
“Baiklah, kalau itu memang yang kamu inginkan. Aku juga tidak mau jadi korban tak bersalah yang melihat celana dalammu.”
“Heh!”
Akhirnya Yoki mau melakukan serangan, walaupun alasan yang diberikan agak aneh. Sebenarnya, dia juga ingin berlindung. Yang dilindungi di sini adalah mental dan mata Yoki yang masih bersih, menurutnya.
Yoki menangkap dan menarik kaki Haori yang menjadi senjata. Otomatis badan Haori terbawa ke arah Yoki, hal inilah yang bisa disebut sebagai ‘menyelesaikan serangan yang ditunda’. Dengan tangan yang sama, Yoki akan menyelesaikan urusan yang sempat tertunda tadi. Namun, kejadian yang tak terduga terjadi.
“Kyaaaa ….”
“Heh! Heh!”
Senjata Yoki malah nyasar ke bilah dada Haori. Sudah dia duga ini akan terjadi, firasatnya terus berkata buruk sedari tadi. Dia langsung memegangi tangannya yang nakal, barharap ada pertobatan bagi tangannya. Sedangkan langkah Yoki menjauh, dia merasa seperti seorang pelaku kejahatan, Haori yang terbaring di tanah saja sampai keheranan.
“Maaf … maaf … maaf ….”
Yoki berulang kali meminta maaf, bahkan dipertegas dengan tangan dan tubuh yang sedari tadi terus dibungkukkan ke bawah.
Aneh, itulah yang Haori komentari dari tindakan Yoki yang amat polos. Yoki seharusnya tahu, dengan resiko yang bisa saja terjadi dalam pertarungan berbeda gender. Dia harus siap dan mau menerimanya, kalau tidak, dia tidak mungkin menang.
“Kamu sensitif sekali dengan perempuan.”
“Aaa … anu, yah gitulah. Aku emang sensitif apalagi sama cewe selain Gaia. Karena aku dan dia sudah lama saling kenal,” Yoki melirik bulan sesaat, “Yah, dalam beberapa hal … aku agak canggung dengannya.”
“CIKH … kau ini, masih saja membandingkan kebersamaanmu dan Gaia denganku.Pertemanan kalian itu baru seumur jagung.”
Haori bangun dengan perasaan kesal, dia benar-benar marah. Wajah memerah Yoki, Haori ingin segera membungkam ekspresi itu.
“Memangnya, seberapa lama itu penting yah?”
“Dasar!”
Saat Haori membuang pandang, tak sengaja dia menemukan kayu. Sesuatu terlintas di kepalanya, dia ingin menjadikan kayu itu sebagai senjata. Jaraknya sih tidak jauh, cuma 3 meter. Sebentar dia pergi mengambil kayu, lalu kembali ke tempat asalnya.
“Kalau sihirku memang sudah tidak berfungsi, mungkin aku harus menggunakan kekuatan fisik.”
Haori membolak-balikkan kayu itu, dia hendak mengecek kondisinya. Bagi Yoki, tindakan Haori sedikit aneh dan tidak berarti apa-apa. Itu cuma kayu, begitulah sugesti orang-orang awam seperti Yoki.
“Oh yah Yoki, kayaknya aku sudah tidak punya waktu bermain lagi bersamamu.”
“Baiklah, kalau itu ….”
Peringatan dari insting Yoki muncul. Kabar yang sangat buruk, tapi Yoki tidak tahu kabar buruk apa yang akan muncul. Badannya entah kenapa tidak enak, menyebabkan ucapannya menjadi tertunda.
“Aku akan akhiri sampai di sini.”
Kaki kiri Haori ada di posisi belakang, sedangkan kaki lain yang masih berada di depan ditekuk. Haori mengambil ancang-ancang terlebih dulu, disaat Yoki masih terganggu dengan firasat. Barulah setelah itu, kaki depannya menghentakan tanah.
“Aerodynamics!”
Tolakan terjadi dan apa yang terlihat selanjutnya adalah hal yang tidak terduga. Kecepatan Haori meningkat tajam setelah tolakan, bahkan melebihi mobil ataupun motor.
Saking cepatnya, Yoki sampai tidak sadar kalau perutnya sudah tertebas kayu yang ada di genggaman Haori. Haori mengambil finish tepat berada di belakang Yoki yang terpaut 5 meter. Diakhiri dengan Yoki yang terjatuh ke tanah.
Dalam wajah kosong, Yoki tumbang. Dia sama sekali tidak tahu dan hanya terdiam pasrah, menerima serangan telak yang Haori lancarkan.
“Haaah, akhirnya, akhhh ….”
__ADS_1
Haori merasakan sesuatu yang janggal, letaknya berada di perut. Mengganggu euforia kemenangannya saja, selebrasi Haori pun harus ditunda sebentar.
