
“Haaah, syukurlah.”
Yoki duduk terlentang, setelah semua ketegangan tadi hilang. Dia duduk dengan kedua tangan yang menopangnya di belakang.
Sedangkan Gaia, dia masih termenung dengan ucapan tadi. Tapi, efeknya sekarang sudah berkurang drastis.
“Payah! Lagi-lagi gagal.”
Gaia membuang tatapan ke samping, saat Kenichi datang menghampirinya. Dia merasa tak layak lagi menatap teman-temannya, karena dia tidak melakukan apa-apa.
“Kenichi, kamu tidak apa-apa?”
Saat di tanya, Kenichi langsung melihat ke arah perut. Di situ terdapat luka bekas cakaran yang melintang diagonal ke arah kiri. Luka itu tentu telah membuat bajunya robek, searah dengan cakarannya.
“Agak sakit sih. Tapi, aku tidak apa-apa.”
“Haaah, kau terlalu nekat Kenichi. Sebaiknya luka itu diobati.”
Kenichi duduk, hendak membalas ucapan itu.
“Yahaha, oke oke. Ehmm, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Gaia?”
Sekarang keduanya melirik ke arah Gaia yang masih saja membuang tatapan dari mereka berdua.
“E-ehm, aku … aku tidak apa-apa.”
“Haaah, apa kamu masih memikirkannya?”
Pertanyaan itu sedikit menarik perhatian Gaia. Matanya melirik Kenichi sebentar, lalu kembali ke posisi semula.
“Maksudmu?”
“Yang tadi kah?”
Yoki ikut perbincangan dengan sebuah pertanyaan yang disampaikan.
“Ahh ti-tidak aku .…”
“Haaah dengar Gaia. Tidak ada dari antara kita yang bisa segalanya. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kamu punya kelebihan memasak dan bagi kami, itu tidak apa-apa kalau kamu mau melibatkan kami dalam bakatmu. Kita adalah teman dan sudah menjadi tugas kami untuk melengkapi satu dengan yang lainnya.”
“Hahaha, ternyata Kenichi bisa juga jadi seorang motivator.”
Yoki menyerobot lagi, dengan sebuah ledekan.
“Nih anak pengen ditampar yah.”
Kenichi mengiringinya dengan mengekang leher Yoki. Bukan serius, hanya sekedar gurauan belaka. Itu sudah terlihat, dari tawaan yang dikeluarkan oleh keduanya.
Tapi sayangnya, teman mereka yang satu lagi tidak terpancing dengan hal itu.
Gaia juga pura-pura tidak peduli, dengan masih mengacuhkan perkataan Kenichi. Tapi, itu tidak bisa disembunyikan telinganya. Telinganya masih terbuka dan masih mendengar setiap kata-kata yang masuk.
“Lagipula, terima kasih yah untuk yang tadi.”
“Hah?”
Sekarang Gaia benar-benar terpengaruh. Tatapan yang tadi telah dibuang, kini telah menatap Kenichi.
“Apa aku berguna?”
“Tentu saja, kalau kamu tidak menjadi umpan. Mungkin hewan itu masih akan terfokus padaku.”
Mendengarnya, membuat Gaia tidak kuasa menahan kesedihan. Dia langsung menangis dan memeluk Kenichi dengan erat. Di situ dia lampiaskan semuanya, kesedihan yang dipendam tadi.
“Ta-tapi, apa aku boleh membalut lukamu. Yah, sebagai permintaan maaf dariku.”
Gaia berucap, sembari melepaskan pelukannya. Tangisannya sekarang sudah habis dan unek-uneknya telah keluar.
“Kenapa tidak.”
Kenichi menjawab dengan senyuman. Dia senang, karena temannya telah baikan.
*****
Setelah luka Kenichi telah diobati dan ditutup, dia langsung bangkit berdiri dari posisinya tadi. Begitu pun dengan Yoki dan Gaia yang berdiri setelahnya.
“Apa kamu bisa berjalan?”
“Dasar bodoh hahaha ... orang aku tadi jalan ke sini kok.”
Kenichi bahkan menambahkannya dengan sebuah jitakan di kepala Yoki.
“Adududuh, kalau gitu harusnya aku makin menambah lukamu.”
“Heh, mana bisa orang yang selalu kalah dariku, bisa melukaiku.”
Kenichi menyindir, sembari membungkukkan badan ke arah Yoki. Sedangkan, Yoki membuang tatapan karena dia sudah mendapatkan serangan yang telak.
“Oh yah, kamu bisa pulang sendiri?”
__ADS_1
“Yah, begitulah.”
Kenichi menjawab pertanyaan Gaia, sembari menepuk-nepuk luka yang sekarang sudah tertutup.
“Gimana kalau kita pulang bersama? sebagai ganti perjalanan ini.”
“Terserah, kalau uang kalian masih ada. Lagipula, ini sudah sore.”
Yoki menatap ke ponselnya, hendak memastikan waktu saat ini. Masih jam dua lebih setengah, bus di kota itu masih beroperasi pada jam segitu.
“Yalah, kalau Gaia?”
