
Malam sudah datang, menyelimuti kota yang telah sepenuhnya sudah tertelan kegelapan. Tapi suasananya masih saja tetap ramai, banyak orang yang larut dalam kesibukannya masing-masing. Ada pula yang hanya sekedar menikmati suasana ini.
Untuk Terasaka, dia ingin menyelesaikan sebuah urusan. Berjalan di malam hari, apalagi dengan suasana yang sunyi tentu akan membuat orang normal ketakutan.
Lain halnya dengan Terasaka. Tapi bukan berarti dia bukan orang normal, hanya karena dia tidak takut dengan kondisi seperti itu.
Motifnya adalah sebuah urusan penting. Urusan apa itu? Yang jelas, masih ada kaitan dengan percakapannya bersama Anazawa sore tadi.
Dia terus berjalan, hingga terhenti di sebuah klub malam. Di depan pintu sudah ada penjaga yang siap menjaga 24 jam klub itu.
“Untuk apa kau ke sini?”
Penjaga itu bertanya hal yang wajar ditanyakan oleh orang yang memiliki posisi seperti dia. Dia juga mencondongkan badan ke target bicara sebagai tambahan. Walaupun, tinggi mereka berdua masih terbilang sama.
“Aku ingin bertemu dengan bosmu.”
“Hahaha … apa-apaan kau ini. Kau tidak bisa seeenaknya masuk ke kandang bos kami.”
Dari wajah yang tertawa, wajahnya langsung berubah ke mode serius.
“Perlu aku tekankan, kau sedang memasuki kawasan singa.”
Itu mungkin lebih cocok disebut sebagai ancaman. Apalagi, ancaman itu terlihat berisi setelah dia melebih-lebihkan tempat itu.
Yah, walaupun berisi, ancaman itu serasa tidak berdampak pada Terasaka. Sudah terlihat dari wajahnya yang tidak bereaksi apa-apa dan itu, sudah disadari oleh orang itu juga sih.
“Tidak apa-apa meski ini adalah kawasan singa, tapi aku punya sesuatu yang perlu dibicarakan dengan atasanmu.”
“Buang saja khayalanmu itu dan pergi dari sini.”
Penjaga itu berbalik, dia hendak menghiraukan maksud kedatangan Terasaka. Tidak penting menurutnya, jadi orang yang seperti itu perlu diacuhkan saja.
Apalagi orang asing bisa berarti banyak hal. Mereka bisa menjadi teman, juga bisa menjadi lawan. Yah, dia menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
“Tunggu dulu.”
Terasaka mencegahnya, saat setengah badan penjaga itu sudah berada di balik pintu. Dia tentu saja berdecak kesal, tapi dia tetap meladeni Terasaka. Hanya saja, hanya kepala yang dibalikkan ke belakang.
“Kalau tidak salah, beberapa hari ke belakang ada seseorang yang menjadi sorotan beberapa orang.”
Terasaka langsung To The Point, dia tahu kalau strategi yang pertama gagal. Sedikit informasi tidak menjadi masalah baginya, yang penting bisa menjadi tiket masuk untuk bertemu dengan atasan di tempat ini.
“Orang itu adalah … Kenichi bukan?”
Nama itu langsung berdampak pada mata sang penjaga. Di matanya terlukiskan rasa kaget yang ditandai dengan mata yang melotot.
“Jadi kau ingin membicarakan tentang dia, yah. Ya sudah kau boleh masuk.”
Akhirnya berhasil, sekarang penjaga itu akan menuntun Terasaka bertemu dengan atasannya.
Suasana di dalam juga sama suramnya dengan suasana di luar. Walaupun ada banyak orang, tapi itu malah semakin memperburuk suasana di tempat itu. Tahulah bagaimana atmosfer yang dihasilkan dari sebuah tempat yang bernama klub malam.
Kalau tidak tahu, klub malam berbeda dengan bar biasa. Jika bar biasa mungkin hanya menyediakan layanan untuk minuman, di klub malam ada tambahan DJ yang memeriahkan suasana dengan musik-musik yang dimainkan.
“Ruangan VIP, yah.”
Terasaka membaca tulisan yang tertera di atas pintu sebuah ruangan. Tulisan itu berwarna emas dengan corak yang menambah kesan elegan.
