
Yoki dan Gaia yang sedang berdiri di depan kelas, kedatangan tamu yang tidak mereka sangka-sangka. Wajah yang tadi lesuh dalam diam, mulai menumbuhkan bibit pertanyaan untuk memulai obrolan.
“Kenapa … kalian di sini?”
Gaia yang berinisiatif duluan.
“Ahh … aku hanya mau menebus kesalahanku. Jadi aku membuat alasan, supaya aku dihukum pak guru,” di saat Kenichi sedang menggaruk kepala, dia tersadar akan sesuatu, “Eh tunggu, tadi kamu bilang kalian.”
Gaia mengangguk dan membuat kepalanya langsung berbalik, dia menemukan senyuman yang berasal dari Aiha yang berdiri persi di belakang.
“Kenapa kamu juga ikutan?”
“Ahh, aku juga sama … ingin menebus kesalahanku juga. Lagipula …,” mata Aiha melirik Kenichi, ada tatapan jahil di dalamnya, “Tidak mungkin aku akan membiarkan cewek sendiri, dengan kalian berdua bersama.”
“Heh! Kamu pikir kami mau ngapain.”
Mengambil langkah terlebih dulu, Aiha ingin menjawab Kenichi setelah berdiri di samping Gaia.
“Tidak apa-apa, cuma insting.”
Terserahlah, Kenichi tidak mau membahas topik itu lebih jauh. Dia pun memutuskan untuk berdiri di samping Yoki. Sekarang formasi mereka telah rapi dalam barisan yang horizontal, dengan Kenichi di ujung kiri, lalu Yoki, Gaia, dan yang berada di ujung kanan adalah Aiha.
“Seperti yang aku bilang tadi, aku minta maaf Yoki. Aku benar-benar menyesal, lagipula … aku tidak mengharapkan ….”
“Te-tenanglah Kenichi, lagipula aku sama sekali tidak marah padamu.”
Kenichi mendongkakkan kepalanya, dia ingin memastikan kebenaran dari jawaban Yoki.
“Bener?”
“Iyalah, kok kamu jadi lembut gitu.”
Ada perasaan lega yang tersisa, Kenichi mengalihkan tatapan ke langit-langit, sekarang dia sudah menerima hadiah maaf dari Yoki.
“Emang, aku selama ini kasar yah?”
“Tuh tahu.”
“Dasar.”
Maaf-maafan sudah selesai, sekarang waktunya kembali ke rutinitas pertemanan. Kenichi langsung memukul kepala Yoki, mulutnya secara lancang sudah mengklaim keburukan Kenichi. Namun saat masih dalam acara pukul-pukulan, Kenichi juga melirik Gaia yang menonton mereka berdua. Dia lupa, dia juga punya salah dengan Gaia.
“Gaia, aku juga minta maaf yah.”
“Iya, tenang aja.”
Ekspresi Gaia tidak sesuai dengan ucapan, terlihat kalau pemberian maaf itu seperti dipaksakan. Yah sebenarnya sih niat Gaia baik, namun tidak berjalan karena tubuhnya yang tidak mendukung.
“Kamu bener-bener maafin aku … kah?”
Pertanyaan itulah yang membuat Gaia terus merutuki dirinya.
“Iya, bener kok.”
“Tenang saja Kenichi, dia tadi juga seperti ini.”
__ADS_1
“Oh iya juga, tadi tiba-tiba emosian. Kira-kira kenapa yah?”
“Mungkin dia lagi PM .…”
Untuk orang awam sih itu adalah jawaban yang tepat, tapi juga sangat tidak sopan dan tidak pantas untuk dibicarakan. Kenichi mengapresiasi jawaban itu, dengan hadiah pukulan dari lengan kanannya. Wah, sekarang Kenichi sudah terbebas dari kekangan rasa bersalah, jadi waktunya terbuka dengan Yoki.
“Kalian kenapa?”
Selesai sudah dengan hukuman Yoki. Kenichi segera melirik Gaia, untuk mengkonfirmasi perbuatannya.
“Tidak ada apa-apa, kami hanya melakukan tinju persahabatan.”
“Tinju persahabatan darimana.”
