
Hampir semua penghuni kelas berada di luar ruangan, hanya tinggal tersisa tiga orang yang bertahan di dalam. Mereka adalah Kenichi dan Haori yang sedang mengerjakan test dan pak Thomas yang berperan sebagai pengawas.
Tempat duduk mereka berdua sudah diatur di barisan yang paling depan, keputusan pak guru itu juga sepertinya diambil karena kondisi kelas yang sedang kosong. Dengan pengaturan yang seperti ini, pak Thomas menjadi lebih mudah untuk mengawasi.
“Aduh, bapak kebelet pipis. Bapak mau ke toilet dulu yah.”
“Baik pak.”
Pak Thomas langsung bergegas keluar, langkahnya benar-benar payah dengan kedua tangan yang terus memegangi celana.
Seketika, suasana menjadi hening setelah guru mereka keluar. Kenichi masih serius mengerjakan testnya, yah walau wajahnya menunjukkan kekesalan karena kecerobohan tadi.
Begitu pun dengan Haori. Kalau dilihat dari senyum yang baru saja terukir, mungkin dia optimis pada hasil pekerjaannya.
“Kenichi.”
Sebuah panggilan yang membuat Kenichi menoleh ke kanan, dia menjeda pekerjaannya untuk menanggapi panggilan itu.
“Sudah berapa lama kamu berteman dengan mereka berdua?”
“Ke-kenapa kamu bertanya itu sekarang? Kan sekarang kita lagi test.”
“Tidak apa-apa, test ini membosankan … terlalu gampang, jadinya aku hanya ingin mengobrol denganmu.”
Mungkin pertanyaan Kenichi tepat, karena sekarang bukan waktunya untuk mengobrol. Tapi jawaban Haori, mungkin tepat kalau dia dibilang optimis pada pekerjaannya. Namun tidak dapat dipungkiri, jawaban itu telah membuat Kenichi menjadi kesal.
“CIKH ….”
Bodoh amat dengan gadis itu, Kenichi kembali mengambil pulpen hendak menyelesaikan testnya. Dia tidak ingin terganggu hanya karena usaha usil yang dilakukan Haori. Atau, sebenarnya ada hal lain yang mengganjal pikiran Kenichi.
“Aneh, ada yang berbeda dari Haori.”
Sebuah gumaman sebagai bukti, ternyata Kenichi memang punya alasan tersendiri untuk tidak meladeni Haori. Yah, tersembunyi sempurna dalam akting Kenichi yang berpura-pura mengerjakan soal.
Sedangkan orang yang digumamkan, hanya menatapnya dengan sebuah senyuman yang ditaruh sembari memperhatikan gerak-gerik Kenichi. Itu adalah tanggapan Haori atas jawaban Kenichi tadi.
“Sudahlah jawab saja.”
“Haaah, apa sih maumu?”
Keduanya tetap dalam posisi yang sama, Kenichi yang mengerjakan test dan Haori yang memperhatikannya. Suasana yang seperti ini membuat Kenichi merasa tidak nyaman, dia merasa seperti sedang diawasi.
“Uhm, kamu kan bisa menjawabnya sambil ngerjain test.”
“Ya udah deh, aku berteman dengan mereka dari beberapa bulan lalu. Tepatnya, saat masa awal sekolah.”
“Apa kamu dekat sekali dengan mereka?”
Tiba-tiba genggaman Kenichi pada pulpen ditegangkan. Seperti terjadi akibat pertanyaan yang dilayangkan tadi.
Bahkan beberapa detik setelahnya, Kenichi tetap tidak melanjutkan pekerjaan. Sudah mengganggu waktunya, Haori juga melayangkan pertanyaan yang mengesalkan.
Ekspresi Haori juga aneh, entah kenapa senyuman itu semakin melebar saat melihat reaksi Kenichi. Mungkin itu bisa diartikan sebagai keisengan Haori, tapi isi dari pertanyaannya bukan hanya sekedar keisengan belaka. Ada maksud tersembunyi yang disimpan.