Yoki bertanya sambil menatap Gaia.
“Aku sih ikut-ikut aja.”
Akhirnya keputusan telah diambil. Walaupun rencana hari ini gagal, tapi setidaknya mereka masih utuh dalam keadaan yang boleh dikatakan baik.
Ketiganya menuruni bukit dan menaiki bus yang lewat di jalan. Memakan waktu yang lumayan cukup singkat, mereka bertiga menghabiskannya dengan bersenda gurau di dalam bus.
Mereka sampai di sebuah gang yang sepi, seperti tidak ada tanda kehidupan di gang itu. Ketiganya turun secara beriringan.
“Apa Kenichi benar-benar tinggal di tempat yang seperti ini?”
Yoki bertanya dalam hati. Dia melihat sekilas pemandangan yang terhampar di depannya. Barisan toko tutup dan coretan serta gravitasi menjadi penghiasnya.
Tapi waktunya tidak banyak, karena Kenichi sudah berjalan terlebih dulu dan mereka harus mengikutinya.
Setelah menelusuri gang itu, sampailah mereka di sebuah bangunan tua. Bangunan itu nampak sangat tua dan tidak terurus, dari penampilannya bangunan itu memiliki dua tingkat.
Sekilas mereka berdua melihat rumah itu dan menilainya sebagai rumah yang terbengkalai, tidak terurus dan anehnya lagi, ada bau amis di dalam rumahnya. Bau amis yang semerbak dan saking menyengatnya sampai mereka berdua merasa mual karena itu.
Tapi tidak sampai menunjukkan dan memperlihatkan maksudnya secara tersurat. Mereka menghargai Kenichi, walaupun temannya itu memiliki berbagai misteri.
“Itu rumahku.”
Kenichi berjalan dan menjauhi mereka berdua. Mereka berdua hanya diperbolehkan mengantar sampai ke tepi dari halaman depan rumah itu.
Kenichi pun berbalik ke arah mereka berdua dan kemudian melambaikan tangannya, tanda pamit
“Dah, Yoki dan Gaia.”
Yoki dan Gaia membalas lambaian Kenichi, lalu berbalik dan pergi menjauh dari rumah tersebut. Sedangkan Kenichi, rumahnya sudah ada tepat di belakangnya. Jadi dia tinggal berbalik dan masuk.
“Itu tadi, bau apa yah?”
Dalam gumamannya, Yoki bertanya. Dia masih enggan untuk mengungkapkan pertanyaan itu.
Gaia bertanya, dengan langkah yang masih berjalan.
“Heee, tenang saja. Itu bukan kegagalanmu kok.”
Bukan sekedar jawaban, Yoki mengiringinya dengan tangan yang memeluk bahu Gaia, Hal ini tentu membuat Gaia kaget, apalagi dilakukan tanpa aba-aba.
“Kyaaa .…”
Sebuah tamparan secara reflek berhasil mendarat di pipi Yoki.
“Ughhh, apa salahku?”
“Serius ih, aku beneran masih merasa gak enak aja.”
“Haaah, kan sudah dibilang Kenichi. Kamu jangan merasa yang paling tidak berguna di antara kita bertiga. Semuanya memiliki kelebihannya masing-masing, hanya bukan pada tempatnya saja.”
Tatapan Yoki ke depan, sedangkan Gaia masih memfokus pandangan ke arah Yoki.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Sekarang giliran Yoki yang menatapnya di samping, sedangkan Gaia menatap ke depan.
“Apa ada yang aneh dariku?”
Pertanyaan itu tidak menimbulkan kecurigaan bagi Yoki, dia hanya menganggap itu sebagai sebuah pertanyaan biasa.
“Apa yah, paling pas kamu bilang kamu mau ikut lomba memasak. Aku gak nyangka kamu bisa masak hehe.”
“Sudah kuduga, aku juga tidak bisa memecahkan misteri ini.”
Setelah bergumam, Gaia kembali memalingkan pandangan ke arah Yoki.
“Lagi?”
Sejenak Yoki berpikir, dengan satu tangan yang terlihat menggaruk pipinya.
“Ehmmm, owh perilakumu kali. Akhir-akhir ini, kamu sering berubah aneh dan entah kenapa, kamu seperti menjadi orang lain. Lalu yang terakhir …,” Yoki memalingkan mata untuk menatap Gaia, “Bando berbentuk tanduk itu.”
Gaia tersentak, pada jawaban yang terakhir. Tapi kekagetan itu tidak terlihat, hanya disembunyikan dalam hati.
“Eee … ehm.”
__ADS_1
Gaia langsung membuang pandangan ke depan, dia tidak mau meneruskan lagi pertanyaannya. Sepertinya dia sudah puas. Tapi lagi-lagi, dia juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan, yang dia buat dari jawaban Yoki.
“Tidak usah dianggap serius Gaia, aku hanya .…”
“Hei kalian.”
Seseorang tiba-tiba menghalangi jalan mereka. Jalannya masih berupa gang, jadi walaupun yang menghalangi hanya satu orang, tubuh orang itu sudah menutupi hampir setengah bahu jalan.
