RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MENDALAMI UNTUK MENDAPATKAN MAKNA~


__ADS_3

“Baiklah, aku mulai.”


Setelah mencatat bait pertama, Eiji mengajak Gaia untuk mendekat.


“Menurutmu, apa artinya ini?”


“Aku tidak tahu pak, tapi kayaknya tentang kekuasaan.”


“Baris keempat ini agak membingungkan. Darah daging dan sesama, apa maksudnya mereka saudara?”


Gaia terdiam, sekarang dia lebih seperti seorang penonton. Hanya bisa mendengar dan memahami apa yang dijelaskan Eiji.


“Lalu buah,” tiba-tiba Eiji menjentikkan jari, dia menemukan sesuatu, “Berarti anak dari saudaranya. Karena darah daging dan sesama berarti memiliki satu arti yaitu saudara. Lalu buah adalah anak sesama atau saudaranya itu.”


Yang penting satu baris di satu bait sudah terjawab, walaupun Gaia masih heran dengan alasan Eiji untuk memilih baris keempat terlebih dulu.


“Kalau baris ketiga, masalah apa yang menyangkut hal ini?”


Eiji bertanya-tanya. Sedangkan Gaia, ada sesuatu yang terlintas ketika dia menbaca ulang teks itu.


“Status, eee … maksudku kedudukan.”


“Perfect, nice.”


Akhirnya Gia bisa berguna juga, dia sudah gatal untuk membantu Eiji menyelesaikan masalah ini. Yah, itu hanya sekedar rasa tidak enak saja, karena yang meminta untuk Eiji membantu adalah Gaia.


“Untuk baris ketiga … uhm, mungkin telah terjadi pemberontakan. Tapi, untuk apa orang itu membunuh anak saudaranya?”


Memang sih masih dipenuhi tanda tanya. Tapi setidaknya, mereka sudah mendapat kemajuan, walaupun masih samar-samar.


“Kalau untuk baris kesatu dan kedua aku berpikir tentang kelahiran, karena tanggal kelahiran ditentukan sejak bayi keluar dari rahim induknya. Nah, yang jadi pertanyaannya … apa hubungan dari baris satu, dua dengan tiga dan empat?”


Mau dipikir-pikir pun, Eiji hanya mendapatkan jalan buntu.


“Tapi udah dulu, kamu lanjutin baca bait kedua sekaligus bait ketiga.”


Gaia mengangguk, dia sudah siap membaca kelanjutannya.


Memang tak semanis namamu.


Tanganmu ringan dalam darah.


Kau tunas, tapi juga parasit.


Nyawa pun kau jual pada nafsu.


Tanggalan kembali terulang.


Malam itu merah darah.


Harum bunga bangkai hanya khayalan.


Inilah rangkuman yang memelukmu.


“Gatcha, aku dapat jawabannya.”


Tiba-tiba Eiji kegirangan, tawanya dilepaskan semua. Membuat Gaia yang baru selesai membaca, tersentak. Eiji maklum ketika melihat Gaia mengeluarkan ekspresi seperti itu, jadi semua harus dia jelaskan terlebih dulu.


“Gini, gini. Jika kita hanya membaca bait pertama, mungkin kita akan mengira kalau yang lahir itulah pelaku pemberontakan. Tapi aku mengacu pada sebuah kalimat di bait kedua.”


Eiji mengambil pulpen dan menulis di kertas, dia menunjukkan hasil tulisannya pada Gaia.


“Kau tunas tapi juga parasit artinya dia itu masih kecil.”


“Ya, berarti dia lahir saat lingkungannya sedang terjadi sebuah pemberontakan. Tidak mungkin dia yang masih sekecil itu bisa mendapat kepercayaan untuk memimpin pemberontakan. Lagipula …,” Eiji menunjuk gaun bercorak yang masih terlipat rapi di atas meja, “Gaun itu sangat kecil dan yang bisa memakainya mungkin anak-anak kisaran balita.”


Sesuatu terlintas di kepala Gaia, terjadi saat dia melihat gaun bercorak sambil mendengar penjelasan Eiji. Mungkin bisa diibaratkan seperti sebuah flashdisk yang dimasukkan ke dalam komputer. Namun tidak sesimpel itu, sesuatu yang masuk ke dalam kepala Gaia telah memberikan efek buruk pada dirinya.


Cukup buruk sampai Gaia harus menahan rasa sakit itu dengan kedua tangannya. Dia berjongkok dengan segala upaya yang dimiliki. Rasa sakit yang terjadi telah menghasilkan sesuatu. Hasil yang dimaksud adalah cuplikan sekilas yang berganti dengan sangat cepat. Gaia masih bisa menangkap beberapa cupikan yang muncul. Seperti pesta, kuburan, dan hutan.