“Apa maksud dari pertanyaanmu?”
__ADS_1
“Ahh, tidak usah dianggap serius. Aku hanya mau mehilangkan rasa bosan saja kok.”
“Hah! Menghilangkan rasa bosan, kurasa kamu juga harus tahu batasan.”
“Batasan? Batasan kita hanya saat kita mati kan.”
Balasan yang Haori anggap sebagai lelucon. Kenichi hanya diam saja, dia rasa tidak perlu lagi menanggapi orang seperti dia. Untuk apa, hanya buang-buang waktu.
Jadi, sekarang Kenichi kembali menurunkan emosi dan melanjutkan pekerjaan.
“Jika begitu dekatnya kamu dengan mereka, apa yang terjadi yah jika salah satu dari mereka berada dalam bahaya?”
Perkataan yang benar-benar menyebalkan, lagi-lagi dia memancing emosi Kenichi. Sehingga sekarang, sebuah gebrakan meja menjadi balasan Kenichi.
Mungkin itu sudah jauh dari kata iseng. Kalimatnya begitu memprovakasi Kenichi untuk marah. Di sisi lain, nadanya seperti mengancam Kenichi.
“Jika kamu ingin tahu seberapa dekatnya aku dengan mereka,” Kenichi mengangkat pulpen dan diarahkan lurus, tepat ke mata Haori, “Sangat dekat sampai aku rela membunuh siapa pun yang mengganggu mereka.”
“Wah, reaksi yang mengejutkan … Kenichi.”
Kenichi hanya diam saja, dia tidak bisa membayangkan betapa anehnya gadis itu. Maksudnya, hari ini. Entah kenapa Haori menjadi pribadi yang berbeda dengan Haori yang Kenichi kenal, nadanya terdengar berbeda dan asing.
Walaupun, dia juga tidak terlalu kaget karena boleh dibilang pertemuannya dengan Haori baru berumur jagung.
“Ini yang terakhir, apa arti teman bagimu?”
“Apa ini yang terakhir?”
“Tenang saja, aku tidak akan mengingkari ucapanku.”
Senyum sebagai bukti, memang tidak terlalu meyakinkan sih, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Lagipula, waktu terus berjalan dan tenggat mengumpulkan semakin dekat. Kenichi harus menghentikan wawancara ini dengan cepat.
Aneh, maksudnya ekspresi Haori. Tiba-tiba saja emosi Haori melonjak, ada yang salah dengan jawaban Kenichi. Walaupun, tertutupi aktingnya dengan baik.
“Harta … harta … harta … ada apa dengan mereka bertiga? Jawaban mereka sama dan yang pasti menjijikan. CIKH, kenapa dia harus menjadi seperti ini.”
“Beneran udah kan?”
Kenichi tiba-tiba mengganggu Haori yang sedang bergumam, membuat Haori sadar. Sekarang sebuah senyum diberikan kepada Kenichi, bukan senang malah ekspresi jijik yang didapat. Yah, dibuktikan dengan Kenichi yang memundurkan kepalanya.
“Sudah kok.”
Haori menyenderkan badan di kursi dan Kenichi kembali meneruskan pekerjaannya. Suasana kembali hening, pak Thomas pun belum kembali dari toilet.
“Ehm, sepertinya kesetiaan kalian patut dicoba … yah?”
Tatapan Haori dilempar ke langit-langit, sebuah senyum menjadi tambahan. Sedangkan Kenichi, temperamennya naik. Lagi-lagi pekerjaannya terhenti.
“Ternyata kau mengingkari ucapanmu, yah.”
Masih dalam posisi yang sama, tapi suasana semakin memanas. Sekilas nampak lirikan Haori, seperti berkata, “Akhirnya kau masuk dalam pancinganku.”
“Oh, iya juga. Aku juga tidak peduli dengan kuomongkan, pada akhirnya semua akan terbuang sia-sia.”
“Kalau begitu kaulah yang akan terbuang.”
