RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~TAMU KEJUTAN~


__ADS_3

“Kau pikir, aku akan membiarkan teman-temanku terluka. Tidak, akan aku buktikan tekadku!”


Tangan Yoki yang sudah ditembus pisau masih bisa bergerak. Dia menggerakkan tangannya dari mata pisau menuju gagang. Rasa nyeri dari luka Yoki terus tercurah, di sepanjang perjalanan menuju gagang pisau.


Dia tahu itu sakit, dia tahu karena itu lukanya semakin banyak keluar, bahkan membekas di sepanjang mata pisau. Tapi, pertanyaannya … apa dia menyerah hanya karena itu? Tidak, dia tetap berpegang teguh pada perkataan. Hanya luka fisik saja kok, tidak akan sesakit luka batin yang dia terima saat meratapi kematian temannya.


Sesaat setelahnya, Yoki langsung menggenggam pergelangan tangan Haori dengan kuat. Haori berusaha untuk melepas genggaman itu, namun dia tidak berdaya. Satu tangannya telah putus, dia tidak punya alat untuk membantu.


Akhirnya, senjata berbahaya itu sudah berada di tangan Yoki. Disaat yang bersamaan, posisi Haori semakin memburuk. Haori berada di ambang batas untuk memilih. Apakah dia akan menyerah? Atau masih tetap nekat melawan mereka?


“Haori, ini adalah hadiah dariku.”


Yoki langsung meluncurkan tinju ke wajah Haori. Tidak ada keraguan, dia juga punya ambang batas.


Tindakan Haori tadi, tentu saja tidak bisa ditoleransi lagi. Itu sudah termasuk pembunuhan, jika Yoki tidak menghentikannya.


Sekaranglah saatnya penghakiman, hukuman yang Haori terima berupa wajah yang babak belur. Hidungnya menunjukkan ciri-ciri patah tulang dan dihiasi oleh tetesan darah yang mengucur dari sana. Kondisi Haori semakin memburuk, dia semakin mendekati pilihan untuk menyerah.


Haori terjatuh dengan semua luka itu, dia hampir tidak memiliki kesempatan berdiri untuk sementara waktu. Sedangkan Yoki, pisau Haori masih menancap di tangannya. Dia pun segera mencabut dan membuang pisau itu.


“Yoki, kamu tidak apa-apa?”


“Tidak, nanti juga bisa disembuhkan.”


“Pertama, kita hentikan dulu pendarahannya.”


Kenichi merobek kaosnya dan diikatkan ke lengan Yoki. Seketika pendarahan terhenti, ikatan kain itu memang sengaja Kenichi eratkan.


“Haaah ….”


Tenaga Yoki sudah hampir habis, dia pun duduk di tanah untuk mengisi ulang. Apalagi hari sudah semakin larut, dia harus segera pulang ke rumah. Masa cuma karena masalah ini, dia dan Kenichi terlambat datang ke sekolah.


Semakin merenung dengan melihat bulan. Menunggu tubuhnya rileks, untuk melakukan pengobatan alami pada luka yang diterima. Yoki teringat sesuatu. Ahh ya, dia punya satu masalah lagi. Semua kelelahan karena pertarungan tadi telah membuatnya lupa.


“Kenichi, coba kamu telepon Gaia dulu.”


“Eee … ponselku hilang.”


“Hah! Hilang?”


“Ya gitu deh. Makanya tadi aku pinjam ponselmu.”


“Ya sudah. Pake punyaku saja, masih kamu pegang kan?”


Kenichi mengangguk, dia merogoh dan mengeluarkan ponsel Yoki dari dalam saku celana. Setelah itu, dia pergi menuju aplikasi kontak dan menekan nama kontak yang bertuliskan ‘Seseorang yang berharga’.


Kenichi yakin kalau nama itu merujuk pada Gaia, soalnya nomor teleponnya sama. Tapi karena nama yang diberikan Yoki ….


“Hee … oh yah, aku lupa kalau aku menamainya itu.”


Yah, sedikit hiburan di saat ini juga tidak masalah. Kenichi menggembungkan pipi, memicingkan mata, demi menjahili teman yang satu ini.


“Yo-ki … kenapa namanya kayak gini?”


“Eeee …,” pertama sih hanya diam, tapi nampak jelas warna merah merona di pipinya, “Bu-bukan urusanmu. Telepon saja Gaia.”


“Ya udah deh. Ternyata urusan pribadi.”