__ADS_1


“Gaia, sadar!”


Barulah Gaia sadar setelah Eiji menepuk pundaknya beberapa kali. Rasa sakit tadi juga menghilang dalam sekejap. Lenyap, meninggalkan Gaia yang kembali ke dunia nyata dengan tatapan yang kosong.


“Apa yang terjadi?”


“Ti-tidak ada, aku tidak apa-apa. Apa kita bisa melanjutkannya?”


Eiji berpikir sejenak, tidak mungkin dia akan melanjutkannya. Baru segitu saja, reaksi yang dikeluarkan Gaia sudah seperti itu. Apalagi kalau dilanjutkan, dia tidak mau bertanggung jawab kalau sampai nyawa Gaia berada dalam bahaya. Bisa-bisa, dia dituding polisi melakukan tindakan kriminal terhadap Gaia.


“Kurasa .…”


“Kumohon, tolong lanjutkan. Aku tidak keberatan dengan berapa pun uang yang mau pak Eiji minta.”


Apa-apaan wajah itu. Eiji membayangkan seorang bidadari tak berdaya yang sedang meminta tolong padanya. Kedua tangan Gaia yang sedang memegang tangannya saja sampai berhasil mengucurkan keringat.


Halus, lembut. Sebuah tangan penuh kesederhanaan. Apakah Eiji sanggup menahan ini? Mungkin secara akal sehat dia akan menolak permintaan Gaia, tapi tidak secara hati nurani.


“Ya-ya sudah, tapi resikonya aku tidak tanggung.”


Siapapun pasti juga tahu, motif di balik ucapan yang keluar dari wajah yang memerah itu. Eiji sebenarnya berusaha membohongi Gaia, kekuatiran Eiji juga sangat besar pada keselamatan Gaia. Tapi ya sudahlah, Gaia yang polos hanya mengangguk karena sudah disetujui permintaannya.


“Tapi, jelaskan padaku apa yang terjadi padamu tadi?”


“Aku juga tidak tahu, tapi entah kenapa saat pak Eiji menyinggung gaun itu … kepalaku seperti sedang dimasuki sesuatu.”


Eiji merenung sejenak, dia hendak berdiskusi dengan dirinya sendiri.


“Dimasuki sesuatu? Apa kerasukan? Tapi tiba-tiba tubuhnya bisa menolak roh yang masuk secara paksa. Apalagi indra keenamku tidak menangkap adanya mahkluk yang ada atau sedang pergi ke arah Gaia.”


Merasa tidak menemukan jawaban, Eiji memutuskan untuk bertanya.


“Apa kamu ingat dengan yang terjadi padamu waktu umur lima tahun ke bawah? Kalau tidak, apa kamu punya foto waktu kamu masih umur segitu?”


“Itulah yang aku selalu tanyakan sedari kecil. Tapi ibu dan ayahku tidak bisa menjawab, mereka selalu membalasnya dengan ‘nanti kamu akan tahu, saat kamu melampaui batasanmu’. Padahal, sampai sekarang pun aku tidak tahu jawabannya.”


“Apakah itu artinya … mereka bukan orang tuamu?”


Mata Gaia terbelalak, dia ingat sesuatu.


“Ahh iya, waktu itu aku tidak tahu kenapa mulutku spontan berkata ‘Jangan mengejek nama yang diberikan orang tua tiriku’. Itulah kata-kata yang spontan keluar dari mulutku.”


Tiba-tiba tubuh Eiji merinding. Bulu kuduknya saja sampai berdiri. Dia tak kuasa menahan beban tubuh, sehingga memutuskan untuk duduk kembali.


“Co-coba kita lihat lagi bait yang kedua ini.”


Gaia saja sampai keheranan dibuatnya.


“Ada apa pak Eiji?”


“Itu karena … mereka semua ada di sini.”


Gaia memandangi keadaan di sekitarnya. Tidak ada apa-apa, mungkin karena Gaia tidak memiliki indra keenam seperti Eiji. Yang dia lihat hanya barang-barang kuno yang jadi ornamen ruangan, selain itu dia tidak melihat hal aneh yang dibicarakan Eiji.


“Mereka hanya bisa dilihat oleh anggota keluarganya.”


Kepala Gaia kembali, dia tersentak pada ucapan Eiji.


“Siapa yang pak Eiji maksud?”


“Keluarga Natsuki.”


Gaia menyadari sesuatu dari ucapan Eiji. Dia berinisiatif mundur, untuk lari dari tempat ini. Dia tidak mau kejadian tadi terulang lagi.


