RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KEINDAHAN~


__ADS_3

Monster itu berjalan mendekati Gaia yang sudah tenggelam seutuhnya. Kedua mata yang tersusun dari ribuan mata kecil, menatap tontonan yang menurutnya sangat indah.


Kalau kalian bertanya tentang wujud si monster, bisa dibilang monster itu berwujud serangga yang namanya lalat -- dalam ukuran monster.


Lihat saja bentukan badannya. Di bagian belakang terdapat 2 pasang sayap, punggung dan kedua pasang kakinya telah menyerupai seekor serangga dengan tinggi 2 meter.



#ket: visual Beelzebub (source:google)


“Cih … cih … cih … cih ... ayolah, mahakaryaku. Bangkitlah!”


Seketika, terbentuklah pilar dari lautan api yang tadi membungkus Gaia. Sangat besar, berdiameter sekitar 20 meter dan tinggi 50 meter.


Untung seluruh kejadian ini berada di dalam alam bawah sadar Gaia. Jika terjadi di dunia nyata, wah bisa dibayangkan bagaimana kepanikan dan kekacauan akan terjadi di kalangan penghuni sekolah. Bahkan, bisa merambah ke seluruh kota dan menjadi perbincangan hangat di kalangan tv berita.


Setelah menunggu beberapa saat, keluarlah sesosok wanita dari dalam pilar. Semakin dia keluar dari tengah pilar, semakin terlihat jelas pula wujudnya. Busana serba hitam dan semua cirinya, kalian pasti bisa menebak, kalau dialah wujud yang menjadi biang kerok kematian Yoki dan Kenichi.


“Indah, wujudmu yang satu ini benar-benar indah. Wajah dingin, gaya berjalan yang anggun dan agung. Hahaha … penerusku memang sangat hebat.”


Gaia berjalan semakin dekat dan berhenti persis di depan monster. Mata yang dingin dan penuh dengan nafsu membunuh, telah melirik monster yang berdiri di hadapannya. Sedangkan monster itu, dia seperti takjub pada sosok yang sedang dia tatap.


“Beelzebub …,” mata monster langsung bersinar, dia sangat senang ketika namanya dipanggil, “Kenapa, kau menggangguku?!”


Seketika, Beelzebub gentar pada pertanyaan dengan nada bentakan yang Gaia layangkan. Langkah kakinya saja sampai mundur, tapi dia tetap menahan diri karena ingin mengetahui maksud dari bentakan itu.


“Apa yang kau bicarakan Elysia?”


“CIKH, kenapa kalian tidak menyerah untuk membujukku kembali? Sudah dua kali kepribadianku kembali, kau pikir … aku menyukai ini!”


Lirikan mata Gaia begitu tajam, dengan kepala yang Gaia sodorkan pada Beelzebub.


“Kenapa kamu malah menyukai kepribadian bodoh seperti itu, hah?!”


Sepertinya kemarahan Gaia sudah mencapai batas. Tekanan yang diberikan oleh satu kalimat tadi sudah tidak bisa dia tahan.


“Kepribadian bodoh katamu!”


Tepat setelah bentakan Gaia selesai, seluruh latar tempat mereka berada berubah. Suasana yang menyeramkan dengan lautan jiwa manusia yang membara, berganti menjadi suasana menyejukkan dengan langit biru yang menaungi mereka.


Mungkin akan tergambar seperti taman yang indah di musim semi. Langit biru sehabis berdiam di dalam dingin, hamparan rumput hijau yang berani muncul setelah ditindas salju. Lengkap dengan satu bangku taman panjang yang tepat berada di bawah Gaia yang sedang duduk.


“Mari … kita ngobrol sambil menikmati suasana ini.”


Beelzebub saja sampai terkejut dengan semua perubahan yang tiba-tiba ini. Matanya terus melirik pemandangan yang terhampar, tanpa memperdulikan tubuh yang masih diam mematung.


“Ini ….”


“Ya, ini adalah dimensi yang aku ciptakan. Dimensi ini aku namakan ‘istirahat musim semi’,” Gaia menghirup udara terlebih dulu, “Haaah … indah yah, saat kecil aku selalu ingin melihat matahari tepat berada di atas kepalaku. Tapi sayang, air laut selalu saja menghalangi cahayanya.”


“Istirahat? Matahari? ”


“Duduk saja Beelzebub.”


“O-oh. Baiklah.”

__ADS_1


Beelzebub pun menuruti perintah Gaia dan duduk di samping kirinya. Tubuh dengan berbagai aksesoris itu, sangat menyusahkan tubuh Beelzebub untuk duduk.


