RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~BAYARAN BAGI PEMENANG~


__ADS_3

Bukan hanya Gaia, bahkan Kenichi juga mampu menemukan sebuah kejanggalan. Yah, itu sih bisa saja terjadi. Dia berbeda dengan penonton lain yang hanya sekedar menikmati jalannya pertandingan.


Lagipula, siapa pun sebenarnya bisa melihat kejanggalan itu. Pukulan drop, pada akhirnya bola kok akan menukik karena pukulan. Tapi jika dilihat dari pukulan Haori tadi, bola menukik sebanyak dua kali. Yang pertama ke arah Gaia dan saat raket Gaia mendekati kok, tiba-tiba saja kok itu menukik menjauhi Gaia ke arah depan.


Artinya, arah bola kok berubah tanpa mengenai permukaan raket sedikit pun.


“Tidak mungkin, bagaimana bisa bola itu menjauhi raketku? Apa-apaan pukulan itu? Jika ada angin juga … pasti datangnya dari arah belakangku.”


Gaia menatap Haori dengan menaruh rasa curiga, bukan pada ekspresi Haori yang terlihat riang, bukan juga karena poin yang dihasilkan lawan. Melainkan murni karena arah jatuh bola yang benar-benar janggal.


“Kenapa arah bola itu bisa berubah? Sulap, kendali jarak jauh. Ahh, apa yang kupikirkan? Itu tidak mungkin terjadi, sebaiknya aku kembali ke dunia nyata dan menganggap ini sebagai keberhasilannya.”


“Haori, kau yang servis lagi.”


“Baik.”


Gaia mengambil bola dan dilemparkan pada Haori.


Untuk selanjutnya, setiap poin Haori bertambah tiga, poin Gaia akan bertambah satu setelahnya. Kejadian ini terus berulang sebanyak tiga kali. Jadi, sekarang total poin yang mereka dapat adalah dua puluh.


Apakah ini sebuah kebetulan? Kenichi dan Gaia sudah merasa janggal dengan poin dan pukulan Haori. Bola kok itu serasa mempunyai remote control yang bisa menggerakkan kok kemana pun yang di mau.


Atau yang lebih jelasnya, kok itu serasa tidak mau bertemu dengan raket yang akan memukulnya. Itu juga bukan penjelasan yang bener sih, mana mungkin benda mati bisa semanusiawi itu.


“Tinggal satu poin lagi untuk menentukan siapa pemenangnya. Walaupun aku tidak mengerti dengan teknik pukulan Haori, tapi aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menang.”


“Gaia, sekarang giliranmu.”


Gaia memulai servis. Suasana semakin memanas, mengingat satu poin lagi mereka akan melihat pemenang dari pertandingan yang sengit ini.


Berbagai pukulan mereka tampilkan. Mulai dari smash, lob, drive dan masih banyak lagi. Bahkan tidak segan-segan, Gaia sampai harus terjatuh berkali-kali demi mengembalikan bola kok.


“Hampir saja.”


Gaia bergumam, sesaat setelah menyelamatkan area di dekat net. Bola yang kembali, dismash Haori ke belakang area Gaia.


Sudah terjatuh di dekat net, kini Gaia harus kembali terjatuh di area belakang miliknya. Gaia langsung meluncur cepat ke arah bola, tapi kejadian tidak terduga terjadi.


Entah karena apa pegangan Gaia pada raket lepas. Alhasil, bola dengan bebas berhasil mendarat di area Gaia dan telah memberikan kemenangan pada Haori.


“Pemenangnya adalah Haori!”


Para penonton dengan lantang menyerukan kemenangan jagoannya. Suasana semakin riuh akan teriakan itu. Begitu pun dengan sang pemenang Haori. Dia terus melompat bahagia setelah mengalahkan salah satu jagoan bulu tangkis di sekolah ini.


Lain halnya dengan Gaia yang masih berada dalam posisi yang menyebabkan kekalahannya tadi. Posisi tiarap, dengan pikiran yang melayang pada sebuah pertanyaan.


“Kenapa, tiba-tiba pergelangan tanganku seperti dipegang kuat oleh sesuatu?”


Sementara Gaia masih membatu dalam posisinya, saat ini Haori telah selesai dengan selebrasi kemenangan. Haori berjalan menghampiri Gaia, mendekat dan saat sampai dia menunduk untuk menyadarkan Gaia.


“Gaia, ayo bangun.”


