
Akhirnya Kenichi berhasil masuk ke dalam rumah. Setelah semua peristiwa yang dia lewati hari ini, dia langsung menyandarkan punggungnya di dinding dan kakinya diselonjorkan ke depan.
Satu tangannya menahan rasa sakit yang didapat dari pertarungan dengan beruang. Yah, itu benar. Luka yang diberikan beruang itu masih meninggalkan kesan di tubuh Kenichi. Apalagi, rasa sakit itu kembali diingatkan melalui pertarungan dengan Genki.
“Haduh, lukaku cenat cenut lagi nih.”
Dengan keadaan yang masih seperti itu, Kenichi masih bisa datang ke sekolah dan belajar.
Memang Yoki dan Gaia tidak melihat secara keseluruhan penderitaan Kenichi, karena dia menyembunyikannya. Tersirat, hanya terkurung di dalam hati.
“Entah kenapa, aku merasa ada yang akan mengunjungiku sekarang.”
Kenichi menaruh satu tangan di dagu. Dia hendak berpikir, merenungkan segala kemungkinan yang ada. Tentu, kemungkinan yang dimaksud adalah jawaban atas perasaan Kenichi.
“Aku rasa, pria yang bernama Genki itu sudah mengikutiku beberapa hari ini. Jika firasatku benar, mungkin dia akan membawa kawanannya kemari.”
Pada awalnya sih wajah Kenichi menampilkan ekspresi yang wajar saat seseorang sedang ketakutan, tapi ekspresi itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah senyum yang penuh makna.
“Haaah … kalau itu benar, apa rumahku ini sudah cukup untuk menyambut mereka.”
Itu adalah arti dari senyumnya. Cukup aneh memang, bagi orang pada umumnya. Tapi kalau untuk Kenichi, mungkin hal yang seperti ini tidak berlaku.
“Hmmm, tinggal ditambah dekorasi saja.”
Dia memandangi keadaan rumahnya. Benar-benar tidak terurus, dengan dinding yang terkelupas dan lantai kayu yang sudah usang. Mungkin gambaran itu sudah cukup untuk menjelaskannya.
“Yosh, mari kita kerjakan.”
Dia tersenyum, sepertinya semua ini telah direncanakan. Rasa sakitnya juga sedikit terobati karena itu, hanya memikirkannya saja sudah membuat dia tertawa bahagia. Dalam arti tawaan yang mempunyai sejuta pikiran kejam di dalamnya.
Kenichi berdiri, dia sudah siap untuk mempersiapkan rumah bagi kedatangan tamu yang akan datang.
*****
Firasat Kenichi ternyata benar. Kelompok ini adalah kelompok yang akan terus mengejar targetnya sampai tuntas.
Lengkap dengan jas hitam, kaca mata hitam, dan topi bowler berwarna serasi, mereka sudah siap untuk menangkap mangsanya kali ini. Yah, terkecuali bagi bos mereka yang memilih untuk memakai selera topi yang berbeda. Bisa karena kesukaan, atau dia juga ingin menunjukkan perbedaan kasta kepada para bawahannya.
Apapun yang mereka pakai, tujuan mereka semua tetap sama yakni menyelesaikan urusan yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.
Apalagi kejadian yang menimpa putri dari bos besar mereka, itu sudah menjadi tujuan terselubung bagi rekan-rekan Genki, terkecuali bos yang datang bersama mereka. Pria gendut yang hanya memikirkan kesuksesan rencana awal.
__ADS_1
“Anak pengusaha ikan itu ternyata ada di sini, sekarang waktunya kita menagih kewajiban orang tuanya hahaha ....”
Bos itu tertawa, saat dia dan semua bawahannya telah turun dari mobil mereka.
“Bos, anak itu tinggal di rumah yang ada di dalam gang ini.”
Genki menjelaskan, dialah yang harus melapor. Karena hanya dia yang mengetahui rumah serta kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal Kenichi.
“Sepi juga, kalau gitu aku bisa memainkan sister dengan leluasa.”
Pria gendut terlihat sangat mesra, saat memegang pistol revolver yang ia simpan di saku celana. Itu juga terlihat dari gerakan tangan kanan yang terus meraba-raba pistolnya.
“Sekarang kita maju.”
Rombongan ini berjalan masuk melewati gang yang sempit di depan mereka. Benar-benar sepi, di benak mereka mungkin tidak ada tanda kehidupan di tempat ini.
“Aku hampir tidak percaya, anak itu tinggal di tempat yang seperti ini.”
Salah seorang dari rombongan itu berbisik kepada yang lain. Walaupun suaranya dikecilkan, tapi tetap saja menggema di tempat itu.
“Aku juga sama sih.”
Tidak mendapatkan protes dari bos mereka, beberapa orang pun memutuskan untuk mengobrol di sepanjang perjalanan. Hitung-hitung menghilangkan rasa bosan dan takut mereka pada tempat itu.
Tidak lagi dibatasi oleh dinding yang menghambat pergerakan mereka dan sebagai gantinya, jejeran rumah kosong sudah menanti di samping kanan dan kiri mereka.
