RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 3~


__ADS_3

Kenichi menilai kalau ini adalah kesempatan yang bagus untuk menunjukkan dirinya. Tepat berjarak 10 meter dari orang itu, kini Kenichi sudah berdiri di belakangnya.


“Siapa itu?”


Orang itu berbalik dan menunjukkan raut yang sedikit tersentak.


“Ahhhh, ternyata benar dugaanku. Targetku sudah menyadari keberadaan pemangsanya.”


Dia mencoba untuk menenangkan diri dengan meledek Kenichi.


“Hehe, pengintaian om terlalu mencolok dan mungkin bisa kubilang … agak bodoh.”


Kenichi membalasnya, tapi itu tidak berpengaruh pada lawan bicaranya. Bapak itu malah melipat kedua tangan di dada, seperti hendak meremehkan kemampuan Kenichi.


“Aku dengar, kau adalah remaja yang telah menguasai berbagai jenis bela diri.”


“Dan yang aku tahu, kalau om ke sini untuk menagih hutang keluargaku dulu.”


Balasan yang diberikan agak menarik perhatian dari bapak itu. Dia tersenyum, untuk menyimbolkannya.


“Heee, bagaimana kau tahu?”


“Hahaha, ternyata benar. Bos besar kalian yang kalau tidak salah namanya Bonzo itu, adalah orang yang akan mengejar targetnya sampai tuntas bukan.”


Nadanya sedikit menggoda, tapi isinya jauh lebih mengesalkan.


“Bagaimana kau tahu nama bos besar kami?”


“Hoho, om sangat ingin tahu,” Kenichi menaruh telunjuknya di bawah dagu, “Kalau gitu mari kita bertaruh. Apa om mau?”


“Bertaruh tentang apa?”


Bapak itu memasang ekspresi was-was, dia harus berhati-hati dalam melangkah. Siapa tahu, remaja itu memasang sebuah jebakan di dalamnya.


“Yang dapat mengenai wajah lawannya, harus memberitahu informasi yang lawannya tanya. Setiap kena, maka yang mengenai itu boleh mengajukan satu pertanyaan.”


“Hoo, hanya seperti itu?”


Dengan melihat anggukan Kenichi, bapak itu sudah mengerti kalau jawabannya adalah yah.


“Baiklah, akan kuterima. Walaupun kamu menguasai banyak seni bela diri, tapi umurmu jauh di bawahku. Jadi aku layak seorang senior bagimu.”


Itu terdengar layaknya sebuah lelucon bagi Kenichi. Tapi dia hanya tersenyum, sedangkan tawanya dia simpan.


“Yosh dalam hitungan ketiga.”


“Eh tunggu dulu.”


Tiba-tiba sebuah tangan menyetop langkah Kenichi, membuatnya batal memasang ancang-ancang.


“Aku memperkenalkan diriku dulu, agar kamu ingat ketika kamu nanti akan kalah.”


“Haaah, baiklah.”


Kenichi agak kesal, buat apa harus ada acara perkenalan lagi. Tapi dia ya hanya pasrah saja, sembari menghela nafas untuk bersabar.


“Namaku Genki.”


“Oh, terus aku juga harus perkenalan juga kah?”


Nada yang seperti itu membuat Genki kesal. Dia tahu kalau lawannya sedang menghina dirinya. Makanya dia simbolkan dengan wajah yang dikerutkan.


“Tidak perlu, lagipula kita akan bersenang-senang untuk waktu yang lama.”


“O begitu kah?”


Sekarang Kenichi hanya bergumam saja, daripada makin lama. Kenichi langsung berancang-ancang, dia tidak mau menunggu terlalu lama. Sedangkan untuk otak Kenichi, dia sedang merancang sebuah strategi. Sekaligus, menunggu hitungannya berakhir.


“Tiga … dua … satu ….”

__ADS_1


Hitungan mundur telah diselesaikan Kenichi dan kini dia langsung berlari ke arah lawannya. Sedangkan lawannya, hanya diam sembari menunggu serangan.