Mau bagaimana lagi, dia pun terpaksa mengecek sumber kejanggalan. Ternyata, ada sebilah pisau yang telah menyebabkan Haori batuk berdarah. Pisau itu jugalah yang tertancap di perutnya.
Masih merenungi luka yang bersarang di tubuh, Haori sadar kalau dia tidak boleh meremehkan Yoki. Banyak kejutan yang mungkin bisa terjadi dalam sebuah pertarungan, mau itu yang sudah berpengalaman atau yang masih seumur jagung, semua hanya diberi kesempatan yang sama.
“Ternyata kau masih memiliki insting bertarung juga, yah?”
Haori memalingkan mata, dia tidak bisa menghiraukan Yoki walaupun dia sudah terjatuh. Keputusan dan tindakan yang tepat. Perut Yoki memang sudah tertebas, ada sayatan luka yang melintang horizontal sebagai bukti.
Namun, apa yang tidak bisa dia hiraukan adalah ketahanan Yoki. Haori mengetahui rahasia Yoki, jauh melebihi Yoki itu sendiri. Ketahanan itu membuat tubuh Yoki masih bisa bergerak, dengan kata lain … hidup.
Seharusnya luka yang seperti itu dapat membunuh orang, tapi tidak terjadi pada Yoki. Sekarang saja Yoki sudah bangun dan memalingkan kepala ke arah Haori. Dengan kesadaran yang samar tentunya.
“Ahhh … pergerakan apa itu? Aku sama sekali tidak melihatnya.”
Yoki memang masih hidup, tapi dengan luka yang kritis. Sayatan horizontal terus mengeluarkan darah. Percuma Yoki memegangnya, karena ukuran dari sayatan yang lebih besar dari tangannya sendiri.
“CIKH, tenang saja … lukamu akan sembuh. Setidaknya dia tidak akan membiarkanmu mati.”
“Hah! Siapa maksudmu?”
“Haaah … dia yang ada di tubuhmu.”
Untuk kesekian kalinya, Haori memberikan jawaban yang dapat membuat siapa saja bingung. Jawaban itu termasuk ke dalam kategori yang tidak bisa diterima nalar manusia, yang sudah pasti tidak mampu dijawab oleh pengetahuan umum.
“Tapi jika insting itu tidak ada, mungkin ini tidak akan seru bukan?”
Haori kembali ke posisi menyerang seperti tadi, Yoki harus waspada. Dia tidak mengerti mekanisme serangan itu, tapi jika lebih was-was, mungkin dia bisa menangkis serangan Haori.
“Ngomong-ngomong, serangan tadi adalah salah satu jenis serangan fisik murni. Namanya Aerodynamics.”
“Kita lihat, apa kau bisa menangkis seranganku lagi.”
Haori mengambil ancang-ancang dan pola serangan yang sama. Lintasannya lurus, mengarah langsung ke arah Yoki dan kurang dari sedetik, kejadian tidak terduga kembali terjadi.
Tangan kiri Haori putus, itu adalah tangan yang digunakan untuk menebas tubuh Yoki. Terjadi pada saat Haori hendak mendaratkan serangannya.
Haori pun secara reflek langsung menjauh dari Yoki dan ... seorang pengganggu. Kini kayu dan satu tangan Haori sudah tidak bersama lagi dengan tubuh utama. Darah yang mengalir deras pun menjadi akhir yang buruk.
“Huhuhu … ternyata kau sangat lihai dan lincah yah … Ke-ni-chi.”
Pujian yang menarik, Kenichi tidak menyia-nyiakan itu. Dia mengangkat tangan kirinya dan diarahkan ke kepala.
“Ahh, itu hanyalah keberuntungan orang pintar saja.”
Haori masih menatap Kenichi sesaat. Dia hendak merefleksikan sesuatu.
“Entah orang ini yang terlalu hebat atau Terasaka yang terlalu lemah, luka yang ada di badannya sudah pasti akan membuatnya kelelahan. Tapi yang kulihat ini, stamina dan kekuatannya masih terasa seperti baru. Belum lagi tindakannya.”
Haori menatap luka di tangannya yang putus. Begitu miris, lengan bawah dan sedikit lengan atas telah dipisahkan oleh bilah pisau yang Kenichi kenakan tadi.
“Bahkan, aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya. CIKH … mungkin karena aku terlalu gegebah.”
Sedangkan disisi lain, Yoki langsung memukul kepala Kenichi agar berbalik padanya. Saat Kenichi berbalik, ada bercak darah yang menjadi buntut tindakan Kenichi. Walaupun Yoki merasa tidak nyaman, tapi dia ingin mengatakan sesuatu pada Kenichi.
“Kenichi … apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan tadi?”
