RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~BERTEMU GAIA~


__ADS_3

Suara alarm ponsel Yoki berbunyi, membuat kesadaran Yoki akhirnya kembali dari dalam dunia mimpinya. Kini Yoki bangun dengan posisi duduk dan kakinya yang terlentang, sembari mematikan alarmnya.


“Hooaaahm … sudah pagi yah.”


Dirinya bergumam sambil bangkit berdiri membereskan tempat tidurnya dan melakukan aktifitas pagi seperti biasa sebelum pergi ke sekolah.


Yoki segera mengambil handuk dan bergegas pergi menuju kamar mandi, menyegarkan badannya dan setelah selesai Yoki pun kembali ke dalam kamar dan segera membereskan semua peralatan serta perlengkapan sekolah ke dalam tasnya.


Kini Yoki melangkah ke dapur saat semua perlengkapan dan peralatan yang akan ia bawa ke sekolah sudah lengkap. Ia menuju ke depan pintu lemari makanan dan membuka pintu lemari tersebut.


”Waduh … lupa lagi beli makanan yang lain, gara gara lelah sih kemarin,” keluhnya sambil menggenggam keluar roti yang berada di dalam lemari.


Setelah mengambilnya, Yoki segera melangkah ke arah sebuah kursi dan duduk di atasnya. Satu tangannya ditekuk membopong dagu dan satu tangannya lagi memegang roti.


"Haah ... walaupun sarapanku kali ini roti lagi, tapi ya sudahlah ... yang penting aku bisa makan."


Ia hanya bisa meracau kecil sambil kembali mengunyah-ngunyah makanannya dan menyelesaikan sarapan paginya.


Setelah sarapan, Yoki segera memakai sepatunya sembari keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah dan seperti biasa, Yoki tidak lupa untuk berpamitan terlebih dulu dengan rumahnya.


Saat dia sedang berjalan menuju halte bus, lantunan angin merdu terdengar melintas di telinga Yoki. Suasana pagi yang dingin, berhasil menyejukan dan membuat Yoki terbangun sepenuhnya dari rasa kantuk.


Mata Yoki melirik-lirik ke segala arah dan tanpa sengaja ketika ia melirikkan mata ke sembarang arah ....


Tepat di seberang jalan terlihat seorang siswi yang sepertinya dia kenal. ”Hei itu kan cewe yang terlambat kemarin, ternyata rumahnya searah denganku,” gumam Yoki dalam hati.


Matanya terus menerus mengikuti langkah siswi itu sampai terhenti di seberang halte bus, hendak menyebrang.


Saat siswi itu berbelok setelah selesai menyebrangi jalan, tepat di hadapannya berdiri seorang laki-laki yang tidak lain adalah Yoki.


”Kamu ... kamu kan yang kemarin duduk di belakangku.”


Ucapan Gaia diikuti dengan alis mata yang diturunkan untuk memastikan, sambil mengarahkan satu jarinya ke arah Yoki. Dari nada bicaranya, terdengar kalau saat ini Gaia sedang gugup.


”Iya, dan kamu Gaia bukan,” balas Yoki. "Kalau gitu selamat pagi, untuk pertemuan pertama kita, kamu mau gak naik bus bersamaku ke sekolah?” lanjut Yoki mengajaknya.


Gaia yang mendengar tawaran Yoki langsung berpikir sejenak dan dengan nada yang terbata-bata ia pun menyetujui tawaran Yoki. Sekarang, mereka berdua berjalan berbarengan dan masuk ke dalam bus.


Selama perjalanan, entah kenapa Gaia terlihat gugup sekali berada di samping Yoki padahal ... Yoki adalah teman sekelasnya juga.


Setelah 30 menit perjalanan mereka pun akhirnya sampai di sekolah. Ketika mereka berdua beriringan menuruni tangga bus, Gaia langsung berbalik badan dan menatap Yoki.


"Ehmm ... anu aku mau ke toilet yah, lagi kebelet," ucap Gaia meminta izin.


