RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~GADIS YANG ANEH~


__ADS_3

Di dalam kelas, melanjutkan acara perkenalan ....


“Baiklah anak anak, kita lanjutkan perkenalannya,” ujar bu guru sambil memegangi punggungnya yang sakit akibat terjatuh tadi.


Kini mata menatap semua murid di kelasnya, hendak melanjutkan acara perkenalannya.


"Ibu kayaknya harus minta ganti rugi ke sekolah deh, biar diurusin biaya pengobatannya," sindir Kenichi dengan seringai yang diarahkan ke gurunya.


Wajahnya manatap licik, sedangkan semua murid malah menatap heran tingkah laku Kenichi.


"Tidak usah Kenichi, memang kamu itu baik sekali."


Bu guru membalas ucapan Kenichi dengan nada setengah geram pada perilaku Kenichi yang sudah menjahilinya.


"Terima kasih bu, Ibu terlalu berlebihan deh," jawab Kenichi dengan nada yang terkekeh-kekeh.


"Udah ah, gak usah diteruskan lagi Kenichi."


Bu guru menghentikan permasalahan ini dengan melanjutkan acara perkenalannya. Dia tidak mau ambil pusing untuk melanjutkan perdebatan yang malah bisa membuat amarahnya memuncak di hari pertama sekolah.


Yah, itu juga kan tidak baik untuk harga dirinya di hadapan murid-murid yang baru pertama kali bertemu dengannya.


Acara dilanjutkan, beberapa siswa-siswi mulai berdiri dan memperkenalkan dirinya berdasarkan arahan jari bu guru yang bergerak acak.


”Bagaimana dengan kamu yang duduk di belakang, kamu mau memperkenalkan diri?” tanya bu guru sambil menunjukkan tangannya ke arah Yoki.


”Baik Bu guru.”


Walaupun dia agak sedikit canggung, tapi ia tetap berdiri hendak memperkenalkan dirinya. Ini juga adalah kesempatan emas untuk membuat gambaran bagi murid-murid tentang sifat, perilaku, dan identitasnya.


Warna rambutnya yang hitam disertai dengan badan yang berbalut pakaian selaras dengan warna rambutnya yaitu seragam sekolahnya, kini telah berdiri menatap Ibu guru yang berada di depannya seraya berkata ....


”Namaku Yoki mamoru, aku berasal dari kota Okinawa, Jepang.”


”Baiklah, apa ada informasi lain yang bisa dibagikan kepada teman-temanmu di kelas, seperti pekerjaan Orang tuamu mungkin?” tanya bu guru.


”ORANG TUA! … PEKERJAAN! kenapa hatiku jadi panik ketika bu guru menanyakan apa pekerjaan Orang tuaku TIDAK! ... Tidak, aku tidak ingin terngiang ngiang lagi kejadian yang terjadi pada hari itu,” gumamnya meracau dalam hati.


Kenangan buruk yang sudah hilang tertelan waktu, kini kembali terkuak di dalam kepalanya. Membuat badan Yoki berkeringat dingin dengan mata yang bergetar.


”YOKI! … YOKI! ada apa?” tanya bu guru heran.


Begitu pula dengan semua murid di kelas, pandangan mereka semua sekarang sedang ditujukan pada seseorang yaitu Yoki. Seketika, suasana hening menghiasi kelas menunggu jawaban yang keluar dari mulut Yoki.


”Tidak … Tidak bu eee … orang tua saya sebenarnya sudah meninggal sejak sebulan yang lalu.”


Jawabannya sangat pelan dengan kondisi badan yang seperti tadi, tapi dengan perlahan Yoki mulai menenangkan dirinya karena sekarang ia menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya.


Dalam hatinya ia pasti berpikir, kalau kesempatan emasnya sudah hancur gara-gara teror yang datang dari masa lalu.


”Aduh Ibu minta maaf yah, Ibu tidak tahu sama sekali, kalau kamu sudah yatim piatu, sekali lagi Ibu minta maaf yah Yoki.”


Yoki juga memaklumi kalau Bu guru serta teman-teman sekelasnya karena mereka tidak tahu menahu tentang asal usul Yoki.


Sedangkan, ada salah satu murid yang terlihat tidak terkejut dengan perkataan Yoki. Wajahnya dibuat mendatar dengan kedua tangan yang ditekukkan untuk menopang dagunya dan dia adalah Kenichi.


Sementara itu, tanpa mereka sadari sebuah suara langkah kaki seseorang yang mendekati pintu Kelas.


Tiba tiba dari  luar pintu kelas terdengar suara seseorang, ”Maaf bu guru saya telat.”


Semua yang hadir di kelas memalingkan pandangnya dan terlihatlah sesosok bidadari berjalan ingin memasuki kelas, membawa sebuah tas yang dijinjing di samping badannya. Seragam sekolah bertipe ala pelaut dengan warna dominan putih, turut menambah pembawaannya.

__ADS_1


Murid perempuan itu mempunyai badan yang langsing dengan rambut coklat serta mata yang berwarna biru kehitaman, dan ia juga mempunyai tinggi sekitar 164 cm.


