
Malam semakin larut. Di sebuah hutan yang lebat, nampak seseorang sedang berjalan melewati barisan pepohonan. Dia disambut, dengan suara hewan malam yang khas.
Berjalan melewati pepohonan yang berdiri rapat, tentu tidaklah mudah. Bahkan, cahaya rembulan saja tidak diperbolehkan untuk masuk.
“Yo, Terasaka.”
Sekarang dia sudah ada di area terbuka dan akhirnya cahaya bulan dapat menyentuhnya.
“Sepertinya, aktingmu cukup baik untuk seorang pengkhianat.”
Haori mendekati Terasaka terlebih dulu, baru dia mau bicara.
“Omong kosong, aku tidak pernah menganggap mereka sebagai temanku.”
“Hoo, aku mengerti … aku mengerti,” Terasaka sedikit bergeser agar Haori mempunyai tempat untuk duduk, “Walaupun aku tidak tahu apa motifmu membantuku.”
Mereka saat ini sudah duduk berdua di atas akar pohon, dengan kedua mata yang saling bertatapan.
“Lebih baik kau tidak usah bertanya, jika kau masih membutuhkan bantuanku.”
“Jangan sok penting, jal*ng.”
Hanya sebuah desahan sebagai balasan, bahkan kata-kata itu tidak bisa menyudutkan Haori. Baginya, itu hanyalah salah satu kicauan liar milik Terasaka.
“Hee … jal*ng, apa brengsek sepertimu ini ingat kenapa aku bisa bekerja sama denganmu?”
Terasaka sekarang ingat. dia sedikit menurunkan temperamennya. Kebiasaan temperamentalnya memang harus dikurangi, jadi sekarang dia juga akan berpikir sebelum bicara.
“Ya … baiklah. Lagipula, kenapa kamu sampai segitunya ingin menjatuhkan mereka?”
“Yang itu juga jangan ditanya.”
Terasaka kembali mendesah kesal, tapi untuk sekarang dia tidak mau membalas Haori lagi.
“Yang pasti aku hanya ingin dia yang layak, kembali untuk dinobatkan.”
Penuh dengan makna, tapi bagi Terasaka itu semuanya hanyalah ucapan yang ngaco saja. Dia menghiraukannya saja, tidak berkomentar, apalagi melawan. Sedangkan Haori, dia menatap bulan dengan membuang senyuman. Entah karena bulan purnama yang indah, atau sedang memikirkan sesuatu.
“Terus kapan kita akan melancarkan rencananya?”
“Lusa.”
“Kenapa harus menunggu selama itu? Aku dan yang lain juga sudah siap.”
Terasaka terlalu banyak bertanya dan itu membuat Haori kesal. Dia langsung membantingkan tatapan, bersiap untuk menjawab dengan nada yang mungkin tidak akan enak untuk didengar.
“Bego! Kenapa kau banyak bertanya sih? Terserah akulah, lagipula besok dia sakit.”
Ekspresi Terasaka sudah dapat ditebak. Yah, dia bergidik kesal, giginya bergemeretakan. Ingin rasanya meremas-remas kepala Haori, yang boleh dibilang imut.
“Ba-baiklah,” Terasaka membuang tatapan, “Kalau gitu aku akan beritahu yang lain.”
Sejenak, keheningan menyelimuti mereka. Keduanya saling bergumam sendiri, dengan tatapan ke arah yang berbeda. Malam semakin larut, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam.
“Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu.”
Haori berdiri, untuk sejenak dia menatap Terasaka.
“Apa kamu memang benar-benar tidak akan bersekolah lagi?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Haaah, ya sudahlah. Lagipula kau benar, aku juga tidak peduli yang penting rencana dan kesepakatan kita masih tetap berjalan.”
Sekarang Haori sudah tidak menyimpang dari jalannya, dia menjauhi Terasaka, meninggalkan dia yang masih menatapnya. Hingga hilang jejak Haori, barulah Terasaka membuang tatapan itu. Untuk sementara waktu dia masih ingin tetap di situ, hendak merenungkan semuanya.
“Anak itu …,” dia sudah sendirian, sekarang dia bebas untuk mengepalkan tangan dengan sangat keras, “Harus membayar semua ini.”
