
Para petugas mayat serta dokternya pasti sedang panik sekarang. Asumsi saat ini, kedua mayat telah dicuri bersamaan dengan hilangnya Gaia. Sebagai petugas yang profesional, mereka tentu tidak akan menganggap sepele permalasahan ini.
Dengan merahasiakannya dari rumah sakit, mereka berharap agar mereka bisa menyelesaikannya sendiri.
Sedangkan, saat ini ketiga orang yang mereka risaukan dari tadi malah sedang berjalan santai di jalanan. Dengan hanya mengandalkan kaki dan baju seragam yang masih melekat, mereka bertiga bisa kabur dari rumah sakit. Tanpa ketahuan.
Untung jalanan juga masih sepi, kebanyakan orang sedang bermain dengan mimpinya, ada juga yang masih sibuk pada kerja lembur yang telah menggantikan waktu malam mereka.
“Oh yah Gaia, aku ingin tanya sesuatu.”
“Pasti tentang kenapa tubuh kalian ada di kamar mayat kan?”
Yoki sedikit melirik Gaia, sambil memberikan anggukan.
“Uhm ... jadi waktu itu, aku menemukan kalian berdua tidak sadarkan diri di jalanan. Aku berlari kencang dan mendapati kerumunan yang mengelilingi kalian. Aku menanyai mereka, katanya kalian habis kecelakaan. Jadi, aku bawa kalian ke rumah sakit. Saat aku bertanya pada dokter, katanya kalian sudah meninggal.”
Kenichi menemukan sesuatu yang janggal di sini, kepalanya langsung dibanting dengan ekspresi yang penuh rasa penasaran.
“Tunggu, tapi kenapa tubuh kami ….”
“Hoahm … sudahlah Kenichi. Semua kelelahan ini membuatku ingin cepat sampai di rumah. Oh yah, rumah sakit ini ada di kota mana?”
Kenichi tidak jadi membersihkan kebingungannya, matanya pun dikembalikan pada jalanan.
“Ahh, tenang. Masih satu kota kok dengan rumah kalian.”
Yoki bisa bernafas lega, dia kira jarak perjalanan pulang mereka akan panjang. Wajar sih kalau Yoki kuatir, di jam-jam segini, semua bus kota belum beroperasi. Jadi akan sangat melelahkan kalau mereka melakukan perjalanan dengan kaki.
Bukan hanya Yoki, Gaia pun lega karena pertanyaan tadi tidak dilanjutkan Kenichi. Bisa dibilang, informasi yang dia berikan mengandung kerancuan yang fatal. Akan tidak baik bila dibahas dengan orang sekritis Kenichi.
“Yah, aku masih tidak ingat tentang kecelakaan itu. Tapi yang pasti, aku masih ingat dengan kejadian sebelum aku pergi menemui Yoki.”
“Mungkin kalian berdua sudah bertemu. Tapi karena kecelakaan itu, kalian jadi melupakannya.”
Mata Kenichi tidak fokus 100 persen pada jalanan, dia juga sedikit mengaitkan pandangan pada gadis remaja di sampingnya. Apa yang dia cari di sini adalah apa yang disembunyikan Gaia.
“Oh yah, kamu di rumahkan saat aku menelponmu?”
Kegugupan yang tadi sirna, kembali muncul ke permukaan. Dalam ekspresi Gaia yang menetap, terdapat rasa takut yang mendalam. Sedikit dia melirik Kenichi, yang dia dapat adalah lirikan tajam penuh dengan interogasi.
“Tentu saja, tapi saat itu aku ingin membeli sesuatu.”
“Membeli apa? Kok kayaknya jauh sekali dari rumahmu.”
“Itu .…”
“Sudahlah Kenichi, hoahmm … aku yakin dia tidak dalam keadaan siap untuk ditanya. Kau terlalu berlebihan padanya, yang pentingkan kita masih hidup.”
Kenichi mengalihkan lirikan ke arah Yoki, saat itu juga Gaia membuang ketakutan yang dia tahan tadi.
“Ya sudahlah. Aku hanya penasaran saja,” Mata Kenichi menatap bulan yang masih utuh sempurna, “Soalnya ... ada banyak kejadian aneh belakangan ini.”
Umpatan halus yang membuat Gaia menelan ludah. Untung saja Yoki membantu, karena ulahnya sekarang mereka bertiga hanya berjalan dalam diam.
Mereka bertiga berhenti di sebuah persimpangan, Kenichi mengenal dengan baik tempat ini. Walaupun suasananya sangat berbeda, tapi Kenichi bisa tahu dari ciri khas yang ada.
“Yoki, Gaia, nanti kalian masuk sekolah?”
“Aku sih masuk.”
“Aku juga.”
__ADS_1
Jika sudah dua jawaban yang setuju, Kenichi tinggal mengikuti pilihan mereka berdua saja.
