RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~ADA YANG ANEH~


__ADS_3

“Yoki, sudah selesai meratapi kekalahanmu?”


Tidak ada reaksi kesal yang dikeluarkan Yoki, artinya Yoki sudah tidak terpancing lagi. Itu semua berkat ide yang langsung muncul tadi, sesaat setelah ia membicarakan anjing yang bermain dengan tuannya.


“Tentu saja.”


Yoki berdiri dan pertandingan pun akan berlanjut. Karena dari tadi Kenichi yang membuat poin, jadi yang memulai servis terlebih dulu adalah dia.


Sekali lagi, untuk servis tidak ada masalah. Namun setelah lima atau enam kali pukulan, barulah Kenichi melancarkan strategi awal.


Bola kok itu akan jatuh di dekat garis out dan memaksa Yoki untuk melakukan back hand. Strategi Kenichi akan bermula di sini.


Tapi, ekspektasi Kenichi berubah mendadak. Langkah pertama dari strategi adalah Yoki melakukan back hand dengan bola kok yang melambung, tapi untuk sekarang sudah berbeda. Bola itu mendatar dan cepat, itu artinya Kenichi tidak mendapat kesempatan untuk menyerang dengan pukulan overhead.


“Payah.”


Mau bagaimana lagi, Kenichi tidak mendapatkan kesempatan untuk menggunakan pukulan overhead. Jadi, otomatis dia hanya mengembalikan bola Yoki secara normal.


“Waktunya mengembalikan tulang ke tuannya.”


Yoki bisa tersenyum di dalam permainan, dia benar-benar tidak menyangka kalau rencananya akan berhasil. Tapi, apa itu cukup? Uhm, tidak sama sekali. Bukan berarti jika satu masalah selesai, masalah yang lain pun ikut selesai.


Yah, dia sudah tahu itu. Yoki tentu harus mempunyai bekal lain untuk melawan Kenichi. Jika tidak yah lawan sudah mempunyai cara dalam mengatasi serangan Yoki dan keadaan bisa diputar balikkan. Ingat, belum ada kata selesai sebelum wasit atau poin yang menentukan.


“Kau pikir dengan itu bisa mengalahkanku, hah?”


“Hohoho, tentu tidak dong.”


Untuk selanjutnya, Yoki memakai strategi yang sama. Dia tidak pernah memberikan Kenichi kesempatan untuk menyerang secara overhead. Yang mana itu secara dominan dipakai Kenichi untuk merebut keunggulan.


Bahkan bukan hanya itu keberhasilan Yoki, Kenichi sampai dibuat kewalahan oleh balasannya. Alhasil, Yoki juga mulai bisa mengendalikan alur permainan.


“Payah, dia tidak pernah memberiku kesempatan. Bola itu benar-benar tidak enak untuk dipukul keras dan sepertinya, dia terus meluncur bola ke arah raketku.”


Tentu saja bukan hanya Yoki yang tidak mau kalah di permainan ini. Kenichi juga mengincar kemenangan dengan ambisi yang sama dengan lawannya.


“Kalau itu maumu, akan aku ladeni.”


Selesai bergumam, Kenichi kembali fokus ke permainan. Mereka berdua saling berbalas pukulan, tapi tidak ada satu pun yang berhasil membuahkan hasil.


Sampai Yoki terus menerus menembakkan dropshot ke arah Kenichi. Sekilas mirip smash. Tapi pada gerakan sebelum menyentuh permukaan kok, pemain akan memelankan pukulannya.


Tujuan Yoki disini adalah bola jatuh di dekat net. Berhasil sih, dengan tambahan rasa kesal pada sang lawan. Poin Yoki bertambah ketika bola hasil dropshot jatuh di dekat net.


Yah, bola itu sangat tipis dengan net. Hingga mungkin akan sangat susah untuk mengembalikkannya. Kenichi sudah mencoba dan benar-benar sudut pukulan yang tidak terduga.


Begitu dikembalikan, bola kok malah menyentuh net dan otomatis telah membuat poin Yoki bertambah.


“Sepuluh satu.”


“Yosh!”