__ADS_1
Sudah mencapai puncak, Kenichi langsung berdiri dan menatap tajam Haori. Pandangannya dikuncikan dengan berbagai ekspresi di dalamnya. Marah, kesal, dendam, semua itu dia satukan dalam satu pandangan.
“Hei, kamu menyontek yah Kenichi?”
Ada lagi yang mengganggu mereka, alhasil ketegangan suasana menurun drastis. Dia adalah pak Thomas, yang butuh waktu lama untuk kembali dari toilet.
“Tidak pak, pulpenku jatuh di samping Haori.”
Disertai tunjukkan jari, Haori dan pak Thomas mengikuti. Memang benar, ada sebuah pulpen yang tergeletak di bawah meja Haori. Biasa sih, tapi tiba-tiba ekspresi Haori berubah kaget. Itu adalah pulpen yang dipakai Kenichi sedari tadi, tapi .…
“Ba-bagaimana bisa? Aku aja tidak sadar kalau Kenichi menjatuhkan pulpen itu.”
Hanya gumaman Haori.
“Ya sudah, cepat selesaikan testnya.”
“Baik pak.”
Terlebih dulu, Kenichi mengambil kembali pulpennya. Barulah setelah itu ia melanjutkan testnya. Sedangkan untuk Haori, dia masih termenung dengan kecerdasan Kenichi. Apakah patut diapresiasi? Atau, harus diwaspadai?
Sebenarnya masih tersisa kemarahan di hati Kenichi, akan tetapi dia juga harus menyelesaikan test. Jika hanya dilihat oleh mata telanjang mungkin akan biasa saja, tapi tidak. Tekanan yang sama masih menyelimuti seisi kelas yang kosong.
“Baiklah, selesai. Kalian berdua, letakan kertasnya di meja guru.”
Untung masih sempat, walaupun mendapat gangguan dari Haori Kenichi tetap bisa menyelesaikannya.
“Yang lain, masuk!”
Murid-murid yang ada di luar kelas masuk. Jika hukuman ini untuk membuat mereka semua jera dan menyesal, mungkin jawabannya tidak. Hanya biasa saja, hukuman ini memang mereka sengaja. Jika hari ini mereka mengerjakan test, mungkin kemarahan mereka akan terjadi saat menerima hasilnya.
“Jadi bagaimana dengan hukumannya?”
“Biasa saja.”
“CIKH … kalau gitu nanti bapak suruh berdiri di lapangan sambil push up. Biar jadi daging panggang!!!”
Semuanya tersentak, kalau hukumannya kayak gitu mungkin mereka tidak bisa menghindar dari test yang mengesalkan ini.
“Aduh, hukuman berdiri di depan kelas benar-benar berat.”
Satu orang sudah memainkan aktingnya, begitu pun dengan yang lain. Akting memelas dan mengada-ngada itu bertujuan agar pak Thomas tidak menambah hukuman mereka.
“Woy, keliatan banget bohongnya.”
Mana mungkin akting yang berlebihan itu tidak diketahui semua orang. Mereka pikir pak Thomas itu orang bodoh, bahkan barang KW terjelek pun masih lebih baik dari akting mereka.
“Pak, saya izin ke toilet.”
“Baiklah.”
Yang meminta izin adalah Haori. Mata Kenichi menguncinya dengan tajam, dengan sebuah kemarahan yang terselubung. Hingga Haori sudah keluar, barulah tatapan itu Kenichi lepaskan.
“Anak-anak,” pak Thomas menyatukan lembar jawaban Kenichi dan Haori terlebih dulu, “Bapak akan menaruh lembar jawaban Kenichi dan Haori dulu di ruang guru.”
Selang beberapa saat kemudian, barulah pak Thomas kembali ke kelas.
__ADS_1
“Oke, sekarang kita pulang. Oh yah, ada sesuatu yang bapak harus bicarakan dengan Yoki sepulang sekolah.”
Yoki menanggapinya dengan sebuah anggukan.