RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 4~


__ADS_3

Kepalan tangan ditunjukkan, dia mau meninju wajah Kenichi sekeras-kerasnya. Sepertinya Genki ingin mengakhiri pertarungan hanya sampai di sini saja.


“Ketenangan.”


Sayangnya langkah Kenichi jauh lebih cepat. Ternyata isinya adalah uang koin yang tersimpan di sakunya.


Jika diperhatikan baik-baik, koin itu adalah kembaliannya tadi.


Saat kepalan tangan Genki masih meluncur ke arah Kenichi, koin itu sudah meluncur lebih cepat dan mengenai wajahnya.


Tentu kekuatan koin tidak akan terasa, sehingga pukulan itu masih meluncur ke wajah Kenichi.


“Wajahmu sudah kena oy.”


Kenichi berhasil mengelak, refleknya sangat cepat. Tapi alasan tinju itu tidak mengenai wajah Kenichi, juga disebabkan oleh kebingungan karena koin yang mengenainya tadi.


“Apa maksudmu?”


“Kan aku dah bilang peraturannya. Kalau serangannya kena muka, maka orang itu boleh mengajukan pertanyaan. Lagipula, kan aku tidak pernah bilang harus pake apa.”


“CIKH, brengsek!”


Genki hanya bisa meracau. Sekarang dia merasa konyol, masa hanya dengan sebuah koin saja sudah bisa membuatnya kalah.


“Baiklah, baiklah. Apa pertanyaanmu?”


“Uhmmm, aku ingin bertanya alasan orang tuaku berhutang pada kalian.”


“Dulu, empat orang besar di Pulau Kyushu melakukan kerja sama dagang. Oda Mamoru pemilik pabrik kertas, Fujitaro pemilik lahan pertanian yang luas dan besar, Bex Staller pengusaha daging ….”


Kenichi menajamkan tatapan, saat mendengar kedua nama itu. Nama yang pertama, dia seperti familiar saat mendengarnya. Apakah itu orang tua Yoki? Dia masih berandai-andai. Karena di berita, nama orang tua Yoki disamarkan.


Sedangkan nama yang ketiga, dia sangat yakin pernah mendengarnya di berita yang sama dengan berita pembunuhan orang tua Yoki.


“Apa hubungan Bex Staller dengan semua ini? Lalu, apa Oda Mamoru ini adalah ayah Yoki?”


Dia masih menyimpan pertanyaan itu.


“Lalu yang terakhir adalah ayahmu sendiri, Kenzo Gatland.”


Dia bahkan menunjuk Kenichi untuk mempertegas maksudnya.


“Yah, informasi tambahan untukmu. Ada salah satu dari mereka yang telah berkhianat dan membuat kerja sama ini gagal. Bahkan, akibatnya jauh lebih buruk.”


Kenichi mulai menerka-nerka maksudnya, dia menyimbolkan terkaan itu dengan tangan yang memegangi dagu.


“Dah kan, sekarang mari kita mulai lagi permainannya.”


Ucapan itu membuyarkan lamunan Kenichi. Dia sadar kalau permainan belum selesai.


“Tadi kan kata kamu, kita bebas menggunakan apa saja untuk mengenai wajah lawan.”


Kenichi mengangguk tanda setuju.


“Kalau gitu aku akan pakai … ini.”


Kali ini tidak main-main, benda yang dia keluarkan dari sakunya sangat berbahaya. Bahkan benda itu telah membuat Kenichi bergidik ketakutan.


“Pisau ….”

__ADS_1


Hanya itu tanggapan yang dikeluarkan Kenichi. Tapi Genki tahu betul, kalau ketakutan saat ini sedang melanda lawannya.


“Baiklah, ayo kita mulai lagi permainannya.”


Genki melepas pisau dari sarungnya, dia membuang sarung itu lalu memegang erat pisau di tangan kanannya.


Tanpa berlama-lama lagi, Genki langsung berlari. Dia kali ini yakin kalau serangannya akan mengenai wajah Kenichi. Atau mungkin bisa lebih parah dari itu.


“Begitu, satu-satunya cara adalah ….”


Kenichi tidak menunggu, dia meladeni dengan berlari juga ke arah Genki.


Langkah Kenichi membuat Genki sedikit kebingungan.


“Entah apa lagi rencana anak ini?”


Tapi tetap optimis dan percaya pada senjatanya.


“Haaah, moga-moga berhasil.”


Sampai sudah saling bertemu, Kenichi merendahkan tubuh. Sedangkan kakinya tetap berlari menghampiri Genki.


Hal itu membuat Genki mengarahkan pisaunya dari atas ke bawah. Ini adalah bagian yang berbahaya. Kenichi tahu betul akan hal itu, karena jika dia terlambat mengelak maka pisau itu akan tertancap di tubuhnya.


Bisa dibayangkan rasa sakit yang dialaminya. Sudah luka karena cakaran beruang, sekarang akan bertambah pula luka karena tusukan orang.


Tapi untung kekuatiran itu tidak terjadi. Hanya jeda sepersekian detik saja, Kenichi mengelak dengan menyingkirkan bagian tubuh yang searah dengan tusukan pisau.


Dengan kekuatan yang sebesar itu, tentu Genki perlu waktu untuk mengembalikan posisi badan yang sudah terlanjur condong ke bawah.


Maklum, tingginya berbeda jauh dengan Kenichi. Apalagi Kenichi menunduk, jadi tubuhnya saja sudah hampir membentuk sudut siku-siku.


