RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~BERDISKUSI~


__ADS_3

Keesokan harinya, Gaia terbangun di dapur tempat terakhir kali dia berada. Matanya langsung terbelalak, saat mengingat mimpi-mimpinya yang kemarin. Aneh dan menyeramkan, itulah yang dipikirkan Gaia.


“Aku harus segera memanggil Yoki.”


Gaia berlari ke kamarnya, mengambil ponsel yang ada di tasnya. Lalu menghidupkan ponsel tersebut. Pertama ada notifikasi yang tertera di ponselnya, Gaia langsung memeriksa notifikasi tersebut.


Isinya, hari ini sekolah terpaksa diliburkan karena kejadian kemarin. Gaia sedikit senang dengan berita itu, lalu segera mencari kontak Yoki dan Kenichi untuk mengirimi mereka sebuah pesan.


Di rumah Yoki .…


Keadaan rumah Yoki berantakan, karena tuannya tidak mengurusnya. Hari ini adalah hari yang cocok untuk melakukan kegiatan kesukaannya. Tapi, Yoki tidak memilih pilihan itu.


“Haaah, aku masih terpikir kejadian kemarin.”


Yoki bergumam di depan meja belajarnya. Dia ingin berubah, setelah melihat kematian gurunya yang tragis. Apalagi pesan itu, seperti pesan terakhir gurunya.


“Hik … hik … kenapa aku begitu teledor?”


Bahkan meja belajar telah menjadi sebuah pengingat, akan memori yang sangat tidak mengenakan itu.


“Hmmm ….”


Sebuah notifikasi muncul di ponselnya, dia langsung membuka dan mengecek notifikasi tersebut. Sebuah pesan, yang nama pengirimnya adalah Gaia.


“Dia ingin bertemu denganku.”


Tanpa berlama-lama lagi, Yoki langsung berganti pakaian dan bergegas pergi ke tempat yang dijadikan Gaia sebagai tempat pertemuan mereka bertiga.


Di rumah Kenichi ….


Keadaan Kenichi, kurang lebih sama dengan kedua temannya. Dia duduk di tangga rumah, hendak merenungi kejadian kemarin.


“Apa yang aku harus bilang ke Terasaka?”


Mengalihkan pandangan ke depan.


“Padahal dia sudah percaya padaku, tapi aku malah tidak bisa menepati permintaannya.”


Sekarang Kenichi sedang memikul beban pikiran yang berat. Pikirannya larut dalam masalah kemarin. Itu bukan masalah yang sepele sebenarnya, karena dia sudah diberi kepercayaan dan dia tidak dapat menjaganya.


Suasana rumahnya begitu hening sepi, bahkan lampu pun tidak dia nyalakan. Dia hanya mengandalkan cahaya bulan sebagai penerang, sehingga cahayanya hanya bisa menembus melewati jendela.


Masih merenung, tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi dari ponselnya. Dia memilih untuk tidak mengabaikan notifikasi itu, siapa tahu penting.


“Gaia memintaku untuk bertemu. Haaah, baiklah … mungkin untuk menjelaskan kejadian kemarin.”


Kenichi pun bergegas pergi ke tempat yang dimaksud Gaia. Sekarang mereka bertiga akan bertemu dan membahas sesuatu.


Di kafe, tempat yang ditentukan Gaia sebagai tempat pertemuan mereka.


“Jadi, ada apa kamu mengundang kami kemari?”


Pertanyaan Yoki turut mewakili pertanyaan Kenichi. Tapi sebelum menjawab, Gaia hendak meneguk minuman yang ada di hadapannya.


“Aku mengundang kalian …,” Gaia memajukan badan hendak mendekatkan wajah dengan mereka berdua, “Karena aku ingin curhat kepada kalian. Karena kurasa, aku tidak bisa mengatasi ini sendirian dan tentu beban ini terlalu berat bagiku.”


Bukan hanya Gaia, bahkan mereka berdua turut memajukan badannya. Sekarang semua menjadi serius, bahkan minuman mereka saja tidak bisa menetralkan suasana ini.


“Kalian masih ingat kan kejadian di onsen itu?”


