
Satu hari yang berat telah berlalu, perasaan Yoki juga telah kembali pulih, jika ditunjukkan dari ekspresinya. Tentu, itu semua berkat Kenichi yang telah menolongnya dan juga Gaia.
Saat ini Yoki sedang memakai seragam sekolah dengan kaki yang berjalan santai di pinggir jalan. Tujuan hari ini sudah jelas, ingin pergi menempa ilmu di sekolah.
Seperti biasa, Yoki berjalan menelusuri trotoar untuk menuju halte, suasananya pun tak berbeda dari biasanya. Tapi yang membuat pagi ini terasa baru adalah ....
"Yoki," terdengar sebuah suara sapaan yang tidak asing di telinga Yoki.
Yoki menolehkan matanya ke seberang jalan dan terlihatlah sosok murid perempuan yang memakai baju seragam bertipe pelaut. Seragam itu adalah seragam siswi di sekolah Yoki.
Murid itu tidak lain adalah Gaia yang sedang menyapanya dari seberang jalan. Saat melihat Yoki membalas sapaannya dengan melambaikan tangan, Gaia langsung berjalan menyebrangi jalan menuju ke tempat Yoki yang berada di sisi lain.
Ekspresi Gaia seperti mengisyaratkan padanya kalau kemarin tidak terjadi apa-apa. Malahan, sikapnya tiba-tiba berubah dari yang kemarin.
Melihat sikap Gaia yang seperti itu, Yoki hanya diam saja. Dirinya mengakui kesungguhan Gaia untuk berteman dengannya.
"Hai Gaia, selamat pagi," Yoki membalas pula sapaan Gaia, saat dia sudah menyebrangi jalan.
"Yoki, mau pergi bersama?" tanya Gaia dengan wajah manisnya yang memohon kepada Yoki.
"E-emang kita searahkan, jadi tentu bolehlah hahaha ...."
Yoki sempat salah fokus memperhatikan raut wajah Gaia yang hari ini nampak manis menurutnya.
Nadanya masih terdengar bersahabat, dengan senyum yang tak jenuh-jenuh di arahkan pada Gaia.
"Oh ya hehehe ...," ucap Gaia cengengesan sembari mengelus-eluskan kepalanya dengan salah satu tangannya.
"Ya udah mari," ajak Yoki sembari membalik badannya ke arah yang sebaliknya.
Sekarang, raut wajah Gaia menampakkan kebahagiaan yang tersirat dalam senyumnya. Sesampainya di halte bus, mereka berdua segera menaiki bus yang lewat dan tak lama setelahnya, mereka diantarkan oleh bus itu sampai ke sekolah.
Saat jam istirahat sekolah, Yoki dan Gaia menghabiskan waktunya dengan berjalan jalan di sekitar taman.
Langkah mereka nampak beriringan, melewati kerumuman murid-murid yang lalu lalang di sekitar mereka. Tanpa mereka sadari, tiba-tiba dari arah belakang datang Kenichi yang berhasil mengagetkan mereka berdua.
”Wah … wah … wah ... rupanya setelah kejadian kemarin kalian jadi lebih dekat yah hihihi ....”
”Ke-kenichi kenapa kamu di sini?” tanya Yoki yang sedikit gugup ketika melihat Kenichi yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya. Sementara Gaia hanya menyapa Kenichi dengan senyuman di wajahnya.
”Kan udah aku bilang, kalau hari ini akan aku jelaskan semuanya kepada kalian,” jawab Kenichi.
__ADS_1
”Oh yah, kok aku bisa lupa,” ujar Yoki dalam hati."Jadi, kenapa kamu mau menjadi teman kami?” tanyanya melanjutkan pembicaraan.
”Karena aku merasa kalau kita itu senasib dan kita bisa mengerti satu sama lain,” jawab Kenichi.
”Senasib,” Yoki menjadi kebingungan dengan penjelasan Kenichi.