“Ya sudah, kita berpisah di sini. Dah Yoki, dah Gaia.”
Kenichi berbalik badan badan dan meninggalkan mereka berdua. Sekarang, tinggal tersisa dua orang di kawanan mereka.
“Sekarang aku ingin cepat pulang dan mengganti pakaian ini.”
Gaia mengangguk tanda setuju, mereka pun berbalik dan pulang ke rumah masing-masing. Tinggal tersisa 4 jam dari waktu bangun secara normal.
Walaupun cuma tersisa sedikit, Yoki tetap berusaha untuk mengistirahat badannya. Tidak mungkin dia akan ke sekolah dengan tubuh yang tidak tertidur sedikitpun, bisa-bisa tujuannya ke sekolah hanya untuk dijadikan kamar tidur saja.
*****
Alarm berbunyi, membuat Yoki terbangun dengan tubuh yang lemas. Wajar, dia cuma bisa tidur setengah jam dari waktu tidur yang normal.
Tapi mau bagaimana lagi, dua pilihan sudah berjejer. Satu bolos sekolah dan satunya lagi memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Yah, Yoki memilih pilihan yang kedua. Dia bangun dari tempat tidur dan melakukan aktifitas pagi. Dengan tubuh yang lemas pastinya.
Setelah Yoki selesai dengan segala persiapan, dia pun langsung keluar rumah untuk pergi ke halte bus. Eh tunggu dulu, dia mengecek lagi barang bawaan yang ada di tas. Lengkap. Jadi sudah dapat dipastikan, kalau dia tidak akan mendapat koleksi tambahan hukuman dari guru-guru di sana.
Suasana pagi yang menyejukan membuat kantuk Yoki sedikit sirna, angin pagi merasuk ke dada, membuat Yoki dapat mengisi kembali tenaganya. Saat jarak Yoki dengan halte semakin dekat, tanpa sadar dia merasakan tepukan di bahu.
Itu adalah Gaia, dia tahu setelah melirik ke sumbernya. Dengan langkah yang dipelankan untuk mempersilahkan Gaia menyamai langkah, Yoki masih tetap mengunci pandangan.
Tidak ada yang lebih indah dibanding dengan melihat senyuman Gaia di pagi hari. Segar, masih baru dan tidak terkontaminasi oleh aktifitas sekolah yang melelahkan.
“Yoki, apa kamu masih segar?”
“Haha tentu saja, walaupun tubuh ini tidak tidur seharian, aku tetap masih bisa bertahan.”
Kebohongan yang buruk, Gaia tertawa kecil saat mendengarnya.
“Haaah … terserahlah. Oh yah, ngomong-ngomong apa tubuhmu masih baik-baik saja?”
“Jangan dipikirkan, cukup dokter dan para perawat saja yang memikirkan itu.”
Yoki langsung tertawa terbahak-bahak, dia tidak menyangka kalau lelucon bisa keluar dari mulut Gaia secara mendadak.
“Dasar, kau ini cocok menjadi pelawak juga ternyata.”
“Haaah … entahlah, mungkin aku terlalu rendah hati untuk menyembunyikannya.”
“Jangan begitu. Jadilah dirimu sendiri di antara kita bertiga. Aku juga ingin mengetahui keluh kesah kehidupanmu.”
“Be-begitu … yah.”
Untuk kalimat itu, Gaia menunduk. Gaia tahu, kalau Yoki pernah mengucapkan kalimat dengan makna yang sama. Tidak hanya itu saja sih, tundukan Gaia juga mengandung makna yang lain.
Kenangan kemarin telah dipancing Yoki untuk muncul ke otak Gaia. Yah, sangat mengerikan. Gaia saja sudah tidak kuat saat mengingatnya kembali.
Ingat, sekarang Gaia hampir kembali seperti sedia kala. Jadi untuk Gaia versi ini, dia sudah tidak kebal lagi dengan pemandangan yang mengerikan.
Lihat saja, air mata kembali menggantung di ujung mata kirinya, dia sudah punya perasaan. Air mata itu berperan sebagai penawar, tapi tidak memberikan efek yang banyak.
“Ga-Gaia.”
Yoki kuatir pada perilaku Gaia yang mendadak murung, apalagi saat ini mereka sudah sampai di halte bus. Namun panggilan kepedulian Yoki tidak dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Gaia langsung memeluk Yoki, sontak terjadi kesalahpahaman di wajah Yoki.
Wajah Yoki langsung memerah, dengan ekspresi yang hampir meledak. Yoki sangat canggung, tapi untuk ukuran anak SMA, itu agak sedikit berlebihan.
Perilaku Yoki seperti sedang melihat hantu saja, tubuhnya bergemetar, tapi tetap kaku seperti patung. Dia tidak punya kata-kata lagi untuk mengatasi keadaan ini.