Sambil membuka pintu kelas yang belum terbuka sepenuhnya, dia langsung memasuki ruang kelas melangkahkan kakinya ke dalam ruangan disertai dengan senyuman perkenalan pada murid di kelas tersebut.


Langkah kakinya dan cara berjalannya membuat murid di kelas itu membatu.


Mata mereka semua terbelalak melihat wajahnya yang bersinar bagaikan seorang dewi, dengan ekspresi keluguan yang kian terukir di wajahnya, membuat pesonanya semakin membuat siswa di kelas itu diam seribu bahasa.


”Wah wah wah ... siapa lagi nih yang datang untuk memeriahkan kelas kita,” celetuk Terasaka, murid yang berperawakan tinggi besar.


”Dasar mata keranjang berkualitas rendah,” sindir Kenichi dengan nada yang terkekeh-kekeh.


”APA KAU BILANG!!! Kau akan berurusan denganku, lihat saja nanti,” bentak Terasaka yang marah karena sindiran Kenichi.


”Apa ... berurusan denganmu, nggak ah ngapain aku berurusan dengan orang yang tidak pernah berkaca, udah gitu banyak tingkah lagi hihihi ...,” ledek Kenichi.


”KAU!!!”


Terasaka langsung mengambil buku pelajaran di sampingnya yang kemudian ia lemparkan ke arah Kenichi. Seketika, suasana kelas menjadi ribut kembali dan membuat suasananya tidak kondusif karena Kenichi yang menjadi biang keroknya.


"Ehh tidak kena."


Ledekan Kenichi diucapkan seraya dengan keberhasilannya dalam menghindari setiap serangan yang dilancarkan Terasaka. Tentu saja, ia juga berusaha untuk memancing amarah Terasaka agar melemparkan buku lagi kepadanya.


”Sudah sudah masih hari pertama sekolah, jangan pada berantem,” lerai Bu guru.


Wajahnya kembali kesal karena kelakuan Kenichi yang lagi-lagi menjadi pokok permasalahan dalam acara perkenalan ini dan alasannya sudah jelas terukir dalam hati Kenichi, yaitu untuk mencari kesenangan belaka.


Sedangkan, murid-murid serta Gaia hanya diam saja menonton pertarungan antara Terasaka serta Kenichi yang bisa dibilang tidak berguna.


”I-iya bu guru,” ucap Terasaka yang amarahnya tiba tiba saja menjadi reda, seperti terhipnotis oleh perkataan gurunya.


Yah, wajar saja karena bu guru yang berbicara dengannya masih sangat muda dan tidak menutup kemungkinan kalau Terasaka juga memiliki maksud lain pada gurunya.


Wajah semua murid langsung mengarah kesal menatap Kenichi karena mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"KAU!!!"


Bentakkan Terasaka yang semakin tersulut amarahnya dan mengambil buku-buku pelajaran yang berada di depan, samping, dan belakang mejanya, lalu melemparkannya ke arah Kenichi seperti sebuah machine gun.


Sedangkan, semua buku itu bukanlah buku miliknya sendiri melainkan buku-buku milik teman-teman sekelasnya. Yah, para murid hanya bisa diam saja menatap buku-buku mereka yang telah menjadi peluru untuk Terasaka.


Buku-buku terus menerus meluncur di langit-langit Kelas menuju target yang tidak lain adalah Kenichi. Tapi, sayangnya Kenichi dapat menghindari serangan itu dengan sangat mudah dan sekarang ledekan Kenichi pun semakin menjadi-jadi membuat Terasaka yang melempar buku semakin kegilaan saja.


Bu guru yang sudah muak langsung memantapkan langkahnya dan berjalan mendekati mereka, hendak menghentikan pertarungan yang tidak ada henti-hentinya.


"BERHEN ...."


Belum sempat bu guru menyelesaikan ucapannya, sebuah buku berbentuk persegi kotak dengan dashyatnya menghantam muka bu guru.


BUKKK ... bu guru pun langsung KO terkena hantaman peluru berbentuk persegi itu.


"KO!!!"


"Itu Guru kita b*go!"


"Bu guru!" seru serentak murid murid yang ada di kelas itu, sontak menghampiri gurunya yang terkapar tak berdaya korban salah sasaran akibat lemparan Terasaka.


Setelah beberapa saat setelah bu guru kembali sadar dari pingsannya. Dengan gagahnya walaupun masih sedikit oleng, Bu guru kembali bangkit berdiri.


Kini matanya menatap marah dua murid yang telah menjadi biang kerok keributan di kelasnya. Tangannya terlihat mengepal-ngepal geram mengarah ke arah Kenichi dan Terasaka seraya berkata ....

__ADS_1


"Dengar jika hal ini terjadi lagi, ibu tidak akan segan segan untuk meremas kalian dan menendangnya keluar kelas!" perintah bu guru memperingatkan Terasaka dan Kenichi.