Yoki berteriak penuh kemenangan. Padahal poinnya baru satu, tapi euforianya mengatakan kalau dialah pemenang dalam pertandingan ini.


“Jangan sambong dulu Yoki.”

__ADS_1


Pertandingan kembali dimulai. Akhirnya Yoki yang memulai servis terlebih dulu, sehingga strateginya bisa berjalan lebih lancar.


Untuk berikutnya, keadaan permainan benar-benar sudah berbalik. Yoki benar-benar mendominasi permainan dan perlahan tapi pasti, poinnya mulai menyusul poin milik Kenichi.


Dari satu poin menjadi sembilan poin dan pada akhirnya, Yoki berhasil menyamakan kedudukan dengan kecohan yang membingungkan Kenichi. Sungguh perjalanan yang melelahkan, sekaligus sangat lama.


Kalian tahu berapa menit untuk menyusul ketertinggalan Yoki, yang pasti lebih dari 40 menit. Dalam rentang waktu yang seperti itu, bukan tidak mungkin stamina mereka akan habis. Bahkan normalnya seperti itu bukan?


“Haaah … haaah … haaah … akhirnya, haaah … akhirnya aku bisa menyusulmu.”


“Haaah, kau … terlalu niat Yoki.”


“Oy, apa kalian sudah selesai? Kayaknya kalian sudah kehabisan tenaga, lebih baik diganti dengan pasangan yang lain saja.”


Bahkan yang menonton saja sampai tidak percaya, kalau gurunya sih ingin agar giliran Yoki dan Kenichi disudahi. Bukannya bosan atau apa, tapi kan ada tenggat waktu di setiap mata pelajaran.


Semua anak didiknya juga harus main, masa jam pelajaran ini hanya semata menjadi pertandingan di antara Yoki dan Kenichi.


“Tidak apa-apa guru, kami masih bisa lanjut.”


“Sudahlah, gini saja kalian bapak beri nilai seratus langsung karena mempraktekkan pertandingan bulu tangkis seperti pertandingan profesional.”


“Tidak!!!”


Ternyata masih ada juga stamina mereka. Dengan suara bernada tinggi dan kekompakan suara, tentu itu saja sudah cukup untuk membuat wajah guru mereka merah padam.


“Dasar keras kepala, keluar dari lapangan se-ka-rang!”


“Haaah, payah sekali. Ayo Yoki.”


“Oke.”


Yang pasti, seperti baju cucian dengan ekstrak bau keringat di dalam.


“Sudahlah Kenichi, kita udahan aja. Wasitnya gak profesional, bahkan baru setengah pertandingan pun kita sudah diusir tanpa sebab yang jelas.”


“Iya yah. Kalau murid lain aja, mereka dibiarkan bermain sampai skor akhir. dasar pilih kasih wasitnya.”


Benar-benar drama yang bagus, bagus dalam artian menyindir orang lain.


“Oy ... oy … oy … kalau kalian mau bertanding beneran, yah main aja di turnamen. Ini pelajaran, yang lain juga harus kebagian ilmu.”


Racauan mereka berdua terdengar juga sampai ke belakang. Memang disengaja sih. Mereka ingin menyindir keputusan guru yang telah menghentikan pertandingan mereka. Pertandingan yang sengit, yang pemenangnya masih belum dapat pasti.


“Dia ngomong apa?”


“Entah, gak tahu.”


“Dasar murid laknat!”


Senang juga mereka, bisa mengerjai guru sehabis menjalani pertandingan yang melelahkan memanglah yang terbaik. Tertawa saja di dalam hati, tidak perlu diungkapkan. Cukup melihat kejengkelan guru yang dilampiaskan dengan meninju udara.


“Wow Yoki, Kenichi itu … itu adalah pertandingan terlama yang pernah aku saksikan untuk ukuran remaja seperti kalian. Bahkan kalau diteruskan bakal memakan waktu 1 jam lebih.”


“Haaah, entahlah. Tadi aku hanya berpikir untuk mengalahkan Kenichi, jadi deh gak ngelihat waktu.”

__ADS_1


Yoki membalas ucapan Gaia, walaupun badannya nampak sangat kelelahan.


