RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
JATI DIRI


__ADS_3

“Saya Yamaguchi Koto, ingin bertanya kepada Anda.”


“Silahkan.”


“Apa Anda adalah Gaia, lengkapnya Yashashi Gaia.”


“I-iya.”


Nada bicara yang sopan sih, tapi lembaga tempat dia mengabdi telah memberikan kharisma tersendiri.


“Ahh kebetulan, kami dari pihak kepolisian telah mencari Anda. Bisa tolong ikut kami?”


Inilah waktu dan kesempatan yang tadi sudah dibicarakan dengan Beelzebub. Mungkin, sebaiknya kebingungan yang melanda Gaia disudahi dulu, karena ini adalah urusan yang lebih penting.


“Sekarang waktunya, untuk aku akhiri selama-lamanya.”


Gaia sudah siap untuk berganti kepribadiannya dengan kepribadian yang dulu. Nafsu yang sedari tadi ditahan-tahan karena tidak ingin menyakiti siapapun, Gaia akan lampiaskan semuanya.


“Akhhh ….”


Tekanan yang luar biasa mencuat keluar dari dalam tubuh. Pak polisi bisa merasakan adanya kehadiran aura yang janggal. Andai dia bisa lihat, aura itu berwujud seperti asap hitam yang mengelilingi Gaia. Perlahan menelan dan menghasilkan sesuatu yang baru. Sebuah wujud yang serupa, namun memiliki kepribadian yang berbeda.


Mata pak polisi terpana melihat prilaku dari Gaia. Dia beranggapan, gadis remaja itu sedang sakit mental, perilaku dan tindakannya seperti mengidentifikasikan kalau gadis itu sedang sakit jiwa. Memang itu yang ditangkap oleh orang awam, soalnya dari tadi Gaia hanya berdiri dengan melakukan gerakan yang sangat aneh.


“Haaaah … akhirnya, diriku yang manis … diriku yang imut … diriku yang cantik … diriku yang elegan … ahhhhh … akhirnya aku bisa melampiaskan semuanya. Nafsu, nafsu, nafsu. Kira-kira, apa pak polisi itu enak yah?”


“Nona.”


“Ahhhh … kamu ternyata sangat pengertian yah. Sangat sopan.”


Gerakan yang berbahaya telah dilakukan Gaia. Dia mendekat, sangat dekat, hingga lapisan terluarnya menyentuh pak polisi. Sesaat, ada wajah memerah yang melambangkan pak polisi sebagai laki-laki, lalu berubah menjadi wajah tegas yang melambangkan pekerjaannya.


“Nona, kumohon, aku sedang melakukan pekerjaanku.”


Gaia agak menjauh sedikit, tapi bukan berarti dia takut dengan wibawa pak polisi. Dia mengangkat tangan, lalu ditepuk-tepukkan di atas kepala pak polisi. Begitu lembut, rambut pendek yang rajin di bersihkan. Lalu memberi senyuman sebagai tanda apresiasi.


“Wah, anak baik … anak baik .…”


“Kumohon nona ….”


Pak polisi langsung menghempas tepukan tangan Gaia. Dia sangat kesal, dia pikir dia anak kecil apa, pakai ditepuk-tepuk segala.


“Ikut kami, sekarang.”


Senyuman Gaia lama-lama menjadi jijik juga. Pak polisi saja sampai enek melihatnya.


“Baiklah.”


Pak polisi menyingkirkan wajah dari hadapan Gaia. Dia sudah tidak kuat menatap wajah penuh godaan. Pak polisi pun berbalik dan bergegas ke mobil. Gaia sih biasa-biasa saja pada pak polisi yang tidak menggubris senyumannya.


“Ayo nona.”


“Baik.”


Gaia melangkahkan kaki menuju mobil. Di depan, persis berdiri di samping pintu belakang mobil, pak polisi sedang menunggu untuk memasukkan remaja itu ke dalam. Begitu masuk, maka tugas pertamanya sudah selesai.

__ADS_1


Tapi sayangnya, tidak akan berjalan semudah itu. Dari tadi, pak polisi sudah tidak sabaran menunggu Gaia yang masih saja memperlambat langkah. Melihat langkahnya saja sudah jijik, Gaia berjalan dengan setiap langkah yang diangkat 90 derajat. Apalagi tangannya, terlipat sempurna di belakang, seperti menyiratkan maksud tersembunyi.