Sebuah panggilan yang menarik kembali dia ke dunia nyata. Reaksi pertama setelah berada di dunia nyata adalah memalingkan wajah dan menatap Haori dengan posisi tubuh yang masih tetap sama.


Senyum yang manis tapi penuh misteri, setidaknya Gaia masih mengartikan senyuman Haori seperti tadi.


“Oke.”


Gaia tidak mau memikirkannya lebih lanjut. Dia tidak mau menjadi orang yang maniak pada kemenangan, itu dia buktikan setelah kembali berdiri.


“Baiklah, karena aku yang kalah bagaimana kalau aku traktir makan ramen di kedai ramen favoritku. Oh yah, sama Yoki dan Kenichi juga.”


Dia mengatakan itu setelah melihat Yoki dan Kenichi datang menghampiri mereka. Mereka berdua sih tidak mendengar dengan jelas, hanya samar-samar seperti Gaia memanggil nama mereka.

__ADS_1


Sedangkan Haori, semangatnya kembali bergejolak. Siapa juga yang mau menolak setelah diberi hadiah atas keberhasilannya, apalagi diberikan dengan sukarela dari pihak yang kalah.


“Oke, karena itu adalah hadiah yang diberikan Gaia, aku pun tidak akan menolaknya.”


“Ada apa?”


Sebuah pertanyaan dari Yoki dilayangkan setelah mereka berdua sampai di dekat Gaia. Pertanyaan itu sekaligus menjeda kesenangan Haori.


“Kalian tahu, Gaia akan mentraktir kita makan ramen.”


“Uwow! Hebat!”


Sekarang rasa senang telah mengalir dari Haori kepada Yoki dan Kenichi. Mereka berdua begitu senang, tapi yang mengungkapkan melalui kata-kata adalah Yoki.


“Kalian ikut?”


“Tentu saja Haori, kalau gratis sih siapa yang gak mau ikut hehehe ….”


“Kalau Kenichi?”


Haori juga memalingkan mata ke arah Kenichi.


“Tentu saja aku ikut.”


“Ya, ya sudah. Nanti sepulang sekolah kita akan menyempatkan dulu pergi ke kedai ramen terdekat untuk makan siang. Yah, sebelum aku ada kegiatan klub.”


“Yosh, setuju!”


Keduanya menjawab serempak, berteriak dalam kebahagiaan yang sama. Yah terlalu berlebihan sih, sampai harus mengganggu jalan pertandingan teman-teman yang lain. Itu sudah disadari Kenichi, jadi dia hanya tersenyum sembari menikmati kebahagiaan teman-temannya.


*****


Sesuai janji, sepulang sekolah mereka berempat bertemu di depan sekolah. Bahkan, Yoki dan Kenichi sudah hadir terlebih dulu daripada orang yang mentraktir mereka. Barulah setelah 3 menit berlalu, Gaia datang menghampiri mereka.


“Hahaha, kayaknya panggilan makanan gratis telah membuat langkahmu sangat cepat yah Yoki.”


Gaia menampilkan senyum untuk menanggapi kekonyolan Yoki, namun tiba-tiba Gaia seperti merasa ada yang kurang dari mereka. Ahh, setelah dia memaling-malingkan mata dan mengotak-atik ingatannya barulah dia menemukan jawaban dari perasaan tadi.


“Oh yah, dimana Haori?”


“Ahhh aku lupa, dimana yah dia? Padahal tadi dia juga sangat bersemangat.”


Ternyata Yoki juga melupakan Haori, bahkan mungkin Kenichi juga. Yah, padahal mereka baru saja bertemu tadi. Tapi sudah melupakannya dalam sekejap.


“Iya juga sih, kira-kira dimana dia?”


Pertanyaan Kenichi mungkin akan menjadi pertanyaan yang terakhir, itu karena orang yang sedari tadi mereka tunggu telah menampakkan batang hidungnya.


“Akhirnya, Haori!”


Mendapatkan sapaan dari Yoki, spontan membuat Haori menjadi bingung. Soalnya, dia heran karena merasa menjadi orang yang sedang ditunggu oleh mereka bertiga.


“Ada apa Yoki?”


“Heh! Ada apa dengan ekspresimu, apa kamu sakit?”


“Sakit? Sakit, apa maksudmu?”


Ada sebuah keanehan yang terlintas di dalam pikiran Yoki, jadi wajar saja kalau Yoki mempertanyakannya. Begitu pun dengan Gaia dan Kenichi, walaupun diam tapi mereka tetap memasang ekspresi yang sama dengan Yoki.