Mereka berdua mengangguk, pertanda kalau ingatan mereka masih bagus.


“Nah, keesokan harinya terjadi peristiwa dimana aku membenturkan kepalaku ke cermin itu.”


Ini adalah hal yang paling ditunggu Kenichi, dia ingin tahu alasan dibalik perbuatan itu.


“Saat itu, aku tiba-tiba diganggu oleh setan yang pernah menganggu kita di onsen itu.”


“Darimana kamu tahu wujud dari setan itu?”


Dari sini Kenichi mencoba untuk bertanya, agar alurnya sesuai dengan keinginannya. Tapi Gaia memakluminya, lagipula masalah ini harus dia ungkapkan semuanya.


“Setan yang bermain koto itu pernah aku lihat bermain musik saat aku ada di dalam onsen tersebut. Itulah alasan kenapa aku berteriak.”


Semua mulai terungkap, Kenichi tidak sabar untuk menunggu kelanjutannya.


“Tapi, ada yang berbeda dari wujud setan itu,” Gaia memegang dagu dengan tangan kanannya, “Mungkin cirinya sama antara yang di onsen dan yang di sekolah, dia memakai sebuah topeng tengkorak aneh dengan tanduk di kepala. Badannya terbalut pakaian putih yang menutupi hampir keseluruhan tubuh dengan rumbai berwarna hitam dan ….”


“Kepalanya ada dua.”

__ADS_1


Di situ Kenichi ingin menerka-nerka jawaban selanjutnya. Wujudnya sama dengan yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. walaupun memang, sebenarnya waktu itu yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan Gaia adalah Yoki.


Tapi dia percaya, kalau sosok itu sengaja mengubah tampilan Yoki menjadi wujudnya. Apalagi jika dilihat dengan seksama, bayangan yang pernah ada di luar ruangan itu memang samar-samar mirip dengan penampilan Yoki pada saat itu.


Namun yang berbeda dengan keterangan Gaia, hanyalah jumlah kepalanya saja. Di sini dia ingin membuat kesimpulan kalau .…


“Tapi wujud yang menggangguku di sekolah, hanya memiliki satu kepala saja.”


“Binggo.”


Itulah tanggapan Kenichi, saat tebakannya berhasil benar dan tepat dengan cerita Gaia. Hanya gumaman saja, dia menyembunyikan senyuman dan kata-katanya.


“Be-begitu.”


“Iya dan entah kenapa, dia terus-terusan memanggilku dengan sebutan tuan.”


Semua sekarang diam, diringi dengan tangan yang meneguk minumannya. Sepertinya, mereka hendak menyimpulkan keadaan ini.


“Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi, kurasa sosok setan itu ada dua.”


“Be-begitu, hmm … aku rasa ada kemungkinannya.”


Sekarang giliran Kenichi untuk menyampaikan pendapatnya. Gaia mulai serius lagi, mencoba untuk mendalami argumen Kenichi.


“Aku yakin itu adalah dua sosok yang berbeda.”


“Maksudmu, kejadian saat kita hampir menebas satu sama lain.”


Kenichi mengangguk, tanda setuju pada ucapan Yoki.


“Saat itu, kalau tidak salah kamu berhasil menancapkan katana itu pada sebuah sosok. Tapi tiba-tiba sosok itu menghilang saat kita dekati.”


“Aku pikir, mungkin saat itu sosok yang satu lagi kabur dan menghilang setelah temannya terbunuh. Makanya, tiba-tiba keanehan yang menyelimuti penginapan menghilang dan musiknya pun begitu.”


Kenichi membalas ucapan Yoki.


“Begitu, aku kira menghilang entah kemana. Tapi kalau mereka bisa terbunuh, akan lebih baik jika kita menyebutnya sebagai monster.”


Meneguk minumannya, perkataan Yoki tidak hanya sampai di situ saja.


“Apa ada hubungannya dengan pemilik penginapan itu?”


“Haaah, aku juga tidak tahu. Saat itu aku mencoba mendatangi penginapan tersebut untuk melakukan penyelidikan. Tapi, mereka tidak mengizinkanku.”