Pak polisi menonton prilaku Gaia, sampai Gaia masuk ke dalam mobil. Dia pun menutup pintu, dan langsung pergi ke kursi mobil barisan depan. Ternyata bukan dia seorang yang datang ke tempat ini. Di samping, telah duduk seseorang yang akan menjadi pengemudi. Yah, seragam yang serasi mengisyaratkan kalau mereka berdua adalah rekan.


“Kita langsung pergi.”


“Oke.”


Mobil dinyalakan, gas ditancapkan. Mereka ingin cepat-cepat pergi ke kantor, agar bisa menginterogasi Gaia.


Jalanan kota Beppu hari ini nampak ramai, orang-orang nampak sangat sibuk dengan urusannya. Gaia yang sedari tadi melihat aksi mereka nampak kasihan, dalam benaknya timbul berbagai pertanyaan.


“Kalian kasihan sekali, harus banting tulang untuk mengejar sesuap nasi. Ahhhh … kalau saja aku bisa membagi berkat kerakusanku pada kalian, ahhhhh … pasti dunia ini menjadi lebih indahhhh ….”


Gumamannya sih tidak terdengar, tapi desahannya tertangkap oleh telinga kedua polisi yang bersama Gaia. Mereka sesaat melirik ke belakang, takutnya ada sesuatu yang aneh sedang dilakukan Gaia. Ternyata tidak, hanya seorang gadis yang tersenyum sambil menatap keluar jendala.


“Koto, apa kamu sudah tahu tentang pembunuhan yang terjadi kemarin sore?”


“Yang satu lagi yah?”


Di tanya kembali, pak polisi itu menghela nafas sebentar.


“Iya, memang tidak biasa pembunuhan kemarin. Dalam 1 hari, sudah ada dua kasus pembunuhan. Jadi pasti kamu bingung.”


“Ya begitulah, soalnya kota ini biasanya aman.”


Melirik Koto sekilas, pak polisi langsung membuang tatapan ke jalanan. Sedangkan Koto, dia sedang mencoba mengingat kejadian kemarin.


“Pelakunya, para anak buah mafia itu kan?”


“Haaah … memang dunia yang kejam, apanya yang aparat penegak hukum. Kita seperti sedang memelihara seekor singa di kota ini.”


“Bagaimana lagi, yang berkuasalah yang memegang segalanya.”


Ikut menikmati pemandangan di luar mobil, Koto ingin membuang racauan yang tadi dia umpat. Sekarang mereka berdua sudah senyap, kesempatan Gaia untuk membuat dirinya lebih diperhatikan. Dia memalingkan mata dari jendela, lalu memajukan badan untuk merengsek masuk ke dalam kesenyapan mereka berdua.


“Kenapa dari tadi kalian tidak membicarakanku? Malah ngebicarain tentang kasus yang lain. Haaah … aku jadi iri.”


“Eee … nona ….”


Saat Koto hendak berbalik ke belakang, Gaia sudah memberikan hadiah padanya. Berupa cairan, yang terlukis di leher. Sontak, Koto pun meraba hadiah tersebut dan kembali menatap Gaia dengan kesal.


“Apa yang dia lakukan … ahhh ….”


Hadiah yang sama juga diterima rekannya. Dia begitu geli dengan gesekan permukaan objek itu, sampai hampir kehilangan fokus pada jalanan.


“Apa yang kamu lakukan nona?”


Koto tidak terima dengan perbuatan Gaia, dia pun bertanya dengan nada yang dinaikkan.


“Tidak ada, aku ….”


“Diam dan duduk dengan tenang!”


Sedangkan pengemudi langsung mengerem ucapan Gaia, dia tidak mau masalah ini menjadi panjang. Mendengar bentakan itu, membuat Gaia membanting diri ke jok belakang mobil. Dia memasang mulut manyun dan di buang ke arah kiri.

__ADS_1


“Aku kan cuma mau mendengar sesuatu tentangku, atau bahkan bisa melibatkanku.”