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Gaia sedang menderita di kamar. Yah, lebih tepatnya di tempat tidurnya, di dalam mimpinya.
Mimpi yang sama seperti kemarin, berulang terus hingga membuat Gaia frustasi. Dia menjadi gila karena semua mimpi itu, dia benar-benar tidak tahu dengan semua ini.
Mimpi, makhluk aneh, dan kejadian mistis yang mengherankan itu. Kapan akan berakhir? Dan kenapa harus dia? Yah, itulah pertanyaan yang selama ini Gaia pikirkan dalam penderitaannya.
“Siapa kamu?”
Pertanyaan yang terus diulang. Tapi dengan cara pembawaan yang berbeda-beda, topeng-topeng dan semua bentuk wajah yang tidak jelas terus mengelilinginya.
Sedangkan Gaia, duduk dengan kaki yang dilipat dan kedua tangan yang berusaha melindungi telinganya. Dia tidak punya jawaban lagi, karena satu jawaban yang sama akan terus ditolak. Alhasil, dia hanya menunggu akhir, akhir berupa kesadaran yang kembali lagi.
“Haaah … haaah … haaah … kenapa, kenapa mimpi itu tidak berhenti saja? Apa yang harus aku lakukan?”
Sekarang pukul 06.00. Dia baru bangun dan mengusap keringat yang mengucur. Tapi, tiba-tiba dia tersentak. Untuk memastikannya kembali, Gaia menaruh lagi telapak tangannya di dahi.
“Panas, apa aku sakit?”
Gaia beranjak dari tempat tidurnya. Dia hampir jatuh, bahkan topangan kakinya saja menjadi lemah. Sampai di sepanjang perjalanan, Gaia harus berpegangan dengan benda yang lain.
Dia ingin pergi ke toilet dan setelah semua perjuangan itu, akhirnya dia sampai.
“Wajahku memerah?” sesaat Gaia memegangi dahinya, “Pantas saja, suhu tubuhku meningkat. Tapi, kenapa ini bisa terjadi? Apa karena mimpi kemarin?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus dilayangkan. Karena tidak ada yang bisa menjawab, akhirnya Gaia sendirilah yang harus menjawabnya.
Sementara itu di sekolah ….
“Heh! Kenapa Gaia belum masuk juga?”
“Entahlah.”
“Tapi dia akan terlambatkan?”
“Iya juga sih, apa dia kelelahan yah?”
Segera setelahnya, seisi kelas beserta bu guru sudah hadir di dalam. Mereka semua sudah duduk dalam keadaan siap, siap untuk menerima pelajaran.
“Anak-anak, ibu punya pengumuman.”
Semua mata tertuju pada satu titik.
“Hari ini Gaia tidak masuk karena sakit.”
“Apa benar yah yang dikatakan Kenichi. Kayaknya Gaia kelelahan waktu bermain di taman hiburan.”
Yoki hanya bergumam, saat ini dia hanya memikirkan Gaia saja. Kuatir, sudah pasti. Dia mungkin hanya menebaknya sebagai kelelahan, tapi tetap saja reaksi yang ditimbulkan terlalu berlebihan.
Bahkan kekuatirannya dibawa hingga waktu pulang, dimana Yoki mengajak Kenichi dan Haori menjenguk Gaia.
“Baiklah, tapi apa kamu tahu di mana alamatnya?”
“Ee …,” Yoki terdiam, dalam bimbang dan heran, “Bentar … bentar, aku tidak tahu.”
“Dasar!”
Kenichi menyilangkan kedua tangan di depan dada, itu adalah simbol kekesalan Kenichi. Sedangkan Haori, dia sih biasa-biasa aja.
“Bukannya kamu pernah mengikuti Gaia?”
“Ya tapi gak sampai ke rumahnya juga.”
“Sudah, sudah. Lebih baik kita tanya langsung aja ke guru.”
Tiba-tiba Haori angkat bicara, dia memberikan saran yang jika dilihat dari ekspresi Yoki dan Kenichi, kemungkinan saran inilah yang akan diterima.
“Yosh! Benar juga tuh, baiklah biar aku yang minta.”
__ADS_1
Yoki berinisiatif, dia yang mengajak mereka berdua, maka dia juga yang harus bertanggung jawab pada rencananya.