“Iya, ada apa?”
“Kenapa kalian masih berada di daerah sini? Ini kan sudah sore.”
Wujudnya adalah seorang bapak berkumis yang memakai sebuah topi bowler dan jas hitam panjang.
“Eee … kami tadi habis mengantarkan teman kami pulang.”
“Oh begitu, lain kali kalau sudah sore gini kalian cepat pulang. Apalagi bus akan berhenti beroperasi saat hari menjelang malam.”
“Ba-baik pak.”
Yoki dan Gaia kembali meneruskan perjalanan, setelah bapak itu menyingkir dari jalan mereka.
“Apaan sih, malam juga masih lama. Lagipula, bus di kota ini akan berhenti beroperasi sekitar 3 jam lagi.”
Gaia bergumam, dari sini dia mulai merasakan keganjilan dari ucapan bapak tersebut. Kenal saja tidak, tapi bapak itu sudah sok akrab dengan mereka. Itulah yang dipikirkan Gaia.
“Oh yah tunggu dulu, siapa nama teman kalian?”
Saat jarak di antara mereka sudah terpaut sepuluh meter, tiba-tiba bapak itu bertanya dengan nada yang ditinggikan. Itu dilakukan, agar Yoki dan Gaia bisa mendengar suaranya.
Rencananya berhasil, Yoki dan Gaia kembali berbalik badan untuk melayani pertanyaannya.
“Kenichi.”
“Lengkapnya?”
“Eee, kenapa bapak bertanya?”
Sekarang giliran Gaia yang bertanya, dia mulai merasa curiga pada perilaku bapak itu. Lagipula, untuk apa bapak itu bertanya nama lengkapnya?
“Kalau bapak itu punya urusan pada Kenichi, dia sudah pasti harus tahu siapa nama lengkapnya. Kalau bapak itu hanya sekedar iseng bertanya, untuk apa dia mengetahui nama lengkap dari Kenichi. Cukup nama panggilan saja kan, toh orang itu pasti tidak mengenal Kenichi.”
Itulah hasil analisis dari otak Gaia, dia tidak hanya asal dalam menyampaikan pertanyaan. Ada sebuah argumen yang kuat di dalamnya.
Tapi hanya sekedar gumaman, yang diperlihatkan cuma tatapan tajam yang fokus pada gerak-gerik milik lawan bicaranya.
Sedangkan ekspresi Yoki, dia hanya mengikuti alur. Lagipula, dia percaya pada tindakan temannya.
“Ahh, tidak apa-apa.”
Jawabannya hanya seperti itu, benar-benar tidak memuaskan Gaia. Bapak itu hanya menambahkan sebuah garukan pada kepalanya, lalu berbalik dan menghilang di perempatan gang.
Sedangkan Gaia, hanya bisa bergidik kesal. Untung bapak itu pergi ke lorong yang bukan lorong yang menuju ke rumah Kenichi.
“Haaah … sudahlah Gaia, tidak usah diseriusin.”
Yoki menepuk pundak Gaia, lalu berbalik dan meneruskan perjalanan. Sedangkan Gaia langsung merubah ekspresinya dan mengejar Yoki.
“H-hey Yoki, tunggu.”
Sekarang posisi mereka sudah sejajar.
“Tapi entah kenapa, tempat tinggal teman kita yang satu ini sungguh misterius.”
“Haaah, aku merasakan kekelaman yang mendalam darinya. Apalagi, dia pernah membunuh … akhhh!”
Lagi-lagi, tusukan demi tusukan terus melayang ke kepalanya. Dia tidak bisa menahan rasa sakit itu. Tapi penyebabnya bukanlah cerita Kenichi, melainkan mimpi yang tempo hari pernah dilihatnya.
Yah, kisah Kenichi telah menjadi sebuah tombol pengingat kenangannya. Walaupun, dia tidak bisa memastikan apakah itu mimpi atau bukan.
“Kamu tidak apa-apa Gaia?”
“Tidak, tidak apa-apa.”
Gaia kembali bangkit dari posisinya.
“Tenang, sekarang kita sudah ada di dekat jalan raya. Jadi kita bisa langsung pulang.”
“Iya.”
Mereka keluar dari gang yang luar biasa sempit dan pengap itu. Menuju jalan raya yang terhampar di depan mereka.
“Itu busnya, haaah kita tidak perlu menunggu lama.”
Setelah bus itu berhenti, mereka berdua langsung masuk dan duduk di barisan yang paling belakang. Yoki duduk di samping jendela bus, sedangkan Gaia di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, Gaia tertidur pulas akibat kelelahan karena teriakan dan ketakutan yang menyebabkan baterai energinya habis.
Tapi, Yoki yang duduk di sampingnya masih bangun dengan berbagai pertanyaan yang mulai mengganggu kepalanya.
__ADS_1
Yah, dia hanya tidak mau mengungkap semuanya kepada Gaia. Apalagi, baru di awal percakapan saja, sudah dipotong oleh Gaia yang merasakan kesakitan di kepalanya.