Koto tidak mau menjawab pertanyaan itu dulu. Dia menyenderkan diri, berusaha untuk menenangkan situasi. Rekannya, sang pengemudi, masih terdiam dengan kejengkelan yang tersisa.


“Baiklah, aku ingin bertanya.”


Senyuman Gaia kembali lagi, tatapan tadi dia pungut dan diberikan ke depan. Matanya hendak menunggu kata-kata yang keluar dari pak polisi yang duduk di sebelah kiri.


“Apa kamu kenal dengan seseorang yang bernama Eiji?”


“Kenal sih tidak, tapi kami pernah bertemu.”


Koto memasang ekspresi kaget, kepalanya sedikit dipalingkan ke belakang. Walaupun dia ingin agar pertanyaan ini disampaikan sewaktu di kantor, tapi tidak ada salah mencoba menyampaikan pertanyaan ini lebih awal, apalagi jika itu dapat membuat Gaia tenang dan tidak melakukan hal yang seperti itu lagi.


“Kapan dan dimana tepatnya?”


“Uhm, kemarin sore, di rumahnya.”


Pengemudi juga menguping pembicaraan mereka berdua, telinganya nampak bergidik saat mendengar jawaban yang dilayangkan Gaia.


“Jangan-jangan memang benar, tapi cara membunuh seperti apa yang dia lakukan.”


Pengemudi hanya bergumam, dia hendak menyimpulkan dari balik tontonan. Awalnya memang pihak kepolisian ragu dengan saksi yang mengatakan kalau gadis ini adalah satu-satu orang yang datang ke rumah Eiji, artinya kan secara tidak langsung Gaia menjadi tersangka.


Tapi yang membuat mereka bertambah bingung adalah cara kematian seperti apa yang diberikan Gaia pada Eiji. Bahkan boleh dibilang, mereka juga bingung dengan kematian Eiji. Apa yang dimaksud di sini adalah tubuh dari korban, benar-benar bersih, hanya tersisa tulang belulang saja.


Jika kalian ada di posisi mereka, kalian pasti mengerti, betapa janggalnya kematian Eiji. Yang terlintas dan yang memungkinkan adalah hewan buas. Hmmm, tapi ada beberapa hal yang tidak akan bisa dipecahkan oleh argumen liar tersebut.


“Koto.”


Koto langsung menyahut saat dipanggil rekannya. Melihat tanda yang dijelaskan mata, Koto mengerti kalau dia harus sangat dekat dengan si pengemudi.


“Coba kamu langsung to the point saja, tanya … apa dia yang membunuh Eiji dan bagaimana cara membunuhnya.”


“Apa kamu yakin?”


Anggukan kepala telah menegakkan tekat Koto, dia pun menarik kepala dan memberikan perhatian pada Gaia yang tersenyum di belakang.


“Nona, apa kamu yang membunuh Eiji?”


“Tentu saja.”


Tidak ada reaksi apapun saat dia menjawab, hanya jawaban yang penuh keyakinan dan semangat. Tentu saja itu jauh dari perkiraan Koto, dia sampai ternganga saat mendengar jawaban Gaia. Jawaban itu telah menegaskan kalau lawan bicara mereka adalah seorang psychopat yang sangat mengerikan.


“Lalu, bagaimana cara kamu membunuhnya?”


“Dengan berkat, seperti yang telah aku berikan pada kalian.”


Diksi yang penuh teka-teki, tapi mengarah pada sesuatu yang negatif. Kedua polisi juga merasakan itu, dengan firasat buruk yang tiba-tiba muncul.


“Apa maksud Anda kalau boleh tahu?”


Sebuah pertanyaan yang keluar dari balik jok depan mobil. Mereka berdua tidak mau lagi menatap wajah Gaia secara langsung, ada ketakutan yang terselubung di benak mereka. Lagipula, sikap dan prilaku Gaia sangat aneh, mereka menaruh curiga padanya.


Memutuskan untuk mengamati dari cermin yang terletak di tengah mobil, mereka mendapati sebuah senyuman yang selaras dengan keheningan yang Gaia hasilkan.

__ADS_1


“Baiklah, akan kutunjukkan pada kalian.”


__ADS_2