Jawaban itu benar-benar tidak memuaskan bagi Yoki. Bahkan bukan hanya dia, Kenichi pun ikut menyenderkan badan hendak mengatakan kalau dia juga sepemikiran dengan Yoki.


Di saat Gaia hendak melanjutkan lagi percakapan ini, sebuah berita muncul di televisi yang ada di kafe itu. Perhatian mereka bertiga teralihkan dan menatap layar televisi yang sedang menampilkan seorang presenter pembawa berita.


Berita yang disampaikan adalah berita kematian seorang ibu tua yang kematiannya sangat mengenaskan. Dari gambar yang tampil di samping presenter terlihat, kalau keadaan mayatnya kurang lebih sama dengan rusa-rusa yang mati di sekitar hutan di Kota Beppu.


Yah, presenter itu hanya menampilkan gambar rusa yang mati pada waktu itu. Lalu dikaitkan dengan ciri-ciri yang ditemukan pada mayat ibu tua tersebut.


Mayat ibu tua itu ditemukan mengambang di sungai, robek pada dada dan tusukan yang menembus jantungnya. Benar-benar mengenaskan sebenarnya. Tapi untung, berita itu disensor sehingga tampilan asli dari mayat tersebut tidak terlihat.


“Apa rusa itu masih hidup yah?”


Sekarang ekspresi Yoki menjadi tegang, fokusnya teralihkan sepenuhnya dari percakapan tadi.


“Uhmmm, jika benar berarti nyawa kita dalam bahaya.”


Tanggapan Kenichi membuat Yoki merinding, matanya bergidik sembari menatap Kenichi.


“Maksudmu balas dendam.”


Hanya sebuah anggukan, tapi Yoki sudah mengerti maksud Kenichi. Setelah meminta pendapat Kenichi, Yoki berbalik badan hendak meminta tanggapan Gaia.


“Ga-Gaia ….”


Yoki terheran, karena sikap Gaia tiba-tiba berubah drastis. Gaia hanya diam saja, dengan tubuh yang bergemetar dan mata yang memelototi layar televisi.


“Apa itu mimpi atau … itu adalah kebenarannya.”


Gaia hanya bergumam dalam hati. Jiwanya meninggalkan badan dan hanya berdiam di alam bawah sadar.


Racauan dalam gumaman terus dia keluarkan. Sedangkan matanya masih terpaku pada berita yang sedang dia tonton.


“Gaia!”


“Ehhh .…”

__ADS_1


Akhirnya Gaia tersadar, setelah Yoki menepuk-nepuk pundaknya. Namun dalam kesadarannya, dia masih menyimpan ketakutan dalam tubuh yang bergemetar.


“Ada apa denganmu?”


Mendapat pertanyaan itu, Gaia langsung menunduk. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dulu, lalu kembali dengan wajah yang telah berubah. Senyum mungkin bisa jadi senjata, tapi itu malah membuat keheranan Yoki dan Kenichi semakin bertambah.


“Hah … ahhh, ti-tidak apa-apa kok. Hanya saja, aku trauma dengan kejadian itu.”


Gaia melontarkan alasan, agar dirinya berhasil selamat.


“Ohh baiklah,” sembari melihat jam tangannya, “Oh yah, aku mau pergi bekerja dulu dah ….”


“Aku juga sama, aku ada urusan lain.”


Kenichi dan Yoki berdiri serentak, mereka melambaikan tangan ke arah Gaia dengan gelas yang masih tersisa seperempat isinya.


Setelah Yoki dan Kenichi keluar, Gaia masih diam di kafe tersebut. Dia langsung menaruh kedua tangannya untuk menopang dahinya. Tatapannya sekarang menunjukkan sebuah tangisan.


“Apa aku seorang pembunuh.”


Sekarang kedua tangannya dilipat untuk menjadi bantal bagi kepalanya. Dia terus mengingat dan mengulang kejadian kemarin, kejadian yang memilukan tersebut.


Sosok itu, rusa, kejadian-kejadian janggal, dan bu Mariko yang mati. Dia benar-benar syok saat menyaksikan semuanya dalam sebuah tayangan masa lalunya.


“Ahh, tidak-tidak. Itu bukan perbuatanku, itu bukan perbuatanku. Itu hanya sebuah mimpi buruk. Tidak-tidak!”


