RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~SETELAH MENGHADAPI MASALAH~


__ADS_3

Setelah semua persiapan selesai, barulah mereka makan. Benar-benar lahap, sepertinya perut mereka sangat kosong.


“Mau beli atau tidak, makanan ini memang terbaik.”


Kenichi menaruh gelasnya dengan sangat keras. Sampai-sampai, meja yang dibenturkan berbunyi.


“Haaah … mau gimana pun, yang penting ada makanan.”


Dipalingkan wajahnya menatap Yoki, sembari mengangguk dengan perlahan.


Minuman dan makanannya telah habis, Kenichi dan Yoki beranjak berdiri dari kursinya. Kenichi sudah sangat lelah, jadi dia ingin segera tidur.


“Ehhh ... tunggu dulu, mending sekarang kita obati dulu lukamu.”


Langkah Yoki dipercepat, menuju ruangan di sebelah untuk mengambil obat-obatan. Tiga menit kemudian, Yoki sudah kembali dengan sekotak penuh P3K.


Kenichi sadar, dia tidak perlu untuk disuruh agar segera membuka bajunya.


“Lukamu lumayan tidak parah.”


“Iya begitulah. Kalau kamu mau tahu, teman-teman Terasaka yang memegang pipa besi itu, tidak memukulku dengan sangat keras.”


Yoki menaruh terlebih dulu kota obatnya. Lalu memalingkan mata menatap Kenichi.


“Kenapa?”


“Entahlah, apa mungkin mereka sebenarnya tidak tega menyiksaku?”


Pertanyaan yang dibalas lagi dengan pertanyaan. Kenichi benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Walaupun ada segudang jawaban, itu semua hanyalah sekelompok argumen yang belum pasti.


“Ya udahlah, kita obati dulu luka-lukamu.”


“Baiklah.”


Kenichi menyetujuinya, sehingga Yoki dapat mengobati luka-lukanya. Sebenarnya bukan hanya Yoki yang bekerja, Kenichi juga ikut membantu. Pertama Yoki meredakan rasa sakit, lalu Kenichi menutup lukanya.


“Yoki, aku ingin bertanya.”


Fokus Yoki terpaling menatap Kenichi. Walaupun begitu, Yoki tetap meneruskan pekerjaan.


“Apa nama bapakmu adalah Oda Mamoru?”


“I-iya, emang kenapa?”


Kenichi tidak berniat untuk meneruskan pertanyaan. Dia hanya ingin memastikan saja.


“Ahh tidak, cuma mau nanya aja. Soalnya aku pernah dengar, kok nama belakangnya sama. Jadinya, aku hanya ingin memastikan.”


Maksud tersembunyi Kenichi, bisa terselubung dengan sempurna. Yoki mengiyakan jawaban itu.


“Yosh, mari kita tidur.”


Kenichi bangkit berdiri dan melangkahkan kaki untuk tidur, begitu pun dengan Yoki yang sudah sangat kelelahan. Dia pergi tidur di kamarnya, bersamaan dengan Kenichi yang juga tidur di kamar yang ada di sebelah kamar tidur Yoki.


Langsung beranjak ke kasur, Yoki menarik selimut karena hawa yang ia rasa sedang dingin. Tapi, alangkah terkejutnya dia saat melihat sesosok laki-laki tidur di sampingnya.


”Eh ... tunggu dulu, kenapa kamu tidur di kamarku? kan bisa tidur di kamar sebelah.”


”Aku takut di kamar sebelah Yoki jadi aku tidur di sini aja yah.”


Rasa kantuk juga terbawa dalam nadanya, kesadaran Kenichi sekarang sudah sangat rendah. Kondisi ini juga dialami Yoki, sehingga nadanya terdengar lesu dan lemah.

__ADS_1


”Ehhhh … alasan, ngapain kamu tidur di sini Kenichi?”


”Lah katanya boleh menginap di sini.”


”Ya gak di kamar aku juga, Kenichi ... Kenichi ... Kenichi.”


Mau digoyang-goyangkan berapa kali pun, Yoki tetap tidak bisa membangunkan Kenichi. Sepertinya ia harus berpasrah, mengingat staminanya yang telah habis.