“Baiklah pak tua, kita lihat kemampuanmu.”


Satu tendangan dari kaki kiri di layangkan secara horizontal. Genki itu langsung menghalau serangan itu dengan tangan kanan.


“Lumayan.”


Sekarang Kenichi memberikan tendangan vertical dengan menggunakan kaki kanannya.


“Lambat.”


Kaki kiri Genki mundur, otomatis membuat badan bagian kirinya ikut mundur. Dia menghindari serangan itu dengan ketenangan, tanpa emosi dan yang dapat terlihat dari ekspresi mulutnya adalah ungkapan meremehkan.


“CIKH, ternyata kau menyebalkan juga yah pak tua.”


Tidak sampai di situ saja serangannya, dia bahkan menambahkan dengan sebuah tinju kiri. Tapi, lagi-lagi itu terlalu lambat dan mudah terbaca.


Benar-benar cepat antisipasinya. Bahkan, itu semua dihadapi dengan kesigapan yang mantap. Dari sini, Kenichi sudah mempunyai firasat yang tidak baik tentang lawannya.


“Payah!”


Bahkan serangan yang seperti itu saja gagal. Sepertinya, Kenichi harus menyiapkan rencana cadangan. Yah, otaknya berputar selagi pertarungan ini masih berlangsung.


“Kalau gitu .…”


“Percuma bodoh!”


Dan lagi-lagi serangan Kenichi berhasil dihentikan. Kini, kedua tangannya telah berada dalam genggaman lawannya.


“Hehe, kau pikir aku tidak menyiapkan rencana cadangan.”


Ternyata itu semua hanyalah sebuah langkah awal saja.


Dengan kedua tangan yang sudah ditahan oleh lawannya, Kenichi menarik kedua tangannya. Otomatis tubuh dari Genki ikut maju ke arah Kenichi.


“CIKH, kuat juga kemampuanmu.”


Itu adalah nada kesal yang spontan keluar, setelah kepala Genki dibenturkan dengan kepala Kenichi.


Dia memegangi kepalanya, hendak menekan rasa sakit yang timbul. Lain halnya dengan Kenichi yang nampak baik-baik saja. Yah, sepertinya keputusan itu sudah dibuat dengan matang, sehingga dia tidak mendapatkan akibatnya.


“Hehe, sesuai peraturan, aku akan menanyaimu sebuah pertanyaan.”


Genki berdiri kembali, dia sedang mempersiapkan diri untuk sesi tanya jawab.


“Untuk pertanyaan pertamaku … kenapa kalian masih terus mengejarku hingga saat ini?”


Pertanyaan itu dipikirkan sejenak, agar jawabannya sesuai.


“Yah, aku juga tidak tahu. Tapi itu semua adalah suruhan bosku. Dia ingin agar uang senilai 7 juta yen yang orang tuamu pinjam, ditagih dan dilunaskan oleh keturunannya. Karena orang tuamu kan sudah mati.”


Kenichi diam dan merenungi jawaban yang telah diberikan. Dia agak tidak puas, sepertinya dia salah memilih pertanyaan.


“Yosh, sekarang udah dijawab kan. Ayo kita lanjutkan lagi pertarungannya, aku juga punya beberapa pertanyaan untukmu.”


Tepukan tangan disertai ajakan itu telah membuyarkan lamunan Kenichi. Padahal dia sedang memikirkan sebuah pertanyaan untuk nanti.


Tapi, itu bisa diterimanya. Kenichi mengangguk sebagai tanda setuju.


“Giliran aku yang menyerang.”


Jika tadi Kenichi, sekarang adalah giliran Genki yang maju terlebih dulu. Dia melangkah panjang, sehingga sampai di hadapan Kenichi lebih cepat.


“Kita lihat, seberapa kuat pertahananmu.”


Genki mengangkat kaki kanan dan langsung menendang Kenichi dari samping. Memang gerakan itu bisa dihindari, tapi gerakan yang lain muncul secara tidak terduga. Benar-benar cepat dan itu adalah tendangan yang amat bertenaga.