Kenichi mengakhiri kejahilannya. Dia tahu kalau ada prioritas yang harus diselesaikan. Dengan meninggalkan Yoki yang masih memerah karena malu, Kenichi menekan menu telepon untuk berkomunikasi dengan Gaia.


Tidak tersambung, Kenichi mencoba untuk menyambungkannya kembali. Kejadian yang sama kembali terulang, sampai sepuluh menit telah berlalu dan total, sudah empat kali Kenichi terus menyambung ulang teleponnya.


“Kalian berdua … tidak akan lolos dari tuanku. Dia akan datang ke sini dan memuaskan nafsunya.”

__ADS_1


“Walaupun kau kalah, kau masih bisa meracau juga rupanya.”


Kenichi menyindir Haori yang sedang duduk dalam keadaan yang boleh dibilang sekarat. Lihat saja luka dan bekas pukulan yang membekas di badan. Dengan semua itu, dia sudah tidak bisa lagi melakukan serangan.


“Ha-ha-ha,” Haori tertawa dengan nada yang sama dengan kondisinya, lalu dia pun mengangkat wajah dan manatap bulan, “Hahahaha .…”


Tawanya menjadi lebih keras. Yah, Kenichi juga tidak peduli sih. Dia hanya menganggap itu sebagai pelampiasan dari kekalahan Haori, dengan kata lain stress.


Lagipula, ada urusan penting yang harus diselesaikan Kenichi. Teleponnya tidak diangkat-angkat Gaia, ini sudah masuk percobaan yang keenam.


“Satu kali lagi, kalian tamat.”


“Hah! Lebih baik kau urusi hidupmu yang sudah sekarat itu.”


Haori tidak termakan emosi lagi, dia malah mengangkat senyum, tanda kalau dia tidak terprovokasi pada sindiran Kenichi.


“Gaia.”


Akhirnya pada percobaan ketujuh, Kenichi berhasil tersambung dengan Gaia. Tapi saat disapa, tidak ada balasan yang diberikan oleh target yang dituju.


Suasana di telepon itu sunyi dan hening. Kenichi menjadi heran, begitu pun dengan Yoki yang mendekat karena penasaran.


Sedangkan Haori, dia masih memasang senyum yang aneh. Firasat Kenichi agak memburuk.


“Gaia.”


“KETEMU!!!”


Tiba-tiba, terdengar suara teriakan yang memekikkan dari dalam ponsel Yoki. Teriakan seorang gadis. Mereka tentu saja kaget, ini yang mereka dapat setelah menunggu 10 menit lebih.


Nadanya terdengar lain dari Gaia yang biasanya. Memang sih itu terdengar seperti suara Gaia, namun menunjukkan kepribadian yang lain. Hingga, mereka berdua bisa dibuat ragu dengan pemilik suara itu.


“Ke-Kenichi, siapa itu?”


“Iya, benar. Tapi, jangan-jangan ….”


Yoki langsung membanting kepala menatap Haori. Wajahnya diliputi rasa kesal, semua itu dia timpakan pada Haori yang masih mempertahankan senyuman. Kenichi juga mengikuti Yoki, dia tahu kalau ada rencana terselubung yang Haori simpan dalam senyuman.


“Kau!”


Yoki langsung menghampiri Haori. Namun sebelum sampai, dia mengambil bekal berupa pisau yang tadi dia buang. Tanpa ragu, pisau yang tadi sudah dia pungut langsung diarahkan ke leher Haori.


Sangat dekat sekali, apalagi pisau itu sangat tajam. Lihatlah, darah yang masih terbalut telah membuktikan ketajaman sang pisau. Mungkin, saking tajamnya bisa langsung menggores kulit Haori saat bersentuhan.


“Apa tadi itu temanmu, hah?”


Senyuman Haori tetap terpajang, meskipun Yoki sudah melampiaskan kemarahan dan ancaman.


“Ti-dak.”


Jawaban yang santai sekali, tapi sangat mengesalkan bagi lawan bicaranya.


“Br*ngsek! Gini saja, dimana Gaia kalian taruh? Aku akan langsung ke sana untuk menemui pencurinya.”


“Kalian tidak perlu menemui pencuri atau berbicara dengan Gaia. Dia nanti akan datang ke sini kok.”


“Hah?”


“Yoki, ke sini dulu.”


Yoki masih terkurung dalam omongan Haori, ditambah dengan Kenichi yang memanggilnya. Masalah di sini semakin membuat Yoki gelisah, dia terus memikirkan nasib Gaia. Lihat saja, walaupun jaraknya untuk bolak-balik hanya memakan waktu singkat, tapi keringat yang diproduksi sangatlah banyak.


