
“Yosh! Waktunya berkeliling!”
Euforia Yoki sudah mencapai batas. Euforianya dikeluarkan dan hasilnya, dia seperti babi yang lepas dari kekangan. Jika direalisasikan, saat ini Yoki langsung berlari masuk ke dalam rumah.
“Yoki, tunggu!”
Larangan Kenichi sudah tidak berguna, karena Yoki sudah hilang dari pandangan. Dia hanya bisa menghela nafas saja, bersama dengan Haori yang terkejut pada reaksi Yoki.
Sedangkan Gaia, dia masih harus melawan ketakutan, sembari bersembunyi di belakang mereka berdua. Entah dia memperdulikan Yoki atau tidak.
“Uwahh!!!”
Tiga menit kemudian, orang yang menghilang tadi kembali menampakan batang hidungnya. Kali ini bukan dengan tarikan antusias dan kegembiraan, tapi dengan tangisan dan jeritan ketakutan.
Hingga dia sampai di hadapan mereka, barulah dia berhenti sembari menghela nafas. Badannya menunduk, nafasnya terengah-engah. Terdapat pula ketakutan dari pancaran mata yang keluar, tapi semua ekspresi itu dihancurkan oleh ingusnya yang nampak konyol.
“Haaah … haaah … haaah … kurasa daripada menyebut wahana ini sebagai rumah sejuta misteri, lebih baik wahana ini dinamakan sebagai rumah sejuta hantu haaah … haaah … haaah .…”
Nada bicara Yoki kacau, namun masih dapat dimengerti. Ada arti yang berbeda dari sudut pandang Kenichi, Gaia, maupun Haori. Kalau Kenichi masih diliputi kekesalan atas tindakan Yoki, kalau Haori sih biasa saja, tapi kalau Gaia, ketakutannya bertambah saat melihatnya kembali.
“Kalau Yoki saja ketakutan, gimana aku? Aku aja saat di hutan hanya ketakutan gara-gara pepohonan hihhhh .…”
Gaia hanya bergumam, jadi ekspresi aslinya tidak ketahuan.
“Makanya, jangan seenaknya.”
Dengan helaan nafas, Kenichi ingin melepaskan kekesalannnya.
“Ya-ya sudah, mau lanjut lagi gak?”
Tawaran kembali dilayangkan Haori dan mereka bertiga mengangguk setuju. Akhirnya perjalanan di dalam wahana ini akan diteruskan.
Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi saat mereka sudah masuk lebih dalam. Suasananya menjadi kacau, tapi bukan karena hantu melainkan karena berbagai teriakan yang dikeluarkan Gaia. Bahkan, sampai membuat para hantu yang hanya seorang pemeran ketakutan.
Benar-benar menakutkan bukan dan Itu terus terjadi di sepanjang perjalanan, hingga mereka melihat pintu keluar.
“Ak-hir-nya.”
Akhir yang dimaksud Yoki bukan ditujukan pada wahana yang menyeramkan, melainkan akhir dari teriakan Gaia yang membuat mereka bertiga menderita. Bahkan kalau mereka sadar, seluruh penghuni rumah sejuta misteri juga turut merasakannya.
Setelah melihat matahari sebagai cahaya harapan mereka, di sisi terluar berdirilah seorang pria paruh baya yang sedang menunggu sebagai sang penyelamat.
“Tuan-tuan, tiketnya.”
Ucapan pria paruh baya itu menyadarkan kalau dia hanya seorang penjaga wahana hiburan. Tentu saja, tadi itu hanya sebatas khayalan mereka. Penyelamat yang diidamkan, matahari sang cahaya harapan. Yang sebenarnya hanyalah seorang penjaga dan cahaya matahari yang nampak setelah mereka melewati rumah yang sangat gelap. Sekali lagi, hanya sebatas khayalan.
“Oh oke.”
Setelah keempat tiket telah ditandatangani, tiket-tiket itu dikembalikan kepada Haori. Barulah mereka bisa pergi ke wahana selanjutnya.
