
Tiga orang murid tidak tahu kalau ada yang sedang berbicara mengenai mereka. Yap, mereka bertiga adalah Yoki, Gaia, dan Kenichi dan di waktu yang bersamaan, Terasaka sedang menelpon temannya Anazawa.
Yah, mereka sih tidak tahu. Mereka masih memiliki urusannya masing-masing. Pada akhirnya, hanya sang waktu yang akan menentukan takdir mereka.
“Yoki, Gaia, aku ingin memperbaiki baju dan celanaku yang rusak dulu yah.”
“Ya, oh yah Kenichi kamu juga harus beli obat yah.”
Yoki hanya mengangguk saja, sebenarnya ada kejengkelan yang tersirat di lubuk hatinya. Sedangkan Gaia menunjukkan rasa kuatirnya yang mendalam, itu sudah terlihat dari saran yang dia berikan.
“Tenang saja.”
Kenichi tersenyum, dia mengapresiasi ucapan Gaia. Sembari berbalik dan meninggalkan mereka berdua, Kenichi juga turut melambaikan tangannya.
“Dah,” setelah menjauh, Gaia berpaling ke arah Yoki yang berdiri di sebelah kirinya. “Kasihan yah dia, sudah kena beberapa kali dia terluka. Tapi, di saat itu kita juga tidak bisa membantunya.”
Itu yang harus disadari Yoki. Yah, dia sebenarnya sudah sadar. Itu terlihat dari wajahnya yang menunduk dan kejengkelan yang menghilang.
“Haaah, mau bagaimana lagi,” Yoki berjalan ke arah kiri, itu adalah arah pulang ke rumah, “Dia selalu ingin menanggung semuanya sendirian.”
“Hey, tunggu.”
Gaia menyusul langkah Yoki. Setelah dia sudah berhasil, barulah kecepatannya diturunkan.
“Apa maksudmu?”
Wajah Gaia berpaling ke arah Yoki yang berjalan di samping kanan.
“Ya, dia ingin menjadi pelindung untuk kita.”
Gaia sudah sedikit mengerti. Arah pandangnya pun diubah ke depan.
“Uhmmm, apa karena masa lalunya yah?”
“Iya juga sih, itu alasan yang tepat menurutku.”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, sembari dibumbui dengan percakapan yang membuat suasana menjadi tidak membosankan.
Sementara itu, saat ini Kenichi sedang berjalan. Dia sebenarnya tidak memiliki niatan untuk menjahit baju dan celana seragam. Artinya, dia mempunyai maksud tersembunyi.
“Sebenarnya aku tidak tega membuka kotak itu. Bagaimana pun, itu adalah privasi milik Yoki.”
Kenichi menemukan tempat duduk di tepi jalan. Pemandangan yang disajikan ketika duduk di situ benar-benar pas. Langit sore beserta sungai yang ada di depan, menjadi keunikan tersendiri.
Tempat itu juga cocok menjadi tempat untuk berpikir. Kenichi sudah membuktikannya, dia hendak memikirkan permasalahan yang dihadapi.
__ADS_1
“Lagipula, CIKH … ahh, siapa sih yang menaruh biodata bu Mariko di dalam biodata Terasaka. Guru kah?”
Pertanyaan tambahan itu terlalu membebani dirinya. Itu menjadi masalah tambahan setelah masalah yang utama.
“Hmmm, lebih baik aku merenungi dulu masalah yang lain.”
Masalah yang dimaksud adalah masalah pertamanya. Itu adalah masalah yang menyangkut tentang kelompok mafia yang pernah dia hadapi tempo hari. Lebih baik sih begitu, diselesaikan satu persatu dari yang paling penting dulu.
Kenapa disebut penting? Bagi Kenichi, masa lalu orang tuanya harus terungkap. Yah, dia sudah membunuh beberapa bawahan Bonzo yang secara tidak langsung, dia sudah mengangkat bendera perang.
“Sebenarnya ada dua cara untuk menggali informasi tentang mereka, cara mudahnya sih membongkar barang yang disembunyikan orang tua Yoki atau aku harus mencari tahu sendiri melalui bawahannya Bonzo.”
“Atau … aku saja yang beritahu.”
Tiba-tiba muncul suara yang mengganggu Kenichi, suara itu bukan berasal dari buah pemikiran Kenichi. Lebih ke arah seorang gadis remaja yang saat ini sedang ikut dalam pemikirannya.
Yah mungkin terlihat normal, tapi yang aneh adalah suara itu menyambungkan ucapan Kenichi yang sebenarnya hanya berbentuk gumaman saja.
“Siapa itu?”
“Hee, apa aku perlu memperkenalkan diri?”
Jika orang biasa mungkin akan langsung takut dan mengira kalau itu adalah hantu, tapi itu tidak berlaku untuk Kenichi. Dia malah bergidik kesal, serasa dirinya dijahili oleh sesosok yang tak kasat mata.
“Haaah, apa maumu?”