__ADS_1
Mungkin di ruangan ini, keinginan Terasaka akan terwujud. Ruangan, tempat dia akan bertemu bos pemilik klub malam ini.
“Masuklah.”
Penjaga itu membukakan pintu, dia mempersilahkan Terasaka masuk dengan maksud mau menunggu di luar.
“Oke.”
Terasaka memasuki ruangan dengan santai. Bagus sekali sih bagian dalamnya, mungkin itu yang membuatnya layak menjadi ruangan VIP.
Di dalamnya, sudah ada beberapa penghuni yang duduk di sofa yang mewah. Penghuni laki-laki memakai jas dan tuxedo, sedangkan penghuni wanita memakai gaun yang elegan dan mewah.
“Ada apa kau datang ke sini? Apalagi, kau hanya memakai kaos dan celana panjang saja.”
Pria yang duduk di tengah berucap, mungkin dia adalah orang yang punya jabatan tertinggi di tempat ini. Lihat saja, wanita-wanita cantik duduk mengelilinginya.
Yah, dia dimanjakan dengan paras cantik yang dimiliki mereka.
“Dasar sampah.”
Ketus, dengan mata yang memperhatikan Terasaka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia hanya sekilas melihat Terasaka dan langsung menilainya.
“Aku datang ke sini dengan maksud ingin bergabung ke kelompok mafiamu.”
“Bergabung, dengan kelompokku hahaha ….”
Bukan dia saja yang tertawa, melainkan seluruh penghuni ruangan yang ada di situ. Sekarang Terasaka berada dalam posisi yang tidak mengenakan, karena dia menjadi bahan candaan di tempat ini.
“Apa-apaan orang ini, kenapa dia malah mengizinkannya masuk? Seharusnya, serangga seperti dia tidak ada di tempat ini.”
“Ya bos, seharusnya dia di tempat sampah saja tinggalnya hahaha ….”
Yah, hanya tinggal menyisakan satu orang yang diam. Dia tidak lain adalah Terasaka. Bukan tersinggung atau malu pada berbagai ejekan itu, dia malah terlihat tetap tenang dengan senyum yang artinya masih samar.
“Penjaga!”
“Ya bos.”
Anak buah menuruti atasannya, dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
“Kenapa kamu membiarkan dia masuk ke sini?”
“Begini tuan, dia tahu informasi tentang seorang anak bernama Kenichi.”
Nama itu begitu familiar di telinga mereka, bahkan sampai membuat mereka semua terkejut. Yah, semua mata melotot hanya karena sebuah nama dan yang menunjukkan reaksi paling besar adalah pemilik tempat itu.
Kalau untuk Terasaka sih, dia sangat senang. Tidak ditunjukkan, hanya tersirat di dalam hati. Dia sudah menduganya, nama itu telah menjadi tiket masuk baginya.
“Apa yang kamu tahu tentang anak itu?”
Mau tidak mau dia harus meladeni Terasaka. Dia sebenarnya enggan untuk meladeninya, tapi mau bagaimana lagi, Kenichi sudah menjadi buron yang harus ditumpas mereka.
“Hooo sangat banyak, bisa dibilang … aku satu sekolah dengannya.”
Sekarang yang bisa bicara sombong adalah Terasaka. Ucapan itu bahkan membuat mereka semua menjadi kesal.
“Ehh, tunggu dulu … darimana kamu tahu kalau kami sedang mengincarnya?”
__ADS_1
“Haaah, jadi gini waktu itu aku pernah mengikuti Kenichi saat dia sedang pulang sekolah. Tapi, entah kenapa aku merasa ada yang mengikutinya juga. Yah, setelah mengikutinya lebih lama .…”
Satu tangan Terasaka memegang dagu, dia mulai serius bercerita.
“Aku memang melihat ada orang yang mencurigakan. Ketahuannya, saat orang itu langsung bersembunyi di balik pohon, ketika Kenichi secara tiba-tiba berbalik ke belakang.”
“Jadi, sampai mana kamu mengikutinya?”
“Bisa dibilang, sampai Kenichi bertarung dengan orang yang mengikutinya. Walaupun begitu, aku dapat menyimpulkan kalau Kenichi menjadi target utama kalian, setelah aku menguping pembicaraan beberapa orang yang memakai setelan yang sama dengan orang yang mengikuti Kenichi.”