“Dan pada akhirnya, tidak ada pemenang di antara kita.”


“Ya sudah Kenichi. Bertarung denganmu saja sudah membuatku bangga,” Setelah melirik Kenichi, Yoki berubah haluan dan memalingkan pandang menatap Gaia, “Oh yah, sekarang giliranmu kan?”


“Iya, aku akan melawan Haori sekarang.”


“Yosh, aku sudah tidak sabar buat ngelawan Gaia.”


Dari belakang Haori menghampiri mereka bertiga, tiba-tiba saja dia bersemangat dengan bulu tangkis. Entah apa yang merasukinya sampai seperti itu, bahkan perilaku Haori menimbulkan kebingungan dari Yoki dan Gaia.


“Hahaha, kau seperti orang yang berbeda saja Haori.”


“Tentulah, abis lihat pertandinganmu dengan Kenichi, aku jadi lebih bersemangat.”


“Haori dan Gaia, giliran kalian.”


Ternyata mereka berdua sudah dipanggil, itu artinya mereka harus mengakhiri obrolan ini. Keduanya pergi meninggalkan Yoki dan Kenichi yang langsung duduk karena lelah.


Tapi sebelum dipisahkan net, mereka saling bertatapan. Untuk obrolan sebentar, sebelum mereka sepenuhnya menjadi lawan.


“Yosh, mohon bantuannya Haori.”


“Oke, kita berikan yang terbaik.”


Sekarang mereka berdua sudah berada di tempatnya masing-masing, siap untuk memulai pertandingan. Dengan tanda dari guru, Gaia sudah memulai servis pada Haori.


Setelah berlangsung lumayan lama (tapi tidak selama pertandingan Yoki dan Kenichi) pertandingan ini bisa dibilang didominasi oleh Gaia. Soalnya, skor sementara menunjukkan Gaia sebagai pemenang. Tujuh belas banding sebelas secara angka.


“Ayo Gaia, kumohon tunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya. Jangan menahan diri hanya karena aku masih pemula.”


“Apa yang kamu maksud?”


Pertanyaan itu tidak dia ungkapkan, hanya sebatas gumaman. Pikirnya, untuk apa menanyakan hal yang bahkan sangat dia tidak mengerti arahnya.


Setelah itu, dia melihat sebuah senyuman misterius yang ditampilkan Haori. Aneh, adalah satu-satunya pendapat dia saat melihat Haori.


Mungkin jika dilihat dengan mata telanjang, itu masih biasa. Tapi berbeda saat dilihat Gaia, ada sesuatu yang aneh di balik senyuman itu. Sesuatu, yang seperti dia kenal.


“Oke, aku akan mulai lagi yah Gaia.”


Gaia masih memandang serius senyuman Haori. Sebaiknya sih dilupakan, dia harus tetap fokus pada tujuannya. Lagipula, ada kemungkinan kalau itu hanya perasaannya saja.


“Oke.”


Baiklah, sekarang pandangan Gaia sudah kembali pada tujuan awal. Untuk bermain serius dalam olahraga favoritnya.


Pertandingan pun dilanjutkan, awalnya semua berjalan baik-baik saja. Sebuah permainan bulu tangkis yang didominasi oleh pukulan smash dan pukulan lob. Para penonton pun bersorak saat menontonnya.


Sungguh tontonan yang menarik sih sebenarnya, kurang lebih sama dengan pertandingan Yoki dan Kenichi tadi.


“Poinnya menjadi tujuh belas untuk Gaia dan dua belas untuk Haori.”


Hingga tiba di titik ini, dimana Haori berhasil menambah poinnya menjadi dua belas. Ada hal aneh yang menarik perhatian Gaia, bukan karena poin Haori tapi karena pukulan yang dilakukan.

__ADS_1


Pukulan drop yang dilakukan Haori … agak sedikit menyimpan kejanggalan.


“Bagaimana bisa pukulan itu menukik sangat tajam saat berada dalam jangkauan raket Gaia? Angin?” Kenichi mengecupkan jarinya ke mulut, lalu diangkat ke atas, “Tidak ada kok, tapi bagaimana bisa?”


__ADS_2