Ini adalah kesempatan emas bagi Kenichi untuk menjalankan rencananya. Dia menggunakan punggung Genki sebagai tempat bagi tangan kanannya untuk bertumpu. Sedangkan badannya melakukan front flip ke depan.


“Sialan, jangan remehkan aku!”


Genki semakin kesal. Tubuhnya diperlakukan layaknya sebuah mainan bagi Kenichi.


“Yosh dikit lagi.”


Setelah melakukan front flip, Kenichi kembali berlari dan mengincar sarung pisau yang tergeletak di tanah.


Sedangkan Genki, dia menerka kalau Kenichi berusaha kabur darinya. Jadi dia kembali berlari dengan pisau yang masih dia pegang. Yah, dia tidak mau terulang lagi. Itu terlalu memalukan.


“Aku akan memerasmu, akan memaksamu untuk memberi tahu informasi tentang anak itu. Tidak akan kumaafkan kau, kau telah membuat kami menderita!”


Emosi sedari tadi terus dia bawa. Sepertinya dia ingin mengambil jalan kekerasan untuk mendapatkan jawaban dari Kenichi.


“Begitu, kah?”


Setelah sarung pisau diambil, Kenichi langsung berbalik badan. Dia hendak menunggu lawannya. Ekspresinya begitu tenang, dia benar-benar tidak terintimidasi oleh raut wajah menyeramkan yang dibuat Genki.


Itu juga yang menjadi bekalnya, dia mencoba untuk tenang agar bisa mengambil keputusan yang tepat.


“Kau pikir bisa lari lagi, hah!”


Genki menaruh pisaunya di atas kepala, sekarang jaraknya sudah sangat dekat dengan Kenichi. Kedua tangan yang menggenggam pisau semakin erat.


“Heh, siapa yang mau lari.”

__ADS_1


Kenichi masih menunggu kesempatan. Dia masih menyimpan sarung itu di pinggangnya. Sedangkan fokus Kenichi ada pada pisau yang terayun ke arahnya.


“Aku tidak ingin lari dari siapa pun lagi. Karena sekarang, aku sudah kuat.”


“Dasar bocah ingusan!”


Sekarang pisau itu semakin mendekati Kenichi dan terus mendekat, sampai akan berhasil menusuknya. Tapi, Kenichi tidak merestui kekalahannya. Dia berhasil mengarahkan sarung itu searah dengan ujung pisau.


“Hehe.”


“A-pa?”


Wajar kalau Genki terkejut, pisau yang tadi ditujukan untuk mengenai Kenichi malah masuk ke dalam sarung tempat asalnya.


“Usahamu itu sia-sia saja dasar anak aneh. Mau berapa kali pun kau tahan, pisau ini akan tetap menang.”


Genki tidak mau berhenti, dia terus mendorong pisaunya untuk maju.


“Kau pikir seperti itu, kah?”


Sedangkan Kenichi berusaha mengarahkan ujung pisau ke atas. Untung pisaunya sudah masuk ke dalam sarung, jadi Kenichi sudah bisa menguasai pisau dan tentunya, dia agak aman sekarang.


“Apa kau pikir tindakanku sia-sia?”


Ternyata kekuatan Kenichi jauh lebih besar. Dia berhasil melancarkan rencananya. Sekarang tinggal langkah terakhir, dia mendorong pisau yang masih ada di genggaman Genki ke bawah.


“Apa yang ingin kau rencanakan?”


Kenichi tidak menjawab pertanyaan Genki, dia masih sibuk membenamkan pisau itu. Dan yah, rencana yang ini pun berhasil.


Gagang pisau yang digenggam Genki mundur dan keluar dari lipatan tangannya. Kenichi langsung menarik pisau itu dari bawah dan berhasil mengambilnya.


“Apa hanya umur saja, kau meremehkanku?!”


Kenichi mengarahkan pisau itu secara diagonal dari perut ke dada. Lalu reaksi apa yang dikeluarkan Genki? Tidak ada, dia masih terpaku karena merasa telah dibodohi.


“AKHHH .…”


Setelah pisau itu selesai melukis, barulah dia merasakan rasa sakit. Rasa sakit yang teramat dalam, hingga membuatnya jatuh ke tanah.


Darah itu terus memancar keluar, tidak ada hentinya. Begitu pun dengan erangan dan pekikan kesakitan dari Genki.


Genki terjatuh dengan posisi badan yang tiarap. Dia menjadi lesuh tak berdaya, bahkan erangan tadi sudah tidak dia keluarkan.


“Bagaimana rasanya ….”


Kenichi melangkahi tubuh Genki, sembari membuang pisau yang tadi dia pakai.


“Dipermalukan oleh seorang bocah.”


Setelah dibuang, Kenichi segera memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Dia terus pergi menjauh dan meninggalkannya.


“Dasar anak sialan! Dasar anak sialan!”


Alasan dia mau merangkak untuk mengejar Kenichi berhubungan dengan pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


Dia terus berusaha, walaupun bisa dibilang sia-sia. Itu dia sadari, ketika targetnya telah menghilang dan dia sudah menyerah.


“Gara-gara kau kami menderita, Kenichi Gatland!”

__ADS_1


Bersamaan dengan teriakan yang tercampur kemarahan, sebuah mobil telah tiba di jalan tersebut. Mobil itu berhenti saat melihat tubuh Genki sedang terkapar di tanah, semua pintu terbuka dan orang-orang yang berjumlah 6 orang keluar dari dalamnya.


__ADS_2