"Eh gak usah minta izin emang aku seorang guru, udah ke toilet aja oke," balas Yoki yang menampilkan senyuman hangat di wajahnya.


"Eeeee ...."


Gaia pun langsung pergi meninggalkan Yoki dengan wajah yang merah merona. Pandangannya langsung berbinar melihat mata Yoki yang penuh kehangatan. Sesaat, kini langkah Gaia sudah terlihat menjauh dari hadapan Yoki dan menghilang di keramaian.


"Kenapa dia ?! haha ... ada-ada aja."


Yoki menggelengkan kepalanya sembari melanjutkan langkahnya menuju ke dalam sekolah.


Saat di lorong, memori Yoki terlintas dan terpampang jelas wajah Gaia di khayalannya. Sedangkan, dirinya masih berjalan melewati keramaian.


Kini dirinya penuh dengan khayalan tentang Gaia yang tadi berjalan bersamanya, dan tanpa sengaja ia menciptakan puisi tentang gadis yang ia temui itu di dalam hatinya.

__ADS_1


Langkah Yoki kembali berlanjut dengan pikirannya yang tenggelam dalam khayalnya hingga terhenti saat hendak melewati salah satu kelas.


Wajahnya menatap samar seseorang yang bersandar di tembok, sedangkan hatinya kini diliputi oleh rasa heran.


"Kenichi! kenapa anak itu ada di sini, aku harus mengetahui alasannya yang terus menerus memperhatikanku dari kemarin."


Saat Kenichi ketahuan, dia langsung pergi meninggalkan Yoki. Membuat Yoki semakin bingung pada tindakan Kenichi.


Dalam hatinya, mungkin timbul kegelisahan karena dirinya seperti sedang dimata-matai oleh Kenichi.


Meskipun, opini Yoki memang tak berdasar dan untuk semakin menguatkan opininya, tentu saja Yoki harus bertanya langsung pada orangnya.


"HEI TUNGGU!!!"


Yoki berteriak, sambil berlari mengejar keberadaan Kenichi yang semakin jauh hilang dari pandangannya.


"Ha-ha ... capek, dia terlalu cepat."


Yoki menyerah pada pengejarannya dan kembali merapikan baju lalu mengalihkan langkah menuju ke kelas.


Saat sudah berada di dalam Kelas, Yoki segera berjalan pelan menuju mejanya sambil mengatur kembali nafas karena kelelahan.


"Aku masih penasaran dengan Kenichi, apa yang dia inginkan dariku," sambil duduk memikirkan hal itu, bel masuk sekolah segera berdenting memutus kehaluan Yoki.


Para murid termasuk Gaia dan Kenichi pun berbondong-bondong memasuki kelas, ada yang rusuh ada pula yang tenang saat masuk menuju meja mereka masing-masing dan tak lama setelahnya giliran Bu gurulah yang terakhir kali memasuki Kelas itu.


"Selamat pagi anak-anak."


Sapaan Bu guru tidak pernah luput dari senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya, senyum itu pulalah yang mengawali kegiatan pembelajaran pada pagi itu.


TENGGG ... TENGGG ... TENGGG ... bunyi bel sekolah yang menandakan dimulainya waktu istirahat mereka dari rasa lelah yang mereka alami selama jam pembelajaran. Semuanya menghela nafas lega, sambil melepaskan pulpen yang sedari tadi erat di genggaman tangan mereka.


"Akhirnya istirahat ...," syukur salah seorang siswa sambil memegangi perutnya. Tapi guru yang mengajar mereka di depan kelas tidak menggubris dentingan bel itu sama sekali.


"Pak maaf, sudah waktunya isitrahat," ucap salah seorang siswi yang mengajukan perkataannya ke guru yang sedang duduk di hadapan mereka.


Sejenak suasana kelas jadi mencekam, keheningan kini menyelimuti kelas itu. Semua murid menatap panggaris yang di pegang erat oleh pak guru.


