itu menaruh kedua tangannya di kedua sisi pinggangnya,“Konsep yang kami terapkan disini adalah kekeluargaan, memang aneh untuk sebuah penginapan. Konsep ini adalah konsep yang sudah diterapkan oleh pendiri pertama, karena ia tidak punya keluarga.”
“Begitu, mungkin itu alasannya kenapa penginapan ini mahal sekali.”
Kenichi menarik kesimpulan.
“Yap, makanya hanya sedikit orang yang bisa masuk ke sini.”
Mereka bertiga mengangguk tanda setuju. Langkah bapak itu kembali berlanjut untuk menunjukkan kamar yang akan di tempati mereka bertiga. Kenichi, Yoki, dan Gaia berada dalam kamar yang terpisah.
Alasannya, karena satu tiket yang mereka dapatkan masing-masing hanya untuk satu orang dan satu kamar.
“Woah kamarnya besar.”
Yoki mengungkapkan kekaguman pada kamarnya yang luas. Pemandangan di luar juga begitu indah. Dengan jendela kayu untuk melihatnya.
Tak berlama-lama, Yoki menaruh barang-barangnya lalu berbaring di kasur tipis yang ada di atas tatami.
“Yoki gimana kalau kita makan dulu.”
Yoki mengangguk dan mengikuti Gaia serta Kenichi dari belakang menuju ke ruang makan.
Dalam waktu yang singkat, mereka bertiga sudah sampai di satu ruangan besar dengan banyak meja bundar yang tersebar. Kedua pintu geser tetap terbuka, menghadap ke hutan dan pegunungan yang hijau.
Kenichi memaling-malingkan matanya kesana-kemari. Mencari meja yang kosong untuk mereka duduki. Hingga dapatlah sebuah meja yang ada di ujung ruangan.
Acara makan mereka berjalan santai, dengan suasana rileks yang ditampilkan oleh lantunan nada yang dimainkan oleh para pemusik.
Setelah makan, mereka bertiga berkeliling di sekitar penginapan, menunggu makanan tercerna di perutnya. Hingga tak terasa, hari sudah hampir menjelang malam.
“Apa kita akan berendam sekarang?”
“Boleh juga tuh Yoki. Tapi, apa kita akan berendam bersama?”
Pertanyaan Gaia sontak membuat Yoki dan Kenichi tersentak.
“Yah enggaklah.”
Setelah sampai onsen, terlebih dulu mereka melepas alas kaki. Itu aturannya. Lalu Gaia berpisah dengan Kenichi dan Yoki, masuk ke dalam ruang ganti untuk wanita. Ditandai dengan warna merah di depannya. Sedangkan Yoki dan Kenichi masuk ke dalam ruang ganti yang bertanda biru.
Petugas menyambut Yoki dan Kenichi begitu mereka masuk ke dalam. Memberikan handuk dan kunci loker kepada mereka untuk menyimpan baju serta handuk besarnya.
Setelah semua busana telah dibuka dan mereka sudah membasuh badan. Barulah mereka menikmati onsennya.
“Haaah ….”
Ungkapan pertama Yoki saat merasakan hangatnya air yang ada disitu. Berendam ditemani pemandangan sejuk yang tidak berbeda, walaupun hari sudah malam.
Hari makin larut, lama kelamaan orang-orang sudah pergi dari onsen itu. Hingga menyisakan Yoki dan Kenichi yang masih betah berendam lama. Memang sih, ini adalah pengalaman pertama mereka. Jadi mereka ingin menikmatinya sedikit lebih lama.
“AKHHHHH ….”
Sebuah suara teriakan perempuan tiba-tiba terdengar. Mengganggu ketenangan Yoki dan Kenichi. Mereka berdua kenal pemilik dari suara itu dan itulah yang membuat mereka was-was.
“Gaia, kah?”
“Kalau gitu kita harus cepat menghampirinya.”
__ADS_1
Kenichi langsung berdiri, mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil dan berlari ke loker untuk memakai bajunya.
“Tu-tunggu Kenichi. Kita tidak bisa masuk ke onsennya kan?”
Yoki bertanya dengan langkah yang menyusul Kenichi.
“Setidaknya, kita tanya pada orang yang ada di situ. Pasti teriakan itu didengar banyak orang kan.”
Sesudah mengatakannya, Kenichi bergegas pergi dengan langkah setengah berlari. Yoki yang ditinggal pun tidak terima, karena belum memakai bajunya dan hanya berlapiskan sehelai handuk.
“Ke-Kenichi, tunggu dulu.”
“Kau belum ganti baju?”
“Ya gimana mau ganti baju, kan ….”