Tentu saja Yoki tidak terima. Apa-apaan klaim itu, itu seperti Kenichi mengangkat derajatnya jadi yang paling benar. Sedangkan Yoki hanya dapat berdiam diri sebagai korban. Mana mungkin bisa Yoki terima kalau seperti itu, dia pun menegapkan badan dan melawan ucapan Kenichi.
“Gak ada pun aku ngerasakan rasa kasih sayang sebagai teman.”
“Karena aku bukan gay.”
Masih saja menaruh arang di bara api, alhasil mereka berdua berdebat sangat hebat di situ. Hingga tanpa sadar, ada dua orang yang sedari tadi sedang menikmati tontonan ini. Aiha yang terus menahan tawa melihat perdebatan kedua anak muda dan Gaia yang … yah, tidak ada perubahan dalam ekspresinya yang kaku.
“Ayo … Gaia … bicara … bicara … aku harus meminta maaf sekarang!”
Kepribadian yang sangat terbalik dari tampilan luar, benar-benar tersembunyi dengan sempurna di sebalik dinding yang tersusun dari jaringan dan urat syaraf.
“Kalian .…”
Ucapan datar telah menghentikan perdebatan mereka berdua, mereka pun langsung memfokuskan diri ke sumber suara.
Ya ampun, sampai berapa lama lagi mereka akan mendengarkan kata-kata itu, soalnya saat ini permasalahan mereka berdua juga belum diselesaikan dengan jalur kekerasan.
“Ingin meminta maaf atas apa yang aku alami selama ini.”
Sudah sampai pada kesimpulan, mereka berdua diam untuk memutuskan.
“Hahaha … untuk apa kamu meminta maaf Gaia,” dari tawa bangga dengan kedua tangan yang ditaruh di kedua sisi pinggang, Yoki tiba-tiba menggaruk kepalanya, “Yah, walaupun aku tidak menganggap itu salahmu.”
Tawaan yang telah mengetuk pintu hati Gaia untuk terbuka pada perasaannya. Dia masih enggan membalas tatapan Yoki, jadi dia masih tertunduk sambil merutuki cara bicara yang sedari tadi tidak berubah.
“Kenapa?”
“Aaa … gimana yah ngejelasinnya.”
Yoki sebenarnya tidak ingin situasi yang seperti ini. Maaf-maafan, apalagi dengan teman terdekat, itu sih bukan style Yoki. Dia tidak suka dengan situasi yang terlalu formal dan sopan, apalagi dengan teman dekatnya.
“Intinya sih, aku merasakan sesuatu dari pelukanmu.”
Sedangkan di sisi lain, Kenichi yang sudah tidak ada urusan langsung mendekati Aiha yang berdiri di belakang Gaia. Mereka berdua sudah siap untuk menjadi komentator adegan ini. Lihat saja tingkah konyol mereka berdua, saling merendahkan badan dalam ketinggian yang sama dan kedua wajah yang saling berdekatan.
Yoki yang tidak sengaja melihatnya saja jijik. Jadi dia memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini sebelum berbicara dengan Gaia.
“Ngapain kalian berdua, ini bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Kenichi kesal, baru saja dia dan Aiha akan mendorong percakapan Yoki dan Gaia menjadi romantis. Tapi ya sudahlah, Kenichi dan Aiha akhirnya kembali ke ketinggian semula.
__ADS_1
“Entah kenapa, kamu memiliki beban yang sangat berat di pelukan itu. Ada … semacam perasaan yang kamu sangat tidak kuat untuk menahannya. Saat aku menyadarinya, aku pun mengerti maksud dari pelukan itu. Makanya, kurasa … aku tidak apa-apa dengan pelukanmu.”
Gaia masih dalam posisi semula, dia menahan kepalanya dengan sekuat tenaga. Itu semua dilakukan agar kepala itu tidak membalas tatapan Yoki saat mereka berdua masih berbicara.
“Tapi, akulah yang sebenarnya menjadi lubang bagi kalian. Yoki, aku ingin bertanya … jika seandainya aku membunuh kalian, apa pendapatmu tentang tindakan yang aku lakukan.”
Sekarang netra Yoki tidak lagi melirik Gaia, dia dipindahkan untuk menatap langit-langit lorong. Putih bersih, tapi bukan untuk itu dia menatap.