Sayapnya, membuatnya jadi tidak bisa bersender pada bangku. Serta tubuh bagian bawah juga harus membuat Beelzebub beradaptasi dengan bangku taman, itu jugalah yang memperlama obrolan mereka berdua.


“Sudah selesai?”


“Su-dah.”


Gaia saja sampai bosan. Untung sekarang Beelzebub sudah nyaman, jadi Gaia bisa membuang pandangan untuk menonton pertunjukkan langit biru diatasnya.


“Kenapa … kau membuat dimensi ini?”


“Beel-Beel-Beel ….”


Beelzebub sedikit tersentak mendengar itu. Kesal, sudah pasti. Nampaknya ada ketidaksopanan yang sedang terjadi di sini.


“Kalian pikir, cuma membunuhlah satu-satunya yang aku senangi. Kalian pikir, hidupku hanya untuk memuaskan hasrat makanku. Aku juga lelah dengan dosa kerakusan ini, setiap nyawa yang aku bunuh pasti mengeluarkan rintihan sebelum ajal mereka datang menjemput.”


Gaia berpaling lagi untuk menatap Beelzebub, sekarang mereka berdua saling bertatapan.


“Semakin lama … teriakan-teriakan itu semakin membuat mataku menjadi kering. Di sisi lain, aku capek dan lelah dengan semua tindakan bengis yang aku lakukan. Apa kau pernah tahu, jiwa-jiwa mereka terus meronta dari dalam diriku, membuatku menjadi frustasi setiap malam.”


Kini giliran Beelzebub yang membuang pandangan. Nampaknya, dia juga ingin menikmati pemandangan yang terhampar di dimensi ini.


“Dan pada akhirnya, aku menjadi pribadi yang dingin karena rasa frustasi yang besar itu.”


“Jadi, kau membuat dimensi ini untuk menenangkan pikiranmu?”


“Yah, lebih tepatnya aku ingin kabur dari dunia ini. Dulu, aku pernah pergi ke sebuah tempat untuk menjalankan misi. Di tempat itu, aku bertemu dengan seorang wanita kurcaci tua. Dia sedang duduk di permukaan yang ditutupi oleh hamparan rumput yang luas.”


Gaia berbicara dengan satu tangan yang memperagakan cerita. Dia hendak memvisualisasikan apa yang terjadi saat itu.


Beelzebub masih acuh tak acuh, pada cerita maupun peragaan yang sedang dilakukan Gaia.


“Aku penasaran, aku pun mendekat dan duduk bersamanya. Bahkan walaupun auraku sangat mengerikan, dia masih tetap tenang dan menikmati suasana di atas langit. Kau tahu ….”


Awalnya Gaia ingin menarik perhatian Beelzebub dengan menggantungkan kalimat, tapi itu tidak berhasil masuk ke dalam kepala Beelzebub yang masih bebal.


“Dia malah menyodorkan teh hangat untuk aku minum. Aku … semakin heran dengan semua ini. Aku pun bertanya padanya ….”


Flashback on


“Kenapa kamu masih tetap tenang denganku, bukankah kamu bisa melihat … seberapa ngerinya diriku ini.”


Pemandangan yang indah, cuaca yang cerah. Nenek itu tidak mau terburu-buru dalam menjawab, dia meneguk sedikit teh dari cangkir. Tak lupa pula, untuk menonton aksi para awan di atas langit.


“Entahlah, semua manusia juga bisa menjadi mengerikan. Bahkan …,” nenek itu mengembalikan tatapan pada Gaia, “Jauh lebih mengerikan darimu.”


“A-apa maksudmu?”


“Haaah … cobalah berpikir secara subjektif.”


Gaia malah dibuat semakin bingung dengan penjelasan yang diberikan nenek itu. Terlalu muter-muter, teh saja tidak mampu menenangkan pikiran Gaia yang sedang kebingungan.


Nenek yang melihat perilaku Gaia yang masih mematung pun turut prihatin. Nenek itu meletakkan cangkir tehnya terlebih dahulu, lalu mendekati Gaia yang masih termenung. Gaia baru terlepas dari lamunannya ketika nenek itu sudah berada di belakang dirinya.

__ADS_1


“Heh! Apa … apa yang kau lakukan? Jika kau bertindak lebih jauh ….”


“Sudah, arahkan mata dan kepalamu ke langit yang ada di atas. Terus rilekskan pikiranmu untuk menghilangkan semua beban. Lalu ….”


“Jangan pikir kau bisa ….”