Sekarang waktunya bagi penanya untuk berpikir. Dia hendak mempertimbangkan keputusan ini. Yah, bos di sini bukanlah sebutan bos untuk seluruh organisasi mereka. Dia hanya seorang bos yang mengabdi di bawah Bonzo.
Dari keterangannya, dapat disimpulkan Terasaka mendengar percakapan orang-orang dari kelompoknya. Di sini dia agak kesal, karena anak buahnya tidak berhati-hati.
“CIKH, aku harus mempertimbangkan permintaannya. Jika aku membiarkan ini terlalu lama, bisa-bisa Bonzo tahu tentang kejadian itu.”
Dia bergumam, dengan menampakkan ketakutan melalui gerakan tubuh. Tubuhnya bergetar, giginya bergemeretak di balik satu tangan yang menopang dagu.
Dia sedang menghadapi permasalahan yang besar, hal ini tentu tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai pengganti bos lama yang telah tiada.
“Begini saja deh, biar aku yang menghadapi anak bernama Kenichi itu.”
Di saat dia masih merenung, tiba-tiba Terasaka memotongnya. Terasaka sudah tidak sabar, dia bahkan senang saat melihat ekspresi yang seperti itu.
Namun jelas itu adalah tawaran yang menarik, itu juga sekaligus menjadi kunci penyelamatnya. Sekarang dia menatap Terasaka, dengan harapan yang ditaruh padanya.
“Tapi, apa kamu tahu syarat masuk organisasi ini?”
Hal ini yang ingin diketahui Terasaka. Dia tahu pasti, kalau ingin masuk maka harus ada beberapa syarat yang mesti diurusi.
Yah, sebuah gelengan pertanda ketidak tahuan Terasaka.
“Syaratnya adalah … kamu harus melakukan tindak kriminal terlebih dulu.”
“Apa? Apa aku akan benar-benar menjadi sampah masyarakat …,” Terasaka merenungi lagi tindakan yang akan dia ambil, “Ahh, tidak ada waktu lagi untuk mundur. Urusanku dengan mereka bertiga harus selesai.”
“Kalau begitu aku setuju.”
“Hahaha, sekarang kau sudah resmi menjadi bawahannya Bonzo dan sebagai tanda peresmianmu, selesaikan syarat itu dan kembali ke sini.”
Kedua belah pihak saling berbalas senyum, mereka semua sudah setuju. Terasaka sekarang sudah dapat melancarkan aksi dengan bantuan organisasi itu, sedangkan bos di tempat itu berhasil mendapatkan sebuah kunci yang akan menjadi tameng dari pimpinannya.
“Hei, tunggu dulu. Aku lupa memberitahukanmu sesuatu, semakin besar tindak kriminal yang kamu lakukan, maka akan semakin banyak pula bantuan yang akan diberikan padamu.”
“Hoo, baiklah.”
Sekarang Terasaka meneruskan langkah dan pergi meninggalkan tempat itu. Pada akhirnya, dia akan meniti jalan yang dia pilih sendiri. Mau itu baik atau buruk, yang penting tujuan utamanya terselesaikan.
“Boleh aku tanya bos, kenapa Anda mengizinkannya tanpa persetujuan bos besar?”
Ada satu orang yang masih mampertanyakan keputusan pemimpinnya. Dia menunggu dulu pertanyaannya, sampai Terasaka meninggalkan tempat ini.
“Anak baru itu tidak akan pernah aku kenalkan pada bos besar. Tujuannya, agar saat dia mati maka kita semua tidak akan mendapat amukan dari bos besar.”
“Hohoho, dan jika kita berhasil maka dia tidak akan mendapat keuntungan?”
Sebuah anggukan saja sudah cukup untuk menyetujui pertanyaannya. Orang itu puas, diperlihatkan dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
“Ternyata … Anda memang cocok untuk menggantikan bos yang mati karena anak itu. Yah, walaupun jabatan Anda belum diketahui bos besar sih.”
“Kita lihat saja nanti, aku baru berani mengajukan jabatan ini setelah anak itu berhasil menjalankan misinya.”