Kenichi sudah terlelap dalam tidurnya dengan pulas dan yang menyebalkan Yoki adalah tangan dan kakinya yang bergerak ke mana-mana sampai dia tak sadar jika ia sekarang sedang memeluk Yoki.


“Ke-Kenichi! Dasar Gay!”


Mengeliat-geliat, berusaha lepas dari kekangan Kenichi. Perasaan Yoki sedang geram akan Kenichi, tapi karena matanya yang sudah kelelahan, akhirnya mau tak mau Yoki merelakan Kenichi untuk tidur di sebelahnya.


Keesokan harinya, mereka berdua bangun dengan kondisi bugar dan dengan begitu mereka sudah siap untuk pergi ke sekolah. Baju yang Kenichi pakai kemarin sudah kotor dan rusak sehingga Yoki meminjamkan baju baru kepadanya. Tinggal sarapan sedikit, maka semua persiapan telah selesai.


Meninggalkan rumah Yoki dengan perut yang sudah terisi, tentu sudah membuat Kenichi merasa baikkan. Walaupun memang lukanya sedikit memberontak dan menimbulkan rasa sakit, walau hanya sesaat.


“Bagaimana tidurmu kemarin Yoki?”


“Tidak! tidurku tidak tenang, sebab ada seorang gay yang tidur di sebelahku.”


Jawaban Yoki membuat Kenichi bingung, padahal Yoki hanya bergurau saja. Itu bisa terlihat dari seringai kecil Yoki.


“Etooo ... maksudmu aku.”


Kenichi menunjuk dirinya, menerka kalau dialah yang dimaksud Yoki. Namun, tidak disangka kalau tawaan Yoki semakin keras. Mungkin menurut Yoki, penampilan Kenichi yang seperti itu, seperti orang konyol saja.


“Hihihi ... emang siapa lagi yang tidur di sebelahku .…”


“Dasar .…”


Untuk membalas candaan Yoki, Kenichi menjitaknya. Tentu bukan dengan maksud serius, hanya bercanda saja.


“Aahhh dasar banci, gitu aja udah sakit hahaha .…”


Begitulah suasana di antara mereka di sepanjang perjalanan menuju halte bus untuk pergi ke sekolahnya. Alunan angin yang sepoi-sepoi beserta burung-burung yang mulai menunjukan kicauannya, turut menghiasi suasana santai di antara mereka.


Lalu, beberapa saat setelah mereka berjalan sampailah mereka ke tempat yang menjadi tujuan.


“Yosh ... itu bus kita, ayo Yoki.”


Bahkan walaupun mereka sudah memasuki bus, tetap saja candaan dan tawaan mereka turut menemani di sepanjang perjalanan. Setelah beberapa lama menaiki bus, akhirnya sampailah mereka di sekolah. Mereka berdua pun segera turun dari bus, Kenichi di depan dan Yoki di belakang.


“Ehmmm ... Kenichi aku mau pergi sebentar yah, ada urusan yang harus aku selesaikan.”


Yoki tiba-tiba menampilkan raut wajah yang tergesa-gesa seperti ingin menyelesaikan sesuatu yang penting.


“Oke, baiklah.”


Kenichi setuju, namun dalam hatinya mengandung sedikit keraguan kepada Yoki. Tapi, dia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Hatinya hanya ingin dia berasaskan kepercayaan di antara mereka.


Setelah Yoki mendengarnya, ia langsung mempercepat langkah meninggalkan Kenichi.


Setelah beberapa saat, Yoki hilang dari pandangan Kenichi di antara kerumunan murid yang lalu lalang di tempat itu. Kenichi pun memutuskan untuk langsung pergi ke dalam kelasnya.


“Aku masih terngiang-ngiang dengan perkataannya, aku harus segera menghilangkan rasa penasaranku sekarang.”


Yoki meneruskan langkah menuju ke sebuah ruangan. Melewati kerumunan orang yang lalu lalang. Hanya berbelok ke lorong yang ada di kanan, Yoki sudah sampai di ruangan yang dia inginkan.


“Permisi bu, apakah ibu mempunyai biodata tentang seorang siswa bernama Terasaka?”