Awalnya Gaia berpikir negatif, tapi senyuman dan wajah sang nenek telah terdeteksi jujur di mata Gaia. Dia pun akhirnya mengikuti apa yang diperintahkan tadi, tapi dengan perasaan yang canggung.


“Lihat … sekarang teguk sedikit teh dari cangkirmu.”


Apa yang disuruh nenek itu membuahkan hasil. Gaia nampak sangat terpesona akan keindahan dan rasa nikmat yang ditawarkan oleh secangkir teh. Aura mengerikan yang ditampakkan Gaia perlahan memudar. Seolah-olah, dinding tebal penuh kengerian telah runtuh sepenuhnya.


“A-apa ini? Perasaan apa ini? Aku serasa bebas, aku lepas dari segala beban yang aku pikul. Tidak-tidak …,” Gaia meneguk tehnya kembali, demi meneguhkan pendapat tadi, “Aku … aku serasa hidup kembali.”


Gaia langsung berpaling ke belakang, menatap nenek yang tidak bosan-bosannya memajang senyuman.


“Kenapa, kau menunjukkan hal ini kepadaku? Padahal, akulah yang telah membumi hanguskan kotamu.”


Nenek itu mengambil tempat duduk di samping Gaia, sambil melanjutkan acara minum tehnya.


“Yang membuat orang menjadi sangat mengerikan adalah masa lalunya. Itu jugalah yang aku lihat darimu, jadi … aku sama sekali tidak takut padamu. Yah … begitu pun dengan kota yang telah menjadi bagian dari masa lalu karena perbuatanmu. Jika kamu mau tahu, masa laluku juga sangat kelam.”


Dia meneguk tehnya kembali.


“Penindasan, pemerkosaan, perbudakan, pengasingan. Aku juga bisa menjadi jauh lebih mengerikan darimu dengan semua pengalaman itu. Tapi aku juga tidak menyangka sih, kalau kamu yang masih sekecil ini bisa menanggung beban di masa lalumu yang begitu besar.”


“Masa … laluku?”


Nenek itu langsung tertawa kecil, tertutupi sempurna dengan timing saat dia meneguk teh.


“Aku jauh lebih lama hidup darimu bocah, akulah yang telah memungutmu di masa lalu.”


Gaia mencoba mencerna ucapan itu dengan meminum tehnya, namun sayangnya nihil. Yang ada malah pertanyaan yang semakin banyak muncul.


“Tapi, aku tidak pernah bertemu denganmu sejak dulu.”


“Itulah masa lalu, banyak sekali hal yang terlupakan dan dilupakan.”


“Aku masih tidak mengerti.”


“Intinya, masa lalu bisa menjadi pisau bermata dua. Satu bisa menjadi batu loncatan, satu lagi bisa menjadi batu besar yang menjadi beban yang kamu pikul. Tapi ….”


Nenek itu menghela nafas yang sangat panjang. Nampaknya, ucapan selanjutnya akan sangat berat untuk disampaikan.


“Masa laluku hanya bisa menjadi beban yang sampai sekarang tidak bisa kuatasi.”


“Ke-kenapa … aku menangis?”


Gaia mendapati adanya air mata yang mengalir di pipinya. Tapi, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang menjadi penyebabnya. Mencoba untuk dihentikan pun tak bisa, air mata itu terus saja mengalir tanpa bisa dibendung oleh Gaia.


“Walaupun aku mati, setidaknya aku bisa tenang dengan melihat pemandangan ini. Dadah … Elysia.”


Benar saja terjadi. Saat Gaia mengembalikan tatapan, yang dia lihat hanyalah mayat bekas nenek yang tadi mengobrol bersamanya. Kepala nenek itu sudah termakan oleh makhluk yang berwujud seperti belatung. Bisa dibilang belatung sih, tapi dengan versi dan ukuran yang sangat besar.


Orang awam pasti langsung ngeri dan menunjukkan ketakutan yang luar biasa pada pemandangan … yang menjijikan dan juga sangat menyeramkan ini. Tapi hal itu berbeda dengan Gaia, dia masih tetap dingin, dia seperti pelaku dari kematian wanita tua itu.

__ADS_1


“Oy … oy … tolong jawab pertanyaanku. Oy … tolong, tolong jelaskan kenapa air mata ini tidak berhenti. Oy … tolong jawab semua keherananku. Oy …. jangan pergi dari hadapanku. Oy … oy … OYYY!!!”


Di tempat itu, Gaia langsung mengeluarkan semua amarahnya. Dia tidak peduli dengan lingkungan, maupun mayat sang nenek beserta makhluk yang masih sibuk makan.


__ADS_2