__ADS_1
“Sadar seratus persen kok.”
“Tapi, apa kamu tahu kalau yang dipotong pisaumu itu adalah tangan?”
“Yap. Gimana, pisauku tajam kan? Yah, walaupun sudah potong, nanti aku minta ganti sama Haori sajalah,” Kenichi mengalihkan pandangan pada Haori yang masih terdiam di sisi lain, “Lagipula, entah kenapa tangan Haori itu agak … rapuh.”
Sekilas Kenichi menatap pisau yang ada di tangannya, tinggal tersisa gagangnya saja. Lalu, dilanjutkan dengan melipat kedua tangan di belakang kepala.
“Heh! Apa kamu sudah gila?”
Kenichi menatap Yoki lagi. Ada ekspresi menghakimi dari wajah Yoki. Kenichi tidak merasa bersalah dengan raut itu, dia pun memberikan pembelaan dengan mengarahkan telunjuk ke perut Haori.
“Pisau yang tertancap di perut Haori … karena ulahmu, kan?”
“I-itu … maksudku, itu bukan ulahku.”
Kenichi langsung merangkul pundak Yoki, dia ingin menghilangkan kegelisahan temannya.
“Ahh, jangan gugup. Kamu harus bisa beradaptasi saat menghadapi situasi yang seperti ini. Lagipula aku tidak masalah kok, kalau kamu make pisau yang dipinjam dariku.”
“Kenichi, kayaknya kamu tidak ragu-ragu saat menebasku yah.”
Haori tiba-tiba masuk ke dalam obrolan mereka.
“Ahh Haori, tentu saja. Kau juga terlalu cepat sih, kalau dipelaninkan kita bisa ngomong. Lagipula, kau juga tidak ragu-ragu saat mengirim surat peringatan padaku.”
Nampaknya ada sedikit bumbu sindiran yang ditambahkan. Haori tidak menyangkal itu, dia hanya tersenyum saja. Tanda kalau dia mengapresiasi balasan Kenichi.
“Huhuhu, selain ototmu, mulutmu juga hebat dalam berbicara.”
“Yang lebih penting lagi, apa kamu mau melanjutkan pertarungan lagi? Atau mau menyerah?”
Sekilas Haori melirik lukanya, dia hendak memutuskan dengan luka yang menjadi dasar. Masih mengalir. Dugaan Kenichi, Haori tidak akan berani melawan, karena Haori harus segera mendapatkan perawatan.
Lukanya saja sudah separah itu, apalagi dengan kedatangan Kenichi yang semakin membuat Yoki unggul. Baik dari segi jumlah, maupun kekuatan.
“Kau pikir luka sekecil ini akan menghentikanku, Multifunction Teleport,” dari tangan yang masih tersisa, keluar dua bilah pisau yang sudah ia genggam erat, “Tentu saja jawabanku tidak.”
Ternyata ucapan Haori bukan sekedar bualan belaka. Tindakannya jauh melebihi perkataannya, bahkan terkesan mustahil bagi Kenichi.
Kalau untuk Yoki sih, dia sudah beberapa kali melihat hal-hal aneh yang dilakukan Haori. Jadi dia masih bisa mengendalikan diri, walau masih tidak tahu jawabannya.
“Yoki, kenapa dia bisa melakukan itu? Terus, larinya tadi juga sangat cepat. Aku yang menebasnya saja hanya berbekal keberuntungan.”
“Haaah, entahlah. Yang pasti ada hubungannya dengan sihir dan mana.”
Kenichi menyoroti dua kata di sini. Kerutan di kedua mata Kenichi semakin betambah.
“Sihir, mana. Ma-mana mungkin ada yang seperti itu.”
“Entahlah, sekarang kita sudah lihat kan.”
Memang sih masih belum dapat diterima penuh oleh otak Kenichi, tapi apa yang dia lihat sekarang adalah bukti. Mau mengelak bagaimana. Dalam menyatakan sesuatu, bukti mempunyai nilai yang paling besar. Walaupun bukti masih bisa direkayasa, tapi apa yang ada di depan mata Kenichi adalah kebenaran.
“Baiklah, sekarang mari kita mulai.”
Satu pisau di tangan kanan Haori, sedangkan satu lagi dia gigit di mulut. Haori tidak memungkiri kalau Kenichi bingung dengan tindakannya. Tapi baguslah, dengan begini mereka akan semakin was-was dan gelisah karena tidak mempunyai jawaban.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi, Haori langsung mengambil ancang-ancang seperti tadi. Dia hendak memakai jurus yang sama. Yoki tahu itu, tapi sekali lagi, dia sama sekali tidak punya cara untuk mengatasinya. Yang tadi saja berhasil karena keberuntungan. Lalu, apa ada keberuntungan yang tersisa di pihak mereka?