GLEKK ..., "Serem juga bu guru," ujar Kenichi dengan alis mata yang dinaikkan dan ludah yang ditelannya.


”KAU!!!” tapi kali ini nada bicara Terasaka menjadi lebih pelan dan mengarahkan perkataannya tadi ke arah Kenichi dengan wajah yang tidak emosional lagi.


”Ya sudah kita lanjut lagi yah, maaf tadi ada gangguan sedikit, kamu lain kali jangan telat lagi yah,” bu guru pun melanjutkan acara perkenalan sambil meregangkan lehernya.


Suasana kelas kini telah kembali kondusif, semua mata mengarah ke murid yang berada di depan mereka.


”Nah sekarang, kamu perkenalkan dirimu terlebih dulu sama teman-temanmu,” ucap bu guru yang mempersilahkan Gaia untuk memperkenalkan diri.


”Baik bu guru, nama saya Gaia Yashashi, teman-teman bisa memanggil saya Gaia,” kata murid perempuan itu.


”Baiklah … silahkan kamu duduk di depan meja Yoki," ajak bu guru mempersilahkan Gaia untuk duduk.


”Terima kasih bu,” balas Gaia sambil menuju tempat duduknya dengan matanya yang sedikit melirik ke arah Yoki.


”Nah sekarang, giliran yang lain juga untuk memperkenalkan diri,” ucap bu guru sambil melanjutkan acara perkenalannya.


”Kenapa yah aku merasa aneh, benda seperti tanduk kecil di kepalanya  seperti menempel, tidak seperti hiasan kepala pada umumnya,” ujar Yoki dalam hati.


Setelah semua murid di kelas itu sudah memperkenalkan diri diri masing-masing.


Bu guru mempersilahkan mereka untuk pulang ketika bel pulang sekolah telah bergema. Karena masih hari pertama sekolah, sehingga tidak ada kegiatan pembelajaran yang berlangsung.


Semua murid di kelas itu pun langsung membubarkan diri keluar kelas. Bersamaan dengan mereka, Yoki keluar dengan menelusuri lorong sekolah sembari melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang sekolah.


Saat sedang berjalan tiba tiba saja langkah Yoki terhenti, karena di dalam hatinya Yoki merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dengan cekatan dia pun memalingkan kepalanya ....


"Ke-Kenichi," ujar Yoki di dalam hati. Kenichi yang ketahuan pun langsung memalingkan pandang ke arah yang lain.


"Yo-ki," ujar Kenichi pula di dalam hati, seperti batin mereka berdua saling bersahut-sahutan satu sama lain. Lalu Yoki pun kembali memalingkan pandangannya ke depan dan pergi meninggalkan Kenichi.


Di saat perjalanan menuju halte bus untuk pulang kembali ke rumahnya ....


"Kenapa yah dia terus-terusan memperhatikanku dari tadi, apa maksudnya?" tanya Yoki dalam hati dengan wajah yang dipenuhi pertanyaan sambil meneruskan kembali perjalanannya menuju halte bus.


Sesampainya di rumah ....


"Aku pulang," sambil masuk ke dalam rumahnya, lalu melepaskan sepatu dan alas kaki sambil mengarahkan langkahnya menuju kamar tidur.


Setelah semua peralatan serta perlengkapan sekolahnya di lepas, Yoki langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Suara keran air mulai terdengar sesaat setelah Yoki masuk ke dalam kamar mandi.


”Haaaah … hari yang melelahkan, bertemu kawan kawan baru yang memiliki sifat sifat yang berbeda pula  ada yang aneh, pemalu, bahkan ada juga yang mata keranjang entah apalagi yang akan terjadi besok.


Tapi, aku penasaran dengan anak yang bernama Kenichi itu, sosoknya seperti ku kenal dan aku merasa jika dia adalah sesuatu yang amat berharga bagiku,” ujarnya sambil mengambil sabun dan diusapkannya ke badan.


Lalu, setelah selesai mandi dia pun melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruang makan, mengambil beberapa makanan untuk disantapnya dan tidur setelahnya.


Di rumah Kenichi ....


"Ayah ... Ibu, aku sepertinya menemukan pengganti kalian untuk melengkapi hidupku yang suram dan penuh kehampaan ini," ujar Kenichi sambil membaringkan tubuhnya di kasur.


Matanya berkaca-kaca menatap ke langit-langit kamar seperti telah menemukan seseorang yang penting bagi dirinya.


Di rumah Gaia ....


"Kenapa aku tidak bisa menghentikan pandanganku dari mereka berdua. Hati ini seperti berdebar-debar, tapi kenapa?"


Pertanyaan Gaia diiringi dengan wajah yang dihiasi dengan rasa penasaran dan juga kebingungan sambil meletakkan kedua tangannya di kepalanya.

__ADS_1


Mereka bertiga telah melirik satu sama lain. Mereka bertiga telah merasakan jika ada sesuatu yang hilang dari antara ikatan mereka dan itulah awal dari takdir yang akan mereka bertiga jalani.


__ADS_2