Nampak sama penampilannya, tapi karena tunjukkan tangan Genki yang membuat mereka mengetahui yang mana rumah targetnya.
“Ho-hohoho … ternyata dia tinggal di rumah yang kumuh seperti ini.”
Bos itu memainkan kumisnya kembali, dia sangat senang. Itu terlihat dari senyumnya dan alasannya, mungkin karena mereka sudah mendapatkan Kenichi.
Baru kemungkinan saja.
“Kalian maju duluan, kita mengendap ke rumahnya.”
Para bawahannya maju duluan. Namun saat Genki lewat, bos itu menahan pundaknya dengan satu tangan.
“Genki, kau ingat dengan percakapan kita tadi kan?”
Genki mengangguk, dia masih ingat tentang ancaman yang diberikan. Yah, dia tidak boleh berbangga terlebih dulu.
__ADS_1
Langkah yang seperti itu, berhasil membuat mereka semua tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.
Hingga sampai di depan pintu rumah Kenichi pun, mereka semua tidak melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti rencana mereka tidak ketahuan, karena target yang mereka datangi sudah sadar.
Bahkan boleh dibilang, dia sudah menyiapkan hadiah penyambutan untuk mereka.
Yap, Kenichi sudah mengetahui keberadaan mereka dari bayangan yang ada di luar pintu. Apalagi kaki mereka menginjak kayu yang sudah lapuk, sehingga menimbulkan suara yang khas. Mau dibilang itu adalah sebuah kesalahan pun, itu tidak sepenuhnya benar.
“Hehe ….”
Kenichi mengeluarkan sebuah seringai, sekalian berpindah tempat dan bersembunyi di balik tembok yang ada di dekat tangga.
Tangga yang lumayan besar yang menghubungkan lantai satu dan dua. Namun satu hal yang harus diperhatikan, bahan tangganya juga sudah tua dan bisa saja ambruk saat bebannya berlebihan.
“Sekarang dobrak!”
Pintu rumah Kenichi didobrak dengan keras dan mereka semua langsung masuk ke dalam. Senyuman menghiasi wajah mereka seperti sudah mendapatkan mangsa yang ditunggu-tunggu. Tinggal mengendus letak keberadaan mangsanya saja.
“Di mana kau anak kecil, jangan bersembunyi. Aku tahu kamu ada di sini kan! Kami sudah mengintai rumah ini dari tadi ... jadi menyerah saja kepada kami daripada, kami memakai cara kekerasan untuk memaksamu.”
Desakan yang bagus, tapi itu tidak mendapatkan respon dari Kenichi. Yah, dia adalah orang yang penuh perhitungan. Setidaknya, untuk beberapa hal.
Gagal membujuk mangsa, pada akhirnya mereka harus mencari sendiri keberadaan Kenichi. Mata mereka semua melirik-lirik ke segala arah. Setiap orang memiliki maksud yang berbeda-beda. Ada yang ingin melihat keadaan rumah yang menurut beberapa orang tidak layak, seperti seorang kritikus saja.
Ada juga yang ingin fokus untuk menemukan petunjuk, mereka adalah orang-orang yang berkompeten pada tanggung jawab dari pekerjaannya. Juga ada orang yang ingin segera menghajar dan membuat perhitungan dengan Kenichi, mereka adalah orang yang memiliki dendam tersendiri.
Yah, semua bergerak dalam inisiatifnya masing-masing.
“Haaah pantas saja. Untung kalian tidak mendapatkanku di jalan tadi dan sekarang hihihi ... aku sebagai tuan rumah akan menyambut kalian.”
Bukan ketakutan, malah senyuman yang bertambah. Di dalam hati, ia menghitung mundur dari angka tiga untuk bersiap melaksanakan rencananya. Hitungan mundur berhenti di angka satu dan ia sudah berlari ke tangga.
Lirikan mata mereka terhenti, sesaat setelah mendengar sebuah suara langkah kaki yang menjauhi mereka. Mata mereka kini diarahkan ke sumber suara yang tidak lain adalah Kenichi. Segera, setelah tahu dimana letak Kenichi. Mereka pun bergegas mengejarnya.
Mangsa sudah terlihat, tinggal cara para pemburu untuk menangkapnya. Tapi kalau para pemburu ini, sepertinya mereka datang dengan persiapan yang belum matang atau meremehkan mangsanya.
Yah, semuanya hanya berbekal tangan kosong, hanya pemimpinnya saja yang memakai pistol.
“Cepat! jangan sampai lolos.”
Pemimpin mereka memperingati dari belakang. Dia jugalah orang yang tergendut dari kelompok yang datang ke sini. Jadi, wajar saja dia berbekal pistol dan berlari di barisan yang paling belakang.
__ADS_1
“Hihihi ... sekarang kalian bakal tahu kenapa rumah terbengkalai ini tidak pernah aku perbaiki.”
Kenichi bergumam senang dalam hati, sambil berlari menuju ke lantai dua melewati tangga kayu yang dipijakinya.