“Ke-raguan,” Kenichi berpikir sejenak, “Oh yah, gimana caranya kamu bisa mendengar aku yang sedang bergumam?”
“Hihihihi, kamu memang orang yang menarik.”
Bukannya tersanjung karena pujian, Kenichi malah memasang wajah heran. Itu telah membuat suara yang memujinya mendesah kesal.
“Sudahlah, tidak usah diperpanjang. Kita langsung ke intinya saja, tadi kamu kebingungan tentang masalah orang tuamu, Yoki, dan juga Gaia kan?”
Kenichi mengangguk saja, dia bahkan tidak tahu harus menghadap kemana. Jadi, dia hanya duduk menatap sungai di depan.
“Akan aku kasih satu jawaban. Dulu, orang tua kalian bertiga pernah ditolong oleh seseorang.”
Kenichi masih mendengar, sekaligus juga untuk menganalisa.
“Orang yang pernah menolong mereka adalah orang yang telah mengubah zaman ini.”
Informasi yang benar-benar mencengangkan, Kenichi tersentak akan hal itu. Dia langsung membelalakkan matanya.
Bagaimana tidak, orang yang telah mengubah zaman? Sungguh informasi yang masih misteri dan menyimpan makna di dalamnya.
__ADS_1
“Orang … yang pernah mengubah zaman?”
“Yah, dan apa kamu tahu apa pesannya saat dia sudah menyelamatkan mereka bertiga?”
Kenichi tidak tahu jawabannya, tapi dia mencoba untuk mengikuti alur. Dia penasaran, pada jawaban yang selama ini dia cari-cari dan orang yang dimaksud suara itu.
“Dia meminta mereka untuk menjaga bumi ini dan karena itu, mereka bertiga sepakat untuk membuat langkah pertama yaitu membuat produk makanan ramah lingkungan.”
Kenichi agak heran, pertama ayah Yoki. Ayah Yoki adalah pemilik pabrik kertas, ayahnya sendiri adalah pengusaha ikan, ayah Gaia adalah pemilik lahan pertanian yang luas. Lalu hubungan Bex Staller dengan mereka itu apa? Kenichi masih memikirkan hal itu.
Ada kerancuan dalam informasi yang diberikan suara itu. Kenichi sudah mencocokkan dengan keterangan yang diberikan oleh bawahan Bonzo.
“Bukannya ada 4 orang yang bekerja sama, lalu satu lagi siapa?”
“Hee, ternyata kau juga tahu tentang hal ini yah. Uhmm, satu lagi adalah Bex Staller sang pengusaha daging.”
Ternyata disembunyikan. Kenichi bertanya hanya untuk memastikan saja dan dari sini, dia putuskan untuk mewaspadai informasi yang diberikan saat ini.
“Lalu kenapa mereka harus bekerja sama dengan Bex Staller?”
“Itu karena, Bex Staller mempunyai modal yang lebih besar dari mereka bertiga. Lagipula, rencana mereka membutuhkan dana yang banyak dan jika hanya mereka bertiga saja, mereka tidak akan mampu membayar semuanya.”
Kenichi mulai mengerti dengan jawabannya. Tapi informasi yang seperti itu, masih belum cukup baginya.
“Pasti produk dan rencananya mencakup skala yang luas dan besar.”
Hanya segitu yang disimpulkan dalam gumaman Kenichi.
“Kau tahu, Bex Staller adalah penyumbang terbesar di antara mereka bertiga. Segalanya telah mereka bertiga korbankan demi terwujudnya permintaan orang yang telah menyelamatkan mereka. Tapi ada satu orang pengkhianat di antara mereka.”
Menurut Kenichi ini adalah bagian yang penting. Dia akan segera mengetahui alasan dibalik orang tua Yoki yang sekarang hidup melarat, juga orang tuanya yang terlilit hutang yang banyak.
“Dia adalah … Bex Staller.”
Tangannya ia kepal, Kenichi begitu kesal pada sosok itu. Ternyata alasan dibalik semua penderitaan mereka bertiga bersumber dari satu orang.
“Lalu .…”
“Ssssttt, waktu berbicara kita sudah habis. Aku tidak akan berbicara denganmu lebih lama.”
“Hei tunggu, siapa sebenarnya kamu? Lalu, kenapa kamu berhenti bicara padaku?”
Kenichi berdiri, dia bertanya dengan nada yang berteriak. Walaupun Kenichi tidak tahu kemana arahnya untuk menghadap.
“Aku bukanlah siapa-siapa, aku tidak terikat dengan waktu, aku bebas untuk menjadi penonton dari permainan takdir. Kamu tidak akan tahu siapa aku, karena identitasku adalah tuanku. Untuk jawaban dari pertanyaan keduamu, hoho … selanjutnya kamu tebak saja sendiri.”
__ADS_1
Sudah pasti itu adalah jawaban yang penuh dengan teka-teki. Kenichi hanya terheran saja, dia sekarang sudah tidak bisa lagi bertanya pada suara itu.
Karena suara itu sudah hilang lenyap, digantikan suara angin sore yang kencang.