Setelah menunggu lima sampai sepuluh menit, akhirnya Yoki datang. Sebuah senyum ditampilkan, mungkin pertanyaan Kenichi sudah terjawab.
“Bagaimana?”
“Aku sudah dapat alamatnya, thank you Haori.”
Haori hanya tersenyum, sedangkan Kenichi berdiri.
“Baiklah, sekarang kita langsung saja ke sana.”
Yoki selalu pulang pergi bersama Gaia. Jadi sudah pasti bus yang mereka naiki mempunyai jurusan yang sama, dengan yang dinaiki Yoki dan Gaia.
Setelah sampai di pemberhentian yang biasanya, mereka tinggal berjalan saja. Kira-kira jarak yang ditempuh sekitar 5 kilometer, cukup jauh bukan.
Entah Gaia memang suka berjalan jauh atau gimana, namun faktanya di sepanjang perjalanan mereka bertiga menemukan beberapa halte. Jika ditotal-total, jumlah halte yang mereka temukan ada tiga, tersebar di ruas kanan dan kiri jalan.
Apakah Gaia tidak melihat ketiga halte itu? Mungkin bukan itu alasannya. Tidak mungkin halte yang lumayan besar bahkan lebih besar dari halte di rumah Yoki bisa sampai tidak terlihat oleh mata Gaia.
“Akhirnya sampai, kirain deket.”
“Iya juga sih, jaraknya lumayan jauh dari rumahmu.”
“Mungkin dia suka berolahraga kali yah.”
Ketiganya mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Namun tidak dapat dipungkiri, untuk menempuh jarak yang seperti ini saja sudah dapat membuat Yoki dan Haori kelelahan.
“Haaah, kita bertemu dengan Gaia saja dulu.”
Yoki membunyikan bel dan memanggil Gaia. Dua tiga kali dipencet, barulah ada jawaban dari dalam. Suara perempuan. Kemungkinan besar itu Gaia, jika didengar dari nada dan gaya bicaranya.
Hingga pintu terbuka, barulah dugaan mereka berempat terbukti benar. Yap, itu Gaia tapi dengan kondisi yang memprihatinkan.
Tubuhnya pucat, wajahnya memerah. Mereka berempat tersentak, bahkan itu melebihi perkiraan mereka.
“Ga-Gaia.”
Semuanya sudah ada di dalam rumah Gaia. Saat ini mereka semua ada di kamarnya, duduk mengelilingi tubuh Gaia yang terbaring lemah di tempat tidur.
“Sejak kapan kamu begini?”
Kenichi yang memulai pertanyaan.
“Sejak tadi pagi.”
“Ada gejala lain?”
“Ahh sudahlah Kenichi, aku tidak apa-apa. Palingan cuma demam saja, mungkin karena berdiri di bawah sinar matahari terus kemarin.”
“Oke … oke .…”
Bukannya tidak mau menjawab. Gaia hanya tidak ingin masalah ini diperbesar oleh teman-temannya. Bahkan dia yang hanya sakit seperti ini saja, mereka sudah terlalu kuatir dan menjenguknya. Yah, bagi orang lain mungkin itu agak wajar, tapi bagi Gaia itu agak sedikit berlebihan.
“Kalau gitu, gimana kalau aku dan Kenichi membuatkan makanan untukmu?”
“Hee … tidak usah repot-repot.”
“Ahaha, tenang tidak akan repot kok.”
Kali ini Gaia tidak bisa lagi menolak bantuan teman-temannya. Tandanya, dia hanya menghela nafas tanda pasrah pada permintaan Yoki. Setidaknya keinginan mereka untuk menjenguknya harus diapresiasi dengan mengabulkan permintaan mereka.
“Baiklah, tapi gunakan saja bahan-bahan di dapurku.”
Kenichi dan Yoki mengangguk tanda mengerti. Dalam sekejap saja, mereka berdua sudah menghilang dari pandangan. Tapi terlalu bersemangat juga tidak baik, mereka berdua bahkan lupa kalau mereka tidak pernah masuk bahkan mengunjungi rumah Gaia.
Alhasil, mereka harus mencari dapurnya sendiri. Memang sih bisa kembali dan bertanya pada Gaia, tapi mereka takut akan mengganggunya.
__ADS_1