“Cepat sekali.”

__ADS_1


Kenichi berhasil menghindari serangan demi serangan yang terarah dari samping, depan, bahkan dari atas. Semuanya adalah tendangan, tapi itu semua bisa membuat lawannya kewalahan.


“Dasar keras kepala.”


Di balik kecepatan tendangan yang terarah ke atas, Genki juga mempersiapkan tendangan ke arah bawah.


Tapi, dengan sabar dia menunggu waktu dan ketika tepat, Genki tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Tendangan sabetan dikeluarkan dan berhasil membuahkan hasil. Kenichi yang hanya memfokuskan pertahanan atas, tentu tidak sempat mengantisipasi serangan bawah.


“Payah.”


Hanya sebuah racauan yang dia bisa keluarkan.


Tapi ini bukan waktunya untuk meracau lagi, karena kaki lawannya mengarah secara vertikal ke arah kepala.


“Sekarang giliranku untuk bertanya.”


Sekarang kakinya sudah menekan wajah Kenichi. Dia tidak ingin terlalu sadis, lagipula berdasarkan peraturan, dia sudah bisa mengajukan sebuah pertanyaan.


“Sekarang jawab pertanyaanku. Ba ….”


“Oy, woy. Jangan bertanya sambil menginjak kepalaku juga lah.”


“Oho, tunggu dulu.”


Tidak perlu sampai seperti itu juga, pikir Kenichi. Lagipula, mau posisinya seperti apapun Kenichi akan tetap menjawab pertanyaan itu. Yah, dia adalah pria yang menepati omongan.


Sekarang Genki sudah menyingkirkan kakinya dari kepala Kenichi, begitu pun dengan Kenichi yang sudah bangkit berdiri dari posisinya.


“Baiklah, tidak ada permintaan lain kan?”


“Tidak ada, lanjutkan saja pertanyaanmu.”


Ekspresi Kenichi tetap tenang saat mengatakan itu, dia sudah siap untuk menjawab.


“Jadi aku ingin bertanya, kenapa kamu bisa tahu nama bos kami?”


“Ohh, Bonzo itu. Jadi, ini semua terjadi saat tiga tahun lalu. Tiga tahun lalu … aku mendapatkan informasi mengenai namanya dari seorang anak kecil.”


Jawaban itu mendapatkan tanggapan yang mengejutkan dari si penanya. Genki tersentak, jawaban itu seperti sebuah informasi penting baginya. Atau lebih tepatnya seperti sebuah puzzle yang ingin dia ketahui kelanjutannya.


“Siapa anak kecil itu?”


Yah, dia benar-benar penasaran.


“Heee, bukannya satu pertanyaan untuk satu serangan … kan?”


Dari sini senyum licik Kenichi terlihat, dia benar-benar senang karena mangsa telah jatuh ke dalam perangkap.


Apalagi kemarahan yang terlukis di wajah Genki, wah dari sini keunggulan Kenichi akan terlihat.


“Baiklah.”


Giliran kali ini, lagi-lagi diawali oleh Genki. Dia berlari dengan berbekal amarah dan tangan kosong. Tangan kosong itu ia kepal dan diselimuti dengan kemarahan.


“Jangan-jangan anak itu adalah ….”


Gumamannya menunjukkan kemarahan. Kini dia semakin mendekati Kenichi dengan kepalan tangan yang disembunyikan di belakang.


“Hmmph, bodoh. Salah satu syarat agar kamu bisa menang dariku adalah .…”


Bukan hanya bapak itu saja yang mempunyai serangan terselubung, bahkan sekarang Kenichi mulai menunjukkan kepalan tangan yang tadi dia sembunyikan di saku celana.


Isinya belum ditunjukkan sampai bapak itu benar-benar sudah sampai di hadapannya.


“Mati kau!”


Ucapan itu datang dari kemarahan Genki.

__ADS_1


__ADS_2