“Jika memang itu akan membawa perubahan bagi dirimu, aku akan dengan senang hati melakukannya.”
Seketika, mata Gaia berkilau. Untuk pertama kalinya, ada perasaan yang berhasil keluar dari ekspresi yang kaku tadi.
“Tapi, jika bukan kematian yang menjadi solusinya, maka aku akan mencarikan solusi itu sampai ke ujung dunia,” kepala Yoki tertunduk sekarang, “Tapi kalau tidak ada, aku harap kamu mau berbagi penderitaan itu denganku. Dengan begitu, aku bisa menjadi garda terdepan untuk menanggung beban yang kamu pikul.”
“Ahhh ….”
“Ke-kenapa kalian?”
Kenichi dan Aiha tidak tahan untuk bereaksi pada kata-kata Yoki. Kata-kata itu terasa lebih elit dari para penggombal-penggombal handal di dunia ini.
Ucapan penuh kejujuran dan ketulusan, mereka berdua telah menyaksikan sisi lain Yoki yang amat romantis. Begitu pun dengan Gaia.
Tidak perlu disangkal lagi, itu adalah kata-kata terindah yang pernah Gaia dengar. Di satu sisi dia begitu terpanah. Tapi di satu sisi lagi, dia begitu menyesali perbuatan di masa lalunya.
Cuplikan yang terlintas tentang kematian mereka berdua, sudah bukan dianggap sebagai aib lagi. Itu adalah akhir, dan kehidupan Yoki serta Kenichi adalah awal. Gaia tentu tidak mau mengakhiri awal yang baru ini, dia tidak mau mengambil jalan yang salah lagi.
“Lagipula, sebagai teman … aku juga ingin kita saling berbagi.”
Kenichi pun ikut serta, tapi dia belum bisa memancing netra coklat milik Gaia untuk berdiri. Masih tertunduk, menghindar dari keberadaan mereka berdua.
“Yah, aku tidak tahu sih tentang pertemanan kalian. Aku juga minta maaf karena prilaku yang kemarin dan tadi, aku tidak menyangka kalau pelukan itu adalah penderitaan yang kamu tahan selama ini.”
Sekarang giliran Aiha untuk membantu. Dia menatap sekilas mata Yoki dan Kenichi yang masih menunggu reaksi Gaia.
“Kamu beruntung punya teman seperti mereka berdua, yang … selalu setia dan mau terbuka pada penderitaanmu.”
Kata-kata yang bagus Aiha. Sekarang ada getaran sedikit dari punggung Gaia, seperti ada luapan emosi yang akan meledak dari sana. Masih ditahan, tapi tidak akan bisa bertahan lama. Gaia langsung mendirikan pandangan, dia melihat ketiga remaja itu dengan haru.
Ekspresi Gaia saat ini sangat membuat mereka bertiga lega, akhirnya ada ekspresi lain yang keluar dari wajah yang kaku. Tetesan air mata yang telah melunakkan wajah Gaia yang sedari tadi mengeras.
Semua bisa terjadi juga berkat mereka bertiga. Ucapan tadi, telah memberikan tekanan yang mampu menembus batu yang keras. Meretakkannya, dan terbentuklah jalan bagi air mata untuk keluar dari celah.
“Boleh kalian mendekat.”
Permintaan yang bagus. Karena ekspresi tadi, mereka bertiga pun mendekat tanpa bertanya ataupun menolak. Setidaknya, itu patut diapresiasi bukan.
“Lalu, apa Gaia?”
Yoki akhirnya mengajukan pertanyaan, soalnya sedari tadi mereka bertiga terus saja ditatap Gaia.
“Terima kasih.”
Ucapan itu datang beriringan dengan pelukan yang akan mendekap mereka. Selesai dia berbicara, pelukannya telah mengekang mereka bertiga dengan erat. Satu saja sudah sempit, apalagi ini tiga-tiganya. Entah kenapa Gaia malah suka cara yang seperti ini.
“Lukaku … lukaku … lukaku ….”
__ADS_1
Mungkin yang paling menderita adalah Yoki. Ingat saja, sudah dua kali dia berakhir seperti ini. Oleh pelaku yang sama pula. Entah sampai kapan Yoki akan pasrah, hanya karena dia enggan untuk melarang Gaia.