“Tapi tadi kamu sangat bersemangat sekali, kenapa sekarang jadi terlihat murung?”


“Entahlah Yoki, aku agak sedikit pusing.”

__ADS_1


“Kenapa?”


Giliran bertanya Yoki, tiba-tiba direbut Kenichi. Dia agak tertarik dengan siswi baru yang semenjak awal masuk selalu mendekati mereka. Bukan hanya itu sih, dia juga masih kepikiran dengan pertandingan badminton tadi. Tepatnya, pada setiap pukulan yang dilayangkan Haori.


“Entahlah.”


“Ya sudah, kalau gitu kita dinginkan kepalamu dengan traktiranku.”


“Sip, benar itu Haori.”


Dengan semangat yang menggebu-gebu, Yoki membalikkan pandangan menatap Haori. Nadanya sih seperti menasehati, tapi niat yang sebenarnya dia hanya ingin cepat-cepat makan ramen.


“Traktiran?”


“Heh?”


Apa-apaan pertanyaan yang dilayangkan Haori, dia seperti anak yang baru bertemu mereka sepulang sekolah. Bukankah saat pelajaran olahraga dia sudah mendengar ajakan Gaia, bahkan ekspresi kegirangannya saja sebanding dengan Yoki.


Berbeda dengan yang sekarang, ratu wajah dan nada bicaranya tadi agak … aneh dan berbeda. Sependapat juga dengan Yoki, Gaia, dan Kenichi yang juga merasakannya.


“Ahh sudahlah, jadi apa yang Gaia mau traktir?”


“Bu-bukannya tadi sudah kubilang, aku akan mentraktir kamu serta Yoki dan Kenichi makan ramen?”


“Benarkah? Wah, itu sangat hebat.”


Ya, jawaban dan ekspresi Haori sih sesuai dengan perkataan Gaia. Tapi, isinya benar-benar aneh. Seperti dia baru diberi tahu sekarang dan ada apa dengan euforianya, sangat berbeda dengan ekspresi yang ditampilkan Haori saat pelajaran tadi. Seperti telah menghilang.


“Kita … langsung ke sana ajalah. Lagipula nanti Gaia juga harus ikut kegiatan klubnya.”


“Halah, bilang aja mau cepat-cepat makan.”


“Hahaha … kayaknya Kenichi yang paling tahu sifatku.”


Akhirnya mereka meninggalkan rasa curiga pada Haori, walaupun memang masih ada keganjalan di hati. Alhasil, timbul berbagai argumen yang hanya sebatas gumaman. Mungkin Haori sakit, mungkin Haori sedang ada masalah, atau mungkin Haori memang pelupa.


Yah, pada dasarnya semua itu hanya berdasarkan pengetahuan sendiri. Jadi tidak perlu ada lagi yang diperdebatkan, namun tetap saja mengubah suasana yang semula ceria menjadi suram.


“Haaah ... ramen ini memang yang terbaik.”


“K-kau yakin makan segitu Yoki?”


“Tenang baru 2 mangkuk kok.”


“Dua darimana! Itu empat oy!”


Bukan tanpa bukti, itu semua berdasarkan tumpukan mangkuk yang berjumlah empat. Benar-benar nafsu makan yang luar biasa, bahkan sampai yang memakan pun tidak sadar. Gak apa-apa sih sebenarnya, tapi ….


“Oh iya, ada empat. Untung aja gra ….”


“Gratis katamu!”


“Awww ….”


Tapi bukan berarti dia bisa makan seenaknya, itu semua kan dibayar oleh Gaia. Alhasil, jitakan adalah solusi yang tepat untuk konflik ini.


“Gratis kan katamu, huh ….”


“Ampun, ampun.”


Yoki mundur untuk menghindari amarah sang singa. Singa itu tidak lain adalah Gaia, dia beraksi setelah melihat jumlah mangkuk yang telah dihabiskan Yoki. Jika Gaia punya uang banyak sih gak papa, tapi dia kan hanya orang biasa yang cuma punya uang pas-pasan.


“Hahaha .… enak Yoki?”

__ADS_1


“Mana ada.”


Tapi tenang, suasana sudah pasti mereda. Kenapa? Karena pada akhirnya mereka akan berhenti dengan perasaan sebagai sesama teman. Tidak mungkin mereka akan terpecah hanya karena masalah yang kecil seperti ini.


__ADS_2