__ADS_1


“Iya ibu punya datanya ... memangnya kenapa?”


“Saya ingin memasukan Terasaka ke dalam kelompok belajar saya, tapi saya ingin mengenal Terasaka lebih jauh dengan melihat biodatanya.”


Walaupun, sebenarnya alasan ini hanyalah sebuah kebohongan belaka yang dibuat oleh Yoki untuk maksud yang lain.


“Baiklah, tunggu sebentar yah.”


Kursinya diputar balikkan. Sepertinya, kursi itu memang sangat dia sukai. Sampai-sampai, dia seperti sudah ahli dalam memutar balikkan kursi tersebut.


Ya, sebenarnya sih tidak dibutuhkan sebuah keahlian khusus untuk melakukan itu.


“Terasaka … Terasaka ... Terasaka ... nah ini dia.”


Mengambil dokumen yang bertuliskan nama Terasaka, tulisannya berasal dari tinta pena berwarna hitam. Lalu menyerahkan dokumen itu kepada Yoki.


“Ini dokumen tentang Terasaka ... identitasnya ... juga informasi tentangnya.”


Dibuka perlahan buku berdebu itu, tidak terlalu tebal isinya. Namun kertas dengan berbagai ukuran, tentu sangat menyusahkan bagi Yoki untuk mencari apa yang ia inginkan. Kadang-kadang, kertas itu jatuh ke lantai.


Mata Yoki melirik-lirik ke setiap lembar kertas yang ada di dalam dokumen. Sedangkan, ibu penjaga ruangan hanya menunggu Yoki mengembalikan dokumennya.


Mata Yoki berhenti di salah satu halaman dan sesaat kemudian, ia langsung menutup kembali dokumen itu. Hanya sebentar, cuma satu menit waktu yang dibutuhkan.


“Baik bu terima kasih, ini saya kembalikan.”


Yoki segera mengembalikan dokumennya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah mendapat informasi yang dia cari. Tujuan berikutnya, tentulah kelas.


*****


Kenichi berjalan melintasi lorong sekolah untuk pergi menuju kelas. Pikirannya masih tertuju pada Yoki, sedangkan langkahnya masih melintas di kerumunan murid. Ketika Kenichi memasuki kelas, yang pertama kali menyambutnya adalah Gaia.


“Halo Kenichi, selamat pagi.”


“Selamat pagi juga Gaia.”


Kenichi membalas sapaan itu sambil berjalan mendekati kursinya. Dia ingin sekalian menaruh tasnya, agar obrolan mereka menjadi lebih nyaman.


“Ngomong ... ngomong, dimana Yoki?”


“Yoki dia .…”


“Hai Gaia.”


Tiba-tiba dari arah belakang, Yoki datang menghampiri mereka berdua.


“Hai Yoki hmmm ... bagaimana kemarin? Apa kalian nyaman berduaan hihihi .…”


Gaia menyembunyikan senyum dengan tangan kiri. Tapi tetap saja ekspresinya nampak, lagipula sudah terlihat dari nada bicaranya.


“Mana ada ... kemarin tuh, kami abis bertarung dengan kelompoknya Terasaka sampai Kenichi terluka seperti ini.”


Yoki menjelaskan kejadian kemarin secara singkat, sekaligus mewakili penjelasan Kenichi.


“Apa! Terus gimana keadaan kalian berdua?”


Mata Gaia ditolehkan ke tubuh Yoki dan Kenichi karena rasa kuatir. Tangannya terlihat meraba-raba tubuh mereka berdua, untuk memastikan letak luka yang didapatkan mereka.


Sedangkan Yoki dan Kenichi hanya menatap heran tindakan Gaia. Sesaat kemudian, tangan Gaia terhenti di salah satu bagian tubuh Kenichi.


"Ini ...."

__ADS_1


“Yah, lumayan sih tapi untungnya kami bisa mengatasi masalah itu.”


Yoki memotong, berusaha untuk meredakan suasana. Ia tahu kekuatiran Gaia, tapi Yoki tidak menginginkan itu. Biar masalah ini tidak berkepanjangan, pikirnya.


__ADS_2