“Lebih tepatnya keluarga haram.”


Tunggu, Gaia terhenti sesaat. Dia malah jadi penasaran pada kalimat tadi. Kakinya maju kembali, dia bergerak berdasarkan insting. Instingnya berpikir, Gaia sudah sampai sejauh ini, mana mungkin kesempatan emas akan dilepaskan kembali.


“Apa … maksudmu?”

__ADS_1


“Aku adalah anak haram dari keluarga itu. Lebih tepatnya, hasil perselingkuhan salah satu anggota keluarga Natsuki dengan orang luar.”


Eiji sudah tidak peduli lagi dengan mahkluk-mahkluk yang sedang menonton mereka. Dia pun memaksakan diri untuk berdiri. Dia sudah capek menutup-nutupi fakta itu selama ini.


“Lagipula yang berselingkuh dari pihak mereka adalah seorang wanita, jadi sudah pasti aku tidak dianggap.”


“Begitu yah.”


Gaia agak tidak enak, dengan tidak mengetahui kebenarannya dia sudah menuduh Eiji yang bukan-bukan.


“Haaah sudahlah, gak papa. Kita lanjutkan?”


“Apa mahkluk-mahkluk itu akan membahayakanmu kalau kita melanjutkannya?”


“Kurasa yang seharusnya kuatir adalah dirimu. Karena mereka datang karenamu.”


Seketika Gaia merinding lagi, Sensasi menyeramkan kembali menyekapnya. Tapi tenang saja, dia menutupinya dengan sempurna. Hanya saja bayangan saat dia pergi ke onsen Natsuki, kembali terngiang.


“Aku ingin mencari tahu tentang kalimat di baris pertama ini.”


Gaia melihat apa yang sedang ditunjuk Takezawa.


“Memang tak semanis namamu?”


Di saat itulah Gaia mengingat perkataan Yoki. Harapan yang dimaksud Yoki adalah manis. Itu artinya, Gaia tinggal mencari nama yang berarti manis.


“Apa maksudmu kita akan mencari nama yang memiliki arti manis?”


“Tepat. Tapi, nama yang memiliki arti seperti itu sangat banyak.”


“Uhm, kertas ini kan ditulis dalam bahasa yunani kuno, mungkin namanya berasal dari negara yunani.”


Binggo, sebuah pemikiran yang cepat dan tepat. Dengan begitu, Eiji bisa terbantu. Semangat mereka berdua kembali mencuat, setelah menurun karena gangguan tadi.


“Nice, ada gunanya juga kamu di sini.”


Gaia hanya tersenyum bangga.


“Baiklah, kita akan cari di internet.”


Hanya beberapa kalimat yang diketik, browser yang mereka pakai sudah merambah ke seluruh dunia. Semua informasi terkumpul di satu layar, Eiji tinggal memilah situs yang dia inginkan.


“Ada beberapa nama sih, aku tidak bisa memastikan.”


“Anu, apa aku boleh catat nama-namanya?”


“Silahkan.”


Gaia masih sibuk menyelesaikan catatannya, sedangkan Eiji sedang fokus dengan tulisan hasil terjemahan tadi.


“Tanganmu ringan di dalam darah ….”


Tiba-tiba muncul rasa takut dan gelisah yang mendalam dari Eiji. Dia merasakannya setelah membaca baris kedua dan keempat. Kedua baris itu terus diulang, hingga ada sesuatu yang janggal di pikiran.


Ada beberapa kemungkinan yang dapat disimpulkan di sini. Bahkan kemungkinan paling kejam pun sempat terpikirkan oleh Eiji.


“Ada apa?”


“Ahh … tidak-tidak, aku hanya … sedang tidak fokus saja.”


Gaia sih tidak percaya, lagipula akting yang dilakukan Eiji sedari tadi sangatlah buruk.


“Beritahu aja pak, kumohon.”


“Haaah … baiklah, di baris kedua dan keempat ini seperti tertulis sesuatu yang mengerikan. Menurutku, bait kedua ini bercerita tentang seseorang. Jika aku artikan secara kasar dari atas ke bawah .…”


Eiji tidak kuat untuk membicarakannya. Walaupun hanya kemungkinan, tapi kemungkinan itu akan terdengar sangat mengerikan. Orang tadi saja Gaia sudah menunjukkan reaksi yang seperti itu, saat dia menyinggung tentang gaun.


“Ada seorang gadis yang arti namanya manis. Gadis itu masih kecil, tapi dia sudah menjual jiwanya pada nafsu. Nafsu disini kurasa nafsu membunuh karena bait kedua mengatakan dia ringan dalam darah.”

__ADS_1


__ADS_2