”Begini, saat aku melihat berita tentang pembunuhan seorang Pengusaha daging kepada sepasang Suami Istri. Aku juga melihatmu di samping mayat mereka. Kamu adalah anak yang pingsan itu dan saat melihat keadaanmu, tiba-tiba saja aku teringat kejadian yang telah menimpaku di masa lalu,” jelas Kenichi.
”Apa ... kenapa dia tahu tentang kasus ini, bukannya aku sudah bilang untuk merahasiakan kejadian ini ke publik ?!” heran Yoki dalam hati.
”Aku tahu kamu pasti bingung kok, sebenarnya bukan polisi yang memberitahu, tapi mataku sendiri yang melihat kejadian itu di tempat perkara dan ketika melihatmu aku merasa seperti ada yang bisa mengerti perasaanku. Karena alasan itulah yang membuatku ingin berteman denganmu, Yoki,” jelas Kenichi yang membalas raut bingung dari wajah Yoki.
Untuk menghilangkan dan memperjelas kepada Yoki alasan yang sesungguhnya, Kenichi pun mulai bercerita, ”Baiklah biar lebih jelas akan kuceritakan kejadiannya kepada kalian berdua.”
Kenichi adalah anak dari seorang pengusaha ikan keluarga Gatland dia adalah anak tunggal dari pasangan Kendo Gatland dan Alena Gatland.
Dulu hidupnya sangat bahagia bersama orang tuanya, karena tentram dan damai. Sekilas ceritanya hanya terdengar biasa saja, kehidupan orang yang boleh dibilang berada karena pekerjaan ayahnya. Tapi, itu semua berubah pada suatu malam.
Ketika Kenichi sedang tidur, dia mendengar suara berisik yang berasal dari percakapan orang tuanya. Tapi, dia menghiraukannya dan mencoba kembali untuk tidur.
Memang tidak terdengar jelas apa yang dibicarakan oleh orang tuanya. Tapi tetap saja, suara itu sangat menggangunya untuk kembali ke alam tidur.
Selang beberapa saat, tiba-tiba kedua orang tuanya masuk ke kamar Kenichi. Tapi, mereka tidak mengetahui bahwa saat itu Kenichi belum tertidur. Mereka hanya melihat sekilas pada kedua mata Kenichi yang tertutup rapi.
Ia penasaran dengan apa yang terjadi dan ketika Kenichi membukakan mata, dia melihat ayahnya sedang mengayunkan pisaunya ke arahnya.
Ekspresi Kenichi bimbang, tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya kosong dalam posisi terlentang dengan kepala yang menatap ayahnya.
Hingga tiba-tiba, ibunya menghampiri dan menghalangi tubuh Kenichi saat melihat anaknya yang terbangun.
Segala perbuatan tidak dapat ditarik maupun diulang lagi. Itu semua sudah menjadi masa lalu saat pisau ayah Kenichi berhasil mengenai dada istrinya.
Darah keluar, mengiringi tusukan pisau suami yang sudah tertancap dalam di dadanya.
Tubuh ibunya jatuh ke belakang, ke pangkuan anaknya yang mematung diam di tempat. Posisi Kenichi telah berubah, ia menegakkan badannya dengan kaki yang masih terlentang.
Kenichi kecil tidak tahu harus memilih ekspresi dan tindakan apa yang akan diperbuatnya. Segala keindahan hidupnya berakhir pada malam itu.
Rasa senang, syukur, dan kagum pada orang tua dan kehidupannya, telah berubah menjadi amarah dan dendam yang membara. Itulah yang ekspresi yang diputuskan oleh Kenichi.
Matanya menatap tajam ayahnya yang tiba-tiba terduduk diam di lantai, seakan ia juga merasa bersalah atas tindakannya.
__ADS_1
Tangan ayahnya gemetar karena hasil dari sebuah tindakan. Tapi, itu semua terlambat. Anaknya kini sudah diselimuti oleh nafsu membunuh, dendam dan amarah telah membutakan matanya. berhiaskan darah segar yang membasahi kaus putih.