“Atau itu sebenarnya adalah jati dirimu, orang yang memiliki enam kata dalam namanya.”


Tiba-tiba sebuah suara menyahut dan menyerobot masuk ke dalam gumaman Gaia. Tidak asing, Gaia benar-benar tahu siapa pemilik suara itu. Bahkan baru kemarin dia dengar.


“Hahaha, aku tidak mau memikirkannya lagi. Hahaha, lama-lama aku bisa gila dibuatnya hahaha .…”


Bahkan raut wajahnya pun menunjukkan kegilaan. Mulutnya menganga ketika tertawa dan wajahnya menatap langit-langit kafe. Sedangkan tangannya, memegangi kedua pipi.


“Lalu, bagaimana tuan bisa melupakan kebenaran itu?”


“Haaah, mungkin membaca buku bisa menenangkanku.”


Gaia langsung pergi dari tempat itu, menuju toko buku yang akan dijadikan tempat untuk menenangkan dirinya.


Sementara, kedua temannya pergi ke tempat yang mereka ingin tuju. Kenichi pergi ke suatu tempat, sedangkan Yoki pergi ke tempat kerjanya.


“Uhmm, ada yang aneh dengan Gaia.”


Kenichi bergumam saat dia sedang berjalan di trotoar.


“Entah kenapa aku merasa, kalau semua kejadian itu mengarah ke Gaia. Onsen, sampai kejadian rusa aneh yang tiba-tiba ada di sekolah.”


Kenichi memasukkan kantung, mungkin supaya suasananya lebih rileks. Tapi semakin dalam dia memikirkan, semakin pusing pula pikirannya.


Hingga sampai di tepi sungai, Kenichi berhenti dan menatap sungai yang ada di samping kiri.


“Ini terlalu membuatku bingung. Semuanya, apa yang sebenarnya terjadi? Haaah, aku ingin menenangkan pikiran bersama Yoki dan mungkin aku akan mengajak Gaia untuk mengobrol lebih lanjut dengannya.”


Berjalan ke tepi, Kenichi hendak menopang tubuh dengan kedua tangan yang ditekuk di jembatan.


“Apa besok aku ke pergi ke tempat Yoki yah? Kalau gak salah, besok Yoki juga bekerja di situ.”


Kenichi memandangi langit yang sudah siang, dia hendak menenangkan diri dengan pemandangan yang indah ini.


Tapi, walaupun semua sedang menenangkan dirinya, ada juga yang saat ini sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hingga bisa dikatakan, kalau dia ingin melakukan balas dendam.


Di sebuah tempat, boleh dikatakan tempat itu seperti hutan karena pepohonan di situ sangat banyak.


Seorang laki-laki, sedang menggenggam ponselnya dengan sangat kuat. Sedangkan tatapan dan tubuhnya bergemetar, bukan karena ketakutan tapi karena kemarahan yang meluap-luap.


Matanya menatap tajam ke depan, ke arah tiang lampu yang menerangi tempat tersebut. Dia tidak lain adalah Terasaka, yang setelah menerima pesan dari temannya, langsung geram dan menahan amarahnya.


“KENICHI!!!”


Kepalanya dipalingkan ke bulan, dia ingin meluapkan amarahnya ke sana. Giginya terlihat bergemeretak ketika berbicara.


“Kenapa? Kenapa kau mengambil cahayaku. KENAPA?”


Berteriak dengan sangat lantang. Untung tidak ada siapa-siapa di situ, jadi dia tidak menjadi pusat perhatian banyak orang.


Setelah beberapa saat menatap langit malam yang indah, Terasaka langsung memalingkan fokus ke layar ponsel. Dia hendak mengirim pesan pada teman-temannya. Dan isinya ….


“Tolong kalian berkumpul bersamaku di hutan Kota Beppu, dekat warung yang sering kita jadikan tempat berkumpul. Di situ aku ingin berbicara kepada kalian. Oh yah, tolong bawa pipa besi atau kayu yang keras. Yang penting, benda itu sangat kuat karena akan dipakai untuk memukul sesuatu.”

__ADS_1


__ADS_2