“Kamu dengar gak?”

__ADS_1


Kenichi mendekatkan ponsel ke telinga Yoki. Dalam keheningan dan kesunyian yang ditelepon, terdapat suara-suara yang terdengar seperti familiar di telinga Yoki.


“Suara orang yang sedang makan sesuatu dan ada cairan yang menetes jatuh ke lantai.”


“Iya kamu benar. Apa jangan-jangan ….”


“Tidak-tidak. Gaia tidak mungkin mati.”


“Yang Yoki katakan benar.”


Tiba-tiba Haori ikut dalam obrolan mereka berdua. Yah, setiap kali dia ikut pasti ada saja informasi penting yang ditinggalkan. Walaupun untuk orangnya sih, menjengkelkan.


“Apa maksudmu?”


“Ke-Kenichi, coba kamu panggil Gaia lagi.”


“Baiklah,” Kenichi mengarahkan ponsel ke telinganya, “Halo, Gaia.”


“Oh maaf-maaf, coba ulangi lagi.”


Balasan yang bisa membuat bulu kuduk mereka berdua merinding. Bukan pada isinya, namun pada nadanya. Memang seperti orang yang berbicara saat dia sedang makan, tapi dengan suasana yang seperti itu … nampaknya ada aura mencekam yang terasa. Adegan ini seperti layaknya adegan di film-film horor, apalagi bulan yang nampak bundar bersinar terang.


“Halo, Gaia.”


“Multifunction teleport!”


Kalimat yang pernah didengar Yoki. Saat itu juga, sesuatu terlintas di pikirannya. Ya, dia akhirnya ingat. Kalimat itulah yang telah memindahkan Yoki ke taman ini. Mata Yoki pun melotot, saat mendengar kalimat ini untuk yang kedua kali.


“Kenichi.”


“Halo.”


Sudah terlambat, semenjak terdengar suara dari belakang mereka. Nada suara sama, balasan yang sesuai dengan sapaan Kenichi, dan saat mereka berdua berbalik ke belakang, dia adalah sosok yang selalu menemani mereka bersama-sama. Memegangi ponsel, yang sudah tidak perlu diragukan lagi kepemilikannya.


Memang secara tampilan berbeda. Memakai gaun berwarna hitam dan bibir serta warna jari yang berwarna serasi. Tapi kalau mengenai wajah, mereka sudah tidak perlu ragu lagi. dia adalah Gaia, sosok yang sedari tadi Yoki kuatirkan.


“Ga-Gaia.”


“Ara-ara, ternyata kalian berdua sedang bermain disini.”


Gaia melepas ponsel dari telinganya, lalu menekuk lutut untuk berjongkok. Dia menatap Yoki dan Kenichi saat ini. Tapi tampaknya, keheranan telah menghilangkan rasa kuatir mereka berdua.


Ekspresi kaget dan heran menjadi milik Yoki dan Kenichi, sedangkan Gaia memiliki ekspresi yang sama dengan Haori. Sebuah senyuman, yang boleh dibilang menyeramkan.


“Gaia … kamu tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja.”


“A-aku boleh menyentuhmu.”


“Tentu saja.”


Disambut dengan senyuman yang keliatan ramah, Yoki memilih wajah sebagai bagian yang dipegangnya terlebih dulu. Tapi, Gaia melakukan tindakan yang tidak terduga. Dia langsung memeluk Yoki. Dia memberikan tubuhnya, dengan tulus dan ikhlas.


Walaupun, telah membuat Yoki tersentak. Bukan sampai di situ saja, rasa kaget Yoki bertambah saat Gaia menjilati lehernya. Kenichi yang menonton pun menjadi was-was, firasat tentang Gaia semakin buruk.


“Uhm manis, entah kenapa baumu begitu familiar denganku.”


Yoki tidak menanggapi ucapan Gaia. Dia langsung melepas pelukan. Perilaku Gaia tentu sangat tidak sesuai bagi Yoki, apalagi sampai membuatnya ketakutan. Memang wajah itu milik Gaia, tapi perilaku dan kepribadiannya entah kemana.


Malahan karena itu, dia nampak seperti orang lain. Yoki sebenarnya tidak mau ragu ataupun takut, tapi dia juga tidak bisa mengelak dari fakta yang ada di depan mata. Apa karena serangan mental? Itulah yang sangat Yoki takutkan.


“Ara … kenapa kalian menjauhiku?”

__ADS_1


__ADS_2