
Ajakan Haori tidak diingkari, rencana dan waktunya benar-benar dia sanggupi. Sekarang dia telah berganti baju dan sedang menunggu di depan sekolah.
Setelah menunggu beberapa menit, muncullah tiga orang yang berjalan ke arahnya. Mereka adalah Yoki, Gaia, dan Kenichi yang sudah memakai setelan berbeda.
“Wah, ganteng-ganteng sekali. Gaia juga terlihat imut dengan pakaian itu.”
“Iya dong.”
Tiba-tiba saja Yoki berbicara, dia membanggakan pakaian yang ia gunakan.
“Tapi lebih gantengan aku Yoki.”
“Mana ada.”
“Dasar gak pernah bercermin.”
“Daripada kau yang bercermin di kubangan lumpur.”
Hanya tawaan kecil yang dikeluarkan Gaia dan Haori, mereka seperti sedang menonton acara komedi saja.
“Gaia, kau benar-benar nampak cantik dengan pakaian itu.”
“I-iyakah?”
“Hee, kau terlalu merendah.”
Hanya sipuan malu sebagai balasan, bahkan warna pipi yang merah merona telah membocorkannya. Sejujurnya, Gaia adalah tipe orang yang tidak mau dipuji. Dia lebih suka berbaur dengan orang lain.
Padahal, kalau dilihat-lihat selera berpakaian sederhana yang ditampilkan Gaia benar-benar cocok dengan dirinya. Itu benar, sebenarnya dia telah menunjukkan kharisma yang sederhana, baik, dan sopan pada semua orang yang memandang.
Alih-alih tidak ingin dipuji dengan gaya berpakaian yang sederhana, malah hal itulah yang menjadi daya tarik Gaia.
“Sudahlah, ayo kita berangkat keburu hari semakin siang.”
“Oke!”
Antusias sekali jawaban yang berasal dari mulut Yoki dan Kenichi. Dengan langkah yang bersemangat, mereka berempat pergi ke halte bus terlebih dulu. Tujuannya, sudah pasti pergi ke taman hiburan.
“Jadi nanti makannya gimana?”
Untuk memastikan saja, soalnya mereka bertiga menolak untuk menerima tawaran Haori. Dia hanya sedikit kuatir, siapa tahu mereka bertiga tidak membawa bekal uang maupun makanan.
“Aku bawa uang sih.”
“Kalau aku bekal.”
“Woah pasti bekalmu enakkan, Gaia?”
Yoki tiba-tiba mengomentari jawaban Gaia. Bahkan sampai tidak memperdulikan giliran Kenichi untuk menjawab.
“Ma-mana ada … aku kan tidak bisa masak.”
__ADS_1
“Hahaha, terserahlah. Kalau kamu gimana Kenichi?”
“Uhm, kalau aku sih sama kayak kamu.”
Setelah itu, hanya beberapa obrolan kecil saja yang menemani perjalanan mereka. Suasana sudah panas, karena hari sudah siang.
Setelah beberapa lama, dari jendela bus bisa terlihat sebuah wahana yang menjulang tinggi. Itu adalah wahana yang boleh dibilang familiar dalam taman hiburan, apa lagi kalau bukan roaller coaster.
Walaupun dihalangi oleh pepohonan, tapi puncak tertinggi roaller coaster masih bisa terlihat oleh mata. Yang pertama kali sadar adalah Haori, secara tidak sengaja ia menoleh ke jendela bus.
“Itu dia!”
Teriakan Haori telah menuntun mereka bertiga ke topik obrolan yang baru. Tunjukkan tangannya telah diikuti mereka. Sekarang mereka bertiga sudah tahu maksud Haori, sebuah pintu gerbang yang diapit oleh dinding batu merah yang tinggi. Sepertinya, ada area yang sangat luas di dalam.
Mata mereka bertiga agak dinaikkan ke atas, di situ tertulis “Beppu Amusement Park”. Tulisan yang membuat mereka sadar kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan.
“Yes, sudah sampai!”
Kayaknya Yoki punya masalah dengan teriakan. Bayangkan saja, ketika semua mata terpesona dan tidak bisa berkata-kata, tiba-tiba muncul sebuah suara bernada tinggi yang membuyarkan kekaguman mereka.
Mereka bertiga langsung bereaksi ke sumber suara. Untung saja di bus itu cuma ada mereka bertiga, kalau gak mungkin akan ada kejadian yang lebih parah dari yang terjadi di kelas kemarin.
“Oke, kita turun.”
Sambil membawa barang bawaan yang lumayan ringan (isinya hanya sebatas seragam sekolah, buku, dan sejumlah snack untuk bekal) mereka berempat turun dari bus.
“Oke, pertama kita ke mana dulu yah?”
“Aku juga tahu Kalau itu, tapi kan ….”
“Sudah dulu, kita mending beli tiketnya dulu.”
Dari tadi Gaia agak kesal dengan perdebatan mereka berdua. Maklum, itu karena kegembiraan Yoki dan Kenichi yang meluap. Sudah gratis, mereka juga akan pergi ke taman hiburan yang termasuk terbaik di Kota Beppu.
Yah, siapa juga yang tidak akan senang. Makanya, walaupun direlai Gaia, mereka berdua tetap menunjukkan rasa antusias yang tinggi.