CLENGGG ... CLENGGG ... suara penggaris besi milik guru itu yang beradu dengan meja yang berada di hadapannya.


"Apa kau bilang, ucapkan sekali lagi coba?" pinta Guru itu kepada siswi yang berbicara tadi. Seketika, keringat dingin mulai mengalir deras keluar dari siswi itu. matanya bergemetar menatap pak guru yang memiliki penampilan garang dengan kumis yang makin menambah kesannya.


"Anu ... ini sudah jam istirahat pak," siswi itu itupun mengulangi perkataannya.


"Apa! Apa! jadi kau menyamakan aku dengan waktu istirahat Hah! dengan mengulangi perkataanmu tadi, dasar murid LAKN*T!" bentak sang Guru dengan kerutan wajahnya yang semakin terukir jelas menghadap ke arah siswi perempuan itu.


"Tapi emang waktunya istirahat Guru b*go!" bentak Terasaka yang ikut memeriahkan suasana.


Murid yang lainnya ikut termotivasi dan meneruskan perlawanan Terasaka, membuat suasana kelas menjadi sebelas dua belas dengan suasana di pasar. Sedangkan Yoki, Kenichi, serta Gaia hanya diam saja menjadi penonton pertarungan antar murid dan guru.


CLENGGG ... CLENGGG ...


"Kurang ajar kalian yah! kalian pikir kalian siapa hah!" balas sang Guru yang tidak mau kalah dengan murid-muridnya.


"Kami adalah murid-murid yang membayar uang sekolah di sekolah ini jadi uang makan dan minummu ada di dompet kami, kau tahu itu Tua b*ngka!" balas Terasaka yang kembali menunjukan taringnya.


Kepala sekolah kebetulan berjalan menuju ke Kelas itu dan ketika dia mendengar puluhan suara yang berkicau di dalam kelas. Ia langsung pergi menghampirinya, hendak mengetahui kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ada apa ini anak-anak?" tanya Ibu kepala sekolah kepada para murid di dalam kelas itu.


"Apa kau tahu Bu kepala sekolah, jika si tua b*ngka memotong waktu istirahat kami," lapor Terasaka kepada Ibu kepala sekolah.


"Dengan siapa?" sambil mengarahkan kepalanya ke sesosok pria yang berdiri di depan Kelas. "Ehhh anu ...," ucap Bu kepala sekolah dengan alis mata yang dinaikan tanda tidak percaya siapa yang sedang berada di hadapannya.


"Apa benar sekolah ini sudah bobrok Hah! bahkan mereka pun lebih mencintai jam istirahat daripada pelajaran yang sedang kusampaikan Hah!" bentak sang Guru yang amarahnya sekarang ditujukan kepada Ibu kepala sekolah yang sedang mematung di hadapannya.


"I-itu."


"Itu apa t*lol!" bentak sang Guru memotong perkataan sang Ibu kepala sekolah.


"Eee ... anak-anak ada peraturan baru, istirahat akan di mulai setelah Pak guru ini selesai mengajar, ok bye ... bye!" ucap Ibu kepala sekolah yang langsung lari kalang kabut meninggalkan kelas itu.


Semua murid dibuat bingung oleh keputusan Ibu kepala sekolah. Kini, perlawanan yang dilakukan oleh murid-murid di kelas itu terhenti seketika karena keputusan yang tadi dibuat oleh Ibu kepala sekolah.


"Kenapa dia ?! siapa orang ini sebenarnya sampai bisa membuat orang paling dihormati di Sekolah lari entah kemana," heran salah seorang siswa di Kelas itu.


"Kenalin aku adalah pemilik tanah tempat kalian bersekolah ini, namaku Elveric Albert Zugernburg biasa di panggil Pak Thomas. Sekarang kita lanjutkan pelajaran," ucap Guru itu memperkenalkan diri sambil menghadapkan dirinya kembali ke papan tulis.


"Namanya nyambung darimana!"