“Oh yah, kalau kalian mau kita akan menikmati wahana ketiga sambil makan siang.”
__ADS_1
“Woah, ide yang bagus. Emang wahana ketiga apa?”
“Menonton pertunjukan.”
“Begitu.”
Kenichi dan Gaia hanya menjadi penonton dari percakapan Yoki dan Haori. Memang di antara mereka, nampaknya Yokilah yang paling bersemangat.
Memakan waktu berjalan selama 5 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang menjadi wahana kedua.
Persamaan di semua wahana adalah kehadiran penjaga yang selalu siap sedia di depan pintu wahana, tentu saja peran mereka sangat penting. Mengecek tiket bukanlah tugas yang bisa disepelekan dan dipandang rendah oleh pemilik taman hiburan.
“Wahai pahlawan yang agung. Dengan rendah hati dan rendah diri kami ingin memohon bantuan kalian, tolong tangkap pencuri yang mencuri wortel di ladang.”
Bukan berarti ada pencuri yah, itu hanya konsep cerita dari wahana ini. Cerita tentang penduduk desa yang meminta bantuan beberapa orang yang di ceritanya disebut sebagai pahlawan. Agar semakin nyata, penjaga itu bahkan memakai kostum rakyat biasa.
Mereka memohon agar para pahlawan sudi menangkap para pencuri yang telah mencuri wortelnya. Dengan sebuah pistol mainan sebagai senjata, mereka harus berkeliling dan menembaki para pencuri.
Kira-kira begitu garis besarnya. Dengan konsep cerita simpel mereka bisa menjamah kalangan anak-anak, ceritanya mudah dipahami dan dimengerti. Apalagi, dengan dipanggil sebagai pahlawan mungkin akan meningkatkan kegembiraan anak-anak.
“Ba-baiklah.”
“Terima kasih, terima kasih wahai pahlawanku. Sekarang mari, aku akan tunjukkan alat-alat untuk membantu kalian.”
Mereka masuk ke dalam rumah kayu. Jika dilihat dari posisi, sisi belakang rumah itu pasti terhubung dengan taman. Untuk sekarang, mereka hanya bisa mengikuti prosedur wahana dan mengikuti penjaga.
“Ini adalah senjata magis yang akan tuan-tuan gunakan untuk melawan para pencuri. Caranya, kenailah pencuri yang telah mencuri wortel. Titik kelemahan mereka berada di punggung, apa tuan-tuan pahlawan bisa memenuhi permohonan kami?”
Yah, ada pandangan prihatin pula di mata Yoki. Dia merasa sangat kasihan pada orang itu, pekerjaan ini tentu jauh lebih buruk dari pekerjaannya.
Mungkin ada tangisan di balik akting, mungkin dia juga tidak menyangka kalau yang datang adalah sekelompok remaja. Yoki, Gaia, dan Kenichi juga tidak menyangka sih, mereka hanya mengikuti kemauan Haori.
“Oke.”
Untuk kesekian kali, Yokilah yang berinisiatif menjawab. Tangannya disusul dengan tangan ketiga temannya yang juga ikut mengambil senjata.
“Terima kasih tuan-tuan. Dengan segala hormat, kami mempersilahkan tuan-tuan untuk masuk.”
Pintu belakang rumah dibuka, mereka melihat dinding-dinding tanaman yang menjulang tinggi. Satu hal yang terlintas, taman ini membentuk sebuah labirin. Wah, kelihatannya tampilan dari wahana ini tidak selevel untuk anak-anak.
Bayangkan saja, di labirin yang luas ini dengan posisi wortel yang mereka sama sekali tidak tahu lokasinya. Apa cocok bagi seorang anak kecil? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab tidak.
“Heh! Kita harus ngapain ini?”
“Jadi kita harus menembakkan pistol ini ke tanda yang ada di belakang pencuri, pokoknya jangan sampai ada pencuri yang berhasil kabur membawa wortel kita. Oh yah, ada lima wortel di taman ini.”