“Ya udah, aku beli dulu.”
Karena yang membayarkan mereka bertiga adalah Haori, jadi dia harus pergi terlebih dahulu ke loket karcis. Sedangkan untuk yang lain, mereka hanya menunggu di luar antrian. Lagipula, mereka tidak mau menambah antrian yang sia-sia.
“Ini, satu orang ambil satu. Katanya batas wahana yang bisa kita naiki berjumlah tujuh, tapi kalau kalian mau nambah sih, bilang aja. Sekarang kita tentukan dulu wahana yang akan kita naiki.”
Ada sebuah kertas putih licin mengkilap (biasa disebut Art Paper) yang terlipat dan menjadi alas bagi tiket-tiket di atasnya. Ternyata kertas itu berisi saat dibalik.
Isinya adalah denah dari seluruh taman hiburan. Benar-benar luas, apalagi sebanding dengan jumlah wahana yang beragam. Ada roaller coaster, komedi putar, kincir ria, dan masih banyak lagi.
Saking banyaknya sampai membuat mata mereka bertiga berbinar. Berbeda dengan Haori yang nampak biasa. Dia sudah biasa pergi ke taman hiburan, tentu berbanding terbalik dengan Yoki, Gaia, dan Kenichi yang belum pernah sekali pun pergi.
“Kita kemana dulu nih?”
“Aku saranin yang ini, abis itu yang ini, abis itu yang ini.”
__ADS_1
Jari tangan Haori dengan handal menunjuk wahana-wahana yang menjadi rekomendasi darinya. Kalau ingin tahu, Haori hanya memilih tiga jenis wahana. Padahal, mereka mendapat jatah tujuh wahana dari tiket yang Haori beli.
“Kenapa kau hanya milih tiga?”
Tentu akan muncul sebuah pertanyaan dari mulut Yoki, soalnya dia yang paling banyak bertanya.
“Soalnya …,” Haori menggaruk kepala, “Kita belum makan siang dan aku pikir, akan lebih baik kita menaiki wahana yang ringan-ringan dulu sebelum makan.”
“Oh, gak apa-apa sih kalau aku. Kalau Yoki dan Gaia?”
“Haaah … kan dia yang bayarin tiket kita, jadi aku sih oke-oke aja.”
“Kalau aku sih ikut-ikut aja.”
Sudah diputuskan, mereka bertiga akan mengikuti panduan Haori. Wahana pertama yang mereka akan nikmati adalah rumah sejuta misteri.
Dari namanya saja sudah menggiurkan Yoki, dia sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Dengan panduan Haori mereka berjalan, taman ini terlalu luas jadi mereka butuh seorang pemandu untuk menuntun mereka ke wahana.
Untung tempat itu lumayan dekat, cukup berjalan 100 meter saja. Dari kejauhan pun sudah terlihat rumah yang di desain menyeramkan. Batu penyusun dinding yang sudah tua, ditambah dengan kondisi rumah yang seperti terbengkalai. Pantas mereka menyebutnya rumah sejuta misteri.
Dari tadi mereka menatap rumah itu dengan langkah yang mendekat. Ada berbagai kesimpulan yang mereka ambil, kalau Gaia, Kenichi, dan Haori sih sudah tahu hanya dari melihat desainnya. Kalau Yoki, mungkin senyum antusias itu menunjukkan maksud yang lain.
“Haori, kamu yakin mau memilih wahana ini?”
“Tentu saja, kenapa tidak?”
“So-soalnya ….”
“Sudahlah Gaia, kita nikmati saja wahana ini. Aku rasa wahana ini akan menarik.”
Bagi Yoki sih menarik, tapi tidak semua orang bisa dia paksakan dan dari sini juga sudah jelas, kalau Yoki masih belum bisa menebak isi dari bangunan itu.
“Bu-bukan gitu.”
Bukan hanya ucapan, bahkan langkahnya juga bergetar. Gaia memang penakut sebenarnya, jika itu berhubungan dengan hantu dan tempat-tempat seram.
Bisa diingat, bagaimana Gaia menimbulkan suara menggelegar di bukit tempat mereka bertiga mendaki. Padahal hanya pohon dan suara hewan yang terdengar, tapi teriakannya sudah seperti sekampung.
“Sudahlah, Itu petugasnya.”
Dengan Haori menunjuk sesosok pria, mereka berhenti. Sudah sampai, di depan mereka sudah dihadang petugas. Petugas yang akan menagih izin masuk mereka.
“Tunjukkan tiketnya.”
Jika rumah tempatnya berjaga terlihat suram dan seram, hal itu berbanding terbalik dengan penampilan sang penjaga. Hanya memakai seragam seperti petugas yang lain.
“Oke.”
“Baiklah, silahkan waktu bermain kalian maksimal 30 menit.”
Dengan izin yang diberikan, akhirnya mereka berhasil melewati tahap pertama. tahap berikutnya, tentu saja mereka akan menikmati wahana ini sepuasnya. Tapi mungkin, hanya beberapa orang.
__ADS_1
Sesampainya di dalam, aura yang ditampilkan berbeda. Yang jelas semakin seram, menakutkan, dan penuh dengan unsur kejutan.