Suara Yoki terhenti, mereka berdua mendengar suara aneh yang berasal dari penginapan. Langkah kembali diteruskan, melawan takut untuk menyelamatkan Gaia.
“Sepertinya bukan berasal dari pemandiannya.”
Saat mereka hendak masuk, pintunya terkunci. Yoki mengeceknya dan mencoba mendobrak dengan keras. Setelah tiga sampai empat kali dobrakan, barulah pintu itu mau terbuka.
Namun itu semua berdampak bagi Yoki. Handuknya lepas dan k*malua*nya terlihat, bersamaan dengan pintu yang rusak akibat didobrak.
“Anumu kecil juga.”
“Hee, apa yang kamu maksud anumu?”
“Sudahlah Yoki, aku pikir kita harus ke kamar Gaia.”
Tanpa berpikir panjang Yoki mengangguk, menuju ke kamar Gaia dengan langkah cepat. Suasana di kanan dan kiri mereka begitu mencekam, foto hitam putih nampak hidup. Lilin pun bahkan tidak ada, hanya bercahayakan sinar rembulan saja.
Setelah mereka berbelok ke kanan. Keanehan mulai menjadi. Semua kamar sepi, sunyi senyap. Itu tentu menimbulkan sebuah gumaman dalam hati mereka, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Namun itu tidak diungkapkan. Dari wajah juga sudah ketahuan.
*********
“Di-dia juga gak ada disini.”
Kenichi makin heran, karena tidak menemukan Gaia di kamarnya dan pertanyaan lain juga ia gumamkan, “Kemana semua orang?”
“Apa kita harus mengeceknya?”
Sesaat Kenichi memalingkan wajahnya ke belakang, untuk memberi anggukan pada Yoki dan berjalan masuk ke kamar Gaia.
Tiba-tiba, pintu geser tertutup dan meninggalkan Kenichi sendiri di dalam. Yoki semakin panik, ia berusaha menggedor dan mendobraknya. Pintu adalah benda mati, tidak bisa bergerak sendiri dan jika ada yang menggerakkan, pastilah terlihat siluetnya.
Itu bisa saja, dari bahan pintu dan dari cahaya rembulan yang terang tembus ke dalam kamar Gaia.
Pintu kembali terbuka. Otomatis, begitu pula dengan Kenichi yang menghilang. Yoki masuk, walau hatinya melarang.
Begitu masuk, kejadian yang sama terulang. Pintu kembali menutup dengan Yoki yang bernasib sama.
Kekuatiran Yoki bukan pada pintu lagi, namun pada kedua temannya yang menghilang entah kemana. Ia melihat ke sekeliling, namun hasilnya tetap sama. Di ruangan yang kecil seperti itu, tidak ada tempat sembunyi yang luas.
Kecuali, jika Kenichi kabur lewat jendela. Tapi itu ditolak nalar Yoki, walaupun besar kemungkinannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Disaat Yoki masih disibukkan untuk mencari jawaban. Suara lantunan alat musik terdengar entah darimana. Dari suaranya, kemungkinan besar berasal dari koto. Sebuah alat musik petik khas jepang.
Memang terdengar merdu dan nyaring, namun tidak pada waktunya. Musik itu malah semakin menambah ketegangan di sekitar Yoki. Apalagi, asap putih yang muncul seiring dengan musik yang dimainkan.
“Mungkin Kenichi kabur melalui jendela karena ini.”
Sekarang Yoki menerimanya, langkahnya dipercepat untuk mengikuti tindakan yang sepertinya dilakukan Kenichi. Namun, suara keras terdengar. Seperti dibanting dan itu berasal dengan jendela yang sudah tertutup rapat.
Ia mencoba membuka, namun tak bisa. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ruangan telah berubah. Seperti kamar lagi, namun kosong dan berbeda dengan kamar Gaia.
“Ke-kenapa, ada apa ini?”
Bulu kuduk Yoki semakin berdiri. Ia melihat sekeliling dan ruangan kembali berubah. Kini ada penghuni di dalamnya. Seorang gadis muda, yang tertidur di kasur.
“Apa dia tidak tahu, atau semua orang sedang tertidur pulas. Tapikan musiknya terdengar sangat keras.”
Mencoba berpikir pun percuma. Tidak ada waktu untuk itu, karena permainan musik masih berlangsung dan kejadian yang sama terulang.
Kali ini Yoki berada di sebuah ruangan dan di situ dipajang berbagai macam katana. Sebanyak tiga pedang.
Yoki masih menunggu, namun ruangan tidak lagi berpindah walaupun alunan musik terdengar.
Sebagai gantinya, pintu geser di samping kanannya terbuka pelan-pelan. Seperti menghubungkan ruangan satu dengan yang lain.
__ADS_1