CLENGGG .... suara penggaris besi yang kembali diadukan lagi dengan salah satu meja di kelas itu. Semua murid langsung kembali ke tempat duduknya seperti terhipnotis oleh sosok di depan mereka.


"Baik pak!" jawab murid-murid di Kelas itu serentak yang kembali duduk manis siap untuk melanjutkan pelajaran.


Di saat waktu istirahat (yang dilencengkan oleh Pak guru).


Para murid itu pun langsung menghamburkan diri keluar kelas berserta dengan Yoki yang akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan berjalan-jalan di sekeliling sekolah. Ketika sedang berjalan-jalan, tidak sengaja dia melihat Gaia yang sedang duduk di bawah pohon sendirian sambil membaca buku.


”Hmm ... mungkin dia kutu buku jadi gak gampang bergaul seperti teman-teman ceweknya yang lain,” sambil melanjutkan kegiatan jalannya di sekitar sekolah.


Bel sekolah pun akhirnya berbunyi dan mereka semua terburu-buru untuk masuk ke dalam kelas supaya tidak terlambat. ”Haaa Belajar lagi,” keluhnya sambil berlari ke dalam Kelas. Setelah pulang sekolah Ketika Yoki berjalan melewati taman, tidak sengaja ia melihat Gaia yang sedang dikurumi oleh sekelompok siswa.


”Kalau gak salah itu Terasaka dan teman-temannya kan, tapi kenapa dia bersama Gaia ?!” ucapnya dalam hati, Yoki pun langsung  bersembunyi di dekat mereka dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


”Wah wah wah beruntung sekali kita bertemu dengan gadis cantik ini. Nona yang cantik, bolehkah aku tawari untuk ikut pulang bareng bersama kami?” ajak Terasaka.


”Tidak … tidak, aku akan pulang sendiri maaf,” tolak Gaia dengan nada yang bergemetaran.


”Cep ... cep ... cep jangan gitu dong gadis manis, aku mintanya ramah – ramah loh, lagipula tujuanku baik kok cuma pengen pulang bareng kamu doang,” rayu Terasaka.


Tanpa basa-basi ia pun langsung memegangi tangan Gaia. ”Hmmmm ... lembut juga tanganmu ini gadis cantik.”


”tidak ... tidak aku tidak mau ikut kalian,” Gaia pun menolak ajakan Terasaka sambil melepaskan pegangan tangannya.


”Ohhhh … baiklah, gak mau pake cara lembut aku paksa pake cara kekerasan aja deh,” paksa Terasaka sambil menyuruh teman-temannya untuk memegangi tangan Gaia.


”Bahaya! jika dibiarkan bisa-bisa nyawa Gaia berada dalam bahaya," sontak Yoki pun langsung menghampiri mereka, lalu mendorong teman-teman Terasaka yang memegangi tangan Gaia hingga terjatuh ”Kalian tidak punya perasaan apa, beraninya cuma sama cewek."


”Ohhh rupanya ada yang mau jadi pahlawan di sini, kalau begitu mari kita lihat apakah kamu bisa bertahan dari serangan kami atau tidak pahlawan hahaha ...," tantang Terasaka sambil menyuruh teman temannya untuk menghajar Yoki.


Tentu teman-temannya menjadi senang pada perintah Terasaka dan mulai maju dengan tangan kosong yang dikepalkan. Yoki menelan ludah saat melihat tatapan kejam yang dikeluarkan oleh teman-teman Terasaka.


Tapi dengan tekadnya untuk melindungi Gaia, ia pun maju ke depan menghadapi mereka semua. Sesaat kemudian, Yoki yang sedari tadi melawan teman-teman Terasaka malah kewalahan dan menjadi samsak mereka karena kalah jumlah.


Kini bekas-bekas luka menghiasai tubuh Yoki, menandakan kesakitan yang diterimanya dari semua serangan teman-teman Terasaka. Sementara, Gaia yang sedari tadi berada di belakang Yoki hanya bisa sedih tak berdaya saat melihat tubuh Yoki yang sudah babak belur.

__ADS_1


__ADS_2