__ADS_1
“Ga-Gaia, ada … apa, denganmu?”
“Hai Yoki, ahh ada Gaia juga.”
Tiba-tiba sebuah sapaan datang mengganggu kemesraan mereka, walaupun yang merasa mesra sih hanya sepihak saja. Sapaan itu mengenali identitas Yoki dan Gaia, artinya orang yang menyapa sudah kenal dengan mereka berdua.
Apalagi suaranya cewek dan seperti pernah didengar Yoki di sekolah. Wah, lengkap sudah kecanggungan Yoki, dia serasa ingin meledak dengan semua tekanan ini.
Perlahan Yoki memalingkan pandangan, menghiraukan perilaku Gaia, demi melihat si pemilik sapaan.
“A-Aiha.”
“Yo, Yoki.”
“Kamu kenapa ada di daerah sini? Tempat tinggalmu kan bukan di sini.”
“Aku habis menginap di rumah saudara. Lagipula, kenapa kamu mempermasalahkan keberadaanku di sini,” Aiha melihat keadaan Gaia, ternyata masih dalam posisi memeluk, walaupun pelukan itu tidak dibalas Yoki, “Oh … apa kamu bermaksud untuk menyembunyikan kemesraan kalian dari semua orang?”
“Bu-bukan begitu.”
Terjadi lagi, di hadapan wanita ini Yoki sudah tidak dapat berkutik. Setiap omongan malah menjadi jurang yang akan menjatuhkan Yoki semakin dalam.
“Fufufu … ya sudahlah kalau kemesraan kalian itu adalah hal yang privasi. Tapi kuharap kalian tidak menyembunyikannya juga dari Kenichi.”
Aiha sudah selesai mengompori Yoki, ditandai dengan langkah yang memasuki bus yang baru saja berhenti. Selesai sih selesai, tapi Aiha juga meninggalkan bekas yang membuat Yoki sedikit kebingungan.
“Heh … tadi aku dengar suara seseorang Yoki.”
Kebimbangan Yoki terganggu karena ucapan Gaia. Dia pun langsung berpaling dan memastikan keadaan Gaia. Setidaknya, Yoki ingin meminta kejelasan dari tindakan Gaia yang agresif tadi.
“Ga-Gaia, kamu kenapa tadi?”
Gaia masih belum menjawab, sampai dia melihat kedua tangannya yang memeluk Yoki, dia baru menunjukkan reaksi. Dengan perilaku seperti seseorang yang tidak sadar akan tindakannya, Gaia dengan teriakan langsung melepas kedua tangan yang tadi tertempel di tubuh Yoki.
Teriakan histeris itu mendorong Yoki untuk berasumsi kalau ada yang aneh dari perilaku Gaia. Sedangkan Gaia, dia bergemetar saat melihat kedua tangannya sendiri. Perilakunya menjadi canggung, seperti merasa bersalah karena tindakan yang tadi dia lakukan kepada Yoki.
“Ma-maaf Yoki, a-aku tidak bermaksud demikian.”
“Haaah … tenang saja, mungkin kamu kecapean. Lebih baik kita segera naik bus sekarang.”
Sambil merapikan gendongan tasnya, Yoki berbalik dan langsung berjalan masuk ke dalam bus. Gaia mengekor di belakang Yoki, sampai berhenti untuk duduk di samping Yoki.
Suasana di dalam bus lumayan ramai, mereka mengambil tempat duduk di depan. Sedangkan tiga deret di belakang mereka, dapat terlihat jelas kursi yang diduduki Aiha.
Sesaat setelah mengambil tempat duduk, bus yang mereka tumpangi pun mulai melaju. Yoki masih menatap ke luar jendela. Nampak jelas kalau dia sedang menahan kantuk, tanpa bantuan dari angin pagi sih, pertahanan Yoki akan melemah.
“Yoki, kejadian terakhir yang kamu ingat apa?”
Yoki langsung berpaling, dia hendak merespon pertanyaan Gaia.
“Entahlah, aku ingatnya sampai aku ngobrol sama pak Thomas.”
“Begitu yah.”
Gaia sudah selesai dengan pertanyaannya, tapi tatapan Yoki tetap mengarah padanya.
“Kenapa kamu bertanya itu?”
“A-aku hanya ingin memastikan sejauh apa dampak yang kamu terima setelah kecelakaan itu. Maksudku, lupa ingatan itu.”
“Ke-celakaan.”
__ADS_1
Yoki memikirkan dengan seksama kata-kata itu, bahkan sampai menghiraukan rasa kantuknya. Setelah dipikir lagi, dia memang menyadari adanya keanehan tentang alasan tubuhnya dan Kenichi bisa berada di rumah sakit, di kamar mayat lagi.