Ia mengambil pisau yang menancap di dada ibunya, dengan mata yang masih mengunci ayahnya. Perlahan ia melepas ibunya dari pengakuan. Lalu meletakkannya di kasur.
Kesadaran yang tersisa dari ibunya, berinisiatif untuk menghentikan perbuatan anaknya dengan menggenggam tangan Kenichi.
Namun, itu semua sudah terlambat. Kini Kenichi sudah berubah total dari biasanya. Tangan ibu Kenichi juga tidak bisa menggenggam kuat tangan Kenichi, karena nyawa yang semakin mendekati ajal telah membuatnya semakin lemah.
Ayahnya hanya menatap kaku anaknya, seperti pasrah pada perbuatannya. Tanpa perlawanan dan teriakan, ayah Kenichi menerima setiap tusukan pisau yang di lampiaskan oleh Kenichi.
Setelah ayahnya sudah tidak bernyawa, dengan kematian tragis akibat belasan tusukan dan pisau yang menancap di tusukan terakhir. Kenichi kembali pada ibunya.
”Maafkan kami yah nak sekarang kamu harus menjalani beban ini sendirian, tapi harus kamu tahu kalau kami ….”
Belum sempat Ibu Kenichi menyelesaikan perkataannya, tanpa peringatan sedikit pun tiba-tiba saja tubuh Ibunya sudah tidak bergerak lagi seperti layaknya sebuah patung.
Detak jantung telah berhenti, dan itu berarti adalah batas akhir dari hidup ibu Kenichi. Kenichi kecil hanya bisa menangis tanpa bisa memberikan pertolongan apa-apa pada ibunya.
"Setelah semua kejadian itu, aku pun mulai melatih diriku agar menjadi lebih kuat. Tapi sayangnya, aku tidak mempunyai seseorang untuk dilindungi lagi."
Kenichi yang sedari bercerita sembari menunduk, menegakkan kepalanya, menatap Yoki dan Gaia yang sebenarnya memasang ekspresi ngeri saat mendengar ceritanya.
Suasana masih tetap sama, dengan banyak murid-murid yang lalu lalang tanpa memperdulikan mereka bertiga.
"Sampai kejadian waktu itu, ketika aku melihatmu aku merasa seperti aku melihat diriku sendiri dan aku seperti memiliki sesuatu untuk dilindungi lagi. Itulah ceritaku dan itulah alasan kenapa aku ingin berteman denganmu ... Yoki.”
Lamunan Yoki buyar, ekspresinya masih sama, layaknya ia sudah selesai menonton film horror.
”Berarti kamu membunuh orang tuamu?”
”Itu memang benar akulah yang telah membunuh Orang tuaku, tapi setiap pembunuhan mempunyai motifnya masing masing bukan."
”Kenapa badanku ketakutan setelah mendengarkan cerita yang barusan disampaikan Kenichi tadi, ada apa ini ?!” keluh Yoki dalam hati.
”Aku tahu jika tindakan dimasa laluku benar benar mengerikan tapi aku harus jujur kepada kalian, aku tidak mau ada lagi yang ditutup tutupi dengan kalian. Jadi, apakah aku bisa berteman dengan kalian?”
”Baiklah, aku bersedia untuk berteman dengan denganmu.”
Jawabannya dipaksakan untuk menghilangkan keraguannya tadi. Bagaimana pun juga, Yoki berpikir kalau ia senasib dengan Kenichi dan karena alasan itulah Yoki berusaha untuk melupakan perbuatan yang dilakukan Kenichi. Walaupun, jejak ketakutan masih nampak jelas dari rautnya.
"Ya aku juga, karena kemarin kamu telah berjasa sekali kepada kami," ujar Gaia, pertanda setuju dengan jawaban Yoki.
__ADS_1
”Syukurlah, terima kasih karena sudah mengizinkanku berteman dengan kalian.”
Bersamaan dengan perkataan Kenichi, terdengar bel sekolah tanda berakhirnya istirahat. Lalu dengan cekatan mereka bertiga langsung membubarkan diri dan kembali ke dalam kelas.