Nampaknya ada sebuah pengalaman dari gaya bicara dan ucapan Haori, dia bahkan sanggup menyebutkan jumlah wortel di taman itu dengan benar.
“Begitu.”
“Jadi gimana cara kita tahu letak pencuri itu?”
__ADS_1
Sekarang giliran Gaia yang bertanya.
“Uhm, entah kenapa aku teringat dengan salah satu game yang kumainkan,” Yoki mencoba menguak kembali ingatannya, “Oh yah, step. Dengan mendengar langkah musuh, kita bisa tahu lokasinya.”
“Caranya?”
“Ssssttt ….”
Mata Yoki menutup sembari menunjukkan simbol tangan agar mereka bertiga diam. Fokus Yoki sekarang ada pada telinga, dia seperti mendengar langkah kaki seseorang.
“Ketemu.”
Yap, itu adalah step yang Yoki maksud. Sebuah teknik untuk mengetahui posisi lawan hanya dari bunyi langkah kakinya saja. Namun tetap saja tak disangka, kalau teknik ini dapat dipraktekkan di dunia nyata. Tidak ke semua yah, itu juga tergantung dari permukaan yang dipijak.
Dia sudah mendapatkan posisi dari si pencuri, tapi tiba-tiba muncul langkah yang lain. Datangnya dari arah depan, jadi bisa disimpulkan kalau ada dua pencuri yang berkeliaran di taman.
Kesimpulan itu diperoleh dengan beberapa faktor. Yang pertama, terdengar dua suara langkah kaki dari dua arah yang berbeda. Satu dari arah kanan dan satu lagi dari depan. Yang kedua, kedua suara itu memiliki pola yang sama. Maksudnya, menjauhi letak keberadaan mereka.
Kenapa para pencuri itu bisa tahu posisi mereka? Jawabannya simpel, karena mereka berempat baru masuk ke dalam taman. Sudah pasti kan para pencuri itu tahu pintu masuk ke dalam taman, jadi itu bisa menjadi alasan kuat bagi Yoki untuk meyakinkan argumennya.
“Oke, Kenichi pinjam pistolnya.”
Kenichi memberikan pistolnya dengan mudah, karena dia serta Gaia dan Haori tidak tahu apa yang akan dilakukan Yoki.
Setelah diberi, Yoki melakukan tindakan yang tidak terduga. Dia menaiki dinding taman, hal ini tentu membuat Kenichi dan Gaia menjadi heran.
“Apa yang kamu lakukan Yoki?”
“Diam dulu.”
Tapi dia malah menghiraukannya, matanya saat ini sedang mencari tubuh si pencuri. Hanya butuh waktu singkat, salah satu pencuri terlihat sedang berlari. Dilihat lagi lebih dalam, di dalam tangan si pencuri terdapat sebuah wortel mainan yang dipegang.
“Tadi katanya, ada sesuatu di punggungnya kan?”
Mata Yoki menelusuri lagi bagian yang lain, dia menemukan selembar kertas putih yang tertempel di punggung si pencuri.
“Haha … kena kau.”
Dibidiknya pistol itu, lalu ditembakkan setelah pas. Sedangkan si pencuri, dia sama sekali tidak sadar sampai peluru berhasil mengenai target.
Aturan wahana menyebutkan, pencuri yang telah tertembak harus diam di tempat. Jadi sekarang itulah yang dia lakukan, diam seperti patung yang tidak bisa berkutik.
“Yosh, satu lagi.”
Kepala Yoki berbalik ke arah dimana instingnya berbicara tadi, dia hendak melacak keberadaan pencuri yang lain.
“Itu dia.”
Tanpa basa-basi lagi, Yoki langsung menghujami pencuri itu dengan berbagai tembakan. Secara total, jumlah peluru yang dikeluarkan Yoki adalah lima dan semuanya tidak mengenai sasaran.
“Payah, dia terlalu cepat.”
__ADS_1
Semakin lama dia berpikir, maka akan semakin besar pula peluang bagi si pencuri untuk kabur. Dia sadar, untungnya sebuah ide muncul dengan cepat.